
Kini Aisyah sedang masak di rumahnya umi Salamah. Ia terus saja memikirkan omongannya umi Fadlun tentang Riziq. Aisyah merasa gelisah sendiri. Umi Salamah yang melihat kegelisahan Aisyah pun merasa heran, biasanya Aisyah kalau memasak selalu bersalawat merdu, namun kali ini tidak, ia lebih terlihat diam dan gelisah.
" Aisyah, kamu ada masalah ?, umi lihat sepertinya kamu sedang gelisah " tanya umi Salamah heran.
" Tidak ada umi " jawab Aisyah.Umi Salamah pun kini ikut membantu Aisyah memasak.
" Mi, boleh aku tanya sesuatu ? "
" Apa ? " jawab umi Salamah sambil mengiris wortel.
" Umi sebelumnya tau tidak kalau kiyai Mansyur telah mengangkat Riziq menjadi putranya ? " tanya Aisyah.
" Tau, abi yang bilang sama umi, mungkin kiyai Mansyur yang cerita, memangnya kamu tidak tau, Riziq tidak bilang sama kamu ? "
Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.
" Oh iya, mulai sekarang kamu jangan memanggilnya Riziq saja " ucap umi Salamah . Namun Aisyah tak mengerti dengan ucapan uminya itu.
" Memangnya aku harus memanggil apa ?, apa aku harus memanggilnya bocah ingusan ! " tanya Aisyah.
" Hei tidak boleh panggil seperti itu" ucap umi menegaskan. Membuat Aisyah cengengesan sendiri.
" Lalu aku harus memanggilnya apa ? " tanya Aisyah penasaran.
" Panggil dia ustad Riziq, karna mulai besok dia akan mengajar di pesantren "
" Ustad ? " jawab Aisyah sedikit tak percaya.
" Ia, dia akan menjadi guru di pesantren, abi sudah menguji kecerdasannya, dan alhamdulilah kecerdasannya di atas rata rata. Sepertinya kiyai Mansyur mendidiknya dengan keras, tidak di ragukan lagi kalau dia adalah lulusan dari kairo " tutur umi Salamah.
Aisyah pun terdiam, tidak bisa di pungkiri, ada rasa bangga di dalam hatinya, sampai ia tak menyadari ada senyuman indah yang merekah di bibirnya.
" Mi aku boleh cerita sesuatu gak ? " tanya Aisyah ragu.
__ADS_1
" Apa ? "
" Sebenarnya Riziq ada niatan untuk menikahiku " ucap Aisyah pelan. Seketika itu umi Salamah terkejut bahkan sampai membelalakan matanya.
" Apa kau tidak salah bicara " tanya umi sedikit tak percaya.
" Umi jangan berekspresi seperti itu, aku merasa takut jadinya " jawab Aisyah.
" Kau tidak bohong Aisyah ? "
Aisyah pun menggelengkan kepalanya.
" Tapi umi jangan bilang bilang sama abi ya, soalnya aku belum memberikan jawaban. " ucap Aisyah.
" Kenapa kamu gak bilang ia aja, umi setuju, meskipun umurnya lebih muda darimu, umi yakin, Riziq laki laki yang pantas untuk menjadi imammu " tutur umi Salamah antusias. Aisyah pun terdiam.
* * * * * * *
" Bi, ini siapa yang ceramah di masjid ?, sepertinya bukan ustad Rasid " tanya Aisyah.
" Kau tidak mengenali suaranya ? " tanya bi Ratna balik. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.
" Yang ceramah itu, ustad Muhamad Riziq Alfiqri, tikus dapurmu " ucap bi Ratna sambil berjakan menemui Dewi kembali. Aisyah sangat terkejut mendengar kalau yang ceramah itu adalah Riziq, sepertinya ada rasa senang di hatinya. Ia pun senyum senyum sendiri kala mendengarkan Riziq berceramah.
Dewi yang sadar akan hal itu langsung berbisik pada bi Ratna.
" Kau lihat keponakanmu itu bi, sedari tadi dia senyum senyum sendiri seperti orang gila " ucap Dewi. Bi Ratna pun tersenyum ketika melihat Aisyah.
" Sstt, biarkan saja, nanti dia marah " ucap bi Ratna sambil ikut berbisik. Tiba tiba Dewi berdehem sengaja ingin menggoda Aisyah. Aisyah yang sadar akan hal itu langsung menundukan wajahnya yang sudah memerah.
" Kamu kenapa Wi ? " tanya Aisyah.
" Aku laper Aisyah " ucap Dewi pura pura, sedari tadi bi Ratna sudah cengengesan melihat mereka. Aisyah yang sadar akan hal itu langsung mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Setelah selesai menjaga kantin, Aisyah pun pulang ke rumahnya umi Salamah, karna ia akan membantu umi dan abi nya di perkebunan, yang kini sedang memanen beberapa sayuran.
Setelah sampai di perkebunan, ternyata di sana sudah ada Riziq, ustad Soleh, ustad Usman dan ustad Rasyid, termasuk umi dan abinya. Perlahan Aisyah mendekatinya.
" Asalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
" Sudah pulang Aisyah, sini bantu umi " ucap umi Salamah. Kini Aisyah sudah membantu uminya mempersiapkan makanan yang akan di hidangkan di sana.
Setelah semua berkumpul, dan mengambil nasi ke piring masing masing, Riziq hanya diam saja sambil memegangi piring menunggu giliran, perlahan Aisyah mengambil piring itu dari tangannya Riziq, lalu menuangkan nasi dan lauk pauknya ke piring itu, perlahan Aisyah memberikannya pada Riziq. Tentu saja Riziq senang akan hal itu, senyum indah nampak di wajah manisnya.
" Khusus untukku ? " tanya Riziq sambil menerima piring itu dari tangan Aisyah.
Aisyah hanya menjawabnya dengan senyuman.
" Terimakasih uni " ucap Riziq. Aisyah mengangguk sambil menundukan wajahnya, terlihat sekali rasa cemburu di wajahnya ustad Rasyid yang kala itu melihat Aisyah sangat perhatian terhadap adiknya itu.
" Ehem ehem " ustad Usman berdehem, ketika melihat Aisyah begitu perhatian pada Riziq, seperti ia tau kalau di antara mereka ada sesuatu.
" Kak Usman tidak di ambilkan nasinya Aisyah " goda ustad Usman.
" Kak usman ambil saja sendiri " Jawab Aisyah.
" Wah wah, kau pilih kasih ya Aisyah" goda ustad Usman kembali. Tiba tiba ustad usman berbisik pada Aisyah
" Kak Usman tidak menyangka, kalau tipe mu itu seorang berondong manis "
Seketika itu wajah Aisyah memerah seperti tomat.
" Jangan godain Aisyah terus " ucap umi Salamah pada ustad Usman sambil menepuk pundak putra bungsunya.
" Sepertinya sebentar lagi umi akan mendapatkan menantu baru " ucap ustad Usman sambil berbisik.
__ADS_1