
Sore hari setelah Zahira pulang dari sekolah, iya berjalan bersama Dewi. Dewi hanya diam sambil memperhatikan Zahira yang menurutnya sudah beberapa hari ini berubah 180 derajat.
" Kenapa ka Dewi menatapku seperti itu?" tanya Zahira.
" Tidak apa apa Ira, mungkin aku lelah" jawab Dewi. Zahira hanya mengeryitkan keningnya. Tiba tiba mereka bertemu dengan ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam om ustad" jawab Zahira sambil tersenyum menyejukan. Zahira hanya diam saja sambil menundukan kepalanya, membuat ustad Usman mengeryitkan keningnya karna merasa heran dengan bocah selebor yang selalu membuatnya pusing 7 keliling. Perlahan ustad Usman menempelkan telapak tangannya di dahinya sendiri.
" Suhu badanku normal" ucapnya sendiri. Hingga Dewi yang melihatpun tertawa tawa.
" Kau kenapa ustad?" tanya Dewi.
" Tidak apa apa Wi, mungkin aku lelah" jawab ustad Usman. Dewi malah cekikikan.
" Ustad Usman pasti herankan melihat sikapnya Ira?" ucap Dewi. Ustad Usman pun mengangguk.
" Sepertinya kepalanya terbentur sesuatu, dan otaknya sedikit lecet" ucap Dewi. Zahira hanya diam saja sambil memperhatikan 2 orang yang ada di hadapannya itu.
" Ira kau sehat?" tanya ustad Usman.
" Alhamdulilah" jawab Zahira lembut.
"Sepertinya aku yang kurang sehat" batin ustad Usman.
" Kau baik baik saja Ira?"
" Hmmm"
" Tapi kenapa sikapmu seperti ini, seperti bukan Zahira Rahmadia Alfiqri, si bocah selebor adiknya si berondong" ucap ustad Usman. Zahira malah tersenyum.
" Memangnya kenapa dengan sikapku?" tanya Zahira.
" Kau berbeda Ira, biasanya kalau bertemu denganku, kau nampak begitu menyebalkan, dan kau selalu malak"
" Aku minta maaf atas semua kesalahanku yang dulu, aku tidak akan malak om ustad lagi" Zahira pun mengambil uang 2.000 di saku bajunya dan di berikannya pada ustad Usman. Ustad Usman hanya mengeryitkan keningnya saat Zahira memberikan uang 2.000 sisa uang jajannya.
" Untuk apa uang 2.000nya?" tanya ustad Usman.
" Itu untuk om ustad, sebagai ucapan maaf karna aku sering malak om ustad" ucap Zahira.
" Lumayan itu rejeki" ucap Dewi.
Ustad Usman hanya menatap uang 2.000 itu yang kini ada di tangannya.
" Lumayan buat beli permen" ucap ustad Usman sambil mengantongi uang itu.
" Di embat juga duit recehnya" ucap Dewi mengejek.
" Berisik kau Wi"
" Om ustad lupa ya, akukan sedang memperbaiki diri untuk mengimbangi ka Yusuf" ucap Zahira. Ustad Usman yang baru ingat pun langsung menepuk jidatnya.
" Astaghfirullah alazim aku baru ingat Ira, pantas saja aku merasa melihatmu seperti melihat orang lain" ucap ustad Usman. Tiba tiba Yusuf dan teman temannya lewat, dan berhenti untuk sekedar menyapa.
" Asalumualaikum"
" Waalaikum salam"
Setelah menjawab salam, Zahira langsung menundukan kepalanya.
" Baru pulang Suf?" tanya ustad Usman.
" Iya ustad" jawab Yusuf. Teman temannya Yusuf mengajaknya Yusuf untuk melanjutkan perjalanan.
" Ustad kita duluan, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
__ADS_1
Zahira masih menundukan kepalanya. Hingga kini Yusuf berhenti tepat di hadapannya.
"Asalamualaikum Ira"
Zahira pun mendongakan wajahnya menatap Yusuf.
" Waalaikum salam ka Yusuf" jawab Zahira. Yusuf pun melemparkan senyuman manisnya hingga Zahira pun dengan senang hati membalas senyumannya.
" Ehem ehem, awaaaas ada setan lewat. Jangan berbuat jina melalui mata" ucap ustad Usman mengingatkan. Yusuf yang mendengar sindiran dari ustad Usman pun langsung menundukan wajahnya dan pergi dari sana. Zahira terus menatap Yusuf dengan senyuman lebarnya, hingga saat Yusuf sudah hilang dari penglihatannya, ia menjerit histeris hingga Reflek menarik sorban yang melilit di lehernya ustad Usman. Zahira nampak senang saat Yusuf tersenyum padanya. Iya menjerit berbarengan dengan ustad Usman yang lehernya tercekik .
" Aaaaaa" ( Zahira)
" Aaaaaa" ( Ustad Usman)
Karna merasa tercekik, ustad Usman pun menrarik sorbannya dari tangan Zahira.
" Eh selebor kau mau membunuhku ya" gerutu ustad Usman.
" Maaf om ustad aku terlalu bahagia, aku duluan ya, asalamualaikum" ucap Zahira langsung berlari ke rumahnya Aisyah.
" Dasar selebor, baru di kasih senyum sama Yusuf langsung lupa niatnya untuk memperbaiki diri. Pecicilan dan sifat menyebalkannya balik lagi" gerutu ustad Usman. Dewi sudah tertawa tawa sedari tadi saat melihat ustad Usman tercekik.
Zahira terus berlari hingga ia sampai di rumahnya Aisyah. Kebetulan Aisyah sedang duduk di karpet bludru sambil menemani Adam dan Hawa, Riziq pun duduk di sana sambil menikmati secangkir kopi.
" KAAAAAAAAAAAA" teriak Zahira sambil nyelonong masuk tanpa mengucap salam terlebih dulu. Seketika Zahira langsung berguling guling di karpet bludru yang sedang diduduki Aisyah dan Riziq. Aisyah dan Riziq pun terkejut dengan kedatangannya apalagi saat melihat Zahira berguling guling. Aisyah repleks meloncat ketakutan dan Riziq sigap mengambil gelas kopinya takut tersenggol tubuhnya Zahira yang kini sedang berguling guling.
" Astaghfirullah Le, Zahira kenapa?" tanya Aisyah panik.
" Tidak tau uni"
" Bacain do'a Le, takutnya dia kesurupan. Sekalian tiup ubun ubunnya takut dia masuk angin" pinta Aisyah.
" Ira kau kenapa?" tanya Riziq.
Karna kelelahan Zahira pun menghentikan guling gulingnya.
" Duuh cape"
" Aku baik baik saja ka, aku lagi senang dan bahagia" ucap Zahira sambil berjingkrak jingkrak hingga iya lupa dengan niatnya untuk tidak bersikap genit san pecicilan.
" Kau sedang bahagia kenapa Ira?" tanya Aisyah.
" Tadi ka Yusuf melemparkan senyuman manisnya padaku, aaaaaaaa" Zahira kembali berlari lari di rumahnya Aisyah, tiba tiba ia langsung meloncat ke punggungnya Riziq. Zahira kini berada di gendongan kakaknya itu.
" Kufikir Yusuf melemparkan geranat" batin Riziq.
" Bocah semprul, turun" tegas Riziq.
" Gak mau, aku lagi bahagia"
" Kalau kau tidak mau turun dari gendonganku, ku banting kau sekarang juga" ancam Riziq.
" Jangan"
Seketika Zahira langsung loncat dari punggungnya Riziq.
" Uni, kau ambil kompresan, kau kompres adik iparmu itu, sepertinya otaknya meriang" ucap Riziq yang mulai kesal dengan kelakuan adik perempuannya itu. Zahira langsung cemberut kesal, sementara Aisyah sudah cekikikan.
" Ira, sini ka Aisyah pijitin otaknya biar rileks" ucap Aisyah sedikit mengejek. Hingga Zahira kembali mengerucutkan bibirnya.
" Ka Aisyah menyebalkan" gerutu Zahira. Setelah mengobrol ngobrol, Zahira pun pamit pulang.
" Ka aku pulang dulu ya, asalalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Sebelum pergi Zahira pun menciumi Adam dan Hawa dengan gemasnya.
" Daaaah Adam, Hawa, baaaaay"
__ADS_1
Zahira pun pergi dari rumahnya Aisyah sambil berjingkrak jingkrak. Aisyah dan Riziq terus menatap Zahira di depan pintu.
" Astaghfirullsh alazim" ucap Riziq sambil mengelus elus dadanya.
" Baru di kasih senyum sama Yusuf saja dia sudah berguling guling di lantai, gimana kalau Yusuf bilang cinta padanya, pasti warisanmu itu sudah berguling guling di atas genteng rumah kita" tutur Aisyah.
" Kau tau uni, apa yang akan aku lakukan saat kau mengatakan cinta padaku"
" Apa?" tanya Aisyah.
"Aku pasti langsung mengajakmu berguling guling di tempat tidur" jawab Riziq sambil tersenyum senyum. Seketika Aisyah langsung memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam Le"
Zahira yang baru pulang dari rumahnya Aisyah. Iya berjalan santai sambil berdendang ria.
" Tra la la la la la....
Tri li li li li li ......"
Tiba tiba iya terdiam dan langkahnya berhenti iya merasa lelah sendiri. Zahira pun duduk di pinggir jalan, kebetulan ada batu besar di sana yang bisa di dudukinya dengan nyaman.
Zahira terdiam sambil meremas tangannya. iya nampak begitu lelah.
" Dengan perubahan sikapku ini aku merasa bukan diriku sendiri. Salah tidak ya kalau aku berubah karna ka Yusuf?, karna aku ingin mengimbangi sifat dan sikapnya ka Yusuf" batin Zahira. Tiba tiba ustadzah Ulfi menegurnya yang kebetulan lewat.
" Asalamualaikum Ira, lagi ngapain di sini?" tanya ustadzah Ulfi.
" Waalaikum salam ustadzah"
Zahira pun mencium tangan ustadzah Ulfi, bukan karna iya ibunya Yusuf, tapi karna dia gurunya di kelas.
" Lagi ngapain duduk di sini?" tanya ustadzah Ulfi kembali.
" Abis pulang dari rumahnya ka Aisyah, kecapean jadi duduk di sini" jawab Zahira. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Ustsdzah, boleh saya tanya sesuatu?"
" Tentu" jawab ustadzah Ulfi sambil ikut duduk di sebelahnya Zahira.
" Mau tanya apa?"
Zahira nampak ragu untuk bertanya, namun iya mencoba untuk memberanikan diri.
" Ustadzah, kalau kita mencoba memperbaiki diri menjadi lebih baik tapi karna alasan seorang laki laki bukan karna Allah apa itu boleh?" tanya Zahira sambil menatap ustadzah Ulfi. Ustadzah Ulfi pun tersenyum sambil membelai lembut pipinya Zahira.
" Ira, jika kau ingin berhijrah, memperbaiki diri untuk mendapatkan laki laki yang kau sukai atau ingin mendapatkan suami soleh. Luruskan kembali niat hijrahmu itu Ira, niatmu memperbaiki diri hanya karna Allah, untuk mendapatkan rhidanya untuk mendapatkan syfaatnya, ingat ya hanya niat karena Allah, bukan karena laki-laki yang kau sukai," tutur ustadzah Ulfi menjelaskan pada Zahira.
Zahira pun terdiam.
" Jadi niat saya memperbaiki diri karna laki laki itu salah?" tanya Zahira.
" Berniatlah hanya karna Allah"
Zahira langsung menundukan kepalanya.
"Dari niatnya saja sudah salah, gimana kedepannya nanti" batin Zahira.
" Lalu apa yang harus saya lakukan ustadzah?" tanya Zahira. Ustadzah Ulfi malah tersenyum.
" Rubahlah niatmu. Niatkanlah berhijrah dan memperbaiki dirimu hanya karna Allah" ucap ustadzah Ulfi sambil mengelus kepalanya Zahira. Zahira pun menganggukan kepalanya.
" Usiamu masih muda. Tuntutlah ilmu setinggi mungkin, dan dekatkan lah dirimu pada Allah sedekat dekatnya. Jangan terlalu memikirkan jodoh, karna Allah sudah menyiapkan jodoh masing masing untuk setiap umatnya "tutur ustadzah Ulfi.
" Ia ustadzah"
" Ya sudah saya pulang dulu ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam. Teima kasih ustadzah"
__ADS_1
Ustadzah Ulfi pun melanjutkan kembali perjalanannya. Menyisakan Zahira yang kini duduk termenung di pinggir jalan.
" Jadi aku harus niatkan semuanya karna Allah"