
Setelah pulang dari perkebunan. Aisyah menginap di rumahnya umi Salamah. Ia berbaring di tempat tidur memikirkan ucapannya Riziq.
" Aku harus jawab apa ya, apa mungkin dia jodoh yang di kirim Allah untuku, dia kah yang akan menjadi imamku kelak "
Aisyah merasa gelisah sendiri. Ia berguling guling di tempat tidur memikirkan apa yang harus di putuskannya, sampai sampai ia tertidur dengan sendirinya.
* * * * *
Pagi pagi sekali Dewi sudah menjemput Aisyah di rumahnya umi Salamah.
" Asalamualaikum " Dewi mengucap salam.
" Waalaikumsalam " jawab Aisyah dan umi Salamah.
" Kita berangkat sekarang Aisyah "
Mereka pun berangkat, berjalan menuju gerbang pesantren. Di depan gerbang mereka melihat Riziq yang hendak pergi. Perlahan Aisyah dan Dewi menghampirinya sambil mengucap salam.
" Ziq kamu mau kemana ? " tanya Aisyah.
" Aku mau ke bandara, mau jemput abi sama umi, mereka mau pulang ke sini " jawab Riziq.
" Abi sama umi ? " gumam Aisyah dalam hati, Aisyah dan Dewi tak mengerti siapa abi sama umi yang di maksud oleh Riziq.
" Kalian sendiri mau kemana ? " tanya Riziq
" Kita mau ke pasar. "
" Ya sudah aku berangkat ya, asalamualaikum " ucap Riziq sambil membuka pintu mobil taxi yang di pesannya. Tiba tiba Aisyah memanggilnya.
" Riziq "
Seketika Riziq langsung berbalik menghadap Aisyah.
" Hati hati " ucap Aisyah. Seketika itu pula Riziq tersenyum pada Aisyah.
__ADS_1
Setelah kepergian Riziq, Aisyah dan Dewi melanjutkan perjalanannya menuju pasar dengan menaiki angkot.
* * * * *
Sore pun tiba. Aisyah dan bi Ratna sudah menyiapkan beberapa ketring.
" Aisyah tolong kau bawa ketring ini ke rumahnya ustajah Ulfi ya " pinta bi Ratna.
" Ia bi " jawab Aisyah. Seketika itu pula Aisyah pergi ke rumahnya ustajah Ulfi sambil berjalan. Sesampainya di rumah ustajah Ulfi, Aisyah pun segera memberikan ketring itu.
" Terima kasih Aisyah " ucap ustajah Ulfi sambil menerima ketring tersebut.
" Sama sama ustajah, kalau begitu saya permisi, asalamualaikum " ucap Aisyah sambil berlalu pergi. la kembali berjalan kaki menuju rumahnya bi Ratna. Namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan kiyai Mansyur dan istrinya di depan rumah kiyai Mansyur.
Entah kenapa Aisyah nampak sedikit ketakutan, ini pertama kalinya ia bertemu dengan kiyai Mansyur dan umi Fadlun setelah lima tahun yang lalu.
" Aisyah " panggil umi Fadlun lembut. Aisyah hanya mengangguk pelan sambil menundukan kepalanya. Umi Fadlun pun tersenyum.
" Bisa kita bicara sebentar " pinta umi Fadlun.
" Kita ingin bicara denganmu " ucap umi Fadlun kembali, membuat Aisyah semakin ketakutan.
" Apa kiyai Mansyur akan memintaku lagi untuk menjadi calon istrinya " gumam Aisyah dalam hati. Perlahan umi Fadlun menarik pelan tangan Aisyah dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Aisyah nampak begitu gelisah, mereka pun duduk di teras rumahnya kiyai Mansyur.
Kini Aisyah sudah duduk di hadapan kiyai Mansyur dan umi Fadlun.
" Saya dengar Riziq sudah menyampaikan niat nya untuk menikahimu " ucap umi Fadlun. Seketika Aisyah terdiam.
" Kenapa tiba tiba mereka membicarakan tentang Riziq " gumam Aisyah.
" Darimana umi tau kalau Riziq ingin menikahiku ? " tanya Aisyah heran.
" Riziq adalah putra kami, jadi kami pasti tau mengenai apapun tentang Riziq " ucap kiyai Mansyur.
" Putra ? " tanya Aisyah tak percaya dengan ucapan kiyai Mansyur yang menyebut Riziq adalah putranya.
__ADS_1
" Memangnya Riziq tidak bercerita sama kamu ?, kalau Riziq sudah saya angkat menjadi putra saya semenjak dia pergi ke kairo " ucap kiyai Mansyur. Seketika Aisyah langsung terkejut mendengarnya.
" Riziq tidak pernah bilang apa apa " ucap Aisyah. kiyai Mansyur dan umi Fadlun pun terdiam heran.
" Kau tau Aisyah kenapa saya membatalkan pernikahan denganmu dulu? " tanya kiyai Mansyur. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Riziq yang datang padaku untuk membatalkan pernikahan itu, dia yang memohon untuk kebebasanmu "
Seketika Aisyah terkejut, ia memang tidak tau apa apa tentang itu.
" Kami yang memberinya pilihan, dia menjadi putraku atau kau menjadi istri suamiku, dan dia lebih memilih menjadi putraku agar kau terbebas dari pernikahan itu, dia menukar kebahagiaannya hanya untukmu. Dia sangat menyayangimu dari dulu sampai sekarang " tutur umi Fadlun. Mata Aisyah sudah berkaca kaca mendengar pertuturan umi Fadlun.
" Kau tau Aisyah, Riziq setiap hari menghubungi ustad Azam untuk mencari tau kabar mu, setiap hari Aisyah, ia tak pernah menanyakan tetang kakaknya, hanya kau yang selalu di tanyakannya "
Aisyah menundukan wajahnya, tak ingin umi Fadlun dan kiyai mansyur melihat tangisan di wajahnya.
" Aku hanya memberi tahumu, Riziq adalah lelaki baik, soleh dan belum beristri " ucap umi Fadlun. Sejetika Aisyah langsung menatap wajahnya umi Fadlun.
" Lelaki baik, soleh dan belum beristri " gumam Aisyah dalam hati.
" Kau tau Aisyah, di kairo, tidak sedikit perempuan yang mencoba mendekatinya, namun Riziq selalu menolaknya. Ketika saya tanya kenapa, jawabannya selalu sama, dia bilang, Aisyah belum mendapatkan jodoh "
" Kau perempuan beruntung Aisyah, dia selalu menyebut namamu dalam setiap do'anya, kau jangan lihat berapa umurnya sekarang, tapi lihatlah bagai mana cara dia mencintaimu "
" Aisyah, saya minta padamu jadilah kau menantuku " pinta kiyai Mansyur. Aisyah terdiam lalu menatap kiyai Mansyur.
"Dulu, 5 tahun yang lalu laki laki yang di hadapanku ini memintaku untuk menjadi istrinya, tapi sekarang laki laki ini memintaku untuk menjadi menantunya, sungguh aku tidak mengerti dengan jalan kehidupan " gumam Aisyah dalam hati.
" Bagaimana Aisyah ? " tanya umi Fadlun.
" Riziq memberiku waktu untuk berfikir, bolehkah aku melihat lebih jauh bagaimana dia memperjuangkan cintanya padaku, saya tidak pernah memandang siapa dia dan berapa umurnya sekarang, saya hanya ingin melihat bagaimana cara dia mencintaiku dan bagaimana cara dia meyakinkanku kalau dia pantas menjadi imam dalam keluarga " tutur Aisyah.
Seketika umi Fadlun tersenyum.
" Mulai sekarang kau lihatlah bagaimana cara dia mencintaimu, kau perempuan beruntung Aisyah, bersyukurlah akan hal itu " ucap umi Fadlun sambil membelai lembut kepalanya Aisyah.
__ADS_1