Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Do'a


__ADS_3

Setelah Riziq pulang dari masjid setelah mengerjakan shalat isya, ia langsung mencari Aisyah.


" Asalamualaikum Uni" panggil Riziq. Namun tidak ada jawaban dari Aisyah. Perlahan Riziq membukakan pintu kamar, di lihatnya Aisyah belum selesai melaksanakan shalatnya. Riziq pun tersenyum melihat istrinya sedang bersujud. Ada rasa bangga dalam dirinya, kalau selama ini do'anya terkabul yaitu memiliki istri yang sholehah.


" Asalamualaikum warohmatullah"


Setelah selesai melaksanakan shalat isya, Aisyah langsung mengadahkan tangannya ke atas, ia pun berdo'a pada Allah. Riziq pun terus memperhatikan istrinya di ambang pintu kamar. Saat Aisyah sudah selesai berdo'a, ia pun berniat melepas mukenanya, namun ia terkejut melihat Riziq yang sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum.


" Le, kau sudah pulang?, maaf aku pasti tidak mendengar ucapan salamu" ucap Aisyah. Riziq pun mendekat dan duduk di hadapannya Aisyah.


" Uni boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Riziq.


" Tentu. Kau mau tanya apa?"


" Do'a apa yang kau minta pada Allah?"


Aisyah langsung terdiam.


" Aku meminta sesuatu Le"


" Apa sesuatu itu?" tanya Riziq penasaran.


" Kau kepo Le, bukankah kau sering bilang orang yang selalu ingin tau urusan orang lain maka uban di rambutnya akan tumbuh mendadak" tutur Aisyah mengingatkan. Riziq malah tersenyum.


" Kau pelit sekali uni"


" Jadi kau beneran ingin tau?"


" Hmmmm"


Aisyah langsung tersenyum.


" Aku meminta pada Allah agar ¥$@×%€£*()/$!@$%\=_€£¥₩" jawab Aisyah hingga Riziq mengeryitkan keningnya.


" Bicara apa kau uni aku tidak mengerti"


"Kau tidak mengerti ya Le, aku pun begitu. Ha ha ha. Kau tidak perlu tau Le, cukup kau merasakannya saja" jawab Aisyah sambil menyandarkan kepalanya yang masih terbalut mukena ke pundak suaminya.


" Apa kau selalu menyebut namaku dalam setiap do'a do'amu?" tanya Riziq. Aisyah langsung mendongakan wajahnya menatap Riziq.


" Apa kau bisa membaca fikiranku?"


Kini Riziq pun tersenyum.


" Jangankan membaca fikiranmu, membaca hatimu saja aku bisa" ucap Riziq.


"Masa"


" Hmmm"


" Kau membaca apa dalam hatiku?" tanya Aisyah.


" Coba kulihat dulu hatimu" ucap Riziq sambil menyingkapkan mukena Aisyah, lalu perlahan tangannya maju untuk melepas kancing bajunya Aisyah. Namun seketika itu pula Aisyah langsung menggibaskan tangannya Riziq.


" Mau apa kau Le" ucap Aisyah waspada.


" Tentu saja melihat hatimu"


" Kau jangan macam macam Le"


Riziq malah tertawa.


" Aku melihat tiga kata dalam hatimu"


" Apa?" tanya Aisyah.


" RIZIQ, ADAM, HAWA" jawab Riziq. Aisyah pun tersenyum.


" Waah kau hebat ya Le, bisa tau isi hatiku. Lalu kau melihat apa di dalam fikiranku?" tanya Aisyah.


" Yakin kau mau dengar"

__ADS_1


" Tentu"


Riziq malah tersenyum senyum. Membuat Aisyah menjadi penasaran.


"Apa Le, jangan sok tau"


Riziq malah tertawa dan membuat istrinya itu kesal.


" Le kau menyebalkan" gerutu Aisyah.


" Yang ada di fikiranmu ini adalah" ucap Riziq sambil menunjuk keningnya Aisyah.


" Apa?"


" Kebahagiaan, tujuan hidup dan uang" jawab Riziq.


" Kau sok tau Le"


" Memangnya jawabanku salah?"


Aisyah langsung tersenyum getir.


"85% benar" jawab Aisyah sambil menundukan kepalanya malu. Riziq langsung tertawa.


" Tidak kusangka istriku ini materialistis" ledek Riziq.


" NGGAAAAAK"


jawab Aisyah kesal.


" Uni, jika Allah memberimu kesempatan untuk meminta sesuatu. Apa yang akan kau minta?" tanya Riziq. Aisyah langsung mendongakan wajahnya menatap wajahnya Riziq.


" Aku akan meminta pada Allah supaya kita bisa bahagia dunia akhirat" jawab Aisyah. Riziq pun kembali tersenyum.


" Semoga Allah mengabulkan do'amu" ucap Riziq sambil bangun dari duduknya. Aisyah pun membuka mukenanya.


" Le kau mau makan malam dulu apa mau makan malam yang lain" ucap Aisyah.


" Maksudmu?"


" Aku mau membayar hutang waktu padamu"


Riziq langsung mengeryitkan keningnya.


" Tidak kusangka kau lebih genit dari yang kuduga" ejek Riziq. Hingga Aisyah menggeram kesal.


" Ha ha ha, aku geli melihatmu genit begitu" goda Riziq.


" Sudah bagus aku menawarkan diri" gerutu Aisyah. Melihat istrinya kesal, Riziq malah tertawa.


" Baiklah ku beri kesempatan kau untuk membayar hutang, tapi untuk sekarang, cacing dalam perutku sudah teriak teriak minta di isi"


Dengan senang hati Aisyah pun menggandeng suaminya menuju meja makan.


* * * * * *


Keesokan harinya. Kini Riziq dan ustad Soleh serta ustad Usman sedang asik di perkebunan. Riziq selalu setia di perkebunan cabai pavoritnya. Sementara ustad Soleh dan ustad Usman sedang mencangkul untuk menanam bibit yang baru. Tiba tiba datang ustad Rasyid dan ustad Azam menghampiri.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ustad Rasyid dan ustad Azam pun ikut membantu. Ustad Rasyid pun kini mendekati Riziq sambil membawa satu ember air. Riziq sempat menatap kakaknya, lalu ia fokus kembali pada pekerjaannya.


" Kau masih marah padaku?" tanya ustad Rasyid.


" Aku tidak marah" jawab Riziq masih dengan memberi pupuk pada pohon cabai yang ada di hadapannya.


" Ziq, Aang mohon, hubungan kita jangan sampai rusak hanya karna masalalu" pinta ustad Rasyid.


"Aku tidak pernah merusaknya Ang"

__ADS_1


" Tapi sikapmu itu seolah kau selalu curiga padaku"


Riziq pun kini menatap kakaknya.


" Bukannya dari dulu kau tau sikapku yang keras kepala ini. Maaf Ang, aku memang sempat membencimu saat kau menyakiti Aisyah dulu"


" Bukannya semua orang itu punya masalalu"


" Hmmm"


" Mungkin masalalu ku dulu bersama Aisyah, tapi kini masa depanku bersama Yasmin. Aang ingin hubungan kita seperti dulu lagi. Kau adiku dan aku adalah kakakmu, hiduplah layaknya sebagai keluarga" pinta ustad Rasyid. Riziq pun menatap kakaknya.


" Aku selalu menganggapmu sebagai kakaku, dan aku mohon kau akan menganggap Aisyah sebagai adik iparmu, bukan sebagai masalalumu" pinta Riziq.


" Insya Allah, aku akan berusaha bersikap seperti itu. dan untuk itu aku butuh kepercayaanmu"


" Aku percaya padamu Ang, maaf, kalau aku selalu cemburu padamu"


Ustad Rasyid pun tersenyum lalu mengelus lembut pundak adiknya itu.


" Tapi kau tidak lupa kan ang, kalau sekarang bukan aku saja yang menjadi adikmu, ada Zahira adik perempuan kita, mesti kita tidak lahir dari rahim yang sama, tapi kita mempunyai darah yang sama" tutur Riziq.


" Aku menerima Zahira sebagai adiku" ucap ustad Rasyid tegas. Riziq pun tersenyum. Tiba tiba Aisyah datang bersama Nisa sambil membawa kopi dan beberapa cemilan.


"Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah dan Nisa menaruh kopi dan cemilannya di tikar dekat ustad Soleh dan ustad Usman mencangkul. Aisyah terdiam saat menatap suami dan kakak iparnya sedang berdiri bersama. Ada rasa takut dan khawatir dalam hatinya. Ustad Usman pun ikut menatap Riziq dan ustad Rasyid.


" Kenapa?" tanya ustad Usman pada Aisyah. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.


" Samperin sana, aku takut mereka main cakar cakaran" pinta ustad Usman. Saat Aisyah akan menghampiri mereka, Riziq dan ustad Rasyid sudah berjalan mendekati.


" Uni anak anak sama siapa?" tanya Riziq.


" Sama umi Le"


Ustad Soleh dan ustad Azam sudah membuat kopi sendiri. Dan Nisa sudah membuatkan kopi untuk suaminya.


" Mau kopi Le?"


" Hmmm"


Aisyah pun membuatkan kopi untuk Riziq. Sementara ustad Rasyid membuat sendiri. Saat ustad Usman menyicip kopi buatan istrinya.


" Nis kopinya kurang manis" ucap ustad Usman. Nisa kembali memberikan gula.


" Masih kurang manis" ucap ustad Usman kembali.


" Gulanya sudah banyak mas, masa masih kurang manis saja" protes Nisa.


" Makanya minum kopinya jangan sambil ngaca" ucap Aisyah sedikit meledek.


" Apa maksudmu Aisyah?" tanya ustad Usman sambil memicingkan matanya. Seketika Aisyah menjawab sambil berbisik pada kakaknya.


" Minum kopinya jangan sambil ngaca, sebab wajahnya ka Usman kan pahit, jadi semanis apapun rasa kopi yang ka Nisa buat akan terasa pahit jika minum kopinya sambil ngaca" ejek Aisyah. Seketika Ustad Usman langsung menggeram kesal. Sementara Nisa langsung tertawa. Saat melihat istrinya tertawa, Ustad Usman langsung memicingkan matanya pada istrinya itu.


" Maaf" ucap Nisa takut.


" Mau kuberi solusi ka" ucap Aisyah.


" Solusi apa?"


" Solusi minum kopi tanpa gula tapi terasa manis"


" Caranya?"


" Kau tatap saja wajah suamiku yang manis itu, pasti kopi pahit yang tidak diberi gula itu akan terasa manis" ucap Aisyah.


" Tidak mau"

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Aisyah.


" Aku takut DIABETES kalau harus menatap wajah suamimu yang manis itu" ucap ustad Usman dengan nada mengejek.


__ADS_2