Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Bakakak ayam


__ADS_3

Setelah selesai perlombaan, Riziq pun mengajak Aisyah untuk pulang.


" Uni ayo kita pulang, badanku sudah lengket" pinta Riziq.


"Sebentar Le"


Aisyah sudah merapihkan hadiah yang di dapatnya dan juga hadiah yang di dapat Riziq. Dewi sudah heboh sendiri dengan barang barang hadiah yang ia dapat juga.


" Menyenangkan sekali kalau sudah dapat hadiah begini, sudah seperti ingin merayakan Agustusan tiap bulan. He he he" ucap Dewi yang sudah menatap hadiah hadiah yang di dapatnya.


" Le kau bawa semua hadiahnya ya, aku dorong kereta Adam sama Hawa" ucap Aisyah.


Tiba tiba datang Zahira dengan membawa setumpuk hadiah yang di dapatnya.


" Kaaaa" panggil Zahira.


" Apa?"


" Sekalian bawa hadiahku ya, aku mau pulang ke rumah ka Riziq" ucap Zahira. Riziq sudah mengeryitkan keningnya.


" Kau jangan macam macam ya Ira, kau tidak lihat apa, hadiah yang kudapat dengan hadiah kakak iparmu ini sudah menumpuk, kalau di tambah dengan hadiahmu akan susah bawanya" protes Riziq.


" Masa iya susah, kau mengangkat berat badan ustad Soleh, ustad Usman, ka Rasyid dan ka Yusuf saja bisa masa bawa barang perabotan rumah tangga saja tidak bisa" tutur Zahira sedikit meledek.


" Iya iya" jawab Riziq pasrah.


" Wi kau mau pulang bareng gak?" tanya Aisyah.


" Iya"


Kini Aisyah, Riziq, Zahira, Dewi dan bi Ratna serta mang Ilham sudah pulang bersama. Dewi sudah cekikikan tak bersuara melihat Riziq yang membawa banyak barang hadiah, ada yang di jinjing kedua tangannya dan sebagian lagi sudah di pikulnya.


" Kau lihat si berondongmu itu Aisyah, dia sudah seperti tukang kredit prabotan rumah tangga. Hi hi hi" bisik Dewi pada Aisyah. Tiba tiba Dewi menghentikan langkahnya.


" Astaghfirullah alazim" ucap Dewi sedikit panik.


" Kenapa Wi?" tanya Aisyah dan bi Ratna.


" Bakakak ayamku ketinggalan" jawab Dewi sambil menepuk jidatnya.


" Huh keburu abis di cemol kucing" ucap Riziq dengan nada mengejek.


" Kau kucingnya, kau dan Yusuf yang menghabiskan paha ayamku" gerutu Dewi. Riziq sudah tersenyum senyum.


" Bi aku mau balik lagi, mau cari bakakak ayamku, aku titip hadiahku ya bi" ucap Dewi sambil memberikan hadiah hadiahnya pada bi Ratna. Dewi pun balik lagi ke lapangan, sementara yang lain melanjutkan kembali perjalanannya.


Sesampainya Dewi di lapangan, di sana sudah nampak sepi. Para santri putra dan santri putri sudah meninggalkan lapangan. Dewi sudah berkeliling untuk mencari bakakak ayamnya, namun iya tak menemukannya.


" Masa iya di embat kucing" gumam Dewi sedikit kecewa.


* * * *


Kini keluarganya kiyai Husen pun sudah berjalan pulang.


" Alhamdulilah ya acaranya selesai" ucap ustad Soleh.


" Hmmm"


" Mi Aisyah sudah pulang?" tanya kiyai Husen.


" Sudah bi, tadi pulang duluan bersama suaminya" jawab umi Salamah.


Di lihatnya ustad Usman sedang asik memakan sesuatu sambil berjalan.


" Man kalau kau makan itu jangan sambil jalan" pinta umi Salamah.


" Iya Mi, nanggung ini"


" Memangnya kau makan apa?" tanya umi Salamah penasaran.


" Makan bakakak ayam Mi, tadi nemu di lapangan" jawab ustad Usman.


" Kau main makan makan aja Man, punya orang itu, nanti yang punyanya nyariin" ucap umi Salamah.


" Aku sudah cari pemiliknya umi, tapi tidak ada yang tau ini punya siapa. Dari pada di makan kucing lebih baik aku yang makan biar ga mubazir, lagi pula gak mungkinkan kalau bakakak ayam itu di jadikan sesajen" tutur ustad Usman.


" Mas kalau bicara suka sembarangan" ucap Nisa. Umi Salamah pun mengingat ngingat tentang siapa yang membawa bakakak ayam itu.

__ADS_1


" Astaghfirullah, Man itu bakakak ayam punya Dewi, tadi dia yang bawa ayam itu katanya buat penyemangatnya untuk menang dalam perlombaan" tutur umi Salamah yang baru ingat kalau ayam itu punya Dewi.


" Jadi ini punya Dewi, sudah lah kuhabiskan saja, lagian itu akan membantu Dewi buat diet"


" Mas nanti Dewi marah"


" Biarkan, kalau tidak marah bukan Dewi namanya"


* * * * * *


Sesampainya di rumah, Zahira malah merebahkan tubuhnya di teras depan rumah Aisyah.


" Duuh cape nya" ucap Zahira.


" Kenapa kau Ira?"


" Aku dilanda 5 L" jawab Zahira.


" Apa?"


" Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lunglai"


Riziq pun masuk ke rumah karna tidak tahan ingin membersihkan diri yang kini badannya yang berasa lengket dengan oli. Aisyah ikut duduk di depan rumah bersama adik iparnya.


" Ka Aisyah juga cape banget"


" Uniiii" teriak Riziq di dalam rumah. Aisyah langsung melirik Zahira.


" Aku tau ka Aisyah pasti mau membantu kakakku mandi kan" tebak Zahira. Aisyah sudah tersenyum.


" Kau adik yang pengertian ya"


" Sudah sana ka Aisyah bersihkan badannya ka Riziq yang kini sudah seperti MALIKA karna oli" ucap Zahira.


" Malika?, apa itu malika?" tanya Aisyah tak mengerti.


" Kedelai hitam pilihan" jawab Zahira. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya.


" Emangnya kakakmu kecap bang*. Ya sudah kau jaga Adam sama Hawa dulu ya" pinta Aisyah.


" Jangan lama lama ya ka, jangan terlalu keras menggosok kulitnya, kulitnya tidak akan berubah menjadi putih, karna dia sudah hitam dari sananya. Itu fakta bukan fitnah" tutur Zahira.


" Kalau tidak marah bukan ka Riziq namanya"


" Uniii" teriak Riziq kembali.


" Iya sebentar" ucap Aisyah sambil berjalan menuju kamar mandi.


" Untung kulitku menurun dari ka Rasyid, jadi tidak hitam seperti ka Riziq. He he he." batin Zahira.


Zahira pun membawa Adam dan Hawa ke tengah rumah dan membaringkannya di kasur busa kecil.


Aisyah sudah membersihkan badan Riziq yang kini di penuhi oli, namun oli itu nampak susah di bersihkannya.


" Kalau di bersihkan pake ma*a lemon hilang gak ya olinya" ucap Aisyah.


" Pake s*klin lantai saja, kalau perlu pake s*klin pemutih sekalian biar kulitku putih" gerutu Riziq. Aisyah sudah cekikikan. Tiba tiba Zahira berteriak.


" Ka kalau olinya tidak bisa hilang pake minyak tanah saja" Zahira memberi ide.


" Ku sumpel mulutmu pake geranat" teriak Riziq pada Zahira. Zahira sudah cekikikan.


Setelah hampir 30 menit, akhirnya oli itu bersih dari badannya Riziq.


" Alhamdulilah bersih juga"


Saat Aisyah dan Riziq menghampiri Zahira di ruang tamu, tiba tiba mereka terkejut melihat Zahira tertidur di lantai sementara Adam dan Hawa tidak ada di sana. Di kereta bayi pun tidak ada.


" Iraaaa" teriak Aisyah.


Seketika Zahira langsung terbangun.


" Apa sih ka teriak teriak, berisik tau" ucap Zahira sambil mendudukan badannya.


" Ira Adam sama Hawa kemana?" tanya Riziq dan Aisyah.


" Ini Adam sama Hawa lagi tidur" tunjuk Zahira pada kasur busa yang kosong.

__ADS_1


" Mana?"


Zahira pun terkejut karna Adam san Hawa tidak ada, di kereta bayi pun tidak ada.


" Loh Adam sama Hawa kemana, tadi aku tidurkan mereka di kasur busa" jawab Zahira panik.


" Ira kenapa anak anak di tinggal tidur, mereka sudah bisa merangkak" ucap Aisyah sedikit kesal.


" Cari" pinta Riziq.


Mereka pun mencari cari di kamar dan ruangan lain. Zahira malah mencari di luar.


" Ira mereka tidak mungkin keluar, pintunyakan di tutup"


Tiba tiba terdengar suara tangisan Adam di dalam kamar.


" Nah, suara Adam" seketika mereka bergegas masuk kamar, di lihatnya Adam sudah berada di bawah tempat tidur.


" Astaghfirullah Adam, kesini sayang" ucap Aisyah sambil melambai lambaikan tangannya. Namun Adam hanya diam saja sambil merengek.


" Le, angkat tempat tidurnya, aku susah mengambilnya" ucap Aisyah. Saat Riziq mau mengangkat tempat tidurnya, Zahira malah berbaring di atas tempat tidur untuk menguji kekuatan fisik kakaknya, tentu saja itu membuat Riziq kesal.


" Lama lama kubanting kau sekalian dengan kasur kasurnya" gerutu Riziq. Zahira malah tertawa sambil bangkit dari tempat tidur.


" Aku hanya ingin menguji kekuatan fisikmu" ucap Zahira.


" Kau bukan menguji kekuatan fisiku, tapi kau menguji kesabaranku" gerutu Riziq.


Setelah mengangkat sedikit tempat tidur itu, seketika Aisyah langsung mengambil Adam dan langsung menggendongnya.


" Duuh sayangnya umi, jangan nangis ya"


Aisyah pun menenangkan Adam.


" Alhamdulilah Adam sudah ketemu, jadi aku mau tidur lagi" ucap Zahira.


" Enak saja tidur lagi, Hawa belum ketemu, cari lagi" pinta Riziq. Mereka pun kembali mencari Hawa. Aisyah sudah nampak khawatir dan mulai mengeluarkan tangis ketakutannya.


" Hawa. Hawa"


" Hawa dimana kau sayang"


Mereka pun mengedarkan pandangan untuk mencari Hawa. Tiba tiba terdengar suara tawanya Hawa dari arah dapur.


" Nah itu suara Hawa"


Mereka pun bergegas mencari Hawa di dapur.


" Hawa di mana kamu sayang"


Hawa kembali tertawa.


" Uni suaranya di bawah meja" ucap Riziq memberi tau"


Aisyah pun menyingkap taplak meja itu, terlihatlah Hawa yang sedang duduk sambil tepuk tangan dan sesekali tertawa hingga memperlihatkan gigi giginya yang baru tumbuh itu.


" Hawa sini sayang, Le kau ambil Hawa"


Perlahan Riziq pun mengambil Hawa dan menggendongnya.


" Duuh putra putrinya abi senang betul ngajak abi sama uminya main petak umpet" ucap Riziq sambil menciumi Hawa.


" Alhamdulilah anak anak ketemu"


Riziq dan Aisyah langsung memicingkan matanya pada Zahira. Seketika Zahira langsung cengengesan.


" Maaf"


" Lain kali hati hati kalau mau jaga Adam sama Hawa, karna sekarang mereka sudah mulai aktif merangkak"


" Iya kak"


" Sekarang mandilah, terus makan, habis itu pergilah ke rumah ustadzah Yasmin, kau jaga Anum di sana" pinta Aisyah.


" Kalau aku ketiduran gimana?" tanya Zahira.


" Jangan sampai ketiduran"

__ADS_1


" Iya iya" jawab Zahira pasrah.


__ADS_2