Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Zahira Rahmadia Al fiqri


__ADS_3

Pagi pagi sekali Riziq dan Aisyah sudah bersiap untuk pergi menemani ustad Rasyid ke makam ayahnya. Riziq dan Aisyah pergi menaiki taxi online, sementara ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin memakai mobil milik ustadzah Yasmin. Sebenarnya ustad Rasyid sudah menawari Riziq dan Aisyah untuk berangkat bersama, namun Aisyah dan Riziq menolaknya, mereka takut ustadzah Yasmin akan cemburu, apalagi sekarang ia sedang hamil. Aisyah sudah menitipkan kembali Adam dan Hawa pada umi Salamah.


Sesampainya di pemakaman. Riziq dan ustad Rasyid kini sudah berada di depan makam ayah mereka. Begitu pun dengan Aisyah dan ustadzah Yasmin. Mereka pun tak lupa mengirim do'a untuk ayah mereka. ustad Rasyid sudah menundukan kepalanya.


" Maafin aku yah, maaf kalau kedatanganku ini terlambat. kudo'akan semoga engkau tenang di alam sana, semoga engkau mendapatkan surganya Allah, amiin" batin ustad Rasyid.


Mata ustad Rasyid sudah memerah, namun ia mencoba menahan kesedihannya, ia tak mau air matanya terjatuh begitu saja.


Setelah selesai dari pemakaman.


" Ang, kita temui dulu pak Rudi, dia bilang ada sesuatu yang ingin ia bicarakan" ucap Riziq mengingatkan.


"Maaf Ziq, kalau pak Rudi mau membicarakan tentang warisan, maaf aang tidak tertarik. Terserah mau kau apakan warisan itu, aang serahkan semuanya padamu"


Riziq pun terdiam. Ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin pun pamit pulang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Kini menyisakan Aisyah dan Riziq yang masih berdiri di dekat pemakaman itu sambil menatap kepergiannya ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin.


" Kau mau menemui pak Rudi?" tanya Aisyah.


" Hmm"


" Kau tertarik dengan warisan itu?" tanya Aisyah kembali.


" Sebenarnya aku tidak tertarik dengan warisan itu, tapi seperti ada sesuatu yang menariku agar aku menemui pak Rudi. Entah kenapa aku merasa aneh dan curiga dengan warisan yang ayah tinggalkan untuk kami" tutur Riziq.


" Kalau warisannya barang berharga bagaimana?"


" Seperti yang sudah kubilang, aku pun tidak tertarik dengan harta yang di tinggalkan ayah, karna aang Rasyid telah menyerahkan urusan warisan padaku maka warisan itu akan ku berikan semua pada yang membutuhkannya" tutur Riziq. Aisyah pun tersenyum dan merasa bangga pada suaminya itu hingga ia repleks mencium pipinya Riziq.


" Uni, kau jangan menggodaku di pemakaman umum seperti ini"


" Maaf uni lupa" ucap Aisyah sambil tersenyum malu. Mereka pun langsung pergi ke rumahnya pak Rudi. Sesampainya disana.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab pak Rudi sambil tersenyum.


" Mari masuk" ajak pak Rudi.


Aisyah dan Riziq pun masuk dan duduk di ruang tamu.


" Mana Rasyid?" tanya pak Rudi.


" Maaf pak, aang Rasyid tidak bisa datang kemari, dia masih ada urusan, dan dia meminta saya untuk mewakilinya" tutur Riziq. Pak Rudi pun mengangguk.


" Maaf pak Rudi, memangnya apa yang di wariskan ayah untuk kami?" tanya Riziq. Pak Rudi pun tersenyum.


" Sebentar ya saya ambil dulu warisannya" ucap pak Rudi sambil berlalu pergi.


" Uni, kenapa perasaanku tidak enak ya. Sebenarnya apa warisan yang di tinggalkan ayah?" Riziq pun sudah bertanya tanya hingga penasaran. Tiba tiba pak Rudi datang bersama seorang gadis belia.

__ADS_1


" Nah Riziq, inilah warisan yang ditinggalkan ayahmu. ZAHIRA RAHMADIA AL FIQRI, dia ini adalah putri dari bapak Fiqri dan ibu sambungmu, dia adalah adikmu dan Rasyid" tutur pak Rudi. Seketika Riziq dan Aisyah terkejut. Riziq sudah membelalakan matanya sementara Aisyah sudah menganga tak percaya, untung saja dia sedang menggunakan masker. Aisyah dan Riziq pun menatap lekat gadis itu. Dilihatnya gadis belia itu menggunakan celana jeans robek robek, mengenakan kaos kelonggaran dan mengikat rambut di kuncir seperti ekor kuda.


" ASTAGFIRULLAH ALAZIM" ucap Aisyah dan Riziq secara bersamaan. Mereka hampir tak percaya kalau warisan yang di tinggalkan ayahnya adalah seorang adik perempuan.


Zahira hanya diam saja sambil menatap mereka.


" Le warisanmu" bisik Aisyah.


" Celananya robek robek, sepertinya celananya nyangkut di paku" bisik Aisyah kembali.


" Ini Zahira adikmu" ucap pak Rudi kembali. Zahira pun kini duduk di hadapan Riziq dan Aisyah.


" Zahira ini kakakmu namanya Riziq dan ini istrinya namanya Aisyah"


" Le namanya Zahira kan?, bukan Zahra" bisik Aisyah. Hingga Riziq mengeryitkan keningnya.


" Zahira uni"


" Alhamdulilah untung namanya Zahira bukan Zahra"


" Memangnya kalau Zahra kenapa?" tanya Riziq.


" Kalau namanya Zahra, pulang dari sini uni mau bikin bubur merah, bubur kuning dan bubur hijau" ucap Aisyah. Hingga Riziq menjadi kebingungan.


" Untuk apa uni mau bikin bubur berwarna pelangi seperti itu?"


" Tentu saja uni mau mengganti namanya, uni tidak mau namanya sama dengan nama wanita penggoda itu" tutur Aisyah. Riziq pun hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


" Zahira, kau sapa kakakmu" pinta pak Rudi.


" Asalamualaikum" ucap Riziq tegas.


" Kau kakakku?" tanya Zahira sedikit tak percaya.


" Kalau kau adalah putrinya bapak Fiqri, itu artinya aku adalah kakakmu" ucap Riziq.


" Tapi aku tidak percaya, aku cantik tapi kau tidak tampan" ucap Zahira pada Riziq. Tiba tiba Aisyah tertawa.


" Uniiiii" geram Riziq.


" Maaf"


" Tapi aku terlihat manis" ucap Riziq. Zahira sudah memicingkan matanya.


" Kulitku putih sementara kau hitam" ucap Zahira kembali. Aisyah kembali tertawa. Hingga Riziq memicingkan matanya pada Aisyah.


" Maaf Le, ternyata adikmu sama sepertimu, sama sama menyebalkan he he"


" Ini bukan hitam, tapi exotis namanya, kulitku exotis seperti coklat lumer" ucap Riziq pada Zahira.


" Aku tetap tidak percaya, ayah tidak pernah bilang kalau aku punya kakak laki laki"


" Dengar Zahira kau bukan cuma punya satu kakak laki laki. Tapi kau punya dua kakak laki laki, dia aang Rasyid namanya"


" Masaa" Zahira tetap tidak percaya.

__ADS_1


" Aku tanya berapa umurmu sekarang?" tanya Riziq.


" 21 tahun" jawab Zahira. Riziq dan Aisyah pun mengeryitkan keningnya tak percaya.


" Kau bohong, aku saja baru berumur 22 tahun. Aku tanya sekali lagi, berapa umurmu?" tanya Riziq.


" 18 tahun" jawab Zahira. Tiba tiba pak Rudi memotong pembicaraan.


" 15 tahun Zahira, umurmu baru 15 tahun" ucap pak Rudi menegaskan. Hingga Aisyah tertawa kembali.


" Dia mirip sekali denganmu Le, dia lebih dewasa dari umurnya" bisik Aisyah. Tiba tiba Zahira menggebrak meja, seketika Aisyah terkejut dan hampir saja melompat.


" Astaghfirullah Le, adikmu nampak menakutkan"


" Kalau kau adalah kakakku lalu kemana saja kau selama ini" tanya Zahira.


" Maaf, aku tidak tau kalau ayah punya anak lagi"


" Lalu kenapa selama ini aku tidak pernah melihat kau menemui ayah?" tanya Zahira. Riziq pun terdiam.


" Maaf"


" Zahira, karna kakakmu sudah datang, maka mulai saat ini kau ikut dengannya ya" pinta pak Rudi.


" Pak Rudi mengusirku?" tanya Zahira.


" Bapak bukannya mengusirmu, kakak kakakmu ini nanti yang akan bertanggung jawab atas dirimu" tutur pak Rudi. Riziq dan Aisyah pun saling lirik.


" Apa rumah kalian besar, apa kalian orang kaya?" tanya Zahira.


" Rumahku kecil, tapi besar kasih sayangnya. Kami bukan orang kaya, tapi insya allah kami kaya hati" jawab Riziq.


" Kami tinggal di lingkungan pesantren, kalau kau mau kau bisa ikut kami ke pesantren"


" What pesantren?, tidak mau" ucap Zahira.


" Heei Zahira, dimana pun mereka tinggal, kau akan tinggal bersama mereka" ucap pak Rudi.


" Tinggalah bersama kami, nanti kau bisa belajar agama disana"


Zahira pun akhirnya mau tidak mau mengangguk.


"Setidaknya aku bisa tinggal dan makan geratis, dan tidak harus repot repot bekerja" batin Zahira.


" Aku mau tinggal bersama kalian"


Riziq dan Aisyah pun tersenyum.


" Zahira cium tangan kakak kakakmu ini" pinta pak Rudi. Zahira pun mencium tangan Riziq dan Aisyah. Saat dia mencium tangan Aisyah, ia menatap heran karna Aisyah menggunakan masker.


" Heei kak Aisyah, kotaku ini termasuk daerah berzona hijau, jadi kau tidak perlu takut terpapar virus" ucap Zahira.


" Le, dia menggemaskan sepertimu, aku menyukainya"


" Kenapa kak Aisyah mengenakan masker, apa wajah kak Aisyah jelek hingga harus di tutupi masker" ucap Zahira kembali. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya. Namun Riziq malah tertawa.

__ADS_1


" Dia menyebalkan Le"


__ADS_2