Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Ngidam


__ADS_3

Setelah pulang dari rumahhnya umi Salamah. Semua nampak berjalan kaki. Dewi terus cemberut saat Zahira sengaja mengibar ngibarkan uang 100.000 dan uang 5.000 ke hadapannya.


" Tidak usah pamer" gerutu Dewi. Zahira malah tertawa tawa.


" Le, kau lihat kelakuan warisanmu" ucap Aisyah saat melihat adik iparnya itu sengaja menggoda Dewi dengan mengibar ngibarkan uang.


" Iraaaaa sedang apa kau?" tanya Riziq. Seketika Zahira dengan sigap langsung memasukan uang itu ke saku bajunya.


" Tidak sedang apa apa ka" jawab Zahira sedikit takut. Ustad Rasyid hanya berjalan di belakang mereka.


" Ira kau mau langsung ke asrama apa mau main dulu ke rumahnya ka Aisyah?" tanya Aisyah.


" Aku mau pulang sama ka Rasyid, mau ketemu Anum" jawab Zahira.


" Di sana jangan merepotkan" ancam Riziq.


" Hmmm"


Tiba tiba Zahira mendekati Aisyah dan berbisik padanya.


" Ka kau lihat bibi dan mamangmu, sudah seperti Romeo and Juliet"


Karna penasaran, Aisyah pun menatap mamang dan bibinya itu, terlihat Mang Ilham sedang di gandeng mesra oleh bi Ratna.


" Biarkan saja, hati mereka sedang bergejolak dimasa puber ke-2" jawab Aisyah sambil berbisik. Tiba tiba Aisyah dan Zahira langsung tertawa.


" Ha ha ha ha"


" Kalian berdua kesurupan?" tanya Riziq sambil menatap istri dan adiknya itu. Aisyah dan Zahira langsung cemberut. Ketika di persimpangan jalan, Riziq dan Aisyah berbelok arah.


" Mang, bi, aku duluan ya. Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Daaah Adam dah Hawa" Zahira melambai lambaikan tangannya pada keponakan keponakannya itu. Aisyah dan Riziq berjalan ke arah rumahnya, sementara Zahira pulang bersama ustad Rasyid.


Sesampainya di rumah, Zahira langsung mengetuk pintu.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Syakir sambil membuka pintu. Saat Syakir melihat Zahira di depan pintu.


" Maaf tidak terima sumbangan" ucap Syakir sambil menutup kembali pintunya. Mulut Zahira langsung menganga mendengar ucapan dari keponakannya itu.


" Kaaaa, kelakuan putramu, masa aku dibilang tukang minta sumbangan" Zahira merajuk pada ustad Rasyid. Ustad Rasyid pun langsung mengetuk pintu karna pintu di kunci dari dalam.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum, Syakir ini abi" ucap ustad Rasyid.


Ceklek.


Pintu pun terbuka. Syakir nampak tersenyum malu karna sudah berani mengerjai tantenya. Seketika Zahira langsung menggeram sambil menatap Syakir.


"Keponakanku yang rese awas ya" gerutu Zahira dalam hati sambil berkacak pinggang.


" Bi aku mau di telan sama tante Ira" ucap Syakir mengadu.


" Sudah sudah ayo kita masuk" pinta ustad Rasyid. Mereka pun masuk, di tatapnya anum sedang di gendong uminya. Ustadzah Yasmin pun tersenyum saat melihat suaminya datang, tak lupa ia pun mencium tangannya ustad Rasyid.


" Tadi ada kejadian apa sampai ustad Usman menghubungi mas dan menyuruh datang ke rumahnya?" tanya ustadzah Yasmin.


Ustad Rasyid hanya memberi jawaban lewat lirikan matanya pada Zahira. Ustadzah Yasmin yang mengerti pun langsung tersenyum dan mendekati adik iparnya itu. Sementara ustad Rasyid sedang asik menggendong Anum.


" Ira, tadi kenapa semua kakakmu di suruh datang ke rumahnya ustad Usman?" tanya ustadzah Yasmin.


" Ka Yasmin, kata ka Riziq, orang yang kepo itu nanti uban di rambutnya akan tumbuh mendadak" jawab Zahira hingga ustadzah Yasmin langsung mengeryitkan keningnya.


" Ka Yasmin kan cuma pengen tau"


" Butuh waktu yang lama ka untuk di ceritakan, dan sepertinya butuh 3 hari 3 malam baru selesai" tutur Zahira sambil duduk di hadapan kakak iparnya itu. Hingga ustadzah Yasmin kembali mengeryitkan keningnya, lalu menatap ustad Rasyid. Suaminya hanya tersenyum saja seolah menyuruhnya untuk membiarkan perempuan kecil itu mengoceh semaunya.


" Kenapa muka ka Yasmin berekspresi seperti itu, pasti ka Yasmin sedang berfikir dan bertanya tanya sebenarnya yang gila itu aku atau ka Yasmin. Begitukan yang ada di dalam fikirannya ka Yasmin sekarang" tutur Zahira. Ustadzah Yasmin langsung tersenyum malu karna memang itu yang ada di dalam fikirannya.


" Kau sudah makan Ira?" tanya ustadzah Yasmin.


" Sudah ka"


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu dan mengucap salam di depan rumah.


Tok tok tok


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Ustad Rasyid, ustadzah Yasmin dan Zahira.


" Sepertinya ada tamu, kau bukakan pintu ya Ira" pinta ustadzah Yasmin.


" Syakir, bukain pintunya ganteng" pinta Zahira sambil memuji Syakir agar bocah itu mau membuka pintu.


" Heey, kalau disuruh jangan nyuruh lagi" ucap ustad Rasyid pada Zahira.


" Ia ia aku yang buka"


Zahira mengalah dan membuka pintu. Tiba tiba dia terdiam dan tersenyum manis yang lolos begitu saja saat melihat Yusuf berdiri di hadapannya.


" Asalamualaikum Ira" Yusuf mengucap salam kembali.


" Waalaikum salam ka" jawab Zahira sambil tersenyum.


" Apa ka Yusuf kesini mau mencariku?" batin Zahira.


" Ustad Rasyidnya ada?" tanya Yusuf. Seketika Zahira langsung mengerucutkan bibirnya setelah tau kalau Yusuf datang untuk mencari kakaknya, bukan mencarinya.


" Ira, kakakmu ada?" tanya Yusuf kembali. Zahira pun mengangguk. Tiba tiba ustad Rasyid berteriak dari dalam.

__ADS_1


" Siapa tamu yang datang Ira?" tanya ustad Rasyid.


" Calon imamku ka" jawab Zahira sambil berteriak. Yusuf langsung menundukan wajahnya, ada senyum manis yang nampak di raut wajahnya. Namun saat Zahira sadar dengan ucapannya, ia langsung menutup mulutnya sendiri.


" Oops, maaf ka Yusuf keceplosan" ucap Zahira malu. Yusuf hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kenapa aku selalu berdebar debar kalau dekat ka Yusuf!!!" batin Zahira.


Tiba tiba ustad Rasyid keluar dan menghampiri mereka.


" Eh Yusuf, ada apa?" tanya ustad Rasyid.


" Dia mau melamarku ka" tebak Zahira dalam hati.


" Ini ustad, abi menitipkan buku buku pelajaran yang di pesan kemarin" jawab Yusuf sambil memberikan buku buku itu pada ustad Rasyid. Ustad Rasyid menerimanya sambil tersenyum.


" Terima kasih Suf"


Yusuf pun mengangguk tersenyum.


" Saya permisi pulang dulu ustad, asalamualaikum" pamit Yusuf.


" Waalaikum salam"


Yusuf pun menatap Zahira, perempuan kecil itu masih setia menatapnya sambil tersenyum manis.


" Asalamualaikum Ira"


" Waalaikum salam ka"


Yusuf pun pergi dari rumahnya ustad Rasyid. Zahira masih tersenyum saat menatap kepergian Yusuf.


" Ampuni aku ya Allah, aku ingin memperbaiki diri, tapi hatiku susah sekali di ajak kompromi. Mataku susah sekali berpaling dari sosok ka Yusuf yang selalu mengisi hatiku ini" batin Zahira sambil memegangi dadanya.


Ustad Rasyid langsung menutup mata Zahira, karna sedari tadi adik perempuannya itu tidak berkedip saat menatap Yusuf.


" Banyak banyak istighfar Ira" ucap ustad Rasyid mengingatkan.


" Astaghfirullah alazim 1000x. Banyak kan ka?" ucap Zahira.


" Sakarepmu" ucap ustad Rasyid sambil masuk ke dalam rumah. Zahira pun ikut masuk, namun sebelum masuk Zahira pun menatap kepergian Yusuf kembali.


* * * * * * * *


Sementara dengan Nisa yang sedang kebingungan dengan perlakuan suaminya yang mendadak memberikan perhatian yang luar biasa padanya. Semenjak mendengar istrinya hamil, ustad Usman nampak senang dan bahagia. Fadil putra pertamanya yang berumur 8 tahun lebih senang tinggal di asrama dari pada di rumahnya umi Salamah.


" Nis kau mau makan apa?" tanya ustad Usman. Nisa hanya menggelengkan kepalanya.


" Katakan saja kau mau apa?, nanti kuberikan apapun yang kau mau" ucap ustad Usman. Nisa langsung tersenyum lebar.


" Benarkah?"


" Hmmm"


" Aku mau sekarung beras dan sebongkah berlian" jawab Nisa sambil tersenyum senyum hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya saat mendengar permintaan istrinya itu.


" Kau jangan macam macam Nis, kau fikir aku bang toyib" gerutu ustad Usman. Nisa malah tertawa.


" Iya nanti aku temui grup band WALI, nanti akan kusuruh mereka untuk menyanyikan lagu sekarung beras dan sebongkah berlian" ucap ustad Usman. Nisa hanya mengeryitkan keningnya sambil mengelus ngelus perutnya.


" Kata Zahira kalau ketemu ustad Usman harus bilang mit amit jangan kurang dari 7 x, itu yang dikatakan Zahira pada ustadzah Yasmin, saat ustadzah Yasmin sedang mengandung. Apa itu berlaku juga untuku ya" batin Nisa.


" Mas, aku pengen mangga muda" ucap Nisa.


" Mangga muda???"


" Hmmmm"


" Ok, sekarang juga aku meluncur ke rumahnya ustad Azam, mudah mudahan pohon mangganya sedang berbuah"


" Tapi mas ini sudah malam" ucap Nisa mengingatkan.


" Tidak apa apa, nanti aku bawa senter. Aku pergi dulu ya Nis, asalamualaikum"


" mas tunggu"


Nisa menghentikan langkah suaminya itu.


" Kenapa Nis?" tanya ustad Usman.


" Ngambil mangganya jangan minta izin dulu ya" pinta Nisa. Seketika ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya, ada rasa tak percaya dengan ucapan istrinya itu.


" Apa maksudmu Nis?" tanya ustad Usman memastikan.


" Aku tidak mau mas minta izin dulu ngambil mangganya"


" Kau jangan ikut ikutan gila seperti Aisyah. Sudah cukup dia membuatku jadi pencuri, dan kau jangan" tegas ustad Usman.


" Bukan aku yang mau tapi bayinya" jawab Nisa.


" Hadeuuuh, beginilah nasibku selalu sial kalau berhubungan dengan ngidamnya ibu hamil" gerutu ustad Usman.


" Maaaas" panggil Nisa kembali.


" Iya iya, aku tidak akan izin dulu pada ustad Azam, asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Nisa sambil menatap kepergian suaminya itu.


Sebelum pergi ke rumahnya ustad Azam, ustad Usman pun pergi ke rumahnya ustad Soleh terlebih dulu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab ustad Soleh sambil membuka pintu.


" Ada apa kau malam malam ke sini Man?" tanya ustad Soleh.


" Temani aku ka ke rumahnya ustad Azam"

__ADS_1


" Ngapain?"


" Nisa ngidam ingin mangga muda" jawab ustad Soleh.


" Kau ada ada saja, berangkat sendiri saja"


pinta ustad Soleh.


" Aku takut gelap"


" Memalukan"


Mau tidak mau ustad Soleh pun ikut pergi ke rumahnya ustad Azam. Sesampainya di sana.


Ustad Usman langsung mencari mangga muda itu dengan senter yang di taruh di atas kepalanya. Ustad Usman tersenyum setelah melihat ada mangga muda yang jaraknya dekat.


" Alhamdulilah, mangganya tidak terlalu tinggi, jadi aku tidak usah naik" ucap ustad Usman. Saat ustad Usman mau memetik mangga itu, tiba tiba ustad Soleh langsung menepis tangan adiknya itu.


" Kau mau tanganmu di potong di akhirat nanti, izin dulu sama ustad Azam" tegas ustad Soleh.


" Tapi Nisa memintaku untuk tidak minta izin dulu pada ustad Azam"


Ustad Soleh langsung mengeryitkan keningnya.


" Jadi kau menyuruhku ke sini hanya untuk menemanimu mencuri?" tanya ustad Soleh sedikit tak percaya.


" Bayiku yang mau"


" Kau kualat sama Aisyah" ucap ustad Soleh. Ustad Usman langsung mengerucutkan bibirnya.


" Aku mau pulang, aku tidak mau menemanimu mencuri" ucap ustad Soleh.


" Tapi ka aku takut gelap. Jangan tinggalkan aku di sini, nanti aku di incar wewe gombel"


Ustad Soleh sudah kesal dengan permintaan adiknya itu.


" Aku tunggu di ujung sana, aku pegal berdiri terus" ucap ustad Soleh sambil berlalu sedikit menjauh.


" Tapi jangan tinggalkan aku ya"


" Hmmmm"


Ustad Usman pun memetik satu mangga muda itu.


" Ampuni aku ya Allah telah mencuri, tapi tolong jangan potong tanganku di akhirat nanti" ucap ustad Usman.


Saat ustad Azam keluar dari rumahnya, ia terheran karna ranting pohon mangganya bergoyang goyang tak jelas.


" Pasti ada yang mau mencuri mangga malam malam begini" gumam ustad Azam. Perlahan ia mengambil sandal dan melemparkannya ke arah pohon mangga itu.


" Aaawwww" jerit ustad Usman yang kepalanya tertimpuk sandal. Ustad Azam terkejut saat ada yang menjerit, begitu pun dengan ustad Soleh. Hingga mereka langsung mendekati arah suara itu.


" Astaghfirullah ustad Usman" ucap ustad Azam. Ustad Usman sudah tersenyum malu.


" Yaah ketahuan deh" batin ustad Usman.


" Ustad Sedang apa di sini?" tanya ustad Azam.


" Maaf ustad, saya telah mencuri mangganya"


Ustad Usman pun menceritakan kalau Nisa sedang ngidam mangga muda dan menyuruhnya mengambil di pohon ustad Azam tanpa izin terlebih dahulu. Ustad Azam tersenyum dan mengangguk, ia mengerti dengan keadaannya.


" Tidak apa apa ustad, kau boleh mengambil mangga mudanya" ucap ustad Azam.


" Terima kasih ustad, tapi kau jangan bilang bilang pada Nisa ya kalau aku ngambil mangganya atas izinmu" tutur ustad Usman. Ustad Azam pun mengangguk. Setelah mendapatkan mangga mudanya, ustad Usman dan ustad Soleh pun pamit pulang.


Sesampainya di rumah.


" Man aku langsung pulang. Asalamualaikum"


pamit ustad Soleh.


" Waalaikum salam, makasih ka"


Setelah kakaknya pergi, ustad Usman pun langsung menemui Nisa sambil membawa 2 buah mangga muda.


" Asalamualaikum Nis"


" Waalaikum salam" jawab Nisa dan umi Salamah. Di taruhnya mangga muda itu di hadapannya Nisa. Nisa nampak tersenyum.


" Waah, mas dapet ya mangga mudanya"


Nisa pun mengupas dan memotong motong mangga itu lalu di taruhnya di piring. Seketika Nisa langsung menyodorkan satu piring mangga itu ke hadapan suaminya.


" Apa Nis?" tanya ustad Usman tak mengerti.


" Mas yang makan ya" pinta Nisa. Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya.


" Apa maksudmu Nis?, bukannya kau yang menginginkan mangga mudanya"


" Aku memang menginginkan mangga muda, tapi aku ingin mas yang memakannya. Bayinya yang minta"


Deg


Deg


Deg.


" Sebenarnya yang gila itu aku apa istriku" batin ustad Usman.


Mau tidak mau ustad Usman pun memakan mangga itu yang terasa asem di mulutnya, dia ingin sekali memuntahkannya.


"Di habiskan ya mas" pinta Nisa kembali.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


" Astaghfirullah alazim, memang nasibku selalu naas dan ngenes kalau berhubungan dengan ibu hamil"


__ADS_2