Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Riziq.


__ADS_3

Kini waktu kepulangan Zahra tinggal 2 hari lagi. Aisyah selalu berhati hati akan hal itu, ia tak membiarkan Zahra untuk dekat dekat dengan suaminya.


Sore itu. Riziq mengajak Aisyah dan putra putrinya untuk jalan jalan keliling pesantren dengan berjalan kaki sambil mendorong kereta bayi milik Adam dan Hawa. Aisyah sudah menggandeng lengan Riziq dengan begitu eratnya.


" Uni, gandengan tanganmu erat sekali, aku susah bergerak" protes Riziq.


" Jangan protes, uni takut ada pelakor yang mengincarmu"


" Tapi uni jangan terlalu kencang aku sulit bergerak"


" Mau di gandeng apa dicium pake lipstik?" tanya Aisyah memberikan pilihan.


" Di gandeng saja uni" jawab Riziq pasrah.


" Jangan sampai lipstikmu menempel di pipiku lagi, kemarin saja aku sudah kehilangan muka di depan ustad Azam dan ustajah Ulfi" gerutu Riziq dalam hati.


Akhirnya mau tidak mau Riziq pun mengalah. Tiba tiba dari kejauhan Aisyah melihat Zahra yang sedang berjalan menuju arahnya.


" Le ada Zahra berjalan kemari, kau sembunyi Le" pinta Aisyah.


" Biarkan saja uni, aku tidak akan menegurnya"


" Waktunya 2 hari lagi. itu waktu yang akan di gunakan Zahra untuk menggodamu, jadi dalam waktu dua hari itu aku tidak akan membiarkan dia bertemu denganmu" tutur Aisyah.


" Lalu aku harus bagaimana?"


" Sembunyi Le" pinta Aisyah. Aisyah sudah mengedarkan pandangan mencari tempat untuk bersembunyi. Disana hanya ada lapangan dan pohon mangga yang ada di sebelah mereka.


" Sembunyi di mana?, di sini tidak ada tempat untuk sembunyi, hanya ada lapangan dan satu pohon mangga. Yasudah aku sembunyi saja di belakang pohon mangga" ucap Riziq memberi ide.


" Le kau pikir badanmu sekecil Syakir hingga bisa bersembunyi di belakang pohon mangga. Badanmu lebih besar dari pohon mangganya, nanti kau akan ketahuan"


" Lalu aku harus sembunyi di mana uni?"


" Kau sembunyi saja di atas pohon Le, naiklah, aku yakin Zahra tidak akan menemukanmu di atas" ide konyol di berikan Aisyah. Hingga Riziq mengeryirkan keningnya.


" Uni, kalau kau memberikan ide, berilah ide yang sedikit berkualitas, masa aku harus menaiki pohon mangga untuk menghidari dari serangan pelakor" protes Riziq.


" Ayolah Le, kau cepat naik, sebentar lagi Zahra kemari"


" Tidak mau uni, aku takut naik pohon, aku takut ketinggian"


" Kau lebih takut naik pohon apa lebih takut kehilanganku?" tanya Aisyah.


" Tapi uni, sekarang aku sedang pakai sarung, bagaimana aku bisa naik pohon, pasti akan sangat susah" jawab Riziq. Hingga Aisyah mendengus kesal. Apalagi Zahra yang semakin mendekat.

__ADS_1


" Kau menaikiku saja bisa sambil pake sarung, pasti naik pohon juga bisa meskipun pake sarung, jadi tidak ada bedanya" jawab Aisyah. Hingga Riziq tersenyum senyum mendengar ucapan istrinya itu.


" Jelas ada bedanya Uni, menaikimu karna aku bernafsu tapi kalau menaiki pohon aku takut" protes Riziq.


" Jangan banyak protes Le , ayo naik" paksa Aisyah.


" Tidak mau uni, aku takut ada ulet bulu di atas"


" Tidak akan ada ulat bulu di atas, karna ulat bulunya sedang berjalan kemari" ucap Aisyah sambil menunjuk pada Zahra.


" Kalau di atas ada semut gimana?" tanya Riziq sedikit takut. Hingga Aisyah mendengus kesal.


" Kau lebih pilih di gigit semut rang rang apa di gigit semut betina yang lagi cemburu?" tanya Aisyah memberikan pilihan. Membuat Riziq bergidik ngeri dengan pilihan yang di berikan Aisyah. Hingga membuatnya pasrah dengan apa yang di inginkan istrinya itu.


" Ia ia, aku naik"


Riziq pun akhirnya menuruti perintah Aisyah. Ia menaiki pohon mangga dengan susah payah sambil menggerutu sendiri.


" Kedua perempuan ini menyusahkanku saja"


Awalnya Riziq sangat kesusahan menaiki pohon itu karna ia menggunakan sarung, namun akhirnya ia sampai juga di atas pohon mangga dan bersembunyi di dahan dahan yang rindang.


Kini Zahra pun sudah ada di hadapannya Aisyah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Suamiku belum pulang"


" Masa, inikan udah sore, masa kak Riziq belum pulang mengajar" ucap Zahra tak percaya.


" Kenapa kau cari cari suamiku, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengganggu suamiku" ucap Aisyah tegas.


" Waktuku disini tinggal dua hari lagi, aku hanya ingin bertemu dengannya siapa tau dia berubah pikiran dan mau pulang bersamaku ke kairo"


Aisyah sudah mendengus kesal.


" Kau benar benar tidak tau malu ya"


Mereka malah berdebat dengan sindiran sindiran halusnya. Riziq yang melihat mereka dari ataspun hanya menggeleng gelengkan kepalanya heran melihat mereka.


" Aku tidak mengerti dengan kelakuan mereka, katanya perempuan itu paling suka merebutkan laki laki tampan, tapi kenapa mereka malah merebutkan orang manis sepertiku. Ini sungguh di luar pikiranku. Sungguh malang nasib laki laki manis sepertiku di perebutkan oleh dua orang perempuan. Hingga aku harus bergelantungan di pohon seperti monyet, sungguh memalukan"


Setelah yakin Riziq tidak bersama Aisyah. Akhirnya Zahra pun melanjutkan perjalanannya. Saat Zahra sudah benar benar jauh, Aisyah pun menyuruh Riziq untuk turun.

__ADS_1


" Le, Zahra sudah pergi, kau turunlah" pinta Aisyah. Namun entah kenapa rasa takut Riziq datang kembali.


" Uni aku takut, aku tidak bisa turun, kakiku rasanya ngilu" ucap Riziq sedikit panik. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.


" Manamungkin tidak bisa turun. Kau naik saja bisa masa turun tidak bisa"


" Ntahlah uni, tiba tiba kakiku terasa ngilu"


Aisyah merasa panik dan bingung sendiri.


" Le, kau loncat saja dari sana" ucap Aisyah memberikan ide yang sedikit konyol, pasalnya pohon itu sangat tinggi.


" Uni, kau jangan macam macam, kalau aku loncat nanti tulangku bisa remuk semua"


" Lalu uni harus bagaimana?" tanya Aisyah.


" Cari tangga ni"


Aisyah pun mengedarkan pandangan untuk mencari tangga. Namun Aisyah tak menemukan benda itu. Akhirnya Aisyah pun menghubungi ustad Usman untuk meminta bantuan. Tidak lama kemudianpun ustad Usman datang sambil membawa tangga.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Aisyah genteng rumah siapa yang bocor hingga aku harus membawa tangga kemari?" tanya ustad Usman.


" Bukan genteng bocor ka, tapi suamiku ada di atas pohon, dia tidak bisa turun" tunjuk Aisyah pada Riziq. Saat ustad Usman melihat Riziq di atas pohon ia benar benar terkejut.


" ASTAGHFIRULLAH ,ustad Riziq kau sedang apa di atas?" tanya ustad Usman heran. Riziq sudah tersenyum malu.


" Aisyah apa kau ngidam lagi, hingga menyuruh suamimu untuk mengambil mangga muda" ucap ustad Usman.


" Jangan banyak bicara ka, cepat kau bantu dia untuk turun" pinta Aisyah.


" Bisa naik tapi ga bisa turun" gerutu ustad Usman sambil menaruh tangga itu di dekat Riziq. Dan akhirnya Riziq pun turun menggunakan tangga itu.


" Terima kasih ustad Usman"


" Memangnya kenapa kau ada di atas pohon?" tanya ustad Usman penasaran.


" Aku sedang menyembunyikannya dari serangan pelakor" jawab Aisyah cepat.


" Kau yakin Aisyah, ada perempuan lain yang menyukai suamimu?, aku yang tampan saja cuma Nisa yang mencintaiku" ucap ustad Usman sedikit tak percaya. Bukannya menjawab Aisyah langsung pergi sambil mendorong kereta bayinya.


" Hei ustad Riziq, kau harus hati hati, perempuan yang sedang cemburu itu biasanya lebih menakutkan dari serigala betina yang sedang menyusui" ucap ustad Usman.

__ADS_1


Riziq hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja sambil menyusul Aisyah.


__ADS_2