
Masih dengan Riziq dan Aisyah yang berada di perkebunan bersama ustad Soleh dan ustad Usman. Setelah merasa mualnya hilang setelah memakan masakannya Zahira, ustad Usman duduk beristirahat dengan mereka.
" Pada laper ya?" tanya Aisyah.
" Hmmm"
" Sebentar ya, aku masakin dulu, sekalian kita makan makan di kebun, sudah lama kan kita tidak makan di perkebunan" ucap Aisyah.
" Aisyah kau jangan memoto kopi masakannya si Zahira ya" ucap ustad Usman.
" Iya, Le aku ke rumah umi dulu mau masak sekalian mau beri asi anak anak, asalamualaikum" ucap Aisyah.
" Waalaikum salam"
" Hati hati uni"
Aisyah un pergi berlalu ke rumahnya umi Salamah, di ujung perkebunan ia bertemu dengan ustad Rasyid dan ustad Azam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
"Dari mana Aisyah?" tanya ustad Azam.
" Dari perkebunan ustad, mari" ucap Aisyah sambil berlalu. Ustad Azam pun mengangguk, sementara ustad Rasyid hanya diam saja. Mereka pun menemui yang lain di perkebunan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
ustad Rasyid dan ustad Azam pun duduk bersama Riziq, ustad Soleh dan ustad Usman.
" Lagi pada nyantai nih?" ucap ustad Azam.
" Ia lagi istirahat sebentar" jawab ustad Soleh.
" Kita kalau udah kumpul kaya gini sudah seperti personil BTS ya" ucap ustad Usman. Riziq hanya mengeryitkan keningnya.
" Siapa BTS?" tanya ustad Soleh. Hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.
" Kau tidak tau?"
" Tidak, memangnya dia dari pesantren mana?" tanya ustad Soleh kembali.
" Dasar norak" jawab ustad Usman sedikit mencemooh kakaknya.
" Oh iya ustad Riziq, ustad Rasyid saya mau bilang sekaligus minta izin pada kalian untuk memberi Zahira sedikit les, karna dia sudah berhasil mencetak gol dalam pertandingan sepak bola kemarin"
" Maksudnya ustad Usman?" tanya Riziq.
" Saya ingin menjadikan Zahira murid les saya biar kecerdasannya dalam agama sedikit naik level, kalian tau sendirikan kecerdasan Zahira masih di bawah rata rata, maka dari itu saya ingin memberi sedikit pelajaran tambahan untuknya di sela sela hari liburnya, itu juga atas persetujuan kalian" ucap ustad Usman.
" Kami sangat setuju, kami juga sangat senang jika Zahira bisa mendapatkan pelajaran tambahan" ucap Riziq. Ustad Rasyid pun mengangguk nganggukan kepalanya.
Setelah ngobrol ngobrol tentang Zahira, mereka pun menatap perkebunan itu.
" Apa tidak ada yang bisa di kerjakan disini?" tanya ustad Rasyid.
" Ada, pohon tomat belum di beri pupuk, bibit mentimun juga belum di tanam" jawab ustad Soleh. Tiba tiba ustad Usman berbisik pada Riziq.
" Ustad Riziq, apa badanmu kebanyakan di beri pupuk hingga badanmu lebih besar dan lebih tinggi di banding kakakmu?" tanya ustad Usman penasaran karna badan Riziq memang lebih tinggi dan lebih besar dari ustad Rasyid.
" Kalau ustad Penasaran, ustad boleh tanya pada Aisyah, tanyakan pupuk apa yang sering di berikannya padaku" jawab Riziq sambil berbisik juga. Ustad Usman hanya menggaruk garukan kepalanya saja. Mereka pun melanjutkan pekerjaan sebagai petani perkebunan di sela sela waktu luang mereka karna mereka hobi bercocok tanam. Tiba tiba Aisyah datang bersama Nisa sambil membawa makanan yang baru dimasak mereka.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
__ADS_1
Semua pun berkumpul di tempat peristirahatan tadi.
" Aku sudah lapar dari tadi" ucap ustad Usman.
" Makannya jangan meniru gaya Adam di film MUNAFIK ya, aku takut tasbihnya akan ikut tertelan bersama nasinya" ucap Aisyah meledek.
" Kau mau jadi dedemit dadakan"
" Jangan berisik" ucap Nisa sambil menuangkan nasi kepiring. Aisyah pun menuangkan nasi ke piring.
" Uni, kenapa nasinya banyak sekali, kau mau aku tumbuh subur seperti ka Dewi?" ucap Riziq.
" Kita kan makannya sepiring berdua" jawab Aisyah. Riziq pun tersenyum.
" Nis kita makan sepiring berdua, kita tidak boleh kalah sama mereka" ucap ustad Usman sambil melirik Aisyah dan Riziq.
" Maaf mas aku sudah makan tadi" jawab Nisa.
" Ha ha ha ha ops" Aisyah langsung menutup mulutnya. Ustad Usman sudah menggeram sambil memicingkan matanya pada Aisyah.
" Maaf, ketawaku lolos begitu saja " jawab Aisyah tanpa rasa bersalah.
" Sudah sudah jangan ribut terus" ucap Nisa.
Perlahan Aisyah pun mengambil piring kembali.
" Katanya kita makan sepiring berdua, kenapa kau mengambil piring lagi?" tanya Riziq.
" Buat kakakmu sama ustad Azam" jawab Aisyah pelan. Seketika Riziq langsung melototkan matanya pada Aisyah, seketika itu pula Aisyah langsung menaruh kembali piring itu ke tempat semula dengan sedikit ketakutan.
" Apa gara gara piring dia cemburu?" batin Aisyah.
Tiba tiba ustad Usman berbisik pada Aisyah.
" Aisyah, apa si brondongmu itu cemburu pada kakaknya?" tanya ustad Usman.
" Eh tapi kenapa ya, dia cemburunya cuma sama ustad Radyid saja, apa karna dia adalah cinta pertamamu?. Tapi padaku dia tidak pernah cemburu, padahal kita sering ngobrol berdua" ucap ustad Usman heran. Aisyah pun berbisik pada kakaknya itu.
" Kak Usman mau tau kenapa suamiku tidak pernah merasa cemburu padamu?"
" Hmmm"
" Karna ka Usman jauh di bawah rata rata dalam segi apapun jika dibandingkan dengannya" ucap Aisyah.
" Maksudmu" ustad Usman sudah memicingkan matanya.
" Ketampanan ka Usman di bawah rata rata, tinggi badan ka Usman sedang sedang saja, perut ka Usman tidak rata, cara bicaranya kak Usman suka sempral semprul, jadi tidak ada yang perlu di cemburui dalam diri ka Usman, karna suamiku yang berondong itu, levelnya masih jauh di atas kak Usman" tutur Aisyah masih dengan berbisik. Ustad Usman sudah menyipitkan matanya.
" Aku ingin tau apa kelebihan si berondong itu di matamu?" tanya ustad Usman masih dengan bisik membisik.
" Dia memang tak setampan kakaknya, dia juga tak sebijak ustad Azam, dia tak berwibawa seperti kiyai Mansyur dan abi Husen, dia juga tak sekalem ka Soleh dan tak segila kak Usman, tapi dia yang terbaik untukku, dia laki laki manis yang pernah kupunya" tutur Aisyah sambil tersenyum. Ustad Usman pun mengangguk ngangguk.
" Kau tau Aisyah, saat Nisa ditanya apa kelebihanku, dia selalu bilang kalau wajahku setampan LIMIN HO, tinggi badanku seperti AMITHA BACHAN, suaraku semerdu suaranya JUDIKA ( penyanyi), kecerdasanku mengalahkan ALBERT EINSTEIN, kelucuanku sebelas dua belas dengan MR. BEAN, dan aku pun tidak kalah romantis dengan si SAMUDRA di film samudra cinta" tutur ustad Usman. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya mendengar ucapan kakaknya itu.
" Itu kak Nisa bicara seperti itu dalam keadaan sadar atau sedikit mengigo, atau ka Nisa bicara seperti itu karna ka Usman mengancam ka Nisa" ledek Aisyah. Hingga ustad Usman memicingkan matanya.
" Matamu yang katarak Aisyah, kau tidak lihat fisik dan kepribadianku ini"
" Apa kalian akan terus berbisik bisik seperti itu, hingga kalian lupa kalau kita akan makan makan" ucap ustad Soleh.
" Unii" panggil Riziq.
" Ia Le" jawab Aisyah sambil mendekati Riziq dan duduk di sebelahnya, karna sebelah kiri Aisyah adalah ustad Rasyid, seketika itu pula Riziq menarik tangan Aisyah untuk berpindah ke sebelah kanannya. Aisyah pun hanya mengerucutkan bibirnya. Ustad Rasyid hanya diam saja saat Aisyah ditarik untuk menjauhinya, ia tau kalau adiknya itu sedang merasa cemburu padanya.
" Lucu ya kalau si berondong lagi cemburu, main tarik menarik saja, untung yang ditarik hanya tangannya Aisyah, bukan rok gamisnya, kalau saja rok gamisnya yang di tarik, matanya si berondong pasti langsung merem melek" bisik ustad Usman pada ustad Soleh. Seketika ustad Soleh langsung tersendak dan batuk batuk setelah mendengar ucapan adik lelakinya itu.
" Uhuk uhuk"
__ADS_1
"Eh ka Soleh kalau sedang makan itu harus hati hati" ucap ustad Usman.
" Kau yang harus berhati hati dalam bicara" tegas ustad Soleh.
Mereka pun makan makan bersama, Aisyah pun makan sepiring berdua dengan Riziq.
" Oh iya, sekarangkan kita sudah menginjak bulan Juli, tentu sebentar lagi kita juga akan memasuki bulan Agustus, banyak kegiatan di bulan itu, selain lomba lomba dalam pelajaran agama, kita juga akan mengadakan perlombaan yang selalu kita adakan setiap taunnya terutama di tanggal 17 Agustus. Perlombaannya seperti Sepak bola putra dan putri, tarik tambang putra dan putri, takol kendi, joged tomat dan terpenting ada panjat pinang" tutur ustad Soleh.
" Astaghfirullah, kenapa mendengar kata panjat pinang aku langsung teringat si badcover Dewi, ntah kenapa aku membayangkan kalau si Dewi ikutan naik panjat pinang, dan tiba tiba tihangnya oleng, duh tidak bisa dibayang kan kalau dia tergelincir sedikit saja bisa bisa bumi bergetar ( gempa bumi dadakan ala Dewi si tubuh badcover)"
"Wah sepertinya sangat menyenangkan ya di tanggal merah itu"
" Le kau mau ikut lomba apa?" tanya Aisyah.
" Lomba menghamilimu" jawab Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah memicingkan matanya.
* * * * * * *
Aisyah pun sudah pulang dengan Riziq sambil mendorong kereta bayinya Adam dan Hawa.
Sesampainya di rumah, Aisyah pun terduduk di karpet beludru sambil membaringkan Adam dan Hawa di kasur busa kecil miliknya. Perlahan Riziq pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang di penuhi keringat.
Aisyah pun sedang asik menggoda Adam dan Hawa, tiba tiba ponselnya berbunyi, di lihatnya umi Fadlun yang menelpon, Aisyah langsung tersenyum senang, karna sudah lama umi Fadlun pergi ke Kairo.
" Asalamualaikum umi"
" Waalaikum salam, Aisyah bagaimana kabar kalian disana?, umi rindu sama Adam dan Hawa" ucap umi Fadlun.
" Alhamdulilah kami disini baik baik saja, kami juga rindu sama umi, umi di sana sehat?" tanya Aisyah.
" Umi sama abi sehat, mana Riziq, umi mau bicara, umi rindu sama putra umi"
" Ale lagi mandi mi"
" Oh ya sudah, tidak apa apa, umi cuma mau kasih tau kalau umi bulan depan pulang ke Indonesia, umi kangen suasana pesantren" ucap umi Fadlun.
" Benarkah?"
" Hmmm, ya sudah umi tutup dulu ya telponnya, nanti umi sambung lagi telponnya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Setelah menutup telponnya Aisyah pun terdiam.
" Mudah mudahan umi Fadlun kesini tidak bersama Zahra amiin. Tapi tenang saja Aisyah, jika ada yang mengganggu rumah tanggamu, kau sudah punya bodiguard kecil yang super duper hebat, siapa lagi kalau bukan warisan suamiku. ZAHIRA RAHMADIA AL FIQRI ha ha ha" tutur Aisyah bicara sendiri sambil di bumbui tawa di akhir kalimatnya.
Saat Riziq keluar dari kamar mandi, ia terdiam melihat istrinya itu tertawa tawa sendiri.
" Ya allah kenapa si uni tertawa tawa sendiri seperti itu, mencurigakan. Dia, ka Dewi dan ustad Usman sudah seperti TRIO KWEK KWEK" tutur Riziq. Perlahan ia mendekati Aisyah, lalu memegang ubun ubun istrinya itu.
" Bismilahirahmanirrahim, uni kau mau kubacakan ayat kursi apa mau kusembur dengan kopi pahit?" tanya Riziq. Aisyah hsnya mengeryitkan keningnya mendengar ucapannya Riziq.
" Apa maksudmu Le, kau pikir aku kesurupan" jawab Aisyah sambil mengerucutkan bibirnya. Riziq pun tertawa.
" Habis aku lihat tadi uni tertawa tawa sendiri membuatku takut saja"
Riziq pun duduk bersila di hadapannya Aisyah sambil membelakangi tubuh istrinya itu. Lalu ia memberikan handuk kecil. Perlahan Aisyah menggosok gosokan handuk itu ke rambutnya Riziq yang masih basah.
" Mau di smoting apa di krimbat sès?" tanya Aisyah sambil menggoda Riziq.
" Uni, kau siang siang begini sudah mengajak main salon salonan" ucap Riziq sambil tersenyum. Aisyah malah tertawa.
" Kalau aku minta salon salonan plus plus bagaimana?" ucap Riziq yang sudah mengadahkan wajahnya pada Aisyah, karna posisinya kini sedang membelakangi Aisyah.
" E eeeeee ada tidak ya" ucap Aisyah sambil menimbang nimbang.
" Kau kebanyakan mikir uni" ucap Riziq sambil menarik kepala Aisyah hingga menempel ke wajahnya.
__ADS_1
" Leeeee mmmmmm"