
Setelah pulang dari perkebunan, Aisyah pun pulang ke rumahnya bi Ratna, ia pelan pelan mulai menceritakan rencana umi dan abinya tentang kiyai Mansyur yang akan menikahinya. Tentu saja bi Ratna sontak matanya membelalak, kaget dan hampir tak percaya.
"Apa ! jadi kiyai Mansyur ingin menikahimu ?, tidak Aisyah kau jangan melakukan itu, mereka hanya memanfaatkamu untuk mendapatkan keturunan, bibi tidak habis pikir dengan keputusannya umi Fadlun yang menyuruh suaminya untuk menikah lagi hanya karna mereka belum di karuniai seorang anak, bibi saja yang hampir 20 th menikah dengan mamangmu dan belum di karuniai keturunan, bibi tidak pernah menyuruh mamangmu untuk menikah lagi " gerutu bi Ratna, namun mang llham malah tertawa tawa dengan celotehan istrinya itu.
"Kenapa kau tertawa ? " tanya bi Ratna kesal.
"Aku hanya menertawakan istriku yang kalau lagi marah terlihat menakutkan sekali" jawab mang llham membuat bi Ratna menggeram kesal.
" Maaf maaf aku hanya bercanda, dengar Aisyah, semua keputusan tergantung padamu, kamu yang akan menjalaninya, pesan mamang dengan siapapun kamu menikah mamang do'akan kamu selalu bahagia, keputusan ada padamu Aisyah " tutur mang llham. Kini Aisyah menjadi dilema kembali.
Aisyah menginap di rumahnya bi Ratna, ia di dalam kamar terus memikirkan keputusan apa yang akan di ambilnya.
"Apa dulu ustad Rasyid sama dilemanya sepertiku, saat dia di suruh untuk menikah dengan ustajah Yasmin, sebenarnya kalau aku bilang sudah punya calon, umi sama abi tidak akan terus memintaku untuk menikah dengan kiyai Mansyur, tapi masalahnya aku tidak mempunyai calon " gumam Aisyah dalam hati.
Aisyah dilema sendiri ia mulai prustasi dengan keadaan yang memaksanya untuk memilih, segitu pusing dan lelahnya, akhirnya ia tertidur dengan sendirinya.
* * * * * *
Keesokan harinya. Aisyah sudah bersiap kerumahnya umi Salamah, kebetulan hari ini tanggal merah, jadi ia tak perlu ke kantin.
" Bi aku berangkat ya ke rumahnya umi " ucap Aisyah.
"Ia, mau membawa kue gak kerumahnya umi ? " tanya bi Ratna.
__ADS_1
"Tidak usah bi, kemarin aku sudah buat bersama umi, aku berangkat ya asalamualaikum " ucap Aisyah sambil berlalu pergi.
"Waalaikumsalam " jawab bi Ratna.
Ketika di perjalanan menuju rumahnya umi Salamah, Aisyah melihat ustad Rasyid yang berjalan berdua dengan ustajah Yasmin. Aisyah pun memotong jalan agar tidak berpapasan dengan mereka.
Sesampainya di rumah umi Salamah, Aisyah terdiam melihat kiyai Mansyur bersama istrinya sudah berada di rumahnya umi Salamah. Sebenarnya ia enggan untuk melangkah, ada rasa ragu dalam hatinya, ia malah mematung di halaman rumah. Umi Salamah tersenyum melihat Aisyah datang, pasalnya mereka sedang menunggu Aisyah.
"Aisyah, masuklah " pinta umi. Perlahan dengan beribu keraguan Aisyah masuk ke dalam rumah.
"Asalamualaikum " Aisyah mengucap salam sambil menatap kiyai Mansyur dan istrinya.
"Waalaikumsalam " jawab mereka semua.
"Aisyah, bagaimana keputusanmu ? " tanya umi Fadlun lembut. Tubuh Aisyah mulai gemetar, tangannya menggenggam ujung kerudung dengan begitu erat, rasa takut nampak di raut wajahnya.
"Bagaimana Aisyah kamu sudah punya keputusan ? " tanya kiyai Husen.
Aisyah hanya diam saja sambil menundukan wajahnya.umi Salamah pun mengelus lembut kepalanya Aisyah, mencoba untuk membuatnya rilex.
Perlahan umi Fadlun mendekati Aisyah dan duduk di sebelahnya, lalu mengelus lembut tangan Aisyah. Kini Aisyah menatap wajah umi Fadlun, yang di katakan oleh Riziq memang benar umi Fadlun nampak cantik meskipun usianya tidak muda lagi. Umi Fadlun tersenyum saat Aisyah menatapnya.
"Ini memang terlalu terburu buru, tapi saya yakin kamu adalah calon istri yang baik untuk suamiku. Kita sama sama perempuan, saya yakin kamu pasti mengerti dengan posisi saya, kamu tidak perlu takut dengan suami saya, dia bagaikan malaikat untuk saya, kekurangan sayalah yang telah memaksa keadaan seperti ini, kalau kau menikah dengannya, saya yakin dia bisa adil dengan istri istrinya" tutur umi Fadlun.
__ADS_1
Aisyah nampak bingung dan gelisah.
"Kau tidak perlu gelisah Aisyah, suamiku lelaki yang baik, dan bertanggung jawab dia sangat menyayangiku, dan kalau kau menikah dengannya, dia pasti akan menyayangimu juga, jangan berfikir kami memanfaatkanmu, tidak ada sedikitpun niat kami untuk itu. Jika kau mau menerimanya, kita akan tinggal di kairo kau boleh melanjutkan study mu disana, kami akan menjamin kehidupanmu kau tidak perlu takut akan hal itu " tutur umi Fadlun kembali.
"Seandainya aku menerima dan menikah dengan suami umi, apa umi Fadlun tidak akan cemburu padaku, kita sama sama perempuan, tidak ada perempuan yang mau melihat suaminya membagi cintanya dengan perempuan lain" tutur Aisyah.
umi Fadlun malah tersenyum.
"Saya tau itu Aisyah, setiap perempuan pasti punya rasa cemburu, tapi demi orang yang sangat kusayangi, kubuang semua rasa cemburuku" jawab umi Fadlun
"Lalu bagaimana kalau di tengah tengah pernikahan, suamimu lebih menyayangiku di banding dirimu, lalu apa yang akan umi lakukan? " tanya Aisyah sambil menatap umi Fadlun.
"Kalau itu terjadi saya akan berusaha untuk ikhlas, karna sayalah yang telah memulainya" jawab umi Fadlun.
"Terus kalau seandainya di tengah pernikahan kami, saya melihat kecemburuan yang teramat dari umi Fadlun hingga membuat hubungan kami renggang dan tak nyaman, lalu apa yang harus saya lakukan ? " tanya Aisyah.
"Kau cukup menyuruh suamiku untuk menceraikanku" jawab umi Fadlun singkat.
Aisyah pun terdiam, perlahan umi Fadlun menggenggam tangan Aisyah.
"Kita sama sama perempuan, saya yakin kamu bisa mengerti perasaan dan kondisi saya, tolonglah beri kesempatan kami" ucap umi Fadlun sambil berkaca kaca, Aisyah pun tak tega melihatnya. Ia bisa merasakan perasaannya umi Fadlun.
"Bagaimana Aisyah, mau kah kau menjadi istriku? " tanya kiyai Mansyur. Perlahan Aisyah menatap wajah umi Salamah, umi Salamah langsung menganggukan kepalanya. Aisyah pun menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Saya menerimanya "