
Masih dengan Riziq yang selalu setia mengajari istri dan adiknya itu.
" Ira, kau nanti pelajari surat surat yang lain ya" pinta Riziq.
" Kalau surat Al falaq artinya apa ka?"tanya Zahira.
" Coba kau tanyakan pada kakak iparmu itu, dia tau tidak jawabannya" ucap Riziq sambil menatap Aisyah.
" Tau, jangan harap kau bisa menghukumku" jawab Aisyah tegas. Riziq sudah tersenyum senyum.
" Apa?"
" Waktu subuh" jawab Aisyah seketika. Aisyah tidak mau kalau Riziq sampai menghukumnya.
" Jawaban ka Aisyah itu benar tidak ka?" tanya Zahira pada Riziq. Riziq pun mengangguk.
" Sekarang ku beri pertanyaan lagi, tapi ini khusus untukmu uni"
" Apa?"
" Biasanya saat kau mendengar suara Adzan subuh, apa yang pertama kali kau lakukan?" tanya Riziq sambil tersenyum senyum. Seketika itu pula Aisyah langsung menjawab karna ia tak mau di beri hukuman dan diledekin 11 12 dengan Zahira.
" Tentu saja saat aku mendengar suara Adzan subuh aku langsung terbangun dan buru buru menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang polos, karna kalau tidak kau bisa menyerangku kembali oops" Aisyah langsung menutupi mulutnya dengan jedua telapak tangannya setelah sadar dengan ucapannya.
Riziq sudah tertawa tawa, Sementara Zahira sudah mengeryitkan keningnya.
" Umi kita kabur dari sini, kedua orang yang ada di hadapanku ini hobi sekali mengotori kesucian telinga dan fikiranku" ucap Zahira sambil memicingkan matanya pada Aisyah dan Riziq. Wajah Aisyah sudah bersemu merah. Sementara Riziq tak henti hentinya menertawakan istrinya yang keceplosan bicara.
" Maaf Ira, ka Aisyah keceplosan, ucapan ka Aisyah lolos begitu saja" ucap Aisyah yang kini nampak malu. Aisyah melirik suaminya yang sedari tadi tak henti hentinya tertawa. Seketika Aisyah langsung mencubit pinngangnya Riziq dengan sedikit kesal.
" Awwww"
" Adam dan Hawa sepertinya akan segera punya adik lagi" goda umi Fadlun.
Belajar mengajar pun selesai, di tutup oleh ucapan Aisyah yang lolos begitu saja.
" Kita ke rumahnya umi Salamah ya, kita lihat keadaannya ustad Usman" pinta umi Salamah. Zahira dan Aisyah pun mengangguk.
" Ia, aku juga mau ke kebun" ucap Riziq.
Mereka pun berjalan bersama menuju rumahnya umi Salamah. Aisyah sudah menggendong Adam, sementara Umi Fadlun menggendong Hawa. Seketika Zahira langsung menatap kakaknya. Riziq pun mengerti dengan tatapan adiknya itu.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?, apa kau ingin aku menggendongmu seperti Adam dan Hawa?" tanya Riziq.
"Kau mau?"
" Boleh, nanti setelah melewati jembatan kulempar kau ke sungai" ucap Riziq. Zahira langsung memicingkan matanya.
Sesampainya di depan rumah umi Salamah. Mereka pun mengucapkan salam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab umi Salamah dan kiyai Husen yang saat itu sedang duduk di depan rumah untuk menikmati hari libur. di sana juga ada anak anaknya ustad Soleh dan ustad Usman yang sedang main kelereng di halaman rumah.
" Cucunya umi baru datang" ucap umi Salamah sambil menggendong Adam. Mereka pun duduk bersama di teras depan. Riziq pergi ke kebun untuk membantu ustad Soleh, sudah beberapa hari ini dia tidak merawat pohon cabai kesukaannya.
" Pulangnya jangan terlalu sore" pinta Aisyah.
" Umi bagaimana keadaannya ustad Usman?, saya dengar kemarin dia tertabrak busway" ucap umi Fadlun. Umi Salamah malah tersenyum.
" Iya, tertabrak busway di pesantren" jawab umi Salamah sambil tersenyum senyum.
" Umi emangnya di pesantren kita ada busway?" tanya Zahira kepo.
" Ada" jawab Aisyah seketika.
__ADS_1
" Dimana?"
" Di kantinnya bi Ratna"
Seketika Aisyah dan Zahira langsung tertawa tawa.
" Aisyah, tidak boleh begitu" ucap umi Salamah mengingatkan.
" Maaf umi aku hanya bercanda"
Aisyah dan Zahira masuk kerumah untuk melihat keadaannya ustad Usman. Di lihatnya ustad Usman sedang di pijit oleh Nisa karna badannya berasa remuk setelah di tabrak busway. Ada perban yang terbalut di lengannya.
" Sudah baikan ka?" tanya Aisyah.
" Lukanya sebentar lagi juga sembuh, cuma badanku berasa pegal setelah tersungkur di pinggir jalan" tutur ustad Usman.
" Sangat disayangkan ya aku tidak melihat kejadian itu" ucap Zahira.
" Memangnya kalau kau melihatku tertabrak, kau mau menolongku?, aku yakin kau hanya akan menertawakanku saja" ucap ustad Usman. Zahira sudah cekikikan tanpa suara.
"Om ustad tau saja yang ada di fikiranku ini" ucap Zahira.
" Jangan cuma itu saja Ira, kau harus memvidiokannya biar jadi kenang kenangan. Seorang ustad lulusan terbaik dari Kairo tertabrak busway di pesantren" tutur Aisyah yang kini juga ikut tertawa. Nisa hanya tersenyum saja melihat mereka, ia mulai memijat mijat pergelangan kaki suaminya.
" Ka, kenapa kau tidak memanggil jasa tukang pijat saja" Aisyah memberi ide.
" Aku tidak suka disentuh orang lain selain Nisa dan umi" ucap ustad Usman menegaskan. Aisyah pun mengangguk ngangguk.
" Adam sama Hawa dimana Aisyah?" tanya Nisa.
" Di depan ka sama umi"
" Nis, punggungnya di injak saja, siapa tau pegalnya hilang" pinta ustad Usman. Kini ustad Usman sudah tengkurap.
" Bismilahirahman nirahim" Nisa berdo'a terlebih dulu. Saat Nisa baru saja menginjakan satu kakinya ke punggung suaminya, tiba tiba ustad Usman menjerit karna berat badan Nisa yang tidak disangka sangka.
Ustad Usman berteriak. Nisa spontan langsung loncat dari punggung suaminya. Seketika umi Salamah dan umi Fadlun berlari masuk kedalam rumah setelah mendengar teriakannya ustad Usman.
" Kamu kenapa Man?" tanya umi Salamah cemas.
" Badan Nisa berat banget, sungguh aku tidak kuat"
Umi Salamah pun menatap Nisa.
" Maaf umi, tadi mas Usman memintaku untuk menginjak punggungnya yang pegal, mas Usman menjerit karna tidak kuat menahan berat badanku" ucap Nisa. Zahira dan Aisyah sudah cekikikan tanpa suara. Sementara umi Fadlun hanya tersenyum melihat kekonyolan mereka.
" Usman, kau menanggung berat badan istrimu saja sudah tidak kuat, bagaimana kau menanggung dosa dosamu" ucap Umi Salamah yang kini berlalu keluar rumah di ikuti oleh umi Fadlun. Kini Nisa lah yang tertawa.
" Kenapa kau tertawa Nis?" tanya ustad Usman sambil memicingkan matanya.
" Baru di injak satu kaki saja sudah menjerit, bagaimana kalau aku menginjakan kedua kakiku" ucap Nisa dengan nada mengejek.
" Kau berat sekali Nis, sungguh aku tidak kuat, tak kusangka berat badanmu 11 12 dengan Dewi" tutur ustad Usman. Seketika Nisa langsung mengerucutkan bibirnya setelah berat badannya disamakan dengan Dewi.
" Selebor, dari pada kau cekikikan terus dari tadi, lebih baik kau injak punggungku, badanmukan kecil, sepertinya aku akan kuat menompang berat badanmu yang sebesar anak kelinci" pinta ustad Usman.
" Bukankah om ustad tidak mau disentuh oleh orang lain selain ka Nisa dan umi" jawab Zahira.
" Aku tidak menyuruhmu menyentuhku, aku menyuruhmu menginjaku"
" Ira, kau bantu ka Usman kasian dia" pinta Aisyah.
" Baiklah aku akan menuruti perintahnya, kapan lagi aku menginjak nginjak seorang ustad lulusan terbaik dari Kairo ha ha ha" ucap Zahira sambil tertawa.
" Eh kau jangan macam macam ya, aku menyuruhmu untuk nenginjak punggungku suapaya rasa pegalku hilang. Kau jangan main jingkrak jingkrak di atas tubuhku ya" pinta ustad Usman dengan nada mengancam.
__ADS_1
" Iya aku ngerti. Ka Nisa aku minta izin ya untuk menyiksa suamimu" ucap Zahira.
" Dengan senang hati ka Nisa persilahkan" ucap Nisa sambil ikut tertawa tawa.
" Kalian ini menyebalkan" gerutu ustad Usman. Zahira pun dengan hati hati menginjak nginjak punggungnya ustad Usman dengan di pegangi oleh Nisa karna takut Zahira terjatuh.
" Ira, kau tidak pernah dikasih makan ya, sepertinya berat badanmu cuma 15 kilo" ucap ustad Usman. Zahira pun langsung mengerucutkan bibirnya.
" Enak saja 15 kilo" gerutu Zahira.
Setelah selesai menginjak punggungnya ustad Usman Zahira pun duduk kembali begitupun dengan ustad Usman.
" Terima kasih Ira" ucap ustad Usman.
" Cuma terima kasih?" ucap Zahira.
Ustad Usman langsung mengereryitkan keningnya.
" Apa maksudmu?" tanya ustad Usman curiga.
" Aku membantu om ustad menggunakan hati, mata, tenaga dan fikiran" jawab Zahira.
" Dasar kau materialistis" ledek ustad Usman.
" Nis di saku bajuku ada uang 5000, kau berikan pada Zahira"
" Hanya 5000?" ucap Zahira tak percaya.
" Kau mau 2500?"
" Iya iya gak apa apa 5000 juga, akan ku gunakan dengan bijak" ucap Zahira pasrah dari pada di beri 2500. Nisa pun memberikan uang 5000 itu pada Zahira dengan melipat uang itu. Di lipatan uang 5000 itu terselip 50.000. Zahira nampak tersenyum senyum.
" Makasih ka Nisa sudah memberi lebih" ucap Zahira. Nisa pun mengangguk.
" Memangnya lebih berapa uang yang di beri Nisa sampai kau sebahagia itu"
" Cuma angka 5 ko mas" jawab Nisa.
" Ya sudah tidak apa apa di kasih tips 5000" ucap ustad Usman yang tidak tau yang terselip itu uang 50.000.
" Bukan 5000 om ustad, tapi 50.000. Istrimu baik sekali tidak pelit sepertimu"
" Nis, kebanyakan itu" protes Ustad Usman.
" Jangan banyak protes om ustad, aku ini adalah anak yatim, ada hak ku di dalam dompetmu" tutur Zahira.
" Soal begituan otakmu pintar ya, kau selalu menggunakan kelemahanku"
" Memangnya apa kelemahanmu?"
" Tentu saja anak yatim, kau tidak perlu merasa kau ini anak yatim, karna kau sudah kuanggap anaku dan Nisa, murid sepesialku, tapi jangan harap aku mau menikahi ibumu si neng ber'uban itu" tutur ustad Usman. Seketika Nisa langsung menggeram dan mencubit keras pinggangnya ustad Usman. Seketika itu pula ustad Usman menjerit kesakitan.
" Awwwwwww"
Mendengar jeritan putranya umi Salamah langsung berlari kembali ke dalam rumah.
" Kau kenapa lagi Usman?" tanya umi Salamah sedikit cemas.
" Digigit semut umi" jawab ustad Usman sambil meringis. Nisa sudah tersenyum getir, sementara Aisyah dan Zahira sudah cekikikan.
" Baru digigit semut saja kau sudah menjerit, bagaimana kalau kau digigit harimau" gerutu umi Salamah sambil berlalu kembali ke luar.
" Ha ha ha ha"
Aisyah dan Zahira sudah tertawa terpingkal pingkal. Ustad Usman langsung memicingkan matanya sambil menggeram. Seketika itu pula Aisyah dan Zahira langsung kabur. sementara Nisa sudah nampak ketakutan menatap suaminya yang tiba tiba berubah garang.
__ADS_1
" KABUUUUUR"
teriak Aisyah dan Zahira sambil berlari keluar.