
Kini Aisyah dan Dewi baru pulang dari pasar. Mereka menenteng 2 kantong plastik di tangan masing masing. Mereka berjalan dari gerbang depan pesantren hingga rumahnya bi Ratna.
" Aisyah, aku pulang duluan ya takut Syifa mencariku " ucap Dewi sambil memberikan belanjaannya pada Aisyah. Aisyah hanya mengangguk saja.
" Asalamualaikum " ucap Dewi sambil berlalu pergi.
" Waalaikumsalam "
Aisyah sudah membuka hendle pintu dan mengucap salam, namun tak ada yang menjawab salamnya.
" Pada kemana bibi sama mamang " ucap Aisyah bicara sendiri. Perlahan ia berjalan menuju dapur dengan membawa belanjaannya, ia terdiam ketika melihat Riziq sedang duduk di meja makan sambil menikmati masakannya bi Ratna. Riziq hanya tersenyum ketika melihat Aisyah, ia dengan santainya masih melahap masakan bi Ratna.
Bi Ratna sedang asik menggoreng ikan tidak jauh di hadapannya Riziq.
" Kau lihat Aisyah, tikus dapurmu sudah kembali, jadi bersiap siaplah berbagi makanan kembali dengannya " ucap bi Ratna sedikit menggoda. Riziq hanya tersenyum menanggapinya. Perlahan Aisyah duduk di hadapannya Riziq, ia tak bicara sepatah katapun, masih menatap Riziq yang kini sedang menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya, sontak Aisyah langsung menarik wadah nasi yang ada di hadapannya Riziq. Riziq yang sadar akan hal itu langsung tersenyum.
" Sekarang makan ku tak sebanyak itu uni, jadi kau tidak perlu takut aku akan segendut ka Dewi " ucap Riziq santai.
Seketika Aisyah langsung mengggeser wadah nasi itu ke tempat semula. Entah kenapa ia merasa canggung berada dekat dengan Riziq, seperti banyak perubahan dalam diri sahabatnya itu, dulu Riziq sangat banyak bicara, tapi sekarang Riziq sangat irit berbicara, hanya saja sekarang ia murah senyum.
" Kenapa uni menatapku seperti itu ? " tanya Riziq.
" Kau banyak berubah Ziq, uni sampai tidak mengenalimu "
" Perubahan apa yang terjadi padaku ? " tanya Riziq sambil menatap Aisyah.
" Banyak " jawab Aisyah singkat. Riziq hanya tersenyum mendengar jawabannya Aisyah.
" Apa sikap ku berubah ?, atau fisik ku yang terlihat berubah ? " tanya Riziq kembali.
" Semuanya, kini kau terlihat lebih santai, dan fisikmu kini terlihat berbeda "
" Apa kini wajahku sudah setampan kakakku ? " tanya Riziq sambil menatap Aisyah.
" Tidak, kau masih kalah tampan dari kakakmu , hanya saja kau terlihat lebih
__ADS_1
manis ups " Seketika Aisyah langsung menutup mulutnya. Riziq yang sadar akan hal itu langsung tersenyum.
" Jadi aku terlihat manis ?, bukankah dulu uni bilang kalau wajahku ini gelap, bahkan lebih gelap dari gerhana matahari total " jawab Riziq sambil tersenyum senyum. Membuat Aisyah salah tingkah sendiri.
* * * * * * *
Sore pun tiba. Seperti biasa Aisyah dan Dewi pergi keperkebunan mencari angin untuk menghilangkan lelahnya. Saat berjalan, Dewi sudah menggendong Syifa dengan sedikit menggerutu.
" Kau berat sekali Syifa, seharusnya berat badan ku sedikit menurun karna aku menggendongmu tiap hari " gerutu Dewi.
" Kau pikir dengan menggendong anakmu itu adalah cara diet yang tepat " ucap Aisyah sambil berjalan.
Sesampainya di perkebunan mereka terdiam melihat Riziq sudah berdiri di sana.
" Asalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
Riziq menatap kedatangan mereka.
" Aku hanya masih rindu dengan tempat ini " jawab Riziq sambil menatap ke arah perkebunan. Aisyah hanya mengangguk saja.
" Uni, aku turut berduka atas kepergian kak Fahmi, maaf aku tidak ada di saat kau berduka "
" Dari mana kau tau tentang mas Fahmi ? " tanya Aisyah heran.
" Tidak ada sedikitpun yang tidak ku tau tentang dirimu uni, aku mengenal kak Fahmi, dia adalah salah satu muridnya kiyai Mansyur, aku pernah beberapa kali bertemu dengannya di kairo, uni sangat mencintainya ? " tanya Riziq, namun Aisyah hanya diam saja.
" Kenapa uni diam ?, kalau kau tidak mencintainya lantas kenapa kau menerimanya " ucap Riziq.
" Kau sendiri yang bilang kalau uni harus menikah dengan lelaki baik, soleh dan belum beristri, dan semua itu ada pada mas Fahmi, tapi kalau kau tanya uni mencintainya atau tidak, uni sulit menjawabnya " tutur Aisyah.
" Kenapa ? " tanya Riziq.
Aisyah hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya, semenjak ia patah hati pada ustad Rasyid ia sedikit menutup hatinya untuk laki laki lain.
__ADS_1
" Aku juga dengar kalau ustajah Yasmin memintamu untuk menikah dengan kakakku "
" Dari mana kau tau itu ? " tanya Aisyah penasaran.
" Sudah ku bilang tidak ada yang tidak kutau tentang dirimu "
Aisyah menatap lekat pada Riziq yang berdiri di hadapannya itu.
" Kenapa kau menolaknya uni ?, bukankah kau sangat mencintai kakakku " tanya Riziq yang kini sudah menghadap pada Aisyah.
" Bukankah kau sendiri yang melarangku untuk menikah dengan lelaki yang sudah beristri, uni tidak mau kau membenciku " jawab Aisyah. Seketika itu Riziq tersenyum mendengar jawabannya Aisyah.
" Kau tidak lupa dengan ucapanku kan uni ? "
" Apa " tanya Aisyah.
" Kau tidak lupakan kalau aku pernah bilang, kalau aku kembali, kau belum mendapatkan jodohmu maka aku sendiri yang akan menikahimu " ucap Riziq mengingatkan.
Deg.
Aisyah terdiam mendengar ucapannya Riziq. Entah kenapa kini hatinya berdebar debar.
" Kau tidak lupa kan uni ? " tanya Riziq kembali.
" Ya uni ingat itu, lalu ? "
" Kalau kau berkenan, izinkan aku untuk menikahimu " ucap Riziq meyakinkan. Membuat Aisyah terkejut di buatnya, begitu pun dengan Dewi.
Aisyah diam mematung di tempat, mencoba mencerna kemali ucapannya Riziq.
" Kau serius Ziq ? " tanya Dewi penasaran.
" Apa kalian meragukanku ? "
Aisyah menjadi gugup dan salah tingkah, ia bingung harus menjawab apa. Riziq tersenyum ketika melihat ke gugupan Aisyah.
__ADS_1
" Aku tidak memaksamu uni, Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, ku beri kau waktu untuk berfikir " ucap Riziq sambil menatap Aisyah. Aisyah hanya diam sambil menundukan wahahnya.