
Masih dengan Riziq, ustad Usman dan Dewi yang masih panik dengan hilangnya Aisyah. Riziq sudah nampak gelisah memikirkan istrinya itu.
" Lapor sama petugas damkar saja ustad" ucap Dewi memberi ide. Riziq dan ustad Usman pun mengeryitkan keningnya setelah mendengar ide aneh dari mulut mungilnya Dewi. ( Mungil kebalikannya he he)
" Kau pikir Aisyah kebakaran hingga harus lapor petugas damkar. Lapor satpol pp saja ustad" ucap ustad Usman.
" Di pikir Aisyah pedagang kaki lima" ucap Dewi sedikit sinis. Riziq sudah menggeram kesal mendengar dua orang yang ada dihadapanya itu yang sedari tadi omongannya berbelit belit tak nyambung.
" Masa sih siang siang Aisyah sudah di culik wewe gombel" gumam Dewi.
" Kau wewe gombelnya" ucap ustad Usman pada Dewi. Kini Dewi pun sudah mengerucutkan bibir mungilnya.
" Ayo ustad Riziq kau lapor polisi, takutnya Aisyah kenapa napa"
Seketika Riziq langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi polisi. Namun tiba tiba ponsel Riziq berbunyi, dan tertera nama Aisyah.
" Uni"
" Apa itu Aisyah yang telpon?"
Riziq pun langsung menganggkat panggilannya Aisyah.
" Hallo asalamualaikum uni, kau sekarang dimana uni?, aku dari tadi mencarimu" tanya Riziq cemas.
" Uni sekarang ada di rumah sakit" jawab Aisyah. Seketika Riziq terkejut.
" Rumah sakit?, kau kenapa uni"
Dewi dan ustad Usman pun terkejut.
" Kau sakit apa uni?" tanya Riziq kembali.
"Aku tidak apa apa Le, maaf aku membuatmu khawatir, sebaiknya kau menyusulku kesini. Aku ada di rumah sakit A" ucap Aisyah. Seketika Riziq pun bergegas untuk pergi ke rumah sakit.
" Ka Dewi, aku titip Adam sama Hawa ya, aku mau menyusul Aisyah kerumah sakit asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu pergi.
" Waalaikumsalam"
Dewi sudah melirik ustad Usman sambil tersenyum senyum. Ustad Usman sudah mengerti apa maksudnya Dewi.
" Kenapa kau meliriku seperti itu?" tanya ustad Usman.
" Aku masih banyak kerjaan di kantin, jadi Adam sama Hawa ustad yang jagain ya" pinta Dewi sedikit memelas.
" Kau jangan macam macam ya Dewi, aku tidak mau jagain Adam sama Hawa, mereka selalu mengerjaiku dan menyusahkanku" protes ustad Usman.
" Tapi maaf ustad, dengan terpaksa aku menitipkan anak anak padamu, Adam Hawa kalian mau kan di jagain sama pa de Usman" ucap Dewi pada Adam dan Hawa. Seketika Adam dan Hawa langsung tertawa begitu saja seolah mereka menyetujui usulnya Dewi.
" Tuh kan mereka tertawa"
" Tetap tidak mau, aku harus mengajar" jawab ustad Usman.
" Asalamualaikum ka Nisa" ucap Dewi sambil melambai lambaikan tangannya kearah belakangnya ustad Usman. Seketika ustad Usman langsung menengokan kepalanya ke belakang. Seketika itu pula Dewi berlari kabur karna berhasil membohongi ustad Usman, namun tiba tiba,
BRUUUGH
" Aduuuh" Dewi terjatuh hingga tersungkur dan mengaduh kesakitan. Ketika ustad Usman sadar Dewi telah membohonginya, ia sedikit menggeram, namun saat melihat Dewi terjatuh,
" Alhamdulilah ops inalilahi" ucap ustad Usman saat melihat Dewi tersungkur.
" Kualat itu namanya"
" Si Dewi jatuh serasa bumi bergoyang( gempa bumi) " batin ustad Usman.
* * * * * * *
__ADS_1
Kini Riziq sudah datang ke rumah sakit yang Aisyah sebutkan, ia langsung bergegas mencari Aisyah. Setelah Riziq melihat Aisyah, ia pun bergegas menghampirinya dengan penuh kecemasan, namun tiba tiba ia terheran melihat Aisyah berdua dengan ustad Rasyid duduk di depan ruang rawat pasien. Darah Riziq seakan mendidih hingga emosi kini meluap luap. Tadinya Riziq menaruh curiga dan ingin marah, namun semua menghilang ketika melihat darah di bajunya Aisyah. Darah Riziq yang mendidih kini tiba tiba melumer dan berubah menjadi kepanikan tingkat dewa saat melihat ada darah di bajunya Aisyah.
" Uni" panggil Riziq cemas. Saat melihat Riziq datang, seketika Aisyah langsung berdiri.
" Lee"
" Uni kau kenapa?, kau berdarah, apa kau terluka?" tanya Riziq panik. Seketika Riziq langsung menatap ustad Rasyid. Seketika itu pula ustad Rasyid ikut menatap Riziq.
" Istriku sedang dirawat didalam, dia mengalami pendarahan" ucap ustad Rasyid. Riziq pun terkejut kemarahannya pun menghilang begitu saja, ia langsung menatap kaca di pintu, terlihat ustadzah Yasmin sedang berbaring di tempat tidur rumah sakit.
" Astaghfirullah, apa yang terjadi ang?" tanya Riziq cemas.
" Yas terjatuh hingga perutnya kesakitan dan mengeluarkan darah"
" Tapi bayinya tidak apa apa kan ang?" tanya Riziq kembali.
" Alhamdulilah bayinya tidak kenapa napa, cuma kandungan Yas sangat lemah" jawab ustad Rasyid.
" Boleh aku melihatnya" ucap Riziq. Ustad Rasyid pun mengangguk. Perlahan Riziq masuk dan melihat keadaannya ustadzah Yasmin. Ustadzah Yasmin masih terlelap. Riziq pun sempat mendo'akan kakak iparnya itu. Setelah selesai berdo'a Riziq pun melangkah keluar, tiba tiba ustadzah Yasmin memanggilnya. Tentu saja Riziq terkejut, setaunya ustadzah Yasmin tadi masih tertidur.
" Ustad Riziq" panggil ustadzah Yasmin.
Perlahan Riziq mendekati kakak iparnya itu.
" Ustadzah kau baik baik saja?" tanya Riziq cemas. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.
" Saya baik baik saja, boleh saya bicara sebentar" pinta ustadzah Yasmin.
" Tentu"
" Tolong kau jaga Aisyah. Sebelum saya terjatuh, saya sempat bertengkar dengan kakakmu" ucap ustadzah Yasmin. Riziq pun terdiam sambil mencerna ucapan kaka iparnya itu.
" Aku sempat melihatnya tersenyum saat membaca puisi dari Aisyah" tutur ustadzah Yasmin. Tentu saja Riziq terkejut.
" Puisi? ?"
" Soal puisi itu saya tau, saya sendiri yang memberikannya langsung pada aang Rasyid" ucap Riziq.
" Kupikir puisi itu sudah lama di buangnya, tapi tadi pagi aku melihatnya membaca puisi itu sambil tersenyum, dan entah kenapa ada rasa tak suka saat aku melihatnya, mungkin aku cemburu, hingga kami sedikit bertengkar tadi pagi, karna merasa kesal aku berlari dari rumah dan tidak sengaja menabrak Aisyah, hingga membuatku pendarahan. Maaf kalau aku bercerita padamu, bukan maksudku mengadu atau berprasangka buruk pada kakakmu, hanya saja aku ingin minta tolong padamu, tolong jaga Aisyah, aku takut suamiku masih ada rasa pada istrimu dan berusaha untuk memperjuangkan cintanya kembali" tutur ustadzah Yasmin. Riziq pun terdiam saat mendengarkan semua ucapannya ustadzah Yasmin, kini perasaannya campur aduk. Disatu sisi ia kasihan pada kakak iparnya itu, namun disisi lain ia pun percaya pada kakaknya.
" Maaf ustadzah bukannya saya membela aang Rasyid, tapi menurut saya, berilah kakak saya kepercayaan, saya yakin meskipun dia mencintaimu atau mencintai Aisyah, dia pasti akan setia disisimu. Dia tidak akan berani meninggalkanmu apalagi kalian sudah punya Syakir dan calon bayi yang sekarang ada didalam kandunganmu. Akan kupastikan aang Rasyid tidak akan berani mendekati Aisyah apalagi sampai meninggalkanmu" tutur Riziq. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.
" Sikap kakakmu memang baik dan perhatian padaku akhir akhir ini apalagi saat ia tau aku sedang hamil lagi, tapi entah kenapa aku merasa ia masih mempunyai rasa pada istrimu, aku tidak tau ini hanya kecurigaanku atau hanya ketakutanku saja"
" Nanti aku akan bicara pada aang" ucap Riziq.
" Terima kasih ustad, maaf kalau aku membuatmu resah"
" Tidak apa apa ustadzah, aku mengerti"
Kini dengan Aisyah yang duduk di kursi tunggu bersama ustad Rasyid yang berjarak 3 kursi kosong yang menghalangi jarak mereka. Aisyah sudah ingin bertanya dengan ucapannya ustad Rasyid saat di telpon itu namun ia sedikit ragu.
" Tanyakan tidak ya, aku penasaran apa maksud dari ucapannya ustad Rasyid saat di telpon itu, kenapa aku jadi kepikiran seperti ini" batin Aisyah. perlahan Aisyah berdehem untuk memulai pembicaraannya.
" Maaf ustad Rasyid boleh saya tanya sesuatu?" tanya Aisyah sedikit ragu. Seketika ustad Rasyid langsung menatap Aisyah.
" Mau tanya apa Aisyah?" ucap ustad Rasyid.
" E e apa maksud dari ucapan ustad saat di telpon itu, itu maksudnya apa ya?" tanya Aisyah tak mengerti. ustad Rasyid terdiam sambil menundukan kepalanya.
" Maaf Aisyah kau selalu terbawa bawa dalam masalah rumah tanggaku, tidak ada maksud apa apa, aku hanya tidak sengaja menemukan puisi buatanmu dulu, aku membacanya dan tak sengaja aku tersenyum. Aku tersenyum bukan ada maksud apa apa, aku hanya merasa takdir itu tidak bisa di tebak. Dulu Riziq yang mengantarkan puisi itu kepadaku, tapi pada kenyataannya dialah yang kini menjadi suamimu" tutur ustad Rasyid.
" Jodoh, itu artinya aku dan Riziq berjodoh. Dulu kau yang melepaskanku disaat aku mempunyai rasa yang lebih padamu, disaat aku merasa berbunga bunga dengan perasaanku terhadapmu, tiba tiba kau melepasku begitu saja dan memilih ustadzah Yasmin untuk menjadi bidadari dalam hidupmu, disaat itulah Riziq mengulurkan tangannya padaku tanpa berharap lebih, dia yang rela menukar kebahagiaannya hanya untuk kebahagiaanku. Tidak perduli berapa selisih perbedaan umurnya denganku, dia tidak perduli kalau aku lebih tua darinya. Dan pada kenyataannya dialah yang merubah tangisku menjadi tawa" tutur Aisyah. Ustad Rasyid pun terdiam.
" Maaf jika dulu aku menyakitimu" ucap ustad Rasyid. Tiba tiba ustad Rasyid memberikan kertas puisi itu pada Aisyah.
__ADS_1
" Maaf aku kembalikan lagi puisimu, aku sudah tidak berhak lagi menyimpannya, terserah kau mau apakan, di buang juga tidak apa apa" ucap ustad Rasyid. Perlahan Aisyah pun menerima kertas puisi itu. Namun tiba tiba Riziq keluar dan langsung mengambil kertas puisi itu lalu melemparnya entah kemana. Aisyah dan ustad Rasyid pun terkejut, mereka melihat kemarahannya Riziq.
" Sepertinya Riziq mendengar percakapan kami"
" Lee"
Riziq langsung menatap Aisyah. Seketika Aisyah langsung menundukan kepalanya. Lalu Riziq pun menatap ustad Rasyid. Seketika ia langsung mendekati kakaknya dan menarik kerah baju ustad Rasyid dengan kedua tangannya, lalu mendorongnya hingga terbentur ketembok.
" Leeee" Aisyah langsung merangkul Riziq karna takut Riziq akan berbuat kasar pada kakaknya.
" Lee, kau jangan begitu, lepaskan kakakmu, kau salah faham Le" Aisyah mencoba membujuk.
" Dengarkan aku ang, aku sering bilang padamu, jauhi istriku, buang semua kenangan tentangnya, jangan sampai ada sisa sedikitpun, termasuk kertas puisi itu. Kau tau gara gara itu istrimu terbaring di rumah sakit, dan kau hampir saja kehilangan bayimu"
" Apa maksudmu Ziq?, aang sudah melupakan Aisyah, aang tidak sengaja menemukan kertas itu, mungkin Yas salah faham padaku, tidak ada sedikit pun niatku untuk mempermainkannya, aku mencintai istriku" tutur ustad Rasyid.
" Leee, lepaskan tanganmu" pinta Aisyah cemas, kini ia sudah meneteskan air matanya. Perlahan Riziq pun melepaskan cengkraman tangannya dari bajunya ustad Rasyid.
" Kumohon ang, perlakukan Aisyah sebagai adik iparmu tidak lebih" ucap Riziq.
" Sekarang aang yang tanya padamu, apa kau pernah melihatku mendekati Aisyah?, apa kau pernah melihatku menggodanya?, atau kau pernah melihatku berdua duaan dengannya di tempat sepi?" tanya ustad Rasyid. Riziq pun terdiam.
" Maaf bukannya aku menuduhmu, pada kenyataannya istrimu menaruh kecemburuan yang teramat sangat pada Aisyah, jadi mulai sekarang tolong kau jaga jarak dengan Aisyah demi istrimu, aku tidak mau bayimu kenapa napa, karna istrimu punya perasaan yang sensitif" tutur Riziq. Ustad Rasyid pun mengangguk.
" Kita pulang uni" ucap Riziq sambil menyeka air mata yang menetes dipipinya Aisyah.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Riziq dan Aisyah pun pergi dari rumah sakit itu. Ustad Rasyid pun mengusap kasar wajahnya.
" Astaghfirullah alazim"
Di perjalanan, Riziq hanya diam saja, sementara Aisyah tak henti hentinya menangis sambil memeluk suaminya itu.
" Lee, kau masih marah?" tanya Aisyah. Riziq pun hanya diam dan tak menjawab pertanyaan istrinya.
Sesampainya di pesantren, Aisyah dan Riziq pun berjalan menuju kantinnya bi Ratna untuk mengambil Adam dan Hawa, karna setau Riziq Adam dan Hawa di titipkan pada Dewi. Tiba tiba mereka bertemu dengan ustad Usman. Mata ustad Usman membelalak melihat darah di bajunya Aisyah.
" Astaghfirullah alazim Aisyah, kau keguguran?" ucap ustad Usman panik. Aisyah dan Riziq hanya mengeryitkan keningnya.
" Ya Allah Aisyah, kau yang sabar ya, ini adalah cobaan, itu artinya Allah sayang padamu, kalian sabar ya suatu saat kau bisa hamil lagi, jadi kau jangan sedih, ka Usman turut berduka atas musibah ini" ucap ustad Usman. Aisyah sudah menggeram.
" Aku tidak hamil" tegas Aisyah. Ustad Usman pun mengeryitkan keningnya.
" Kalau kau tidak hamil itu artinya kau sedang menstruasi dan kau tidak memakai pembalut?, heei Aisyah kau memalukan" ucap ustad Usman.
" Aku tidak sedang datang bulan" tegas Aisyah kembali.
" Kalau kau tidak keguguran dan menstruasi, lalu darah apa yang menempel dibajumu?" tanya ustad Usman.
" Ustadzah Yasmin pendarahan, tapi sekarang dia dan bayinya baik baik saja"
" Alhamdulilah" ucap ustad Usman.
Tiba tiba Dewi datang dengan kaki sedikit pincang karna terjatuh tadi. Ia sudah panik melihat darah dibajunya Aisyah.
" Aisyah kenapa kau,"
Belum saja Dewi selesai bicara, Aisyah sudah menyudahi ucapannya.
" Ssssttttth, jangan bicara apa apa asalamualaikum" ucap Aisyah sambil berlalu pergi bersama Riziq.
" Waalaikum salam " jawab Dewi sambil menganga tak percaya dan heran.
__ADS_1
"Si berondong sama si Aisyah kenapa ya, apa mereka berantem hingga berdarah darah, ya allah menakutkan sekali"