Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Kecerdasannya


__ADS_3

Masih dengan Riziq, Aisyah dan yang lainnya. Setelah selesai makan, mereka pun berencana untuk pulang.


" Umi masih ada yang mau di beli?" tanya Aisyah pada umi Fadlun.


" Tidak ada Aisyah, sudah cukup ko" jawab umi Fadlun.


" Ayo kita pulang" ajak Riziq.


" Aisyah aku ikut dengan kalian ya" ucap Dewi penuh harap. Seketika Aisyah dan Zahira langsung menjawab sambil berteriak.


" Gak muaaaaaat"


Seketika itu pula Dewi langsung mengerucutkan bibirnya.


" Heeei aku kan malas pulang sendiri" ucap Dewi.


" Kau boleh ikut Wi, tapi ada syaratnya" ucap umi Fadlun.


" Apa umi?" tanya Dewi.


" Zahira harus duduk di pangkuanmu"


Seketika Dewi langsung mengeryitkan keningnya. Dewi dan Aisyah sudah cengengesan.


" Ya sudah tidak apa apa, lagian Ira kan kecil, dia pasti cuma 15 kilo" ucap Dewi.


" Enak saja 15 kilo" gerutu Zahira.


Mereka pun berjalan untuk mencari mobil online yang mereka pesan. Aisyah sudah menggandeng lengannya Riziq.


" Kenapa Le, kau cemberut terus dari tadi?" tanya Aisyah.


" Menurutmu"


Aisyah pun tersenyum.


" Soal jam itu, baiklah, kecerdasanmu kan di atas rata rata, coba kau buktikan padaku bagaimana kau melepaskan jam itu tanpa membuatku marah" ucap Aisyah.


" Kau menantangku?"


" Hmmm"


" Uni apa kau lupa, melepas pakaianmu secara paksa saja kau tidak marah, apalagi cuma jam tangan" tutur Riziq.


" Baiklah buktikan" ucap Aisyah dengan masih bergandengan tangan menuju jalan.


" Kubuktikan, sampai rumah jam tangan ini sudah terlepas dari tanganku" ucap Riziq penuh keyakinan.


" Baiklah aku ingin melihatnya, tapi jangan bilang kalau jam tangannya hilang karna di curi orang" ucap Aisyah mengingatkan.


" Kalau aku berhasil kau mau memberiku hadiah apa?" tanya Riziq.


" Sesuai yang kau minta" jawab Aisyah. Riziq pun tersenyum senyum hingga Aisyah menaruh curiga pada suaminya itu.


" Le, tapi kau jangan minta yang macem macem" ucap Aisyah sedikit takut. Riziq malah tersenyum melihat ketakutan istrinya itu.


" Kenapa uni, apa kau takut dengan hadiah yang akan kuminta, kau yang membuat permainan ini, jadi aku terima tantanganmu ini" ucap Riziq.


" Kau yang berani mengerjaiku, maka aku akan membuatmu menyesal, makin lama otakmu makin mirip Zahira" batin Riziq.


Mereka pun menaiki mobil online yang di pesan. Riziq duduk di depan di sebelahnya supir, sementara yang lain duduk di belakang. Dan kini Zahira benar benar duduk di pangkuannya Dewi.


" Ka Dewi berat tidak?" tanya Zahira.


" Kau sangat ringan Ira. Berat badanmu sebelas dua belas dengan Syifa" jawab Dewi hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Kau tidak apa apa ka Dewi kalau Ira duduk di pangkuanmu?" tanya Riziq.


" Tidak apa apa, aku senang bisa pulang bersama kalian, lagian badan Zahira sangat ringan, jadi tidak masalah buatku" tutur Dewi.


" Ka Riziq tau, badannya ka Dewi lebih nyaman dari pada jok mobil" ucap Zahira hingga Dewi cemberut kesal.


" Kau membandingkan badanku dengan jok mobil?" tanya Dewi tak suka. Zahira sudah cengengesan.


" Maaf ka Dewi aku hanya bercanda" ucap Zahira sedikit takut.


Sesampainya di depan gerbang pesantren. Mereka pun turun satu per satu. Kini tinggalah Dewi dan Zahira yang belum turun.


" Eh slebor, kau tidak mau turun dari pangkuanku, sepertinya kau sangat keenakan ya duduk di pangkuanku, lama lama aku pegal" gerutu Dewi.


" He he he" Zahira tertawa sambil turun dari mobil.


" Iraaaaa, kakiku kesemutan" ucap Dewi sambil meringis.


" Ka Dewi kesemutan?" tanya Zahira terkejut.


" Kenapa Wi?" tanya Aisyah.


" Aisyah kakiku kesemutan, mungkin karna terlalu lama memangku Zahira" ucap Dewi.


" Ditepuk saja kaki yang kesemutannya biar cepat sembuh" ucap Riziq memberi ide. Hingga Dewi memicingkan matanya.


" Kau jangan macam macam ustad Riziq, kalau di tepuk, nanti kakiku bisa ngilu ngilu gak jelas" ucap Dewi. Aisyah dan umi Fadlun sudah tersenyum senyum melihat Dewi.


" Ya sudah diamkan dulu sebentar, nanti juga sembuh sendiri" ucap Aisyah.


" Ka Dewi kita duluan ya, mobilnya sudah saya bayar. Asalamualaikum" ucap Riziq sambil meninggalkan Dewi di dalam mobil.


" Heeei kalian tega sekali meninggalkanku disini" teriak Dewi. Pada akhirnya Dewi pun pasrah dan menunggu kesemutannya hilang.


" Ini kesemutan sembuhnya lama banget sih, mentang mentang kakiku besar hingga kesemutannya memakan waktu dua kali lipat dari orang orang biasanya" batin Dewi.


Setelah kesemutannya hilang, Dewi pun turun dari mobil itu. Namun tiba tiba pak supir memanggilnya.


" Maaf mba, ongkos tambahnya belum" ucap pak supir.


" Ongkos tambahan?, maksud bapak?" tanya Dewi tak mengerti.


"Saya nungguin mba lumayan lama, jadi saya minta tambah ongkos" ucap pak supir kembali. Dewi pun mengeryitkan keningnya kembali.


" Maksud bapak, saya harus nambah ongkos karna saya masih duduk di mobil bapak?"

__ADS_1


Pak supir pun mengangguk.


" Mobil bapak kan bukan taxi, jadi gak perlu pake argo berjalan segala" gerutu Dewi. Pak supir pun mengalah dan membiarkan Dewi keluar dari mobil itu.


Ketika Riziq berjalan bersama Aisyah, umi Fadlun dan Zahira, Riziq pun menarik Zahira sediki menjauh dari Aisyah yang sedang asik mengobrol dengan umi Fadlun.


" Apa ka?" tanya Zahira.


" Sssttth, jangan berisik, kau bantu aku" pinta Riziq pada Zahira. Mereka masih berjalan mengikuti Aisyah dan umi Fadlun.


" Kau butuh bantuan apa?" tanya Zahira.


" Kau buat bagaimana caranya agar jam tangan ini lepas dari pergelangan tanganku tanpa membuat Aisyah marah" ucap Riziq sambil berbisik. Zahira malah cekikikan tanpa suara. Hingga Riziq memicingkan matanya ke arahnya Zahira.


" Iya maaf maaf, kalau soal itu sih gampang, serahkan semuanya pada Zahira Rahmadia alfiqri. Baju yang melekat di basannya ka Aisyah saja bisa berpindah ke badanku, apalagi cuma jam tangan yang ada di pergelangan tanganmu, kupastikan jam itu akan berpindah ke pergelangan tanganku, pasti sangat manis jika aku yang memakainya he he" tutur Zahira.


" Kau yakin?" tanya Riziq.


" Cuma memindahkan jam itu dari tanganmu ke tanganku, itu mah kecil, gampil" ucap Zahira percaya diri.


" Caranya?" tanya Riziq.


Zahira pun membisikan sesuatu pada Riziq.


" Eh bocah semprul, jamnya jangan di rusak, kau pikir harganya murah, sayang kalau di rusak" ucap Riziq kurang setuju. Mereka masih berbisik bisik sambil berjalan.


" Katanya kecerdasanmu di atas rata rata, masa begini saja tidak mengerti" ucap Zahira sedikit meledek.


" Maksudmu" ucap Riziq sambil menyipitkan matanya.


" Kau lepas batu jamnya, otomatis jamnya langsung mati, bukan rusak tapi tidak berfungsi karna tidak ada batunya" ucap Zahira. Riziq pun mengangguk ngangguk, ia langsung membuka jam itu dan langsung mengambil batunya, untung membuka jamnya sangat gampang.


" Kau sudah siap?" tanya Zahira.


" Hmmm"


Tiba tiba Aisyah menengokan kepalanya pada mereka.


" Kalian lagi pada ngapain?" tanya Aisyah.


" Aku akan mengajak suamimu balap lari" ucap Zahira sambil menarik tangannya Riziq sedikit menyeretnya hingga akhirnya Riziq terjatuh dan tersungkur.


" Awwww " Riziq meringis kesakitan.


" Bocah semprul, kenapa kau membuatku jatuh beneran" gerutu Riziq dalam hati. Aisyah nampak terkejut melihat Riziq terjatuh.


" Le kau tidak apa apa?" tanya Aisyah cemas.


" Aku tidak apa apa uni, tanganku saja sedikit sakit" jawab Riziq. Aisyah sudah memicingkan matanya pada Zahira. Hingga Zahira senyam senyum tak jelas.


" Maaf" ucap Zahira.


Aisyah pun membangunkan suaminya itu.


" Kau beneran tidak apa apa Le?"


" Aku tidak apa apa uni, tapi sepertinya jamnya rusak deh, tidak berdetak" ucap Riziq sambil memperlihatkan jam itu pada Aisyah. Aisyah pun terkejut.


" Maaf ka Aisyah aku kan tidak sengaja" jawab Zahira.


" Eh sudah sudah, cuma jam saja di ributin" ucap umi Fadlun.


" Ira kau mau kerumah umi gak?" tanya umi Fadlun.


" Nanti aku kerumah umi, tapi sekarang mau ke rumahnya ka Riziq dulu" jawab Zahira.


" Ya sudah tidak apa apa, umi duluan ya asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Umi Fadlun pun berbelok arah menuju rumahnya.


Riziq pun melepaskan jam tangan itu.


" Sudah rusak jadi tidak usah di pakai" ucap Riziq. Saat Aisyah mau menerima jam itu tiba tiba Zahira langsung merebutnya.


" Barang yang sudah dibeli tidak dapat di kembalikan, jadi buat aku aja jamnya" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Aisyah pun menatap Riziq.


" Biarkan saja, jamnya kan rusak" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk.


" Si bocah ingusan ini pintar juga, kalau urusan beginian kecerdasannya di atas rata rata, tapi kalau sudah giliran pelajaran agama, otaknya nyungseb. Menyedihkan" batin Riziq.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya Aisyah. Zahira sudah merentangkan tangannya pada Riziq tanpa sepengetahuan Aisyah. Riziq pun langsung memberikan batu jam itu pada Zahira. Tentu saja Zahira sangat senang,


" Sangat menyenangkan bisa bekerja sama dengan kakaku yang berondong ini, hanya dengan membuatnya tersungkur saja aku bisa mendapatkan jam lucu ini, he he" batin Zahira.


Sesampainya di rumah.


" Asalamualaikum" mereka mengucap salam. Aisyah pun membuka pintu, mereka pun masuk dan duduk di teras karna kelelahan.


" Uni buatkan aku kopi ya" pinta Riziq.


" Hmmm. Ira kau mau minum apa?" tanya Aisyah.


" Aku mau minuman yang dingin" jawab Zahira.


" Ambilkan saja Zahira air keran" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Zahira cemberut kesal. Aisyah pun pergi ke dapur untuk membuatkan minum. Zahira kini sudah memangku Adam, sementara Riziq memangku Hawa.


" Aku hebatkan" ucap Zahira sedikit sombong.


" Urusan begituan saja kau pintar, tapi di tanya pelajaran agama kau tidak bisa jawab" gerutu Riziq.


" Ka Aisyah mana sih lama banget, aku haus ingin minum" ucap Zahira tidak sabar.


" Yang namanya haus ya ingin minum bukan ingin makan" ucap Riziq hingga Zahira mengerucutkan bibirnya. Riziq pun membaringkan Hawa di kasur busa bayi. Riziq pun membantu Aisyah membuat minum di dapur.


" Uni kau lama sekali membuat minumnya. Adik iparmu tenggorokannya sudah kekeringan."


" Sebentar Le, aku kan harus memanaskan airnya dulu" jawab Aisyah.


" Uni, kau marah tidak padaku?" tanya Riziq. Aisyah pun terdiam dengan pertanyaan suaminya itu.

__ADS_1


" Nggak, memangnya kenapa?" tanya Aisyah.


" Kalau kau tidak marah itu artinya aku menang, kau bilang mau memberi hadiah padaku sesuai dengan apa yang kuminta setelah aku bisa melepas jam tangan caple itu tanpa membuatmu marah" ucap Riziq mengingatkan. Aisyah pun mengangguk.


" Memangnya kau minta apa dariku, jangan memintaku untuk masuk kamar, di sini masih ada Zahira" ucap Aisyah.


" Aku tidak minta itu"


" Lalu?"


" Injak kakiku" pinta Riziq. Aisyah pun mengeryitkan keningnya.


" Baiklah" ucap Aisyah sambil menatap sekilas Zahira yang sedang asik menggoda Adam.


Aisyah pun menginjak kedua kakinya Riziq dengan kedua kakinya, lalu Aisyah menjinjitkan kakinya sambil memegangi kedua pipinya Riziq. Lalu memberikan hadiah pada suaminya itu. Riziq malah tertawa.


" Uni kau genit sekali, aku memintamu untuk menginjak kakiku, kakiku pegal sekali setelah berkeliling keliling pasar, kenapa kau malah memberiku hadiah ciuman" ucap Riziq sambil tertawa tawa. Mulut Aisyah sudah menganga, mendengar ucapan suaminya, ternyata pemikirannya salah, ia merasa malu sendiri hingga pipinya bersemu merah. Riziq tak henti hentinya tertawa hingga Aisyah cemberut kesal. Setelah membuat minuman, Aisyah pun membawa minuman itu ke ruang tamu. Riziq pun mengikuti dari belakang sambil tersenyum senyum.


" Minum Ira, katanya kau haus"


" Makasih ka"


Zahira pun meminum minuman dingin itu sampai kandas hingga Riziq dan Aisyah mengeryitkan keningnya.


" Ya Allah Ira kau benar benar haus?" tanya Aisyah.


" Hmmm"


Aisyah pun memberi asi putra putrinya. Riziq pun duduk di sebelah Aisyah.


" Le kau gendong dulu Adam, Aku mau mengganti popoknya Hawa" pinta Aisyah. Kini Riziq sudah menggendong Adam.


" Gendong sama abi ya sayang" ucap Riziq sambil mengunyel unyel pipinya Adam. Tiba tiba ada cairan hangat yang kini membasahi bagian perutnya Riziq.


" Astaghfirullah uni, Adam keburu ngompol uni, buruan tolong aku" ucap Riziq yang kini nampak gelisah karna bajunya basah kena ompol.


" Ha ha ha" Zahira tertawa puas. Hingga Riziq kini memicingkan matanya pada adiknya itu.


" Ka Riziq tau, bayi kalau sudah ngompol biasanya dari belakang juga akan keluar sesuatu" ucap Zahira menakut nakuti.


" Uniiiii, buruan ganti popok Hawa nya. Adam keburu mengeluarkan sesuatu" ucap Riziq sedikit panik. Zahira tertawa puas seakan ia menonton komedi melihat kakaknya gelisah sendiri.


" Sebentar Le, nanti ku pakaikan popok Adam setelah itu nanti kubantu kau untuk mandi" ucap Aisyah. Mendengar ucapannya Aisyah, Zahira pun langsung mengeryitkan keningnya sambil menganga. Hingga Riziq mengusap wajahnya Zahira.


" Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" tanya Riziq heran.


" Aku geli mendengar ucapannya ka Aisyah" ucap Zahira.


" Geli kenapa?" tanya Riziq.


" Dia bilang mau membantumu mandi, bukankah itu terdengar menggelikan"


Tiba tiba Riziq berbisik pada Zahira.


" Itu modus kakak iparmu saja, padahal dia mau menggodaku di kamar mandi" bisik Riziq. Zahira kembali mengeryitkan keningnya.


" Ucapanmu mengotori kesucian telinga dan pikiranku" ucap Zahira.


" Astaghfirullah alazim, maaf Ira aku lupa kalau kau masih di bawah umur"


" Kalian bisik bisik apa sih?" tanya Aisyah kepo.


" Ga usah kepo nanti uban di kepalamu tumbuh mendadak" ucap Riziq sambil memberikan Adam pada Aisyah, Lalu ia pun berlalu ke kamar mandi. Setelah mengganti popok putra putrinya, Aisyah pun membasuh tangannya dengan sabun, setelah itu ia duduk kembali bersama Zahira.


" Ka, aku menemukan puisimu di pekarangan" ucap Zahira sedikit berbisik.


" Puisi?, puisi yang mana?" tanya Aisyah tak mengerti.


" puisi yang kau tulis untuk ka Riziq"


Aisyah pun terdiam. Karna puisi yang ia buat untuk Riziq telah di pajang di dalam kamar.


" Sepertinya kau salah Ira, mungkin itu puisi orang lain"


" Tapi disitu tertulis namamu ka"


" Memangnya kau menemukan puisi itu dimana?" tanya Aisyah santai.


" Di pekarangan rumah sakit" jawab Zahira.


Deg.


Aisyah nampak terkejut, karna puisi itu yang di buang Riziq saat ia marah pada ustad Rasyid waktu di rumah sakit dulu.


" Ira kenapa puisi itu ada padamu?, terus sekarang kertas puisi itu dimana?" tanya Aisyah sambil berbisik.


" Di pinta sama ka Dewi. Tapi puisi itu buatanmu kan untuk ka Riziq" ucap Zahira.


" Aku tidak mungkin bilang kalau puisi itu buatanku untuk ustad Rasyid 6 tahun yang lalu. Kalau Riziq tau bisa bahaya, dia bisa ngamuk ngamuk lagi" batin Aisyah.


" Ira, ka Aisyah mohon jangan ceritakan masalah kertas puisi itu pada ka Riziq ya, nanti dia marah" pinta Aisyah. Zahira sudah menaruh curiga.


" Kau memberikan puisi itu untuk selingkuhanmu ya" tuduh Zahira.


" Hei Ira, kau jangan macam macam ya, aku tidak selingkuh dari kakakmu" tegas Aisyah.


" Lalu?"


" Terkadang ada sesuatu yang tidak harus kamu tau. Usiamu masih di bawah umur, kau tidak akan mengerti"


" Iya iya, aku akan tutup mulut"


Aisyah pun tersenyum. Lalu ia memberikan suwiter hangat pada Zahira.


" Minggu depankan kita mau jalan jalan ke Jakarta, kau bisa pakai ini untuk menghangatkan tubuhmu" ucap Aisyah.


" Tapi ka, bukankah kata orang Jakarta itu panas, banyak polusi, kenapa aku harus pakai sweter?"


" Kita pulangnya pasti malem, udara malam pasti sangat dingin"


Zahira pun tersenyum lalu memeluk Aisyah.

__ADS_1


" Makasih ya ka"


__ADS_2