
Kini Riziq sedang asik menulis puisi yang akan di berikannya pada Aisyah atas nama ustad Rasyid di dalam kelas. Ketika para santri yang lain beristirahat ia malah memilih duduk sendiri di kelas. Entah apa yang di tulis bocah abg itu hanya Allah yang tau, Riziq pun menulis dengan cengengesan.
"Mudah mudahan uni suka " ucap Riziq sambil melipat dua lembar kertas lalu memasukan ke dalam saku bajunya.
Riziq keluar kelas berniat mencari Yusuf untuk meminta bantuan. senyumnya mengembang ketika matanya menangkap sosok Yusuf yang sedang berdiri di lapangan.
"Yusuf " pangil Riziq dengan sedikit berteriak. Seketika Yusuf langsung menengok ke arah sumber suara. Perlahan ia menghampiri Riziq .
"Ada apa ka ? " tanya Yusuf yang sudah berdiri di hadapan Riziq.
"Bantu aku ya " ucap Riziq sambil menarik tangan Yusuf memasuki kelas. Riziq mengambil dua lembar kertas yang ada di saku bajunya.
"Tolong salin tulisan ini ya " pinta Riziq sambil memberikan dua lembar kertas itu pada Yusuf.
"Kenapa harus aku ka , tulisan tanganku jelek " ucap Yusuf. Memang benar tulisannya masih belum rapi maklum saja Yusuf masih kelas 3 SD.
"Tidak apa apa " jawab Riziq. la tidak mungkin menulis dengan tangannya sendiri karna Aisyah dan ustad Rasyid sudah begitu hafal dengan tulisan tangannya Riziq. Setelah selesai menyalin tulisan itu Yusuf pun berpamitan pergi.
"Makasih ya suf "ucap Riziq.
* * * * * *
Sore pun tiba. Riziq sudah berjalan menuju perkebunan, ia yakin Aisyah ada di perkebunan kalau sore sore seperti ini untuk menghilangkan penat di pikirannya.
Sesampainya di sana, benar saja Aisyah sedang duduk di kursi bambu itu bersama Dewi.
"Asalamualaikum " ucap Riziq
"Waalaikumsalam " jawab Aisyah dan Dewi sambil tersenyum.
"Kamu sudah selesai ziq belajarnya ?. Kalau kau menemuiku tidak akan di marahi kakakmu lagi" tanya Aisyah, Riziq hanya mengangguk.
Riziq memberikan kertas puisi itu pada Aisyah .
"Dari aang Rasyid "
perlahan Aisyah mengambil kertas itu dari tangannya Riziq sambil bertanya tanya dalam hati.
"Bukalah " pinta Riziq, perlahan Aisyah membuka selembar kertas yang kini ada di tangannya, dan langsung membaca setiap kalimat yang tertulis di kertas itu. Tiba tiba Aisyah mengeryit heran matanya langsung memicing pada sosok bocah abg yang kini ada di hadapannya.
"Kenapa uni melihatku seperti itu ?" tanya Riziq heran.
"Kamu yakin ini puisi dari ustad Rasyid " ucap Aisyah tegas tak percaya dengan puisi yang kini ia genggam.
"Kenapa uni bicara seperti itu ?" tanya Riziq kembali. Dewi yang penasaranpun langsung mengambil kertas itu dari tangannya itu.
"Tulisan tangannya ustad Rasyid jelek banget seperti tulisan anak SD, tulisannya jelek tak setampan wajahnya " ucap Dewi .
__ADS_1
"Kamu pikir uni tidak tau puisi siapa yang tertulis di kertas itu " ucap Aisyah.
"Memangnya ini puisi siapa Aisyah ? " tanya Dewi .
"Memangnya uni tau ini puisi siapa" timpal Riziq. Mereka di buat penasaran dengan jawaban Aisyah.
"Ini puisinya Ikbal maulana dalam film syahadat cinta " jawab Aisyah yakin. Riziq malah cengengesan.
"Iiih uni hebat ko bisa tau " ucap Riziq malu.
"Ustad Rasyid membajak puisi? " tanya Dewi heboh. Ahirnya Riziq pun mengakui kalau dirinyalah yang punya ide seperti itu dengan bantuan Yusuf.
"Pantas saja tulisannya jelek, ternyata tulisannya Yusuf " tutur Dewi.
"Untuk apa kamu ngelakuin ini ? " tanya Aisyah heran. Riziq malah kembali cengengesan.
"Sebenarnya kakakku memiliki rasa padamu uni, aku menyuruh nya menulis puisi untuk mu tapi aang bilang tidak bisa bikin puisi, ya sudah aku menjiplak puisi itu dan menyuruh Yusuf untuk menulisnya karna kalau aku yang menulis uni pasti tau kalau itu adalah tulisan tanganku " tutur Riziq. Aisyah malah tersenyum apalagi ketika Riziq bilang kalau kakaknya itu ada rasa padanya.
Aisyah mengambil kertas puisi itu ia mengambil bolpoin dari saku bajunya Riziq dan langsung menulis sesuatu di balik kertas puisi tadi. Aisyah nampak serius menulis hingga Riziq dan Dewi penasaran.
"Nulis apa sih? " tanya Dewi
" Tidak boleh liat " jawab Aisyah sambil menjauhkan selembar kertas itu. Setelah selesai menulis ia memberikan kertas itu pada Riziq.
"Berikan ini pada kakakmu " ucap Aisyah menyuruh Riziq. Riziq pun tersenyum.
"Tidak boleh itu untuk kakakmu, ingat ya ziq kamu harus amanah " ucap Aisyah.
Seketika Riziq langsung berlari, ia pergi untuk menemui ustad Rasyid. la tersenyum ketika matanya menangkap sosok kakaknya itu.
" Aang " teriak Riziq. Seketika ustad Rasyid langsung menatap Riziq yang sedang berlari menghampirinya.
"Ada apa ziq kenapa kamu lari lari? " tanya ustad Rasyid heran.
"Ini untuk aang dari uni Aisyah "ucap Riziq sambil memberikan selembar kertas itu dengan begitu ngos ngosan. Perlahan ustad Rasyid menerima lalu membacanya
" Kulari dan terus berlari
Bukan niatku untuk berlomba
Hanya saja waktu yang memaksa
Bukan karna pikiranku kosong
Bukan pula karna mataku buta
Hingga aku menabrakmu
__ADS_1
Sungguh sesal yang kurasa
Apalagi ketika mataku menangkap
Noda kotor di baju putihmu
Bukan maksudku mengotori bajumu
Apalagi mengotori kesucian matamu
Hanya saja aku yang bodoh ini
Tidak bisa mengendalikan diri
Menangkap sosok yang berdiri dihadapanku
Entah ia manusia atau malaikat
Ketampanannya begitu sempurna
Sempatku berpikir ,nabi Yusuf kah
Yang kini berdiri di hadapanku
Aku sendiri tak tau
Yang kutau bibirku tersenyum tanpa seizinku
Bolehkah aku mengenalnya ? ?
oleh : Aisyah Khoerunissa
Ustad Rasyid tersenyum setelah membacanya, ia langsung menulis di selembar kertas untuk membalas puisi dari Aisyah. Setelah selesai ia menitipkannya pada Riziq.
"Berikan ini pada Aisyah "
Riziq pun menerimanya.
"Apa aku boleh membacanya ? " tanya Riziq penuh harap.
"Tidak boleh ini untuk Aisyah " tutur ustad Rasyid.
"Baiklah " Riziq pun kembali berlari untuk menemui Aisyah.
__ADS_1