
Suatu hari Kiyai Husen mengadakan acara makan makan untuk para pengajar di rumahnya. Tentu saja itu sangat menyibukan Aisyah, bi Ratna dan Dewi yang ikut membantu memasak. Ka Nisa dan bi Ratna sudah berbelanja kepasar membeli bahan bahan masakan.
" Banyak sekali bahan makanannya, entah kenapa tiba tiba perutku keroncongan melihatnya, padahal makanannya masih mentah. Apalagi kalau masakannya sudah matang semua, pasti masakan itu akan melambai lambai dan tersenyum padaku" tutur Dewi sambil menatap bahan makanan yang menumpuk di atas meja dapur. Daging dan sayuran sudah komplit tersedia. Bi Ratna pun menepuk pundaknya Dewi.
" Jangan berpikir yang macem macem, kau sudah seperti manusia omnivora" ucap bi Ratna sambil membereskan semua belanjaannya.
" Apa manusia omnifora itu bi?" tanya Dewi tak mengerti.
" Manusia pemakan segala. Daging suka, sayur suka, apa aja juga suka, intinya rakus" jawab bi Ratna hingga Dewi mengerucutkan bibirnya. Aisyah sudah memegang pisau untuk memotong beberapa sayuran, tak lupa ia juga sudah menggunakan celemek. Kebetulan Adam dan Hawa sedang asik bermain dengan kiyai Husen.
Mereka semua berkutat hampir 2 jam di dapur. Umi Salamah sudah mulai kelelahan.
" Umi , sebaiknya umi istirahat saja, biar kita yang masak" pinta Aisyah.
" Memangnya tidak apa apa?"
" Tak apa umi"
Dan akhirnya umi Salamah pun beristirahat. Kini menyisakan Aisyah, bi Ratna, Dewi, Nisa dan istrinya ustad Soleh. Mereka nampak asik memasak. Sampai tak terasa masakannya sudah selesai.
" Apa aku boleh mencicipinya?, cacing cacing dalam perutku sudah mulai tergoda" ucap Dewi.
" Gendut, kau malu maluin saja" gerutu bi Ratna.
" Tidak apa apa, ambilah kalau kau mau mencicipinya" ucap Nisa. Tentu saja itu membuat Dewi sumringah mendengarnya.
" Terima kasih ka Nisa" ucap Dewi yang kemudian mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauk pauknya. Ia melahap makanan itu dengan cepat hingga habis. Sebenarnya ia ingin minta tambah, namun karna bi Ratna melototinya, akhirnya Dewi tidak jadi minta tambah.
__ADS_1
" Cuci piringnya" suruh bi Ratna.
" Jangan di cuci, dimakan aja sekalian" goda Aisyah. Hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.
Beberapa jam kemudian. Para pengajar satu persatu mulai berdatangan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Ustad Azam dan ustajah Ulfi datang bersama Riziq. Riziq langsung menemui Adam dan Hawa yang saat itu sedang bermain bersama kiyai Husen dan umi Salamah.
" Hei anak anaknya abi lagi ngapain" ucap Riziq yang kini ikut menggoda bayi bayinya. Tidak lama kemudian ustad Rasyid dan ustajah Yasmin pun datang bersama para pengajar lain. Mereka pun berkumpul di dalam rumahnya kiyai Husen. Makanan pun sudah tersaji di sana.
" Aisyah berondong manismu sedang mencarimu di depan" ucap Dewi pada Aisyah. Seketika Aisyah langsung menghampiri Riziq yang sedang menggendong Adam.
" Le kau sudah datang" ucap Aisyah sambil mencium tangannya Riziq.
" Biar aku yang ambilkan Le" pinta Aisyah. Saat ia akan mengambil piring, tiba tiba ustad Rasyid pun mengambil piring yang sama. mereka pun terdiam saat tangan mereka memegang piring yang sama. Mereka nampak gugup. Hingga ustajah Yasmin menampakan rasa cemburunya kembali. Aisyah pun melepaskan piring itu.
" Maaf " ucap Aisyah lirih.
" Tidak apa apa, silahkan kamu duluan " ucap ustad Rasyid. Aisyah pun langsung menatap Riziq. Riziq malah tersenyum.
" Biar aku saja uni yang mengambilnya"pinta Riziq. Kini Riziq lah yang telah mengambil nasi itu bersama ustad Rasyid. Ustajah Yasmin terus menatap mereka, ada rasa tak suka di raut wajahnya.
"Aku sudah berusaha untuk membuang rasa cemburu ini, tapi pada kenyataannya aku masih merasa ada cinta yang masih tertinggal di hati suamiku untukmu Aisyah. Maaf Aisyah bukannya aku mencurigaimu, aku tau kau dan suamiku tidak akan menghianatiku, tapi aku sedikit tak rela jika suamiku masih menyimpan rasa padamu" batin ustajah Yasmin.
__ADS_1
Ustajah Yasmin terdiam sedikit kesal dengan ustad Rasyid yang hanya memberinya piring kosong. Sementara Riziq memberi Aisyah piring beserta nasi dan lauk pauknya, bahkan mereka makan satu piring berdua. Tiba tiba ustad Usman menaruh 6 piring di hadapannya Aisyah dan Riziq. Aisyah dan Riziq malah saling tatap tak mengerti kenapa ustad Usman menaruh banyak piring kehadapannya.
" Apa?" tanya Aisyah pada kakaknya itu.
" Aku kasihan padamu, setiap makan bersama, kalian hanya makan satu piring berdua, kalian bersikap romantis apa memang tidak mau mencuci piring " ledek ustad Usman hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya.
" Umi kak Usman meledekku terus" ucap Aisyah mengadu.
" Maaf Aisyah, maklum saja kami tak pernah besikap romantis selain di salam kamar" ucap Nisa.
" Ssttth, jangan bilang bilang" ucap ustad Usman. Riziq hanya tersenyum saja melihat perdebatan mereka. Seolah tak malu dengan para pengajar yang lain yang kini sedang berkumpul bersama. Ustajah Yasmin terus saja menatap ke arahnya Aisyah dan Riziq. Tak bisa di bohongi kalau dirinya kini merasa iri dengan mereka. Sikap romantis dan perhatiannya Riziq pada Aisyah, sangat bertolak belakang dengan sikapnya ustad Rasyid yang cuek dan tak pernah romantis sedikit pun padanya. ustajah Yasmin selama ini hanya merasakan tanggung jawab yang di berikan suaminya bukan cinta yang selama ini ia harapkan.
Setelah semua selesai makan. Mereka pun ngobrol ngobrol sesama pengajar. Aisyah dan Nisa serta bi Ratna mebereskan makanan dan piring piring kotor itu.
" Asataghfirullah, Dewi kau makan lagi? " tanya Aisyah. Dewi malah tersenyum.
" Tadi kan cuma nyicip, nah sekarang baru makan" jawab Dewi. Hingga Aisyah menggeleng gelengkan kepalanya.
" Lain kali jangan minta Dewi untuk bantu bantu memasak, merugikan, belum lagi saat pulang pasti minta di bekelin" ucap bi Ratna.
" Bibi kau tau saja apa yang sedang kupikirkan he he" bukannya malu tapi Dewi malah tertawa.
Saat acara selesai, merekapun pulang bersama sama. Aisyah sudah menggendong Hawa, dan Riziq menggendong Adam. Sementara bi Ratna berjalan berdua bersama Dewi, dan benar saja Dewi pulang sambil membawa bekal makanan yang di beri Nisa untuknya.
" Kau malu maluin saja" gerutu bi Ratna.
" Biarin" jawab Dewi tak peduli.
__ADS_1
Sementara ustajah Yasmin terus saja memandangi Aisyah dan Riziq yang saat itu terasa mesra meskipun sedang berjalan, mereka terlihat bercanda canda sambil tertawa saling menggoda bayi bayinya.
" Kapan suamiku bisa bersikap seperti itu padaku?, jangankan bergandengan tangan, mengobrol denganku saja sepertinya sangat sulit, sepertinya aku harus melakukan sesuatu biar suamiku bisa benar benar melupakan Aisyah"