
Keesokan harinya tepat di tanggal 17 Agustus 2020. Semua orang Indonesia merayakan hari kemerdekaan, termasuk di pesantren A. Para santri putra dan santri putri sudah berjejer rapi di lapangan pesantren untuk mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih. Yusuf dengan gagahnya mengibarkan bendera. Semua santri serempak menyanyikan lagu Indonesia raya sambil memberi hormat. Setelah selesai mengibarkan bendera, Yusuf dan beberapa temannya yang menjadi paskibra, kembali ke tempatnya, di ujung barisan santri putri nampak seorang gadis tersenyum menatap pujaan hatinya yang gagah berani mengibarkan bendera merah putih. Zahira tak pernah kehilangan senyum saat menatap Yusuf dengan bangganya meskipun ia berada paling ujung barisan karna ia paling tinggi dan paling besar di kelas itu, maklum saja semua santri putri di kelas Zahira rata rata berumur 5 tahun sementara dirinya berumur 15 tahun sendirian, tentu itu membuat dirinya nampak lain dari yang lain.
Kini giliran kiyai Husen yang memberi sambutan. Setelah selesai, mereka pun bubar barisan dengan rapi. Ada yang balik ke kelas, ada yang pulang ke asrama dan ada yang masih setia berdiam di lapangan untuk menyaksikan perlombaan.
* * * * *
Di depan kaca kamar, Aisyah sedang berdandan merias diri.
" Waah kau cantik sekali Aisyah" Aisyah bicara sendiri di depan cermin sambil tersenyum senyum.
Tiba tiba Riziq masuk kamar, perlahan ia menghampiri Aisyah dan memeluk istrinya itu dari belakang.
" Wah wah wah, kau berdandan cantik sekali uni, memangnya kau mau menggoda siapa di lapangan?" tanya Riziq sambil menempelkan dagunya di pundak Aisyah. Aisyah langsung membalikan badannya hingga saling berhadapan dengan Riziq, seketika Aisyah langsung mengalungkan tangannya ke leher suaminya.
" Tentu saja aku akan menggoda putranya kiyai Mansyur" jawab Aisyah sambil tersenyum senyum. Hingga Riziq pun kini ikut tersenyum.
" Memangnya siapa putranya kiyai Mansyur?" tanya Riziq sambil memeluk pinggang Aisyah.
" Jadi kau belum mengenalnya?" ucap Aisyah sambil mengeratkan tangannya yang melingkar di lehernya Riziq.
" Sepertinya aku belum mengenalnya, apa dia lebih tampan dariku?" tanya Riziq dengan sedikit bernada menggoda.
" Sepertinya 11 12 denganmu, apa kau cemburu dengan putranya kiyai Mansyur?" tanya Aisyah.
" Hmmm"
" Benarkah?"
" Hmmm"
Aisyah pun tersenyum lalu menginjak kedua kakinya Riziq dengan sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya itu. Riziq yang tidak mau kalah pun mengeratkan pelukannya di pinggang Aisyah. Mendapatkan perlakuan seperti itu tangan kiri Aisyah menelusup ke punggungnya Riziq dan mencengkram baju koko bagian belakang hingga kusut, sementara tangan kanannya menelusup ke kepalanya Riziq dan memberikan jambakan jambakan halus di rambut pendek suaminya. Riziq tak melepaskan istrinya itu sampai ia merasa puas.
* * * * * * *
Siang pukul 10. Aisyah dan Riziq sudah bersiap untuk pergi ke lapangan.
" Ayo kita berangkat Le" ajak Aisyah yang kini sudah siap untuk mendorong kereta bayi Adam dan Hawa. Riziq pun keluar rumah menggunakan sarung berwarna dongker bergaris putih putih dan untuk atasannya ia menggunakan s-trit hitam berlengan pendek.
" Tumben kau memakai baju itu Le?" tanya Aisyah.
" Aku akan mengikuti lomba panjat pinang, tentu saja tiangnya pasti akan di baluri oli, kau bisa bayangkan kulitku yang eksotis ini terkontaminasi oleh oli yang berwarna hitam" tutur Riziq.
" Ngeri sekali aku membayangkannya Le" jawab Aisyah sedikit meledek.
" Kau tidak perlu membayangkannya uni, kau cukup merasakannya saja" jawab Riziq sambil tersenyum senyum.
" Kau jangan menggodaku terus Le, belum puaskah kau tadi pagi menghabiskan semua lipstik yang menempel di bibirku" jawab Aisyah dengan sedikit menggerutu hingga Riziq kembali tersenyum senyum.
" Meskipun aku nanti kalah dalam perlombaan, setidaknya aku tidak perlu merasa kecewa karna aku sudah mendapatkan hadiahku tadi pagi" jawab Riziq.
" Kalah atau menang, kau akan tetap mendapatkan hadiah dariku" ucap Aisyah.
" Benarkah?"
" Hmmm, tapi tentu saja ada syaratnya"
" Apa?"
" Naikan uang belanjaku 80%" jawab Aisyah hingga Riziq mengeryitkan keningnya.
" Aisyah materialistis khoerunisaa, itu nama baru untukmu"
" Ha ha ha" Aisyah tertawa tawa.
Tiba tiba Zahira datang, iya sudah menggunakan seragam olah raga, iya sudah nampak siap untuk mengikuti perlombaan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Mau berangkat ke lapangkan?, cuuus kita berangkat" ucap Zahira. Mereka pun berjalan bersama menuju lapangan. Sesampainya di sana. Semua sudah nampak berkumpul untuk menonton dan ada sebagian yang sudah siap mengikuti lomba.
" Le, aku tunggu di pinggir ya" ucap Aisyah sambil menunjuk bi Ratna dan umi Salamah yang sudah duduk untuk menonton acara. Riziq pun mengangguk. Aisyah pun ikut duduk bersama mereka, ia sudah menggunakan payung besar agar putra putrinya tidak kepanasan meskipun suasana nampak tidak panas.
" Eh Hawa cantik" sapa umi sambil menggendong Hawa. Bi Ratna pun ikut menggendong Adam. Tiba tiba Dewi datang bersama ustadzah Ulfi. Dewi sudah menjinjing piring dan satu bakakak ayam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Wi kau mau makan makan dimana bawa bakakak ayam?" tanya Aisyah.
" Ini adalah salah satu taktiku supaya menang" jawab Dewi. Aisyah dan yang lain hanya mengeryitkan kening masing masing.
__ADS_1
" Ya sakarepmu Wi" ucap Aisyah.
Lomba pun dimulai. Dimulai dari perlombaan santri putra dan santri putri dari lomba balap lari, balap karung dan lomba lomba yang lain. Yusuf sudah mengikuti lomba cerdas cermat dan alhamdulilah menang peringkat satu, sementara santri putri menang peringkat 2. Yusuf sudah siap untuk mengikuti perlombaan olah raga.
Kini dimulailah perlombaan balap karung antar santri putri dan peluaran.
" Bi, umi aku titip anak anak ya, aku mau mengikuti perlombaan." ucap Aisyah. Mereka pun mengangguk.
" Semoga menang"
" Bi aku titip bekakak ayamku ya" ucap Dewi sambil memberikan satu bakakak ayam yang di taruh di atas piring pada bi Ratna.
" Kau yakin mau ikutan balap karung Wi?" tanya bi Ratna.
" Aku yakin bi" jawab Dewi.
"Tapi bibi tidak yakin kau bisa meloncat"
" Jangan menghinaku bi, kau lihat saja nanti hasilnya" ucap Dewi penuh keyakinan.
" Bi siap siap tertawa ya, hi hi hi" ucap Aisyah sambil melirik pada Dewi.
" Kenapa kau meliriku seperti itu Aisyah?" tanya Dewi sedikit tak suka.
" Tidak apa apa Wi, ayo kita kelapangan" ajak Aisyah.
" Jangan salahkan bibi kalau setelah kau selesai balap karung, bekakak ayamu sisa setengah" ucap bi Ratna.
Kini mereka sudah berjejer di tengah lapangan. peserta lomba balap karung ada 9 orang. Pertama Aisyah, Dewi, Zahira, ustadzah Ulfi, Sarah, Nisa dan 3 lainnya adalah santri putri. Ustadzah Yasmin tidak hadir dalam perlombaan, namun ustad Rasyid sudah berada di lapangan, iya sudah di beri izin oleh istrinya untuk mengikuti lomba.
Ustad Usman sudah membagikan karung pada masing masing peserta. Dewi langsung memicingkan matanya saat sadar ustad Usman memberinya karung berukuran kecil, sementara Zahira di beri karung berukuran jumbo (karung goni).
" Ustad, kau tidak salah memberiku karung" ucap Dewi sambil memperlihatkan karung berukuran kecil.
" Om ustad, aku kelelep kalau pakai karung goni" protes Zahira sambil memperlihatkan karung berukuran jumbo itu.
" Oh maaf ketuker, tapi kalian tidak perlu khawatir karna rezeki kalian tidak akan tertukar termasuk badan kalian" tutur ustad Usman. Zahira dan Dewi sudah memicingkan matanya.
" Ingat Ya Wi, kau jangan sampai pingsan di tengah lapangan" ancam ustad Usman.
Priiiit....
Ustad Soleh sudah meniup pluitnya.
" Satu... dua... Tiga... PRIIIIIIT"
Lomba pun di mulai, peserta sudah masuk dalam karung dan sudah mulai meloncat di area balap yang sudah di batasi pembatas.
" Uni semangat" teriak Riziq di pinggir lapangan.
" Nisa ayo kalahkan yang lain" teriak ustad Usman tidak mau kalah.
Semua peserta sudah loncat loncat termasuk Dewi yang kini sudah nampak ngos ngosan. Zahira sudah paling depan, ia meloncat dengan gesit melihat postur tubuhnya yang kecil, ia sangat lincah meloncat. sementara Dewi ada pada jajaran paling belakang.
"Mana bi Ratna?, aku lupa untuk menyuruhnya berdiri di dekat garis finis, untuk menyemangatiku dengan bakakak ayam yang kini sedang di pegangnya" batin Dewi. Tiba tiba Dewi terjatuh karna terserimpet karung hingga terjatuh dan tersungkur.
BRUUUGH.
"Allahu akbar, berasa gempa bumi" gumam ustad Usman. Semua nampak bersorak, ada yang menyemangati Dewi dan tidak sedikit pula yang menertawakannya. Zahira sudah sampai ke finis.
Priiiit...
Juara pertama Zahira, juara kedua Nisa dan juara ketiga Aisyah. Aisyah dan ustadzah Ulfi sudah berlari ke tengah lapangan untuk membangunkan Dewi, begitu juga dengan ustad Usman. Mereka pun membangunkan Dewi dengan susah payah.
" Alhamdulilah" saat Dewi berhasil di bangunkan.
" Aduh badanku berasa remuk semua" ucap Dewi.
Priiit...
Lomba di mulai kembali, kali ini giliran lomba pake sandal bakiak. Satu sandal 3 orang. Ada 5 peserta. Zahira, Aisyah dan Dewi sudah satu tim. Sementara ustadzah Ulfi dan kedua peserta timnya sudah siap. sementara Nisa dan Sarah sudah satu tim.
Dewi sudah berdiri di depan, hingga Aisyah menepuk pundaknya.
" Kau jangan sok soan berasa langsing Wi, kalau kau berdiri di depan, aku dan Zahira tidak akan bisa melihat jalan" ucap Aisyah.
" Iya ka Dewi, aku yang di depan" protes Zahira.
Sebelum lomba di mulai, Dewi sudah mencari cari Yusuf. Dewi pun tesenyum setelah melihat Yusuf berada di lapangan nersama teman remannya. Seketika Dewi langsung menarik tangan Yusuf.
" Bantu aku Suf" ucap Dewi.
" Aku mau dibawa kemana ka Dewi?" tanya Yusuf tak mengerti. Yusuf pun di suruh berdiri di dekat garis finis.
__ADS_1
" Kenapa aku di suruh berdiri di sini ka?" tanya Yusuf.
" Kau adalah sumber kekuatan timku" jawab Dewi sambil memberikan bakakak ayam dan menaruhnya di tangan Yusuf. Yusuf semakin tidak mengerti.
" Ka aku semakin tidak mengerti dengan keinginanmu"
" Ssstth, kau jangan banyak bicara Suf, kau cukup berdiri di sini sambil pegang bakakaknya ya, sebentar aku mau cari si berondong dulu" ucap Dewi sambil pergi mencari Riziq. Riziq pun di tarik Dewi dan di suruh berdiri di sebelahnya Yusuf.
" Ka Dewi, ngapain aku si suruh berdiri di sini?" tanya Riziq.
" Kalian bertiga adalah sumber kekuatan timku, jadi berdirilah dengan patuh, nanti kuberi permen" ucap Dewi sambil berlari kembali menemui timnya di tengah lapangan. Riziq dan Yusuf hanya mengeryitkan kening masing masing.
" Apa yang di maksud ka Dewi itu?" tanya Yusuf yang masih setia berdiri di dekat garis finis sambil memegangi bakakak ayam.
" Dia bilang bertiga, memangnya kita bertiga sama siapa?" tanya Riziq tak mengerti. Tiba tiba Riziq dan Yusuf melirik bakakak ayam itu.
" Astaghfirullah alazim" ucap Riziq dan Yusuf berbarengan saat mereka sadar kalau yang di maksud Dewi itu mereka bertiga dengan bakakak ayam.
" Apa yang kau lakukan Wi?" tanya Aisyah sambil menatap Yusuf dan suaminya.
" Mereka bertiga adalah sumber kekuatan kita, Aisyah kau jalan yang cepat ya, si berondong sudah menunggumu di depan, begitu pun denganmu Ira, kau lihat Yusuf sudah menunggumu di garis finis, dia berharap kau bisa menang" tutur Dewi.
" Siaap " ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
Saat Mereka mau menggunakan sandal bakiaknya, tiba tiba Dewi mengeryitkan keningnya.
" Kenapa Wi?" tanya ustad Usman.
" Ustad, kakiku tidak masuk, sandal bakiaknya kekecilan" ucap Dewi. Ustad Usman langsung menghampiri Dewi, ia melihat kaki Dewi yang tidak bisa masuk sadal itu.
" Kakimu bengkak Wi?, sebaiknya kau menginjak paku dulu supaya kakimu sedikit kempes" ucap ustad Usman.
" Sembarangan kalau bicara" gerutu Dewi. Zahira dan Aisyah sudah cekikikan. Ustad Soleh pun menghampiri mereka.
" Di longgarin sedikit talinya Man" pinta ustad Soleh.
" Bukan talinya yang di longgarin ka, tapi kakinya yang harus di kecilin" ledek ustad Usman hingga Dewi menggeram.
" Aku hanya bercanda Wi" ustad Usman pun melonggarkan tali sandalnya hingga kini kaki Dewi bisa masuk.
Semua peserta sudah di posisi masing masing. Dan di ujung dekat garis finis, sudah berdiri dua orang yang menjadi penyemangat ekstra. Riziq dan Yusuf masih setia berdiri di dekat garis finis. Riziq yang kecerdasannya di atas rata rata, begitu pun dengan Yusuf yang bisa di katakan kalau dia pun mempunyai otak yang cerdas, namun tiba tiba mereka mendadak bodoh ketika Dewi menyuruh mereka untuk berdiri mematung bak seperti patung manekin di dekat garis finis.
Priiiiit....
Perlombaan pun dimulai.
Kiri kiri kiri kanan kiri.....
Mereka nampak semangat. Apalagi ke tiga perempuan yang kini sudah menatap ke tiga penyemangat mereka yag kini berdiri di depan. Mereka bertiga sudah hampir sampai menuju finis namun tiba tiba saja langkah mereka oleng.
" Ira kondisikan langkahmu, aku tidak bisa mengimbangi langkahmu" teriak Dewi.
" Semakin dekat dengan ka Yusuf aku semakin tidak fokus" jawab Zahira.
" Ira kau jangan macam macam" teriak Dewi.
Tiba tiba saat mau menyentuh garis finis, Zahira terjatuh. Dan akhirnya mereka terjatuh bertiga.
BRUUG BRUUGH BRUUGH.
Zahira, Aisyah dan Dewi pun terjatuh hingga mereka tersungkur. Dan untung saja mereka sudah menyentuh garis finis hingga mereka di katakan menang.
" Awwww"
ringis mereka.
Priiiiit....
Suara pluit menggema menandakan kalau tim Zahira mendapat juara pertama.
" Engaaaap" teriak Zahira yang kini tubuhnya sudah tertindih Aisyah dan Dewi.
Seketika itu pula Riziq berlari mendekat dan langsung membangunkan istri dan adiknya.
" Kau tidak apa apa Ira?" tanya Riziq khawatir.
" Kita menang Ira" ucap Aisyah antusias.
" Kita menang?" tanya Zahira.
Dewi dan Aisyah langsung mengangguk.
" Horeeeee"
__ADS_1