
Kini di rumah umi Fadlun seakan terasa mencekam dengan kemarahannya umi Fadlun kepada Zahra. Ia tak habis pikir kalau keponakannya itu bisa berbuat nekat tanpa sepengetahuannya. Ia juga sedikit kesal pada Aisyah dan Riziq yang tidak memberitahukan kelakuan keponakannya itu. Kini keheningan terasa di rumah itu. Kiyai Mansyur pun hanya bisa memandang kesal pada keponakan istrinya itu. Sementara Zahra, ia pun hanya diam saja.
" Umi putuskan besok kita semua pulang ke kairo" ucap umi Fadlun tegas. Zahra pun terkejut, karna jadwal kepulangannya adalah lusa.
" Tapi umi, rencana aku tinggal disinikan satu hari lagi. Kenapa harus besok kita pulang" protes Zahra.
" Umi bilang besok kita semua pulang, umi malu sama Aisyah dan Riziq tentang kelakuanmu, kau sampai merendahkan diri untuk mendapatkan seorang laki laki, apalagi dia sudah mempunyai anak dan istri. Riziq adalah putranya umi, tidak akan umi biarkan siapapun menghancurkan kebahagiaannya"
" Aku tidak menyuruhnya untuk meninggalkan Aisyah, aku hanya menyuruhnya untuk menjadikanku istri kedua, cuma itu" ucap Zahra.
" Kau pikir segampang itu berpoligami"
" Tapi dulu umi dengan gampangnya menyuruh abi Mansyur untuk berpoligami. bukannya umi yang menyuruh abi untuk menikahi Aisyah, lalu apa bedanya denganku?" tanya Zahra.
" Tentu saja berbeda, umi menyetujui poligami karna umi iklas suami umi menikah lagi. Sementara Aisyah, dia sama sekali tidak menyetujui bahkan dia sangat membenci poligami. Dia tidak ikhlas suaminya menikah lagi, Aisyah sama sekali tidak mau di madu" tegas umi Fadlun.
" Tapi umi, sudah lama aku menaruh hati pada putramu itu, aku tidak tau kenapa sampai sekarang tidak bisa membuang perasaanku itu." ucap Zahra yang kini sudah menitikan air matanya.
" Dengar nak, kau cantik berpendidikan. Carilah laki laki yang mencintaimu dengan tulus tanpa harus membagi cinta itu dengan perempuan lain, umi yakin kau akan mendapatkan jodohmu, yang lebih baik lagi dari Riziq" tutur umi Fadlun.
" Bersiap siaplah, besok pagi kita akan pulang ke kairo. Abi akan urus keberangkatan kita" ucap kiayi Mansyur sambil berlalu pergi.
* * * * * * *
Kini Aisyah tengah duduk di tepi ranjang sambil memandang putra putrinya yang kini sedang terlelap. Perlahan Riziq pun menghampirinya dan duduk di sebelahnya Aisyah.
" Umi Fadlun bilang besok mereka akan pulang ke kairo" ucap Riziq sambil membelai lembut kepalanya Aisyah. Aisyah pun terkejut mendengar itu.
" Besok?, bukannya jadwal keberangkatan mereka itu lusa?" tanya Aisyah heran.
" Umi yang memberi keputusan. Dia juga akan ikut pulang ke kairo"
" Umi Fadlun juga ikut?, apa dia marah pada kita?" tanya Aisyah cemas.
" Dia menyayangimu dan anak anak"
Aisyah pun memeluk Riziq.
" Le apa itu artinya cintamu lebih kuat dari ambisinya Zahra, hingga dia menyerah sebelum waktunya" tanya Aisyah sambil mendongakan wajahnya. Riziq pun tersenyum.
" Tidurlah, besok pagi kita akan antar mereka kebandara" pinta Riziq.
__ADS_1
" Uni tidak mau mengantar kebandara, uni tidak mau bertemu dengan perempuan itu lagi" ucap Aisyah tegas.
" Kenapa tidak mau, mereka adalah orang tua angkatku, jangan perdulikan Zahra, anggap saja kita hanya mengantarkan umi Fadlun dan abi Mansyur, uni mau kan besok menemaniku mengantar mereka?" tanya Riziq. Aisyah pun akhirnya mengangguk.
pagi pun tiba, Aisyah sudah bersiap siap bersama Riziq. Sebelum pergi Aisyah pun menghubungi umi Salamah dan ustad Usman untuk menitipkan Adam dan Hawa, setengah jam sebelum kepergiannya, Aisyah sudah menghubungi kakaknya itu, sesuai permintaannya.
Aisyah dan Riziq pun pergi kerumahnya umi Salamah untuk menitipkan anak anaknya.
" Maaf ya umi, aku merepotkan lagi" ucap Aisyah sambil memberikan Adam dan Hawa pada umi Salamah dan Nisa.
" Tidak apa apa, umi seneng jika bisa bersama Adam dan Hawa" jawab umi Salamah.
" Kak Usmannya mana umi ?" tanya Aisyah.
" Sejak kau menghubunginya setengah jam yang lalu untuk menitipkan anak anak, Usman benar benar kabur, ia pergi entah kemana, ia tak mau di repotkan Adam dan Hawa" tutur umi Salamah.
Aisyah pun mengeleng gelengkan kan kepalanya, sementara Riziq malah tersenyum.
" Sepertinya ka Usman benar benar takut pada Adam dan Hawa." ucap Aisyah.
Setelah mengucap salam mereka pun pergi.
Sesampainya di bandara, Aisyah sudah menjaukan posisi Riziq dari Zahra. Umi Fadlun pun mendekati Aisyah.
" Maafkan umi ya telah membawa Zahra kemari, umi tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti ini" ucap umi Fadlun merasa bersalah. Aisyah hanya rersenyum saja tanpa menjawab ucapannya umi Fadlun.
" Ziq umi pergi ya, kau jaga Aisyah dan anak anak, umi pasti merindukan Adam dan Hawa"
" Hati hati mi" ucap Riziq sambil memeluk umi Fadlun. Kiyai Masyur pun menepuk pundaknya Riziq.
" Abi pergi"
" Hati hati bi" ucap Riziq sambil mencium tangannya kiyai Mansyur. Saat kiyai Mansyur dan umi Fadlun berjan pergi, Zahra pun menghampiri Aisyah dan Riziq.
" Kuakui cintanya ka Riziq begitu kuat untukmu dan aku mengaku kalah" ucap Zahra pada Aisyah. Tanpa berbasa basi Zahra pun pergi menyusul umi Fadlun. Dan pada ketanyaannya Zahra pergi sehari sebelum waktunya. ia mengaku kalah sehari sebelum waktu yang di berikannya usai.
Aisyah menatap kepergian mereka, lalu ia menatap Riziq.
" Apa ujian kita sudah berakhir?" tanya Aisyah.
" Mudah mudahan, Setiap pasangan suami istri pasti akan mendapatkan ujian masing masing, dan mudah mudahan kita bisa melewati semua itu."
__ADS_1
Aisyah pun tersenyum.
" Ayo kita pulang, aku sudah rindu dengan anak anak" pinta Riziq. Aisyah pun sudah menggandeng lengan suaminya itu.
" Jangan terlalu erat, aku susah bergerak" protes Riziq.
" Jangan protes, aku takut ada pelakor lagi yang akan mengincarmu"
" Jadi kau mengakui kalau aku ini tampan hingga banyak perempuan yang mengincarku" ucap Riziq percaya diri.
" Kau tidak tampan tapi manis, sudah jangan banyak bicara cepat kita pulang" pinta Aisyah.
Mereka pun menaiki taxi yang kebetulan lewat. Saat mereka masuk taxi dan duduk. pak Supir pun tersenyum.
" Eh si mas sama si mbanya, kita ketemu lagi" ucap pak supir yang dulu pernah mengantar Aisyah dan Riziq pulang ke pesantren.
" Eh si bapak, tidak sangka kita ketemu lagi" ucap Riziq.
" Mas sama mbanya tidak perlu khawatir dengan kenyamanan taxi saya, karna saya sudah menyemprotkan cairan pembunuh serangga, jadi saya yakin tidak akan ada semut betina yang sedang cemburu yang akan menggigit masnya lagi" tutur pak supir. hingga Aisyah mengeryitkan keningnya, sementara Riziq malah tersenyum senyum.
" Apa maksudnya semut betina yang sedang cemburu?" tanya Aisyah.
"Sudah mengangguk saja uni" pinta Riziq sambil berbisik.
Taxi pun melaju dengan kecepatan sedang, wajah Aisyah nampak berbunga bunga, setelah merasa ia terbebas dari pelakor. Ia pun menggenggam lengan Riziq sambil menyender di pundak suaminya itu.
Sesampainya di depan gerbang pesantren. Aisyah sudah turun terlebih dulu, sementara Riziq masih membayar taxi. Saat Riziq akan turun tiba tiba Aisyah menutup pintu mobil dengan kerasnya. maklum saja semangat Aisyah sangat menggebu gebu setelah merasa bahagia karna Zahra telah pergi. Riziq yang tak menyangka Aisyah akan menutup pintu dengan kerasnya, ia menjerit saat jari jarinya terjepit pintu mobil.
" Aaaaaaaw" Riziq menjerit saat jari jarinya terjepit. Seketika pak supir langsung terkejut.
" Ya Allah, kenapa mas?, apa mas di gigit semut lagi? " tanya pak supir cemas.
" Jari saya terjepit pak" jawab Riziq sambil meringis.
" Oh saya pikir mas di gigit semut lagi" ucap pak supir lega. Seketika Aisyah langsung membuka pintu karna mendengar jeritan Riziq.
" Kau kenapa Le?" tanya Aisyah.
" Uniiiii, jari jariku terjepit, kenapa kau menutup pintu keras sekali" gerutu Riziq.
" Maaf, uni tidak tau kalau jarimu terjepit " ucap Aisyah sambil meniupi jari jarinya Riziq.
__ADS_1