Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Memancing


__ADS_3

Masih di kampung halamannya Aisyah. Setelah selesai berziarah mereka pun sedikit berkeliling persawahan, ia juga ingin ke sungai tempat favoritnya dulu. Setelah sampai di sungai itu, Aisyah pun tersenyum melihat sungai itu, airnya mengalir dengan tenang, masih jernih dan tidak kotor seperti sungai sungai yang ada di kota yang sudah tercampur dengan limbah.


" Sungainya masih seperti dulu tidak berubah sama sekali, bening dan jernih" ucap Aisyah yang kini sudah berdiri di atas bebatuan sungai itu.


" Disini banyak ikannya gak?" tanya Riziq.


" Banyak ustad, kalau ustad manis mau, besok kita bisa sama sama memancing disini" ucap mang Dirman.


" Waah mancing itu hobby nya saya itu mang" imbuh mang llham.


" Kalau begitu besok siang kita memancing disini" ucap mang Dirman kembali.


Setelah berhenti sebentar, mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah, Riziq sudah duduk di depan rumah bersama Aisyah. Setelah ngobrol ngobrol bersama mang llham dan mang Dirman,


" Le, aku mau lihat anak anak dulu" ucap Aisyah.


Azan magrib telah berkumandang di desa itu, Riziq dan mang llham sudah bersiap siap untuk menjalankan shalat magrib.


"Mang Dirman, masjid disini sebelah mana?" tanya Riziq.


" Masjid disini mah jauh, yang deketmah adanya musolah" jawab mang Dirman.


" Musolah juga tidak apa apa mang"


" Ya sudah kita kemusolah bareng bareng" pinta mang Dirman. Mereka pun pergi kemusolah bareng.


Aisyah dan bi Ratna pun shalat berjamaah di rumah. Riziq dan mang Dirman baru pulang kerumah setelah mengerjakan shalat isya.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Riziq langsung menggendong Adam. Sementara Hawa sudah tidur.


" Putra abi yang manis, kenapa belum tidur" ucap Riziq sambil mengunyel unyel pipinya Adam, hingga Adam tertawa. beberapa jam kemudian, Aisyah sudah membawa Adam dan Hawa ke kamarnya, dan menidurkannya ke tempat tidur Aisyah yang berukuran kecil. Tidak lama kemudian Riziq masuk kamar, ia menatap ruangan yang nampak berukuran kecil itu. Tiba tiba Riziq melihat poto Aisyah yang terpajang didinding kamar. Perlahan Riziq mengambilnya, di tatapnya foto Aisyah yang belum memakai hijab. Tiba tiba Aisyah langsung merebutnya.


" Jangan di lihat, uni lupa belum membuangnya" ucap Aisyah sambil menyembunyikan foto itu kebelakang punggungnya. Riziq malah tersenyum.


" Setiap orang pasti punya masa lalu, yang pentingkan uni sekarang sudah hijrah" ucap Riziq sambil mengelus kepalanya Aisyah. Seketika itu pula Aisyah langsung tersenyum.


" Ya sudah kita tidur sudah malam" pinta Riziq. Tiba tiba Riziq terdiam melihat tempat tidurnya berukuran kecil.


" Uni, tempat tidurnya kecil sekali, sepertinya tidak akan cukup untuk kita berempat" ucap Riziq. Aisyah sudah tersenyum getir.


" Maaf ya Le, tempat tidurnya kecil, sepertinya dengan terpaksa kau harus tidur di bawah" ucap Aisyah.


" Tidak apa uni, yang penting kau dan anak anak bisa tidur nyaman" jawab Riziq. Aisyah pun tersenyum.


" Suamiku memang yang terbaik"


Aisyah sudah menggelar tikar di bawah untuk tempat tidur suaminya, tidak lupa juga menaruh bantal.


" Kau yakin Le mau tidur di bawah?" tanya Aisyah.


" Tidak apa apa uni, yang penting saat kita pulang ke rumah nanti, kupastikan kau lah yang akan tidur di bawah" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


"Maksudnya tidur dibawah mana?" tanya Aisyah.


"Tentu saja di bawah tubuhku" jawab Riziq sambil tertawa.


BUUKH.


Seketika itu pula Aisyah melempar bantal pada Riziq.


" Dasar genit"


" Ha ha ha"


Ketika tengah malam Aisyah terbangun dari tidurnya, dilihatnya Riziq sudah tidur lelap, Aisyah nampak tidak tega melihat suaminya tidur di bawah. Perlahan Aisyah mengambil bantal dan menaruhnya di sebelah Riziq. Kini Aisyah pun ikut berbaring di bawah bersama Riziq. Aisyah sudah memeluk tubuh suaminya itu.


" Kita akan melewati suka dan duka bersama sama" batin Aisyah.


* * * * * *


Keesokan harinya. Mang Dirman sudah mengajak Riziq dan mang llham untuk mancing kesungai. Mang Dirman sudah mempersiapkan peralatan untuk memancing.


" Ayo ustad manis, katanya kita mau mancing kesungai" ucap mang Dirman.


" Siap mang" ucap Riziq antusias. Dilihatnya penampilan Riziq oleh mang Dirman yang memakai sarung dan baju koko berlengan pendek tidak lupa dengan kopeahnya.


" Ini si ustad manis, mau pergi mancing apa mau pergi ke masjid" batin mang Dirman.


" Ayo" ajak mang llham.


Akhirnya mereka bertiga pun berangkat ke sungai. Sementara Aisyah dan bi Ratna berdiam di rumah menjaga Adam dan Hawa.


Sesampainya di sungai.


Mang Dirman sudah memberikan umpan pada Riziq yang ia racik sendiri.


" lni umpannya ustad manis"


" Makasih mang, ini kalau boleh tau umpannya terbuat dari apa?" tanya Riziq.


" Bahannya campur, ada telur bebek, keju, sarden, keroto (telur semut rang rang), dan masih banyak lagi" jawab mang Dirman. Hingga Riziq mengeryitkan keningnya.


" Seperti mancing mania ya mang, bahan bahannya ajaib, Kira kira ikan apa yang akan nyangkut?, apa ikan duyung juga akan nyangkut karna di kasih keju" ucap Riziq. Tiba tiba mang Ilham sudah mendapatkan ikan.


" Alhamdulilah"


Riziq sudah mengacungkan jempol pada mang llham. Tidak lama kemudian Aisyah datang membawa kopi dan beberapa cemilan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Aisyah pun memberikan kopi dan cemilan yang ia bawa pada mereka.


" Terima kasih Uni"


Mang Dirman terdiam saat Riziq memanggil Aisyah dengan Uni.


" Aisyah, apa di pesantren kau berganti nama?" tanya mang Dirman.

__ADS_1


" Nnggak"


"Lalu kenapa suamimu yang manis ini memanggilmu uni?" tanya mang Dirman penasaran.


" Itu panggilan sayangku pada Aisyah mang" jawab Riziq. Mang Dirman pun mengangguk ngangguk. Kini Aisyah sudah duduk di sebelahnya Riziq.


"Kau tau uni, bahan bahan yang di pakai untuk membuat umpan ini, pake keju segala" ucap Riziq hampir tak percaya.


" Ikan jaman now" jawab Aisyah.


" Uni, meskipun aku tak pakai bahan yang ajaib itu aku yakin saat aku memancingmu kau pasti akan nyangkut duluan padaku" goda Riziq.


" Jangan menggodaku didepan mang Dirman, malu" ucap Aisyah. Mang Dirman sudah tersenyum senyum. Tiba tiba pancingan Riziq mendapatkan ikan yang lumayan besar.


" Le, ikannya besar Le" ucap Aisyah antusias saat Riziq mendapatkan ikan. Hingga mang Dirman mengeryitkan keningnya.


" Aisyah itu bukan ikan lele, tapi ikan jambal" ucap mang Dirman. Aisyah pun terdiam dengan ucapannya mang Dirman.


" Kapan aku bilang ini ikan lele, aku manggil Ale. Ale itu panggilan kesayanganku pada suamiku" jawab Aisyah.


"Ale?"


" Hmm"


" Ko macam merk minuman bervitamin Aisyah" ucap mang Dirman.


" Hmm, minuman bervitamin rasa strawberi, makanya suamiku nampak begitu manis" jawab Aisyah. Tidak lama kemudian Aisyah pamit pulang karna takut Adam dan Hawa menangis.


" Uni pulang dulu, takut anak anak nangis. Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam, hati hati uni"


Aisyah pergi kembali ke rumah. Kini tinggal mereka bertiga yang kini asik memancing. Setelah sudah merasa cukup puas memancing, mereka pun pulang. Di pesawahan itu sudah nampak banyak petani yang sedang menanam padi.


" Waah, pemandangannya nampak asli pedesaan yang belum ternoda oleh polusi" ucap Riziq yang kini sedang berjalan di galengan pesawahan. Tiba tiba ia menutup matanya saat melihat beberapa orang perempuan yang habis menanam padi dengan menggunakan sarung perempuan yang di lilit hingga lutut.


" ASTAGHFIRULLAH" ucap Riziq sambil menutup matanya.


" Kenapa ustad manis?" tanya mang Dirman.


" Mataku telah ternoda" ucap Riziq yang masih menutup matanya. Riziq terus berjalan sambil menutup mata hingga ia terpeleset di galengan psawahan, Dan akhirnya ia terjatuh ke sawah, alhasil sarung dan baju kokonya di penuhi oleh lumpur sawah. Semua nampak terkejut melihat Riziq terjatuh.


" Ya Allah, Nikmat sekali hukumanmu ini, baru beberapa detik yang lalu aku melihat sesuatu yang bukan hakku, kau sudah memberikan hadiahku secara kontan" ucap Riziq yang kini sedang tersungkur di sawah.


" Ustad manis kau tidak apa apa?" tanya mang Dirman cemas.


" Aku tidak apa apa mang, tidak ada yang luka atau pun yang sakit, hanya saja malunya sampai keubun ubun" ucap Riziq yang kini sudah bangkit lagi dari sawah. Mang llham sudah tersenyum senyum melihat keponakannya itu. Mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Sesampainya di rumah, Aisyah membelalakan matanya saat melihat penampilan Riziq yang di penuhi lumpur.


" Le, kau kenapa kotor begitu?" tanya Aisyah heran.


" Ikan lele mu ini tersungkur kesawah Aisyah" jawab mang Dirman.


" Kau jatuh kesawah Le?" tanya Aisyah.


" Hmm, aku lebih baik jatuh kesawah dengan dipenuhi lumpur, ketibang jatuh keneraka dengan dipenuhi dosa" ucap Riziq. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya, tidak mengerti dengan ucapan suaminya.

__ADS_1


" Suamimu yang manis ini, tadi menutup mata saat melihat para perempuan menanam bibit padi dengan menggunakan sarung pendek hingga betis mereka kelihatan" ucap mang Dirman. Aisyah pun tersenyum saat tau Riziq menutup mata untuk tidak melihat sesuatu yang bukan haknya.


"Uuh, manisnya berondongku ini" ucap Aisyah sambil mencubit hidungnya Riziq.


__ADS_2