
Masih dengan Riziq dan Aisyah yang kini telah menaiki taxi online, mereka memerlukan waktu satu jam setengah untuk sampai di alamat yang ustad Rasyid berikan, tepatnya alamat rumah yang lama ayahnya Riziq.
Setelah sampai, mereka pun turun dari taxi. Ada keraguan dalam dirinya Riziq saat menatap rumah yang pernah ia tinggali dulu. Riziq terus menatap rumah itu, seperti ada kenangan kenangan manis saat ia bersama orang tuanya sebelum istri kedua ayahnya datang. Riziq tersenyum, meskipun waktu itu dia masih berumur 4 tahun saat ia di bawa kabur oleh ustad Rasyid dari rumah itu, namun ada sedikit kenangan yang masih tersimpan di ingatannya Riziq, ia masih mengingat saat ayah dan ibunya mengajaknya bercanda.
" Le" panggil Aisyah sambil mengelus pundaknya Riziq, hingga membuyarkan lamunan suaminya itu.
" Kenapa Le, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Aisyah. Riziq hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Ayo kita temui pemilik rumah yang baru" pinta Aisyah. Mereka pun mengetuk rumah yang berukuran lumayan besar itu.
Tok tok tok
" Asalamualaikum"
Seketika itu pula pemilik rumah yang baru membuka pintu.
" Waalaikumsalam"
Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah itu.
" Siapa ya, ada yang bisa saya bantu?"ucap ibu itu.
" Maaf bu, saya Riziq dan ini istri saya, maaf kalau kedatangan saya mengganggu, saya kesini cuma mau bertanya, apa ibu tau dengan pemilik rumah ini sebelumnya" tanya Riziq.
" Maaf saya kurang tau, saya tidak pernah bertemu dengan pemilik rumah sebelumnya, karna saya membelinya lewat calo" jawab si ibu.
Riziq dan Aisyah pun terdiam.
" Kalau mas sama mbanya ingin tau pemilik rumah ini sebelumnya, kalian bisa menanyakannya pada pak Rudi, sepertinya pak Rudi tau tentang pemilik rumah ini sebelumnya" ucap si ibu kembali.
" Pak Rudi?"
" Ia pak Rudi, kebetulan pak Rudi rumahnya ada di ujung jalan tidak jauh dari sini"
" Terima kasih bu atas pemberitahuannya, kami permisi, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Setelah berpamitan Aisyah dan Riziq pun pergi untuk menemui pak Rudi. Sesampainya di depan rumah pak Rudi, Aisyah dan Riziq melihat seorang laki laki paruh baya yang rambutnya sudah ber'uban sedang membersihkan sepedah jaman dahulu.
" Asalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikumsalam"
" Maaf pak, apa saya bisa bertemu dengan pak Rudi" ucap Riziq.
" Ia saya sendiri pak Rudi" ucap si bapa beruban itu, ternyata dia adalah pak Rudi.
" Ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Rudi.
" Saya ingin menanyakan soal bapak Fiqri, pemilik lama rumah yang ada disana" tunjuk Riziq pada rumah ayahnya yang dulu.
" Oh bapak Fiqri" ucap pak Rudi.
" lya, pak Rudi mengenalnya?" tanya Riziq.
" Tentu saja, dia adalah sahabat saya" jawab pak Rudi. Aisyah dan Riziq pun tersenyum.
" Boleh saya tau dimana bapak Fiqri sekarang tinggal?"
" Kenapa kau menanyakannya, memangnya ada perlu apa kau sama Fiqri?" tanya pak Rudi.
" Saya putranya pak" jawab Riziq seketika.
" Kau Rasyid?" tanya pak Rudi.
" Saya Riziq, adiknya aang Rasyid" jawab Riziq. Seketika pak Rudi terdiam dan hampir tak percaya.
" Kau Riziq" ucap pak Rudi sambil mengelus kepalanya Riziq seolah mereka seperti pernah bertemu sebelumnya. Riziq pun mengangguk. Pak Rudi pun langsung menyuruh Riziq untuk masuk kedalam rumah.
" Masuklah"
Kini Riziq dan Aisyah sudah duduk di hadapannya pak Rudi. Sedari tadi pak Rudi menatapnya seolah tak percaya kalau laki laki yang berbadan tinggi dan besar yang ada di hadapannya adalah Riziq, karna terakhir pak Rudi bertemu dengan Riziq saat itu usia Riziq masih 4 tahun, badannya masih kecil mungil.
" Maaf pak, kedatangan kami kesini, kami ingin mencari ayah, apa pak Rudi tau alamat rumah barunya ayah?" tanya Riziq. Tiba tiba pak Rudi terdiam dengan pertanyaannya Riziq.
" Sudah berapa lama kau tidak bertemu dengan ayahmu?" tanya pak Rudi.
" Sudah 18 tahun pak" jawab Riziq.
" Selama itu kau tidak tau kabar tentang ayahmu?"
Riziq pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Kemana saja kau selama 18 tahun, kenapa selama itu kau tidak berusaha mencarinya" ucap pak Rudi seolah dia menyalahkan Riziq karna tak mau mencari keberadaan ayahnya. Riziq hanya menundukan kepalanya.
" Meskipun sikapnya kurang baik padamu, setidaknya kau sebagai seorang anak tidak akan putus komunikasi dan silaturahmi padanya" tutur pak Rudi. Riziq pun merasa kalau ia juga bersalah karna selama ini tidak berusaha mencari ayahnya.
" Saya tau saya salah pak, makanya saya kesini mau mencarinya, saya ingin tau keadaanya" ucap Riziq.
" Sepertinya kau terlambat nak" ucap pak Rudi penuh penegasan.
" Terlambat?, maksudnya?" tanya Riziq tak mengerti. Aisyah pun sudah saling lirik dengan Riziq berusaha mencerna dari ucapannya pak Rudi.
" Ya, kalian terlambat mencarinya, ayahmu Fiqri sudah meninggal 6 tahun yang lalu" ucap pak Rudi. Seketika itu pula Riziq dan Aisyah sangat terkejut seolah mereka tersambar petir setelah mendengar kalau ayahnya Riziq telah meninggal.
" Ayah sudah meninggal?" tanya Riziq tak percaya. Aisyah sudah mengelus ngelus pundaknya Riziq mencoba menenangkannya.
" Hmm, ayahmu sakit keras, sudah hampir satu tahun ia menjalani pengobatan, dan akhirnya Allah lebih menyayanginya, dan mengambilnya lebih dulu"
Seketika Riziq langsung menatap sendu pada Aisyah.
" Uni ayahku sudah meninggal" ucap Riziq yang kini sudah berkaca kaca, seolah ingin mengadu pada istrinya itu. Seketika Aisyah langsung memeluk Riziq, memberinya kehangatan dan mencoba merasakan apa yang kini di rasakan suaminya.
" Yang sabar ya Le, ini ujian untukmu" ucap Aisyah sambil mengelus ngelus punggungnya Riziq.
Kini Riziq dan Aisyah sudah berada di pemakaman umum, tepatnya di hadapan makam pak Fiqri ayahnya Riziq. Pak Rudi yang mengantar mereka. Riziq pun memanjatkan do'a untuk ayahnya, lalu di aminkan oleh Aisyah. Setelah selesai berdo'a, Riziq pun menundukan kepalanya.
" Ayah, maafkan aku yang tidak tau diri ini, yang selama 18 tahun tidak mau berusaha mencarimu atau hanya sekedar menanyakan kabarmu saja aku tidak pernah, maafkan aku yang berdosa ini, aku sadar kalau aku anak yang durhaka padamu. Semoga kau tenang di alam sana semoga kau mendapatkan syurganya Allah, amiin"
Aisyah melihat kesedihan di wajah suaminya itu. Tak terasa Riziq pun menitikan air mata.
" Ini pertama kalinya aku melihat suamiku menangis, sesedih itukah engkau, ingin rasanya aku menempatkan diri di posisimu. Hingga aku bisa merasakan kesedihan yang teramat dalam itu hingga engkau bisa berbagi duka bersamaku" batin Aisyah.
" Lee" ucap Aisyah yang kini merangkul Riziq dari samping. Riziq pun berusaha untuk tersenyum pada istrinya itu. Perlahan Aisyah pun menyeka air mata Riziq yang jatuh tanpa seijin pemiliknya.
" Kau yang sabar ya Le, semua sudah takdir" ucap Aisyah yang kini sudah mendekap pada Riziq.
" Uni apa aku anak yang durhaka?, yang selama 18 tahun tidak pernah mencarinya, bahkan dia meninggal pun aku tidak pernah tau" ucap Riziq.
" Tidak Le, kau bukan anak durhaka, kau anak yang baik, kau suami terbaiku, bahkan kau ayah terbaik untuk Adam dan Hawa"
" Benarkah?" tanya Riziq sambil menatap Aisyah. Seketika Aisyah langsung mengangguk. Seketika itu pula Riziq langsung memeluk erat Aisyah.
" Terima kasih uni, kau selalu ada disaat suka maupun duka"
__ADS_1