Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Bahagiakah?


__ADS_3

Langkah kaki beriringan dengan di iringi oleh rasa kecemasan yang teramat sangat untuk para èma èma yang kini sedang mengantarkan ustad Usman ke klinik.


" Kenapa kau tidak mengantarku pake mobil saja ka" protes ustad Usman pada ustad Soleh.


"Tidak usah manja begitu, klinik di pesantren itu lokasinya dekat, 10 menit juga sampai" ucap ustad Soleh.


" Kau tidak mau menggendongku ka" ucap ustad Usman pada kakaknya. Hingga ustad Soleh mengeryitkan keningnya.


" Kau mau ku gendong?, ayo, nanti setelah sampai di klinik, kubanting kau kehadapannya dokter Husna" ucap ustad Soleh.


" Tega sekali kau"


" Lagian yang sakit itu tenggorokanmu, bukan kakimu"


Tiba tiba Aisyah berbisik pada Nisa.


" Ka suamimu sudah seperti pengantin sunat yang di giring menuju klinik"


Nisa hanya tersenyum.


" Ssttth, jangan keras keras, nanti kakamu dengar dia bisa ngamuk ngamuk" ucap Nisa sambil berbisik.


Di tengah jalan mereka bertemu dengan Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dewi pun terdiam heran melihat mereka berjalan beriringan.


" Kalian mau pada kemana?" tanya Dewi.


" Kita mau klinik" jawab Aisyah.


" Siapa yang sakit?, apa ustadzah Yasmin mau melahirkan?" tanya Dewi.


" Bukan Wi, suamiku keselek tulang ikan, kita mau membawanya ke klinik" ucap Nisa. Dewi sudah ingin tertawa namun ia coba untuk menahannya.


" Waah kasihan sekali ustad Usman, tapi masih untung cuma keselek tulang ikan, bukan keselek tulang kambing" ucap Dewi.


" Kau jangan macam macam ya Wi" gerutu ustad Usman.


" Maaf ustad Usman. Tapi apa boleh aku ikut?" tanya Dewi penuh harap.


" Boleh banget Wi, kau sekalian ajak suami dan anakmu" ucap ustad Soleh yang sedikit kesal dengan ustad Usman yang memintanya untuk mengantar ke kelinik padahal sudah banyak yang mengantar. Kini Dewi pun ikut mengantarkan ustad Usman. Mereka berjalan bak satu rombongan yang mau mengantar pengantin pria menuju tempat pelaminan (ngabesan wk wk wk).


Setelah hampir sampai ke klinik, mereka bertemu dengan ustad Azam dan ustadzah Ulfi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Waah ini pada mau kemana ya rame rame begini?" tanya ustad Azam.


" Mau mengantar Usman sunatan"


" Heeeei kau jangan macam macam ya, maaf ustad Azam, mereka mau mengantarku ke klinik, ada sesuatu yang bersemayam di tenggorokanku" ucap ustad Usman.


" Ustad Usman punya penyakit amandel?" tanya ustadzah Ulfi.


" Kau kalau jawab jangan suka berbelit belit Usman, bilang saja kalau kau keselek tulang ikan" ucap ustad Soleh.


" Inalilahi"

__ADS_1


" Apa ustad Azam dan ustadzah Ulfi mau ikut dengan kami?"


" Maaf, kami ada urusan, kita do'akan semoga cepat sembuh" ucap ustad Azam.


" Terima kasih ustad Azam, kami duluan asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Mereka pun melanjutkan kembali menuju klinik. Kini ustad Azam dan ustadzah Ulfi berdiri mematung menatap kepergian mereka. Ada senyum di bibirnya ustadzah Ulfi.


" Lucu ya mereka, mau mengantar orang sakit saja sudah seperti mau melakukan pawai obor" ucap ustadzah Ulfi.


" Satu rombongan penuh, yang sakit satu orang, yang mengantar 9 orang"


Sesampainya di klinik.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab dokter Husna.


" Astaghfirullah alazim" ucap dokter Husna saat melihat rombongan besar itu datang.


" Ya Allah, kalian pada kenapa?" tanya dokter Husna sedikit khawatir.


" Maaf dokter, yang sakit cuma satu orang, yang lainnya cuma nganter" ucap umi Salamah.


" Oooh" ucap dokter Husna sambil mengangguk ngangguk. Ada senyum dan tawa di raut wajahnya.


" Siapa yang sakit?"


" Usman"


" Mari di periksa dulu" pinta doter Husna.


Dokter Husna pun memeriksa tenggorokannya ustad Usman, ia melihat ada tulang ikan yang menancap di tenggorokannya ustad Usman.


" Gimana dok?" tanya Nisa cemas. Dokter Husna pun tersenyum.


" Ada tulang ikan di tenggorokannya, alhamdulilahnya tulangnya kecil, tapi tidak usah khawatir, saya akan memberikan obat supaya tulang ikannya melunak dan bisa masuk ke usus tanpa membahayakan" tutur dokter Nisa.


" Tapi om ustad tidak perlu di impus kan dok?" tanya Zahira. Mendengar pertanyaan Zahira, dokter Husna malah tersenyum.


" Eh slebor kau jangan macam macam ya kalau bicara, bukan kah kau sudah tau kalau aku takut jarum suntik" gerutu ustad Usman.


Aisyah sudah cekikikan.


" Lulusan terbaik kairo takut jarum suntik, hi hi hi" ucap Aisyah dengan di bumbui tawa di akhir kalimatnya. Ustad Usman yang mendengar ucapan Aisyah ia langsung memicingkan matanya.


" Maaf"


Aisyah sudah tersenyum getir.


" Keselek tulang ikan tapi masih bisa ngomel ngomel, sungguh ajaib"


Dokter Nisa pun memberikan beberapa obat pada ustad Usman.


" Obatnya di minum 3 kali sehari. Jangan lupa makan dulu" ucap dokter Husna.


" Man kau kan sudah makan tadi, langsung di minum saja obatnya" pinta umi Salamah. Nisa pun sudah menyiapkan air minum, dengan hati hati ustad Usman langsung meminum obatnya.


" Terima kasih dokter Husna"


" Sama sama, semoga lekas sembuh" ucap dokter Nisa. Setelah mengucap salam mereka pun langsung pulang. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Riziq dan kiyai Mansyur.

__ADS_1


" Abi mau pulang?" tanya umi Fadlun pada kiyai Mansyur. Kiyai Mansyur mengangguk sambil tersenyum.


" Ayo kita pulang Mi" ajak kiyai Mansyur.


" Semuanya saya pulang duluan ya asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ayo uni kita pulang juga" pinta Riziq. Aisyah pun mengangguk. Riziq mengambil Adam dari gendongannya umi Salamah.


" Umi kita pamit pulang dulu"


" Iya, kalian hati hati di jalan" ucap umi Salamah. Setelah mengucap salam, Riziq, Aisyah, Zahira dan Dewi pun berbelok arah menuju rumah masing masing.


" Ira kau mau pulang kemana?" tanya Aisyah.


" Aku pulang ke asrama ka"


" Ya sudah kau pulanglah bersama ka Dewi. Ka Dewi, aku titip Zahira, pastikan dia selamat sampai asrama"


" Iya ustad berondong. Oops, ustad Riziq maksudnya" Dewi sudah tersenyum getir. Mereka pun berpisah di persimpangan jalan.


* * * * * *


Malam pun tiba. Setelah mengerjakan shalat isya, Riziq dan Aisyah pun mengobrol ngobrol di ruang tamu, Riziq sudah tidur di pangkuannya Aisyah sambil membaca buku.


" Le, apa abi dan umi mu akan pulang lagi ke kairo?" tanya Aisyah.


" Hmmm, satu minggu lagi"


Aisyah pun terdiam.


" Kenapa memangnya?"


" Nanti saat umi Fadlun pulang, aku pasti kehilangan Le, dia mertua yang baik untuku. Umi Fadlun mengajariku banyak hal" tutur Aisyah.


" Uni boleh aku tanya sesuatu?" ucap Riziq sambil mendongakan wajahnya.


" Apa?"


" Apa kau bahagia hidup bersamaku?" tanya Riziq kembali. Aisyah langsung menatap suaminya.


" Kenapa kau bertanya seperti itu?"


" Abimu ingin aku membahagiakanmu, apa selama ini kau bahagia bersamaku?"


Aisyah langsung tersenyum.


" Tentu saja aku bahagia hidup denganmu, kau lelaki hebat yang dikirimkan Allah untuku. Kau adalah imamku, yang semakin hari semakin menyempurnakan imanku. Kau adalah suami terbaik dan ayah terbaik untuk Adam dan Hawa" tutur Aisyah. Riziq pun tersenyum.


" Kalau kau bahagia denganku kenapa badanmu masih langsing, bukankah kata orang, orang yang bahagia itu badannya akan menjadi gemuk"


" Kau jangan salah Le, aku setiap hari olah raga biar badanku tetap langsing. Umi Fadlun pun selalu memberiku resep resep untuk merawat diri, biar terlihat menyenangkan di hadapan suami, jadi kau jangan menyimpulkan kalau aku tak bahagia karna badanku masih langsing. Belum tentu Dewi yang badannya gemuk lebih bahagia dariku. Aku bahagia hidup denganmu meskipun kita hidup sederhana dan tak bermewah mewah. Aku menemukan kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangga kita. Apa kau juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan?" tanya Aisyah. Riziq pun langsung bangun dan duduk di sebelah Aisyah.


" Aku merasakan lebih dari itu. Terima kasih uni, selama ini kau selalu setia mendampingiku"


" Aku mencintaimu Le"


Aisyah pun mendekatkan wajahnya pada Riziq, begitu pun dengan Riziq, tiba tiba Hawa menangis di dalam kamar. Seketika Aisyah dan Riziq langsung saling menjauh sebelum berhasil mendekat.


" Yaah Hawa berdering sebelum waktunya" ucap Riziq sambil tersenyum. Tiba tiba Aisyah tertawa.


" Sepertinya Hawa takut kalau uminya akan di aniyaya" ucap Aisyah. Tiba tiba mereka langsung tertawa. Setelah menidurkan Hawa mereka pun menatap buah hati mereka itu yang kini sedang terlelap.

__ADS_1


* Kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan, terkadang kesederhanaan juga bisa membawa kebahagiaan dunia akhirat. Jangan malu hidup sederhana, yang malu itu hidup mewah tapi maksa*


__ADS_2