
Pagi pagi sekali Dewi sudah berada di kantin bersama bi Ratna. Mengerjakan rutinitas seperti biasa. Sejak Aisyah berhenti bekerja di kantinnya bi Ratna, Dewi lebih sibuk di kantinya bi Ratna di banding membantu mang Ilham. Tiba tiba Zahira datang.
" Haai ka Dewi" sapa Zahira.
" Jangan haai haai terus selebor, biasakan asalamualaikum" ucap Dewi mengingatkan. Zahira pun tersenyum malu.
" Lupa"
" Ira kau sudah sarapan?" tanya bi Ratna.
" Sudah bi, tapi cuma sedikit" jawab Zahira.
" Loh ko sedikit, ayo sarapan lagi disini yang banyak biar kamu ga laper saat mengikuti pelajaran di kelas penomenal itu"ucap bi Ratna hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Tidak mau bi, kalau makanku banyak nanti badanku akan tumbuh subur seperti ka Dewi" ucap Zahira. Seketika Dewi langsung menggeram.
" Iraaaaaa"
" He he he, maaf ka Dewi aku hanya mengungkapkan fakta yang ada he he"jawab Zahira sambil tertawa tawa.
" Kalau kau kesini bukan untuk sarapan lalu untuk apa?" tanya Dewi.
" Ka Dewi tolongin aku ya"
" Kau tidak tau malu ya, sudah menghinaku tapi masih berani bilang minta tolong" ucap Dewi.
" Dewi, jangan bicara seperti itu sama anak kecil" ucap bi Ratna.
" Memangnya kau mau minta tolong apa padaku?" tanya Dewi. Zahira sudah tersenyum senyum malu.
" Kau tidak usah malu malu kucing seperti itu, katakan padaku mau minta tolong apa?" tanya Dewi kembali.
" Begini ka, aku belum mengerjakan pr, sebenarnya sih sudah, tapi kata temen temen tulisan arab ku jelek tidak bisa dibaca. Mereka bilang aku harus menyalin tulisanku kembali dengan yang lebih baik" tutur Zahira.
" Jadi maksudmu aku yang harus menulis pr mu?, itu namanya curang Ira, tidak boleh, Syifa saja menulis sendiri" ucap Dewi. Zahira sudah cengengesan.
" Coba kulihat hasil mahakarya tanganmu" pinta Dewi. Zahira pun memberikan buku itu pada Dewi. Seketika Dewi langsung membelalakan matanya saat melihat tulisan arabnya Zahira.
" Astaghfirullah alazim, indah sekali tulisanmu Ira, Seperti tulisan ceker bebek, apa waktu kecil kau sering makan ceker ayam" ucap Dewi meledek hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Ka Dewi malah ngeledekin sih, ini pertama kalinya aku menulis arab seperti itu"
Bi Ratna pun melihat tulisannya Zahira, ia pun tersenyum geli melihatnya.
" Tidak apa apa Ira, kau harus semangat bibi yakin suatu saat nanti pasti tulisanmu itu akan bagus seperti yang lain" tutur bi Ratna.
" Masih bagus tulisannya Syifa he he he" ucap Dewi sambil di bumbui tawa di akhir kalimatnya. Tiba tiba Aisyah datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Zahira pun tersenyum senang saat melihat Aisyah.
" Dewa penyelamat datang" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Ira, kau sedang sarapan?" tanya Aisyah.
__ADS_1
" Tidak ka, aku mau mengerjakan pr tapi aku tidak bisa, ka Aisyah bantuin aku ya" ucap Zahira. Zahira pun memberikan bukunya pada Aisyah. Aisyah sudah ingin tertawa namun ia tahan saat ia melihat tulisannya Zahira.
" Waaah dahsyat sekali ya tulisanmu Ira, tapi hari ini ka Aisyah harus menjaga Adam dan Hawa, kau belajar dulu sama ka Dewi ya, nanti hari libur ka Aisyah ajarin kamu menulis bahasa arab" tutur Aisyah. Zahira pun mengangguk. Tiba tiba bel berbunyi, Zahira pun masuk kelas.
" Ajaib ya adik iparmu yang selebor itu" ucap Dewi pada Aisyah.
" Bi aku mau mengambil pesananku" ucap Aisyah. Bi Ratna pun memberikan pesanan makanan pada Aisyah dalam rantang.
" Makasih bi, aku pulang dulu ya asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Saat di perjalanan, Aisyah tersenyum melihat para santriwati asik berlari larian. Tiba tiba ia heran melihat ustadzah Yasmin berjalan sedikit cepat sambil menangis. Tiba tiba ustadzah Yasmin tersenggol santriwati yang sedang asik berlarian, hingga ustadzah Yasmin terjatuh dan menabrak Aisyah. Rantang yang Aisyah bawa pun terjatuh hingga makanan itu berhamburan kejalanan. Ustadzah Yasmin kini berada di atas tubuhnya Aisyah, perlahan ia bangkit dan terduduk bersama Aisyah di jalanan.
" Astaghfirullah alazim"
Aisyah terkejut. Kini ustadzah Yasmin meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
" Ya allah perutku" ringis ustadzah Yasmin.
" Ustadzah kenapa?" tanya Aisyah cemas.
" Perutku sakit" ustadzah Yasmin terus saja meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Aisyah membelalakan matanya saat melihat darah mengalir di kakinya ustadzah Yasmin hingga mengenai baju Aisyah yang berwarna putih. Aisyah yakin darah itu mengalir dari selangkangannya ustadzah Yasmin.
" Astaghfirullah alazim" Aisyah panik, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari bantuan namun tak ada orang dewasa yang lewat karna waktu masih pagi.
" Sabar ustadzah Yasmin saya cari bantuan dulu" ucap Aisyah, namun ustadzah Yasmin malah menarik tangannya Aisyah.
" Hubungi suamiku" pinta ustadzah Yasmin.
" Maaf ustadzah saya tidak punya nomornya ustad Rasyid"
" Astaghfirullah, ustadzah bangun, ya allah selamatkanlah ustadzah Yasmin dan bayinya" ucap Aisyah panik. Seketika Aisyah mencari ponselnya ustadzah Yasmin dalam tas kecilnya.
" Alhamdulilah ponselnya ada"
Aisyah pun mencari nomornya ustad Rasyid, setelah mendapatkan nomor itu, Aisyah langsung menghubunginya. Belum saja Aisyah mengucap salam, tiba tiba ia terdiam saat mendengar ucapannya ustad Rasyid.
" Sudah kubilang aku tidak punya perasaan lagi pada Aisyah, kenapa kau tidak percaya padaku" ucap ustad Rasyid di balik telepon, ia tidak tau kalau Aisyah lah yang menelponnya. Tentu saja Aisyah terkejut mendengar ucapannya ustad Rasyid.
Deg
Deg
Deg
" Ya Allah, apa maksud dari ucapannya ustad Rasyid??"batin Aisyah. Sebenarnya ia ragu untuk bicara pada ustad Rasyid, namun ia memberanikan diri karna ia cemas melihat keadaannya ustadzah Yasmin.
" As asalamualaikum" ucap Aisyah sedikit ragu. Ustad Rasyid pun terdiam saat mendengar suaranya Aisyah.
" Aisyah? ?"
" Ia ini saya ustad, saya cuma mau memberitau kalau ustadzah Yasmin terjatuh dan sepertinya ia mengalami pendarahan" ucap Aisyah. Seketika Ustad Rasyid terkejut dan langsung bergegas menemui istrinya sambil membawa mobil. Sesampainya di tempat kejadian, ustad Rasyid nampak panik melihat istrinya pingsan dan pendarahan.
" Astaghfirullah Yas"
" Sebaiknya ustadzah Yasmin di bawa kerumah sakit ustad" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Tolong bantu saya Aisyah." ucap ustad Rasyid. Aisyah pun membuka pintu mobil, dan ustad Rasyid langsung membaringkan istrinya kedalam mobil.
" Aisyah kau mau mengantarkan istriku ke rumah sakit" pinta ustad Rasyid. Perlahan Aisyah pun mengangguk. Kini mereka pun pergi ke rumah sakit. Karna panik Aisyah lupa memberitau Riziq tentang kepergiannya mengantar ustadzah Yasmin.
Sesampainya di rumah sakit, ustad Rasyid sudah menggendong istrinya masuk di ikuti oleh Aisyah.
" Tolong" ucap ustad Rasyid pada seorang perawat laki laki. Seketika perawat itu langsung membawa brankar dorong yang di sediakan, lalu menghampiri mereka. Tanpa bertanya apa apa perawat itu langsung mengangkat tubuh Aisyah dan membaringkannya di brankar dorong itu, tentu saja Aisyah langsung meronta. Perawat itu mengira Aisyah lah yang sedang sakit karna melihat baju gamis Aisyah terdapat darah yang menempel.
" Heei kenapa saya di tidurkan disini" ucap Aisyah heran, ia pun langsung turun dari brankar itu.
" Bukan saya yang sakit, tapi ibu ini" ucap Aisyah sambil menunjuk kearah ustadzah Yasmin. Perawat itu pun terkejut dan merasa malu.
" Maaf bu saya tidak tau" ucap si perawat.
Seketika ustad Rasyid langsung membaringkan ustadzah Yasmin ke brankar itu. Lalu si perawat langsung mendorongnya masuk ruang igd.
"Astaghfirullah, untung si berondong itu tidak ikut, kalau dia tau aku sempat di gendong laki laki lain, dia pasti akan ngamuk ngamuk di rumah sakit ini" batin Aisyah.
* * * * *
Sementara dengan Dewi yang kini ingin menemui Syifa di kelasnya, tiba tiba ia terkejut melihat rantang yang di bawa Aisyah berserakan di jalanan beserta dengan makanannya.
" Astaghfirullah, kenapa rantang makanan Aisyah berhamburan di jalan, ya Allah, Aisyah pasti diculik, astagfirullah alazim, apa yang harus aku lakukan" ucap Dewi panik. Seketika ia langsung menelpon Riziq.
" Hallo Asalamualaikum ka Dewi, tumben telpon?" tanya Riziq heran.
" A A Aisyah" ucap Dewi terbata.
" Kenapa sama uni?" tanya Riziq sedikit cemas.
" Aisyah di culik"
" Apaaaa ! ! !, di culik? ?" ucap Riziq terkejut, ia seperti kebakaran jenggot setelah mendengar kalau istrinya di culik. Seketika Riziq berlari keluar rumah untuk menemui Dewi. Setelah keluar dari rumah dan mengunci pintu.
" Astaghfirullah, Adam sama Hawa masih di dalam" ucap Riziq lupa, ia pun masuk kembali kerumah dan menaruh Adam dan Hawa ke kereta bayinya lalu mendorong kereta bayi itu untuk menemui Dewi. Di perjalanan Riziq sudah berdo'a berulang ulang untuk keselamatan Aisyah.
" Ya Allah selamatkanlah istriku,
Allahuma antas salaam, wa minkas salaam tabaarokta dzal jalaali wal ikroom"
Sesampainya di tempat Dewi kini berdiri.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
" Ka Dewi apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa Aisyah di culik, siapa yang menculiknya?" tanya Riziq cemas.
" Aku tidak tau siapa yang menculiknya, aku cuma melihat rantang yang di bawa Aisyah berhamburan disini" tutur Dewi. Riziq pun menatap rantang dan makanan itu yang kini berhamburan di jalanan. Riziq sudah semakin cemas dan khawatir.
" Uni kau dimana?" gumam Riziq. Tiba tiba Riziq melihat ada darah di dekat rantang itu.
" Astagfirullah uni apa kau baik baik saja"gumam Riziq.
Tiba tiba ustad Usman datang dan heran melihat mereka.
" Asalamualaikum, ada apa ini?" tanya ustad Usman kepo.
__ADS_1
" Aisyah di culik" jawab Dewi tegas.
" Astaghfirullah alazim di culik?, lalu penculik itu minta tebusan berapa? ?, katakan padaku, aku siap membantu" ucap ustad Usman panik.