
Ketika suara azan subuh menggema di speker masjid, Riziq sudah rapih mengenakan baju koko, sarung, kopeah dan sorban yang selalu menempel di lehernya, ia sudah siap untuk pergi ke masjid menjalankan shalat subuh.
Tidak lama kemudian Aisyah keluar dari kamar mandi, sudah menggunakan gamis, namun belum menggunakan kerudungnya, Aisyah menutup kepalanya dengan handuk, mencoba mengeringkan rambutnya yang basah. Riziq yang sadar akan hal itu langsung tersenyum.
" Uni, duduklah " pinta Riziq sambil menepuk kursi di sebelahnya. Perlahan Aisyah duduk di sebelah suaminya itu.
" Kenapa rambut uni basah ?" tanya Riziq sambil mengelus lembut rambut Aisyah yang sedikit keluar dari lilitan handuk yang di kenakannya. Seketika wajah Aisyah langsung memerah.
" Haruskah uni menjawab ?" tanya Aisyah balik. Seketika Riziq tersenyum.
" Apa uni mau bilang itu adalah hasil perbuatanku ? "goda Riziq.
" Jangan menggodaku seperti itu"
Perlahan Riziq menarik pelan handuk yang terlilit di kepalanya Aisyah, hingga rambut Aisyah yang basah itu tergerai cantik di hadapannya Riziq. Seketika Riziq mendekat pada Aisyah, seperti tergoda dengan pemandangan indah di hadapannya. Jantung Aisyah sudah berdegup tak karuan.
" Ziq, mau ngapain ?, Kau belum shalat subuh" ucap Aisyah dengan suara parau.
" Aku bisa melaksanakan shalat setelah ini " ucap Riziq semakin mendekat pada Aisyah. Aisyah sudah dapat merasakan nafas Riziq di wajahnya.
" Ziq, kalau ada tamu bagaimana " ucap Aisyah gugup.
" Biarkan saja"
" Kalau umi kesini "ucap Aisyah sambil memejamkan matanya.
" Biarkan saja" ucap Riziq kembali sambil membelai lembut pipinya Aisyah. Tiba tiba ponselnya Riziq berdering nyaring di atas meja di hadapan mereka. Hingga mereka terkaget di buatnya. Seketika Riziq langsung menjauhkan diri dari Aisyah dan mengabil ponselnya di atas meja.
" Ponsel yang baik hati, kau berdering tepat waktu ha ha" ucap Aisyah sambil tertawa, ia pun kembali memakai kerudungnya.
" Siapa ? " tanya Aisyah.
" Pesan dari ustad Azam, pagi ini ada miting para pengajar di aula" jawab Riziq.
" Ziq, uni boleh tanya sesuatu? " ucap Aisyah.
" Apa ?"
" Uni masih boleh ga membantu bibi di kantin? " tanya Aisyah ragu.
" Kenapa uni masih ingin bekerja, meski penghasilanku tak begitu besar, insyaallah aku masih bisa menafkahimu " ucap Riziq tegas.
" Masalahnya bukan sekedar penghasilan, hanya saja uni sangat senang membantu bi Ratna di kantin, apalagi saat melihat para santri berlari larian mengantri di kantin bi Ratna, seperti ada kebahagiaan tersendiri di hati uni" tutur Aisyah. Riziq pun tersenyum.
" Jika uni senang dan bahagia, aku mengizinkanmu, yang penting saat aku pulang, uni sudah ada di rumah untuk menyambutku "
Seketika Aisyah tersenyum bahagia saat suaminya masih mengizinkannya untuk bekerja. Ia pun mencium manis pipinya Riziq.
__ADS_1
" Terima kasih" ucap Aisyah antusias. Seketika Riziq langsung tersenyum saat Aisyah mencium manis pipinya.
" Kenapa uni menciumku, uni tau perbuatanmu itu akan membuatku hilang kendali" ucap Riziq sambil menatap Aisyah.
" Maaf " ucap Aisyah lirih. Riziq hanya tersenyum melihat ekpresi wajahnya Aisyah.
" Apa? " tanya Riziq singkat, ia sengaja ingin menggoda Aisyah.
" Maafkan aku Muhammad Riziq Alfikri, yang telah menciumu tiba tiba" jawab Aisyah sambil menundukan kepalanya. Riziq kembali tersenyum, ia mencoba menahan tawanya.
" Nama siapa yang uni sebutkan itu ? " tanya Riziq membuat Aisyah mengeryitkan keningnya.
" Tentu saja namamu" jawab Aisyah singkat.
" Namaku?, lalu aku ini siapanya uni?" tanya Riziq kembali.
" Suaminya Aisyah khoerunisa"
Seketika Riziq langsung tersenyum mendengar jawabannya Aisyah.
" Kalau aku suamimu, lantas kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan nama saja, bukankah itu tidak sopan kedengarannya, meskipun aku lebih muda darimu, tapi aku adalah suamimu, panggilah aku dengan sedikit lebih sopan"
Aisyah pun terdiam.
" Lalu uni harus memanggil apa?" tanya Aisyah.
" Terserah uni"
" kalau panggil abi gimana?" tanya Aisyah.
" Panggil abinya nanti saja kalau kita sudah punya seorang putra"
" Ya sudah aku memanggilmu tikus dapur saja " ucap Aisyah.
" Uni mau jadi istri durhaka" jawab Riziq. Seketika itu pula Aisyah langsung tertawa.
" Terus uni harus memanggil apa?" tanya Aisyah kembali.
" Panggil saja Ale " jawab Riziq singkat.
" Ale ?, apa itu bahasa kairo, lalu artinya apa? " tanya Aisyah penasaran.
" Ale bukan bahasa kairo, Ale juga tidak ada artinya, tapi aku senang jika uni memanggilku Ale " ucap Riziq menegaskan. Aisyah malah mengeryitkan keningnya heran.
"Panggilan ajaib apalagi itu, sudah memanggilku uni, memanggil kakaknya aang, sekarang di suruh memanggilnya Ale, oh sungguh manisnya suamiku, kalau Dewi dan ka Usman dengar, pasti mereka akan tertawa terpingkal pingkal menahan geli."
" Kenapa harus memanggil Ale?, bukan kah terdengar sangat aneh." ucap Aisyah.
__ADS_1
" Memang terasa aneh, namun akan terdengar manis jika uni yang memanggilnya." ucap Riziq menjelaskan. Seketika Aisyah langsung tersenyum.
" Baiklah uni panggil Ale" jawab Aisyah. Seketika Riziq pun langsung tersenyum.
" Ya sudah aku berangkat ke masjid dulu, setelah itu aku langsung berangkat ke aula, jadi tidak pulang dulu " tutur Riziq. Aisyah pun menganggukan kepalanya, lalu ia menggandeng Riziq ke depan rumah.
" Nanti siang uni izin ya kerumah umi"
Riziq pun mengangguk.
" Asalamualaikum" Riziq mengucap salam sambil pergi ke masjid setelah mengecup keningnya Aisyah.
" Waalaikumsalam, hati hati Ale" ucap Aisyah sambil memberi tawa kecil di akhir kalimatnya.
* * * * * *
Siang pun tiba, Aisyah pun pergi ke rumahnya umi Salamah. Sesampainya di sana, Aisyah bertemu ustad Usman yang akan berangkat mengajar.
" Asalamualaikum" Aisyah mengucap salam.
" Waalaikumsalam "
" Kak Usman mau berangkat mengajar? " tanya Aisyah.
" Ia, eh ngomong ngomong, berapa butir yang di minum? " tanya ustad Usman. Aisyah hanya diam saja tak mengerti.
" Butir apa, telur? " tanya Aisyah tak mengerti.
" Bukan telur, tapi obat yang kak Usman kasih"
Seketika Aisyah langsung menggeram kesal.
" Obatnya sudah kubuang jauh jauh" jawab Aisyah menegaskan.
"Ayo jangan jangan kalian belum melakukannya ya?" ucap ustad Usman sambil menyeringaikan matanya.
" Melakukan apa? " tanya Aisyah.
" Melakukan malam pertama" ucap ustad Usman sambil berbisik.
" Kata siapa udah ko ups" Seketika Aisyah langsung menutup mulutnya. Seketika itu pula ustad Usman tertawa tawa mendengar jawaban darinya. Aisyah menjadi semakin kesal terhadap Kakaknya itu.
" Ha ha ha, umi sepertinya sebentar lagi umi akan segera mendapatkan cucu baru" ucap ustad Usman sedikit berteriak. Seketika itu pula umi Salamah datang.
" Umi, kak Usman rese nih, godain aku mulu" ucap Aisyah mengadu.
" Usmaaan" geram umi Salamah sambil melototkan matanya. Seketika itu pula ustad Usman mengucap salam sambil berlari setelah mendapatkan sorotan mata menusuk dari uminya.
__ADS_1
" Aisyah, kau sudah izin belum sama suamimu berkunjung ke rumah umi ? " tanya umi Salamah.
" Sudah umi" jawab Aisyah. Mereka pun masuk ke dalam rumah meskipun hanya sekedar ngobrol dan makan bersama.