Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Warisan??


__ADS_3

Setelah pergi dari pemakaman, Riziq dan Aisyah pun menemui pak Rudi kembali.


" Terima kasih pak Rudi atas semuanya" ucap Riziq berkata sopan.


" Sama sama" jawab pak Rudi.


" Kalau begitu saya permisi dulu pak" ucap Riziq kembali.


" Tunggu sebentar saya mau bicara penting padamu" pinta pak Rudi. Riziq pun langsung menatap pak Rudi yang kini wajahnya nampak serius. Pak Rudi pun mengajak Riziq dan Aisyah untuk duduk di kursi dekat pemakaman.


" Pak Rudi mau bicara apa sepertinya sangat penting sekali?" tanya Riziq penasaran.


" Ia ini sangat penting, sebenarnya saya harus memberitau pada Rasyid juga, tapi karna Rasyid tidak ada maka saya wakilkan padamu Ziq" ucap pak Rudi. Riziq dan Aisyah di buat penasaran.


" Ini menyangkut tentang warisan yang di tinggalkan oleh pak Fiqri ayah kamu"


"Warisan?" ucap Riziq yang kini sudah saling pandang dengan Aisyah.


" Ia warisan untuk kalian berdua" ucap pak Rudi. Riziq pun terdiam seolah tak percaya kalau ayahnya meninggalkan sebuah warisan padanya dan ustad Rasyid.


" Apa tidak salah pak?, bukankah istri dari ayahku masih hidup, maksudnya ibu tiriku masih ada, dia kan sangat suka sekali dengan yang namanya harta" ucap Riziq. Pak Rudi malah tersenyum.


" Setelah ayahmu meninggal, ibu tirimu menikah lagi dan pergi entah kemana, ia meninggalkan warisan itu, dan saya rasa kau dan Rasyid lah yang berhak atas warisan itu" tutur pak Rudi. Riziq hanya mengeryitkan keningnya.


"Sepertinya ada yang aneh, tidak mungkin ibu tiriku dengan sengaja meninggalkan warisan dari ayah untuku dan aang, pasti ada sesuatu. Aku tau betul kalau ibu tiriku menikahi ayah adalah karna hartanya, jadi tidak mungkin warisan itu di biarkan saja selama 6 tahun di titipkan pada Pak Rudi. Sepertinya ada beribu ribu pertanyaan dalam pikiranku" batin Riziq.


" Lalu apa warisan yang di tinggalkan ayah untuk kami?" tanya Riziq.


" Bapak tidak bisa mengatakannya atau memberitaunya sebelum Rasyid kesini, kalianlah yang berhak atas warisan itu. Besok jika kau dan Rasyid ada waktu, datanglah kemari, nanti saya beri tau apa warisannya, saya sudah tidak sanggup untuk menyimpan warisan itu" tutur pak Rudi.


" Baik pak besok saya dan aang insya allah akan kemari"


Setelah beberapa lama mengobrol, akhirnya Riziq dan Aisyah pun pamit pulang. Di perjalanan, Riziq hanya diam saja, dia pulang membawa duka. Aisyah sudah merangkul suaminya itu yang begitu nampak sendu di pandang.


Sesampainya di pesantren. Riziq pun menemui ustad Rasyid di rumahnya, sementara Aisyah pergi ke rumahnya umi Salamah untuk mengambil Adam dan Hawa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab ustad Rasyid. Kini Riziq dan ustad Rasyid sudah berdiri di halaman rumah. Mereka memandang lurus kedepan.


" Kau sudah bertemu dengannya?" tanya ustad Rasyid.


" Sudah" jawab Riziq.


" Bagaimana kabarnya?, apa dia menanyakanku?"


" Dia baik baik saja, dia tidak menanyakanmu, menanyakanku juga tidak" ucap Riziq. Ustad Rasyid pun terdiam, perlahan ia menatap Riziq dengan diiringi pertanyaan.


" Maksudmu?"

__ADS_1


" Ya ayah baik baik saja, dia sudah punya rumah baru" ucap Riziq.


" Dimana?"


" Di dalam tanah"


Seketika ustad Rasyid langsung menatap lekat adiknya itu.


" Apa dengan maksud ucapanmu?" tanya ustad Rasyid yang tak berpaling dari tatapannya.


" Ayah sudah meninggal 6 tahun yang lalu" ucap Riziq sambil menatap kakaknya itu. Tak bisa di bohongi kalau ustad Rasyid pun terkejut mendengar ayahnya telah meninggal. Ada rasa sedih yang teramat dalam hatinya, namun ia tak mau Riziq tau akan hal itu, ia berusaha untuk tetap tegar.


"Inallilahi wainailaihi rojiun"


Ustad Rasyid hanya diam sambil menundukan kepalanya.


" Kalau ada waktu besok kita temui pak Rudi, ada hal yang ingin ia bicarakan pada kita, sekalian kau pergi kemakamnya ayah" tutur Riziq. Ustad Rasyid hanya diam membisu.


" Asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu pergi.


" Waalaikumsalam"


Ustad Rasyid pun terdiam sambil memandang jauh kedepan, pikirannya sudah melayang layang entah kemana. Ada rasa sesal dalam dirinya. Tiba tiba ustadzah Yasmin mendekatinya.


" Ada apa mas?"


* * * * * * * *


Malam pun tiba. Riziq hanya diam sambil duduk di kursi rumahnya. la masih tak percaya kalau ayahnya sudah tiada. Aisyah pun melihat kesenduan dalam diri suaminya. Perlahan ia pun mendekatinya dan duduk di sebelahnya Riziq.


" Lee"


Riziq pun tersenyum.


" Kenapa uni?"


" Kau masih berduka dengan kepergian ayahmu?" tanya Aisyah.


" Mungkin, sayang sekali ya uni, kau belum sempat bertemu ayahku, kalau kau melihatnya, kau pasti akan bilang kalau aku adalah anak pungutnya, karna aku tidak mirip dengannya, ayahku tampan seperti aang Rasyid sangat berbeda denganku yang hanya sekedar manis saja" tutur Riziq.


" Tapi aku lebih suka yang manis dari pada yang tampan, yang tampan itu banyak yang suka, artinya nanti banyak saingan" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum, hingga Riziq pun ikut tersenyum.


" Jadi aku ini LIMITED EDITION ?" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.


" Hmmm, tapi sayang kau GENIT"


" Dan kau GANJEN" jawab Riziq. Tiba tiba mereka berdua tertawa.


" Ha ha ha ha"

__ADS_1


Kini Aisyah sudah berbaring setelah menidurkan Adam dan Hawa. Riziq pun masuk kamar sambil membawa beberapa buku dan di taruhnya dalam rak, ia pun berbaring di sebelahnya Aisyah.


" Uni, kau merasa curiga tidak dengan warisan yang di tinggalkan untuku dan aang Rasyid?" tanya Riziq.


" Curiga kenapa?"


" Aneh saja, ibu tiriku dengan tanpa perlawanan merelakan warisan itu padaku dan aang, setauku dia adalah pencinta dan penggila harta, tidak mungkin dia dengan pasrah merelakannya begitu saja, kecuali warisan itu merugikannya. Entah kenapa ada rasa aneh dan curiga dengan warisan itu" tutur Riziq.


" Jangan jangan warisanmu itu adalah hutang mereka" ucap Aisyah curiga.


" Uni kau jangan menakutiku"


Kini Riziq mengambil satu buku dalam Rak lalu membacanya, sementara Aisyah sedang memainkan ponselnya. Setelah hampir 30 menit, Riziq pun merasa bosan, lalu ia menaruh kembali bukunya ke atas rak. Di tatapnya Aisyah sedang asik memainkan ponselnya. Perlahan Riziq mengambil ponsel itu dari tangan istrinya.


" Sampai kapan kau akan memainkan ponselmu itu, aku sedang berduka, tidak ingin kah kau menghiburku" ucap Riziq sambil menaruh ponselnya keatas meja.


" Lalu aku harus melakukan apa?" tanya Aisyah.


" Kau tidak perlu melakukan apa apa, biar aku saja" ucap Riziq yang kini sudah menaikan baju tidurnya Aisyah. Tiba tiba,


Srrueeeeek.


Terdengar bunyi robekan kain. Seketika Aisyah langsung menggeram.


"Leeee" geram Aisyah sambil melihat lihat rok gamisnya. Namun rok gamis Aisyah tidak ada yang robek.


" Tidak robek" ucap Aisyah sambil menatap rok gamisnya.


" Tadi suara robek apaan ya Le?" tanya Aisyah. Tiba tiba Aisyah dan Riziq terdiam melihat sarung yang di kenakan Riziq robek hingga 2 jengkal karna tersangkut ujung ranjang, padahal itu adalah sarung kesayangannya Riziq. Seketika itu pula Aisyah tertawa tawa melihat sarungnya Riziq robek.


" Haa ha ha ha, hmm mmm" Tiba tiba Riziq membungkam mulut Aisyah karna sedikit kesal pada istrinya yang terus menertawakannya.


" Mm m m m " Aisyah sudah memukul mukul dadanya Riziq karna merasa engap. Setelah puas dengan perbuatannya, Riziq pun melepaskan bungkamannya. Nafas Aisyah sudah terengah engah.


" Leeeee kau mau membunuhku ya" ucap Aisyah sedikit kesal. Tiba tiba Riziq merasakan sesuatu yang aneh di bibirnya, seketika Riziq langsung mengusap bibirnya dengan telapak tangannya, di lihatnya telapak tangannya berwarna merah. Riziq langsung menatap Aisyah yang kini sudah tersenyum.


" Uniii, kau ganjen sekali mau tidur saja pake lipstik segala" ucap Riziq sedikit kesal. Aisyah sudah tersenyum senyum.


"Siapa suruh membungkam mulutku dengan mulutmu"


"Masih untung cuma lipstik bukan balsem" gerutu Aisyah. Riziq yang mendengarpun langsung menyipitkan matanya.


" Uni mau ku hukum"


" Apa?"


Seketika Riziq langsung menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dan tubuh Aisyah.


" Leeeeeeee"

__ADS_1


__ADS_2