Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Tertabrak


__ADS_3

Kini Riziq dan Aisyah membawa Zahira pulang ke rumahnya. Sesekali Zahira masih terisak dengan tangisnya, ia merasa malu setelah tau ibunya pernah berbuat jahat pada kakak kakaknya itu, namun Riziq masih tetap mau mengurus kehidupannya tanpa rasa dendam sedikit pun pada Zahira. Ia sama sekali tak menyangka dengan hal itu. Riziq dan Aisyah sangat baik padanya, meskipun Zahira adalah anak dari seorang wanita yang telah menghancurkan keluarga mereka.


" Ira kau mandi dulu ya" pinta Aisyah.


Zahira pun mengangguk. Kini Aisyah sudah duduk di ruang tamu bersama Riziq. Perlahan Aisyah mengelus tangan suaminya itu.


" Kau baik baik saja Le?" tanya Aisyah.


Riziq pun mengangguk.


" Apa bu Erni sudah pergi dari pesantren?" tanya Riziq.


" Sepertinya begitu"


Riziq pun terdiam lalu menundukan wajahnya.


" Le, aku takut kalau bu Erni berhasil mebujuk Zahira dan membawanya pergi dari sini. Aku sudah menyayangi Zahira Le, meskipun kadang dia menyebalkan tapi dia punya sisi lain yang menggemaskan" tutur Aisyah.


" Do'akan saja biar Zahira tetap mau menimba ilmu disini" ucap Riziq sambil mengelus lembut kepala istrinya.


" Ni aku pergi dulu, anak anak pasti menungguku" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk. Setelah mencium tangannya Riziq dan Riziq mencium keningnya Aisyah, Riziq pun berpamitan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Kini Riziq pun pergi untuk mengajar kembali. Setelah selesai mandi, Zahira pun duduk di ruang tamu, dengan rambutnya yang masih basah. Perlahan Aisyah duduk di sampingnya.


" Biar ka Aisyah yang bantu merapihkan rambutmu" pinta Aisyah sambil menggosok rambut Zahira dengan handuk. Setelah itu Aisyah menyisirnya.


" Sudah rapih, mana ikat rambutnya?" pinta Aisyah. Zahira pun memberikan ikat rambutnya.


" Di kepang dua ya ka" pinta Zahira.


" Jangan, nanti kalau sudah di lepas ikatannya rambutmu, kau akan terlihat seperti Susana di film jum'at keliwon"


Zahira hanya mengeryitkan keningnya.


" Bukan seperti Susana ka, tapi nanti seperti rambutnya Niki Astria jaman dulu, kan keren itu" ucap Zahira. Kini Aisyah lah yang mengeryitkan keningnya. Mau tidak mau Aisyah pun mengepang rambutnya Zahira.


" Sudah selesai, pakailah kerudungmu" pinta Aisyah. Zahira pun memakai kerudungnya, sedangkan baju ia meminjam pada Aisyah karna bajunya yang semula kotor penuh dengan tanah perkebunan.


" Ka aku boleh tanya sesuatu?" ucap Zahira.


" Mau tanya apa?"


" Apa dulu kau punya hubungan dengan ka Rasyid?" tanya Zahira kepo.


Deg.


Aisyah terkejut dengan pertanyaan adik iparnya itu. Bagaimana Zahira bisa tau tentang masa lalunya.


" Kenapa kau bertanya seperti itu Ira?" tanya Aisyah sedikit takut dan tidak suka.


" Tadi pagi aku mendengar perdebatan ka Riziq sama ka Rasyid di depan, ka Riziq bilang gara gara ibu ka Rasyid terpaksa melepasmu" tutur Zahira sambil menatap Aisyah. Aisyah pun terdiam.


" Mungkin kau salah dengar Ira" jawab Aisyah mengelak.


" Kupingku masih normal ka, kau pernah mencintai ka Rasyid?"


" Itu hanya masalalu Ira, lagi pula setiap orang pasti punya masalalu" jawab Aisyah.


" Maafkan ibu ka, karna ibu hubungan asmaramu kandas di tengah jalan"


Aisyah malah tersenyum.


" Itu namanya takdir Ira, aku dan ustad Rasyid tidak berjodoh, makanya kami di pisahkan" jawab Aisyah.


" Kau masih mencintainya?" tanya Zahira sambil menatap Aisyah.


" Siapa?"


" Kakaku"


" Aku mencintai kakakmu" jawab Aisyah.


" Kakak yang mana?"


" Tentu saja MUHAMMAD RIZIQ ALFIQRI" jawab Aisyah sambil tersenyum senyum.


" Kakaku yang berondong itu ya"


Aisyah pun mengangguk ngangguk sambil tersenyum. Hingga Zahira ikut tersenyum sambil memeluk Aisyah.


"Aku beruntung punya kalian" batin Zahira. Aisyah pun melepaskan pelukan adik iparnya itu.


" Sebaiknya kau masuk kelas lagi, ustadzah Ulfi pasti mencarimu, nanti kalau bolos terus, namamu akan dihapus dari daftar calon menantu" ucap Aisyah.


" Ka Aisyah tau tadi ka Yusuf di gered om ustad ke kebun" ucap Zahira.

__ADS_1


" Benarkah?, tapi untuk apa?"


" Katanya biar aku gak sedih lagi. Om ustad pengertian sekali ya" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.


" Ya sudah sekarang kau pergi ke kelasmu, ka Aisyah juga mau mengambil Adam sama Hawa di rumahnya umi"


Zahira pun mengangguk dan pergi bersama Aisyah, mereka berpisah di persimpangan jalan, Zahira pergi ke asrama terlebih dulu karna ingin mengganti baju Aisyah yang kebesaran di tubuhnya. Sementara Aisyah pergi ke rumahnya umi Salamah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Umi Salamah pun membukakan pintu.


" Anak anak tidak rewel Mi?" tanya Aisyah.


" Tidak, sekarang lagi di gendong sama Nisa" jawab umi Salamah. Aisyah pun menghampiri putra putrinya. Tiba tiba ustad Usman keluar dari kamarnya sudah berpenampilan rapih mengenakan sarung dan kopeah serta sorbannya.


" Mas mau berangkat?" tanya Nisa.


" Ia aku mau mengajar dulu"


Nisa pun mencium tangan suaminya. Saat Ustad Usman mendekati Nisa, tiba tiba ia langsung menatap Aisyah. Aisyah yang mengerti pun langsung memalingkan wajahnya sambil mengumpat dalam hatinya.


" Cuma cium kening saja pake malu malu, padahal sendirinya tidak tau malu dan malu maluin" gerutu Aisyah dalam hati.


" Sudah?" tanya Aisyah.


" Hmmm"


Aisyah pun membalikan wajahnya.


" Cuma cium kening aja pake malu malu, suamiku saja sering cium sini cium sini cium sini" ucap Aisyah sambil memperagakan tangannya yang mencomot hidung pipi bibir dan kening.


" Itu karna kau sering menggodanya, kau pasti sering mengibarkan bendera perepangan di depan pintu saat matahari terbit. Dan kau juga sering mengibarkan bendera peperangan di atas ranjang saat matahari tenggelam" tutur ustad Usman.


" Aku tidak perlu repot repot mengibarkan bendera peperangan, karna suamiku yang berondong itu jangankan digoda, tidak di goda saja dia pasti sudah * * * * * * *" ucap Aisyah hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya. Sedangkan Nisa hanya tersenyum senyum saja melihat perdebatan mereka.


" Mas sudah sana berangkat, katanya mau pergi mengajar" ucap Nisa mengingatkan.


" Ya sudah mas berangkat dulu, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ustad Usman pun pergi dari rumahnya menuju kelas tempatnya mengajar. Di perjalanan ia terus menggerutu dalam hatinya.


" Masa ia aku kalah sama si berondong itu, jelas jelas umurku lebih matang darinya"


" Astaghfirullah, ini siapa lagi yang menangis, hari ini sudah seperti menangis berjamaah" ucap ustad Usman sambil mengedarkan pandangan mencari sumber suara.


" Ini bukan suara Zahira, ini seperti suara perempuan yang sudah berumur. Serak serak gimana gitu" ucap ustad Usman bicara sendiri. Tiba tiba ia melihat pohon bunga yang bergoyang goyang di hadapannya.


" Dedemit inimah, harus mengeluarkan jurusnya Adam di film MUNAFIK" batin ustad Usman sambil mengeluarkan tasbih di dalam kantong bajunya. Perlahan ustad Usman mendekati pohon bunga yang bergoyang goyang itu. Saat ia akan membacakan bacaan ayat kursi, tiba tiba ia terdiam melihat sorbannya di atas pohon bunga itu.


Deg.


" Ini pasti si neng ber'uban, eh bu Erni maksudnya. Ngapain di menangis disitu. Bahaya ini, aku harus segera kabur" batin ustad Usman sambil mundur ke belakang dan mengangkat sedikit sarungnya untuk siap berlari. Seketika itu pula ia berlari sekencang mungkin untuk bisa menghindari ibunya Zahira, bukan karna takut, tapi karna ia ingin menghindari ocehan tak masuk akal dari ibunya Zahira itu. ustad Usman terus berlari tanpa memperhatikan jalan, tiba tiba ia menabrak ustad Rasyid yang sedang berjalan bersama ustadzah Yasmin. Ustad Usman dan ustad Rasyid pun tersungkur.


" Allahu akbar"


" Astaghfirullah maaf ustad Rasyid" ucap ustad Usman sambil membangunkan ustad Rasyid.


" Kenapa ustad lari lari?" tanya ustad Rasyid.


" Ketemu dedemit hidup" jawab ustad Usman. ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin pun mengeryitkan keningnya. Ustad Usman menatap ustadzah Yasmin yang sedang mengelus perutnya yang sedikit membuncit sambil mulutnya komat kamit.


" Ustadzah Yasmin pasti sedang mempraktekan ucapannya si bocah selebor itu. Ia pasti sedang mengucap mit amit lebih dari tujuh kali sesuai yang dikatakan Zahira padanya. Untung aku hanya menabrak ustad Rasyid dan tidak menabrak istrinya, kalau terjadi apa apa dengan ustadzah Yasmin dan bayinya, bisa bisa ustad Rasyid minta ganti rugi padaku. Padahal Nisa saja belum hamil hamil" batin ustad Usman.


" Ustad Rasyid tidak apa apa?" tanya ustad Usman.


" Alhamdulilah saya tidak apa apa"


" saya minta maaf ustad"


" Tidak apa apa, kami permisi, asalamualaikum" ucap ustad Rasyid sambil berlalu pergi bersama istrinya. Kini ustad Usman melanjutkan kembali langkahna.


" Pelan pelan Usman, nanti kena masalah lagi" ucapnya bicara sendiri. Ustad Usman melangkahkan kakinya dengan hati hati pelan tapi pasti. Tiba tiba di perempatan jalan ia mendengar suara orang berlari.


Blugh blugh blugh.


Suara langkah kaki dengan kecepatan tak biasa bisa di dengar jelas oleh telinganya. Ia celingak celinguk penuh kewaspadaan karna suara langkah itu terdengar luar biasa hebatnya.


" AWAAAAAAAASSSS" teriak Dewi dari belakang dengan berlari kencang sambil membawa satu box kue yang baru dia ambil dari rumahnya bi Ratna. Seketika ustad Usman membalikan badannya.


" HUAAAAAAAAAA" ustad Usman belum saja menghindar, Dewi sudah lebih dulu menabraknya.


BRUUUGGH.


Ustad Usman yang tertabrak Dewi pun langsung terpental dan tersungkur ke pinggir jalan. Dewi sudah seperti busway yang remnya blong.

__ADS_1


" Allahu akbar, nikmatnya" ringis ustad Usman. Dewi pun sudah tengkurep di tengah jalan, kue yang ia bawa dalam box pun berhamburan di jalan.


" Aduuuuh sakit" ringis Dewi. Ustad Usman pun bangun sambil meringis kesakitan karna siku tangan dan kakinya sedikit terluka terkena goresan aspal di jalan.


" DEWIIIIIII" teriak ustad Usman sedikit kesal.


" Kenapa kau menabraku. Kenapa kau berlari larian di jalan, apa kau sedang lomba maraton" gerutu ustad Usman.


" Lari nabrak, gak lari di tabrak" batin ustad Usman.


" Kau jangan banyak mengoceh ustad, cepat kau bangunkan aku" pinta Dewi. Ustad Usman mengeryitkan keningnya.


" Sepertinya aku tidak akan kuat Wi, maaf beribu ribu maaf aku tidak bisa membantumu" ucap ustad Usman yang masih meringis kesakitan karna siku tangannya sedikit mengeluarkan darah.


" Ustad aku menyuruhmu membangunkanku bukan menggendongku" Dewi menggerutu.


" Iya iya, aku akan membangunkanmu"


Perlahan ustad Usman membangunkan Dewi.


" Ya Allah Wi, badanmu enteng sekali, aku sudah mengeluarkan seluruh tenagaku tapi kau tidak bergeser sedikit pun" ucap ustad Usman. Dewi sudah berusaha untuk bangkit namun ia nampak kesusahan. Riziq dan ustad Azam yang melihat mereka pun langsung berlari menghampiri mereka.


" Ya Allah ada apa ini?" tanya ustad Azam saat melihat Dewi tengkurep di tengah jalan.


" Tolong bantu bangunkan Dewi ustad"


Riziq, ustad Azam dan ustad Usman pun bergotong royong membangunkan Dewi.


" Alhamdulilah" ucap mereka serempak saat Dewi berhasil bangun.


" Kenapa ka Dewi bisa tersungkur di jalan?" tanya Riziq heran.


" Aku tabrakan dengan ustad Usman" jawab Dewi.


" Heeeeeeii, ralat ucapanmu itu, kita tidak tabrakan tapi kau menabraku" protes ustad Usman hingga Dewi mengerucutkan bibir mungilnya. Tiba tiba Dewi menjerit histeris saat melihat kue kue yang ia bawa telah hancur berhamburan di jalanan.


" HUAAAAAA"


Seketika Riziq dan ustad Usman meloncat dari posisinya karna terkejut mendengar Dewi menjerit.


" Kenapa kau menjerit Wi, kau mengagetkan saja" gerutu ustad Usman.


" Ustad kau tidak lihat kue kuenya bi Ratna berhamburan di jalan, kau harus bertanggung jawab ustad. Ini semua gara gara dirimu" ucap Dewi. Ustad Usman pun langsung mengeryitkan keningnya.


" Apa maksudmu Wi, kau yang menabraku kenapa aku yang harus bertanggung jawab" protes ustad Usman. Tiba tiba Dewi langsung menangis.


" Huaaaa hiks hiks hiks, kalau kau tidak mau ganti rugi nanti bi Ratna marah padaku dan gaji ku bisa di potong, kalau gajiku di potong aku tidak bisa membeli stok cemilan hiks hiks" tutur Dewi dengan isak tangisnya. Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya, sementara Riziq dan ustad Azam sudah mengusap dada mereka masing masing sambil mengucap istighfar.


" Mengalah saja ustad Usman, kasian ka Dewi, kalau dia terlalu banyak menangis nanti badannya bisa kurus" ucap Riziq. Ustad Usman pun menghela nafas panjang.


" Baiklah aku mengalah, berapa aku harus ganti rugi?" tanya ustad Usman. Mata Dewi langsung berbinar.


" Satu kue harganya 2000, dalam box itu terdapat 30 kue, jadi kau harus ganti rugi 100 ribu" ucap Dewi. Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya.


" Nilai pelajaran matematikamu berapa Wi?" tanya ustad Usman.


" Kenapa ustad Usman menanyakan nilai pelajaran matematikaku, memangnya apa hubungannya dengan kue kuenya bi Ratna" ucap Dewi tak mengerti.


" Kau hitung saja 2000 di × 30 berapa hasilnya?" tanya ustad Usman.


" 60.000"


" Lalu kenapa kau memintaku ganti rugi 100.000"


Dewi malah tersenyum.


"Yang 60.000 buat ganti rugi kue, yang 40.000 buat uang kaget. Ustad fikir saya tidak kaget dengan kejadian barusan"


" Astaghfirullah alazim" ustad Usman mengeleng gelengkan kepalanya heran.


" Yang harusnya kaget itu aku Wi, kau tiba tiba menabraku hingga aku tersungkur" protes Ustad Usman. Riziq dan ustad Azam sudah cekikikan tak bersuara. Ustad Usman pun mengalah dan langsung memberikan uang lembaran 100.000. Mata Dewi langsung berbinar.


" Terima kasih ustad" ucap Dewi sambil menerawang uang itu.


" Uangnya asli Wi, belum lama aku ambil dari bank" ucap ustad Usman.


" Siapa tau saja ustad, uang ini datang sendiri saat kau menunggu lilin"


" Astaghfirullah, kau fikir aku ba* * ng*pet" gerutu ustad Usman. Saat Dewi akan pergi, tiba tiba ia tersenyum karna ada kue yang terselip di dalam box itu yang tidak rusak. Dewi pun memakan kue itu.


" Mubazir" ucapnya.


" Kau makan satu kue itu berarti kembalikan uangku 2000" pinta ustad Usman.


" Kau pelit sekali, aku cuma makan satu" protes Dewi.


" Ya sudah karna masalahnya sudah selesai, kita kembali ke kelas dulu" pinta ustad Azam.


" Tapi ustad, badanku berasa remuk semua" ucap Dewi.

__ADS_1


" Ustad Riziq, badanmu kan tinggi besar, jadi tolong kau gendong Dewi sampai ke kantin" pinta ustad Usman. Riziq langsung mengeryitkan keningnya.


" Maaf ka Dewi, meskipun badanku lebih besar dari yang lain, sungguh aku tidak sanggup menggendongmu" ucap Riziq. Ustad Azam sudah tertawa tawa.


__ADS_2