
Ketika itu Aisyah dan Riziq pergi ke rumahnya umi Salamah sambil mendorong kereta bayinya Adam dan Hawa. Seperti biasa Aisyah selalu menggandeng Riziq kemanapun mereka pergi.
" Le, aku rindu ingin pergi ke kebun" ucap Aisyah.
" Ia nanti kita pergi ke sana"
Di tengah jalan mereka bertemu dengan ustadzah Ulfi yang sedang menjinjing sesuatu berwadahkan rantang berwarna hitam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kalian mau pergi kemana?" tanya ustadzah Ulfi sambil mengelus pipinya Hawa.
" Kita mau kerumahnya umi" jawab Aisyah.
" Maaf Aisyah nanti kalau bertemu dengan Zahira, sampaikan terima kasih saya padanya" ucap ustadzah Ulfi.
" Terima kasih untuk apa ustadzah?" tanya Aisyah tak mengerti.
" Tadi pagi dia datang kerumah saya dan menawarkan diri untuk membantu saya membuat sarapan" ucap ustadzah Ulfi.
Aisyah dan Riziq sudah saling lirik, mereka hampir tak percaya kalau Zahira sampai berani datang ke rumahnya ustadzah Ulfi.
Wajahnya Riziq sudah memerah karna malu.
" Nanti saya sampaikan ustadzah" ucap Aisyah.
" Saya minta maaf ustadzah dengan sikapnya Ira yang seperti itu" timpal Riziq.
" Tidak apa apa mungkin dia masih labil" jawab ustadzah Ulfi sambil tersenyum.
" Oh iya, ini ada sisa makanannya, kebetulan Ira memasak banyak, ini asli masakan buatannya Ira, siapa tau kalian menyukainya" tutur ustadzah Ulfi.
Glek.
Aisyah menelan salivanya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana rasa masakan yang di buat adik iparnya itu. Aisyah pun menerima rantang makanan itu.
" Terima kasih ustadzah" ucap Aisyah dan Riziq.
" Saya duluan ya asalamualaikum" ucap ustadzah Ulfi sambil berlalu pergi.
" Waalaikum salam"
" Leeeee, kelakuan warisanmu, ini memalukan sekali Le, dia terang terangan pendekatan pada keluarganya Yusuf" ucap Aisyah. Riziq sudah menggeram kesal pada adiknya itu.
" Zahiraaaaaa, kalau ketemu akan ku gantung kau di atas pohon, kau membuatku malu saja, kau genit sekali seperti kakak iparmu" ucap Riziq. Seketika Aisyah langsung memicingkan matanya pada Riziq.
" Kau mengataiku genit?, apa kau tidak salah bicara Le, kau yang genit, kau yang selalu menggodaku. Dan pada kenyataannya Zahira sangat mirip denganmu dia lebih dewasa dari umurnya. Sikap genitnya pun menurun darimu" tutur Aisyah.
" Sudah sudah nanti kita lanjutkan lagi, nanti aku perlu bicara dengan bocah ingusan itu" ucap Riziq sambil mendorong kereta bayinya. Aisyah pun ikut mengekori.
Sesampainya di rumah umi Salamah.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab umi Salamah. Umi Salamah pun langsung sigap menggendong Adam. Mereka pun duduk santai di depan rumah.
" Kamu bawa apa itu Aisyah" tunjuk umi Salamah pada rantang yang Aisyah bawa.
" Oh ini masakannya Zahira" jawab Aisyah. Karna penasaran Aisyah pun mencicipi masakan adik iparnya itu.
" Jadi penasaran apa masakannya enak" ucap Aisyah sambil memasukan makanan itu ke mulutnya, tiba tiba matanya membelalak saat merasakan masakannya Zahira yang tak karuan rasanya. Riziq hanya mengeryitkan keningnya melihat reaksinya Aisyah, ia sudah tau rasanya seperti apa setelah melihat mimik wajah istrinya itu.
" Oo Oo" Aisyah langsung berlari masuk kerumah karna tak tahan dengan rasa masakannya Zahira. Aisyah muntah muntah di kamar mandi.
" Oo Oo Oo"
Tiba tiba ustad Usman mendengar muntah muntah itu. Ia langsung tersenyum bahagia.
" Alhamdulilah, setelah sekian lama aku menunggu akhirnya Nisa ngidam juga" ucap ustad Usman yang menyangka kalau yang muntah muntah adalah Nisa. Ia langsung mengetuk ngetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
" Nis, Nisa kamu baik baik saja, kamu pasti hamil Nis, mas senang kalau kamu hamil lagi" ucap ustad Usman yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi. Aisyah tidak bisa mendengar suaranya ustad Usman karna suara air keran yang menggemericik. Karna tidak ada jawaban, ustad Usman mulai khawatir dan cemas dengan Aisyah yang dikira Nisa. Seketika ustad Usman langsung masuk kedalam kamar mandi.
" Sayang kau tidak apa apa?" tanya ustad Usman.
" Tidak apa apa Le" jawab Aisyah yang mengira itu adalah Riziq. Saat Aisyah menengokan wajahnya saat itu pula mereka terkejut dan menjerit bersamaan.
" HUUUUUUUAAAAA" ( Aisyah)
" HUUUUUUUAAAAA" ( Ustad Usman)
Tanpa aba aba Aisyah langsung mengambil gayung lalu memukulkannya pada kepala kakaknya itu. Karna Aisyah tidak tau kalau itu adalah kakaknya.
" Aduuuuh" ucap ustad Usman sambil berlalu keluar kamar mandi.
" Haaah, apa tadi yang aku pukul itu ka Usman?" ucap Aisyah. Nisa yang mendengar jeritan mereka di kamar mandipun langsung menghampirinya.
__ADS_1
" Ya Allah mas kenapa ?" tanya Nisa khawatir karna suaminya itu kini sedang mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya bagian belakang.
" Ada yang mukul kepalaku pake gayung, tapi tadi siapa ya, kamu ada disini, dan umi ada di depan, astaghfirullah alazim, jangan jangan yang di dalam kamar mandi itu dedemit. Dia pikir aku takut dengannya" ucap ustad Usman.
" Kalau mas tidak takut kenapa mas menjerit dan lari ketakutan" ledek Nisa.
" Heei, aku cuma kaget saja. Ingat ya Kaget sama takut itu berbeda"
" Tapi reaksimu sama" ucap Nisa dengan nada mencemooh. Perlahan Nisa pun masuk kamar mandi. Ia terdiam saat melihat Aisyah tersenyum getir padanya.
" Maaf" ucap Aisyah sambil berbisik.
Nisa pun kembali menemui ustad Usman di depan kamar mandi.
" Ya Allah mas, kau benar, ada dedemit di dalam kamar mandi" ucap Nisa pura pura takut.
" Jadi kau melihatnya?"
"Hmmm"
" Astagfirullah, sebentar aku ambil tasbih dulu, aku akan melawannya, aku akan meniru gaya Adam di film MUNAFIK 2" ucap ustad Usman sambil berlalu ke kamarnya untuk mengambil tasbih. Nisa sudah cekikikan tanpa suara, begitu pun dengan Aisyah. Ia pikir kapan lagi bisa mengerjai kakaknya itu yang super duper menyebalkan. Setelah mengambil tasbih dari kamarnya, ustad Usman pun menemui Nisa yang kini sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Mana dedemitnya" ucap ustad Usman yang kini sudah siap untuk membacakan ayat suci. Sebelum masuk kamar mandi, ia pun mengambil penggorengan dan membawanya.
" Untuk apa penggorengannya?" tanya Nisa.
" Untuk menggetok dedemitnya"
Nisa langsung terkejut, ia takut suaminya itu akan memukul Aisyah dengan penggorengan.
" Jangan pake penggorengan, Adam di film Munafik pun tidak pake itu, katanya kau mau menirunya" tutur Nisa sambil mengambil penggorengan itu dari tangan ustad Usman.
Perlahan ustad Usman masuk ke kamar mandi. Saat ia akan menyerang tiba tiba ia terkejut melihat Aisyah yang sedang tersenyum padanya.
" AISYAAAAAAAH" geram ustad Usman. Aisyah hanya cengengesan saja. Ia pun keluar dari kamar mandi dan berdiri di sebelah Nisa yang kini juga sudah menahan tawanya.
" Oh jadi kalian mengerjaiku ya?" tanya ustad Usman sambil menggeram kesal.
" Kalian mau masuk neraka ya?, terutama kamu Nis. Jangan jadi istri durhaka ya" ucap ustad Usman.
" Kau lihat Aisyah kepalaku kau getok dengan gayung memangnya aku sangkuriang" ucap ustad Usman sambil berkacak pinggang.
" Tapi mas kalau gak salah sangkuriang itu bukan di getok pake gayung tapi pake centong nasi" jawab Nisa.
" Jangan membela si Aisyah"
" Ini ada apa sih ribut ribut?" tanya umi Salamah.
" Ini mi Aisyah, masa kepalaku di getok pake gayung" ucap ustad Usman mengadu.
" Biarkan saja, biar otakmu lurus tidak geser geser lagi" ucap umi Salamah.
" Ha ha ha ha" Aisyah tertawa tawa mendengar ucapan uminya. Seketika ustad Usman langsung memberikan tatapan menusuk pada Aisyah. Seketika itu pula Aisyah merasa takut.
" Kabuuuuuuur" Aisyah berlari meninggalkan mereka.
" Sudah mas jangan marah marah terus, bukankah mas mau pergi ke kebun, ka Soleh kan sudah berangkat" ucap Nisa mengingatkan.
" Astaghfirullah, aku sampai lupa, ya sudah aku berangkat ke kebun dulu, asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Nisa.
Di depan rumah, ustad Usman melihat Riziq yang sedang memangku Adam dan Hawa.
" Ustad mau ikut tidak ke kebun?" tanya ustad Usman.
" Nanti saya menyusul" jawab Riziq. Saat ustad Usman mau pergi ia melihat rantang makanan yang tadi Aisyah bawa.
" Rantang makanan ini punya siapa ustad?" tanya ustad Usman.
" Punya Uni"
" Kenapa tidak dimakan?"
" Kami sudah makan" jawab Riziq. Mendengar jawabannya Riziq, ustad Usman pun tersenyum.
" Rejeki anak soleh, rejeki suami soleh, rejekinya Usman ibrahim husen yang tampan dan berkarisma he he. Makanannya saya bawa ya ustad Riziq" pinta ustad Usman. Riziq pun mengangguk.
" Alhamdulilah, kebetulan saya belum makan. Terimakasih ustad Riziq. Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Riziq. ustad Usman sudah pergi ke kebun sambil membawa rantang makanan itu. Tiba tiba Riziq baru teringat.
" Astaghfirullah alazim, makanan itukan buatannya ira, si uni aja makan makanan itu langsung muntah muntah, sudah bisa di bayangkan bagaimana rasanya." ucap Riziq yang kini sudah berdiri untuk memberitau ustad Usman, namun ustad Usman sudah pergi jauh.
" Duh bahaya, ustad Usman bisa keracunan" gumam Riziq.
Tidak lama kemudian Riziq dan Aisyah pergi ke perkebunan. Adam dan Hawa tidur dan di jaga oleh umi Salamah. Mereka sudah bergandeng tangan menuju perkebunan. Ustad Usman dan ustad Soleh pun menatap kedatangannya mereka.
" Tuh pasangan sejoli baru datang, pasti mereka langsung memilih menanam yang pedes pedes" ucap ustad Usman.
__ADS_1
" Apa maksudmu?" tanya ustad Soleh.
" Pasti mereka pergi ke kebun cabai, si berondong itu sangat hobi memelihara pohon cabai, tapi masih untung hanya memelihara pohon cabe bukan memelihara cabe cabean. Karna kalau itu terjadi si Aisyah pasti ngamuk ngamuk dan mendaratkan bogem andalannya, sungguh mengerikan" tutur ustad Usman.
" Asalamualaikum" ucap Riziq dan Aisyah sambil melewati mereka menuju perkebunan cabai.
" Waalaikum salam"
" Tuh kan bener, mereka memang hobi main pedas pedasan" ucap ustad Usman.
" Jangan bicara terus, nanti kumasukan cabai itu kedalam mulutmu" acam ustad Soleh.
" Hmmm"
Riziq sudah menyiram pohon cabai, sementara Aisyah sudah memetik buah cabai yang berwarna merah.
" Uni, kau tau tidak kenapa aku sangat senang menanam dan memelihara pohon cabai?" tanya Riziq.
" Tentu"
" Apa?"
" Eeeee karna kau senang main panas panasan hingga kulitmu gosong seperti orang Afrika" Jawab Aisyah sambil tertawa tawa.
" Heeei uni kulitku eksotis bukan gosong" jawab Riziq tegas.
" He he he"
" Oh iya uni, apa aku sudah termasuk kriteria laki laki idamanmu?" tanya Riziq.
" Maksudnya?"
" Kau bilang laki laki keriteriamu itu sebaik nabi Muhammad saw, setampan nabi Yusuf as, dan sekaya nabi Sulaiman as, apa aku sudah termasuk dari ketiganya?"tanya Riziq kembali.
" Kau baik Le, tapi tidak sebaik nabi Muhammad, kau tidak tampan seperti nabi Yusuf, kau hanya manis saja, kau juga tidak sekaya nabi Sulaiman, tapi kau suami terbaiku Le. Aku mencintaimu, suami berondongku" ucap Aisyah sambil mencium pipinya Riziq. Riziq pun tersenyum.
" Hanya itu saja alasanmu?" tanya Riziq.
" Karna kau sangat menggemaskan" ucap Aisyah sambil mengunyel ngunyel wajahnya Riziq hingga tangannya tak sengaja mengusap matanya Riziq. Alhasil matanya Riziq merasa kepanasan dan pedih karna Aisyah baru saja memetik buah cabai.
" Uniiii mataku" ucap Riziq sambil mengipas ngipas matanya yang kepedihan.
" Kenapa Le" tanya Aisyah panik.
" Mataku pedih"
" Astaghfirullah, maaf Le aku lupa tanganku habis memegang cabai" karna panik, Aisyah pun menarik tangannya Riziq menemui kakak kakaknya karna disana ada air bersih.
" Uni jangan cepat cepat jalannya, aku susah membuka matanya" protes Riziq
" Kau tahan Le"
Ustad Usman dan ustad Soleh pun terdiam heran melihat Aisyah dan Riziq.
" Ya Allah, aku tidak mengerti dengan pasangan sejoli ini, tadi main gandeng gandengan, sekarang main gered geredan" ucap ustad Usman sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" Kaaaa tolong" teriak Aisyah.
" Kau kenapa Aisyah?" tanya ustad Soleh.
" Mata suamiku kepedesan kena cabai"
" Astaghfirullah, kau ini ada ada saja" ucap ustad Usman sambil mengambil air dengan gayung, setelah itu ustad Usman langsung mengarahkan gayung berisi air itu pada mulutnya Riziq. Seketika Aisyah langsung menepisnya.
" Ka kenapa kau mau meminumkan air itu padanya, yang pedih itu matanya bukan mulutnya" ucap Aisyah.
" Astaghfirullah maaf Aisyah aku lupa"
Setelah membersihkan matanya Riziq, mereka pun duduk berempat disana. Karna merasa laper, perlahan ustad Usman nembuka rantang yang dibawanya tadi.
" Aku laper, tapi kalian jangan minta ya, soalnya makanannya hanya satu porsi" ucap ustad Usman. Aisyah pun menyipitkan matanya saat menatap rantang makanan itu.
" Sepertinya aku mengenal rantang itu, tapi dimana ya" gumam Aisyah dalam hati.
" Waah sepertinya sangat nikmat ya" ucap ustad Usman. Saat ustad Usman memasukan satu suap makanan itu kemulutnya, dan sedikit demi sedikit ia kunyah.
"Sepertinya ada yang aneh dengan rasanya" batin ustad Usman. Saat ia menelannya tiba tiba matanya membelalak sempurna, Seketika ia langsung berlari sedikit menjauh dan ia muntah muntah karna merasa mual dengan masakan itu yang rasanya sudah tidak karuan.
" Oo Oo Oo"
" Astaghfirullah aku lupa kalau itu adalah makanan buatannya Ira, aku saja tadi makan makanan itu muntah muntah" ucap Aisyah.
Ustad Usman pun berjalan mendekatinya.
" Jadi ini yang masak makanan si slebor?, pantas saja masakannya berantakan seperti otaknya" ucap ustad Usman. Hingga Aisyah memicingkan matanya, untung saja Riziq tidak mendengar.
" Tapi masih mending hanya muntah muntah bukan keracunan, jadi bersyukurlah"
" Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ustadzah Ulfi dan ustad Azam saat mereka memakan masakannya Zahira" batin Aisyah.
__ADS_1