Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Ucapan


__ADS_3

Pagi pagi buta, Aisyah belum terbangun dari tidurnya, saat mendengar suara adzan, ia mulai mengerjap ngerjapkan matanya. Dirabanya kesebelah ternyata Riziq sudah tidak ada di sampingnya.


" Le" panggil Aisyah, tapi matanya terpejam kembali seolah sulit untuk terbuka. Rasa kantuk dan lelah menyerangnya akibat pergulatan semalam. Riziq tak membiarkan istrinya tidur hingga tengah malam. Aisyah malah menarik selimut dan menutupi tubuh polosnya hingga bahu. Tiba tiba Riziq masuk ke kamar, ia sudah rapi memakai kopeh sarung serta sorbannya. Dilihatnya Aisyah masih terlelap. Riziq pun tersenyum sambil mendekati Aisyah.


" Uni bangun"


Riziq membangunkan istrinya dengan lembut.


" Uni, adzan subuh sudah berkumandang, cepat kau mandi setelah itu kau shalat. Aku mau pergi ke masjid" ucap Riziq. Aisyah masih terpejam seolah tidak mau lari dari mimpinya. Riziq malah tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada telinga Aisyah.


" Kalau kau tidak bangun sekarang, kupastikan kau tidak akan bisa bangun sampai jam 8 pagi" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Aisyah yang mendengarpun langsung membuka matanya, ia takut kejadian semalam terulang lagi pagi pagi, karna tubuhnya sudah berasa lelah. Aisyah pun terbangun dan duduk di tempat tidur.


" Lee"


Aisyah sudah menggosok gosok matanya, lalu mencoba mengumpulkan seluruh nyawanya. Riziq malah tersenyum melihat kelakuan istrinya.


" Ayo bangun. Bersucilah, setelelah itu kau shalat subuh, aku mau pergi ke masjid dulu"


Aisyah pun mengangguk sambil celingak celinguk.


" Cari apa?" tanya Riziq.


" Pakaianku Le"


Namun pakaian yang Aisyah kenakan semalam sudah tidak ada di kamar itu.


" Pakaianmu sudah kutaruh di tempat cucian, cepatlah mandi" pinta Riziq. Aisyah pun bangun dengan melilitkan selimut di tubuhnya.


" Uni kenapa kau memakai selimut ke kamar mandi" goda Riziq.


" Aku tidak mungkin telanjang ke kamar mandi. Malu" ucap Aisyah.


" Kenapa harus malu, bukan kah semalam aku melihatnya, bahkan hampir setiap hari aku melihatmu tanpa pakaian, lagi pula di sini hanya ada aku. Adam dan Hawa juga masih tidur" tutur Riziq.


Aisyah pun tak memperdulikan ucapan suaminya, ia pun melangkah ke kamar mandi. Namun tiba tiba Riziq menarik selimut yang melilit di tubuh istrinya itu.


" Leeeeeeee"


Aisyah menjerit sambil berlari telanjang ke kamar mandi. Riziq langsung menundukan wajahnya sambil tersenyum. Ia tak mau hasratnya muncul kembali. Perlahan Riziq membuka lemari pakaian, mengambil baju Aisyah lengkap dengan pakaian dalam dan kerudungnya. Riziq tau kalau istrinya itu lupa membawa baju ganti. Ia berdiri menunggu Aisyah di depan pintu kamar mandi. Setelah Aisyah selesai mandi, perlahan ia membuka pintu kamar mandi lalu memperlihatkan kepalanya dan rambutnya yang basah.


" Le aku lupa,"


Belum juga Aisyah menyelesaikan ucapannya, Riziq langsung memberikan pakaian istrinya itu, seolah ia tau apa yang ada di dalam fikirannya Aisyah. Aisyah pun tersenyum dan mengambil pakaiannya dari tangannya Riziq.


" Makasih Le" ucap Aisyah sambil masuk kembali ke kamar mandi.


" Jangan lama lama uni, aku takut terlambat ke masjid"


" Hmmm"


Setelah selesai, Aisyah pun bergegas ke luar, dilihatnya Riziq sedang menggendong Hawa yang tiba tiba terbangun.


" Hawa bangun ya Le"


Aisyah pun mengambil Hawa dari gendongan suaminya.


" Putri umi sudah bangun ya" goda Aisyah sambil mencium pipinya Hawa.


" Uni aku berangkat ya"


Aisyah pun mencium tangan suaminya itu.


" Le kau mau di buatkan sarapan apa?" tanya Aisyah.


" Tidak perlu repot repot uni, kau cukup berbaring saja di tempat tidur, kita sarapannya di sana" jawab Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.


" Mau ngapain kau menyuruhku berbaring di tempat tidur pagi pagi?" tanya Aisyah curiga.


" Tentu saja mengulang kejadian semalam, kasian Hawa, sepertinya ia ingin punya adik" jawab Riziq sambil tersenyum senyum, sementara Aisyah sudah memicingkan matanya. Melihat reaksi Aisyah, Riziq pun tertawa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Riziq pun pergi ke masjid. Setelah kepergian suaminya itu, Aisyah membaringkan Hawa di kasur busa miliknya, ia pun mengerjakan shalat subuh, setelah itu ia menyiapkan sarapan di dapur. Tiba tiba ponselnya berdering, Aisyah pun langsung mengangkat panggilan dari umi Fadlun.


" Asalamualaikum umi"


" Waalaikum salam Aisyah"


" Tumben umi pagi pagi telpon?" tanya Aisyah.


" Umi cuma mau mengajakmu, nanti siang kita main ke kantinnya bi Ratna ya, umi bosan di rumah terus, kiyai Mansyur pulangnya minggu depan. Umi juga rindu pada Zahira" tutur umi Fadlun.

__ADS_1


" Iya Mi, nanti aku jemput umi ke rumah" ucap Aisyah. Setelah ngobrol ngobrol, mereka pun mengakhiri sambungan teleponnya. Tiba tiba terdengar Riziq mengucap salam.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membukakan pintu. Aisyah selalu menyambutnya seperti biasa, mencium tangannya dan menggandengnya masuk rumah.


" Sarapan dulu Le" ajak Aisyah sambil menggadeng Riziq ke dapur. Namun Riziq malah membelokan langkahnya sambil menarik tangan Aisyah menuju kamar.


" Kita sarapannya di kamar saja uni, aku kan tadi bilang, kau tidak perlu masak, kau cukup berbaring saja di tempat tidur" goda Riziq. Seketika Aisyah langsung memukul pelan tangannya Riziq sambil mengerucutkan bibirnya, lalu menarik Riziq menuju dapur. Riziq pun tertawa tawa melihat ekspresi istrinya itu, ia memang sangat senang menggoda Aisyah. Mereka pun sarapan bersama di meja makan.


" Le, aku nanti siang pergi ke kantin bi Ratna ya" Aisyah meminta izin.


" Sama siapa?"


" Umi Fadlun" jawab Aisyah.


" Hmmm, pulangnya nanti kujemput"


" Hmmm"


Setelah sarapan, Riziq pun pergi untuk mengajar. Sementara Aisyah setelah memandikan Adam dan Hawa, ia pun berberes beres dulu di rumah. Setelah rumahnya sudah rapih, Aisyah pun bersiap pergi ke rumahnya umi Fadlun untuk berangkat ke kantinnya bi Ratna. Aisyah sudah mendorong kereta bayi Adam dan Hawa.Sesampainya di depan rumah umi Fadlun.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab umi Fadlun. Mereka pun kini berjalan bersama menuju kantinnya bi Ratna. Aisyah pun menatap umi Salamah sambil tersenyum saat ibu mertuanya itu mendorong kereta bayinya Adam dan Hawa.


"Inilah jalan takdir yang Allah berikan pada kami. Dulu, perempuan yang ada di sebelahku ini pernah ingin menjadikanku marunya, dia menyuruhku menjadi istri kedua untuk suaminya demi mendapatkan seorang anak dalam rahimku, namun takdir berkata lain, aku malah menikah dengan putra angkatnya, tak kusangka kalau aku akan berjodoh dengan putranya bukan dengan suaminya. Saat ada seorang anak yang yumbuh di dalam rahimku, dia nampak begitu senang meskipun itu bukan harapan awalnya, karna meskipun anak yang lahir dari rahimku bukan anaknya, dia nampak terlihat senang karna anak yang terlahir dari rahimku kini menjadi cucu cucunya" batin Aisyah.


* * * * * *


Kini Dewi sedang memikirkan ucapannya ustad Usman yang kini mengganggu pikirannya.


" Apa ya yang di maksud dengan ucapannya ustad Usman" batin Dewi. Bi Ratna pun terdiam heran melihat Dewi.


" Wi, sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu" ucap bi Ratna.


" Iya bi, entah kenapa aku terus kepikiran dengan ucapannya ustad Usman kemarin"


" Memangnya ustad Usman bicara apa padamu?" tanya bi Ratna.


" Dia bilang ada saatnya aku ikut berjejer sambil memegang tali di tiang, kira kira apa ya maksudnya, apa bibi tau?" tanya Dewi penasaran. Bi Ratna yang mengerti pun langsung tersenyum senyum.


" Ko bibi senyum senyum sih, apa bibi tau maksudnya"


" Apa?" tanya Dewi semakin penasaran.


" Kau tidak perlu tau, nanti kau tersinggung" ucap bi Ratna. Hingga Dewi mengeryitkan keningnya mendengar ucapannya bi Ratna. Tiba tiba Aisyah datang bersama umi Fadlun.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Bi Ratna langsung mengambil Hawa dari kereta bayinya, tak lupa juga dia mencium Adam.


" Hawa yang cantik" ucap bi Ratna sambil megunyel unyel pipinya Hawa. Terdengar suara tawanya Hawa yang terdengar menggemaskan. Saat Aisyah menatap sahabatnya itu, ia merasa heran dengan ekspresi wajahnya Dewi.


" Bi Dewi kenapa, sepertinya ada yang aneh dengannya?" tanya Aisyah heran. Bi Ratna malah tersenyum.


" Dia sedang memikirkan ucapannya kakakmu. Ustad Usman" jawab bi Ratna.


" Memangnya ka Usman bicara apa?"


" Kau tanyakan saja pada Dewi langsung"


Seketika Dewi langsung menjawab.


" Kakakmu bilang, ada saatnya aku ikut berjejer sambil memegang tali di tiang. Kau tau artinya Aisyah?" tanya Dewi. Seketika Aisyah dan umi Fadlun pun tertawa tawa. Dewi nampak kebingungan dan merasa ada yang aneh dengan ucapannya ustad Usman.


" Memangnya kau tidak tau itu artinya apa?" ucap Aisyah. Dewi hanya menggelengkan kepalanya. Tiba tiba Zahira datang karna waktunya istirahat telah tiba.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira langsung berhambur memeluk Adam dan Hawa tak lupa juga mendaratkan ciuman di pipi bayi bayi menggemaskan itu.


" Ira Dewi punya pertanyaan padamu, siapa tau kamu faham" ucap Aisyah.


" Memangnya ka Dewi ingin mengucapkan pertanyaan apa, sepertinya pertanyaan itu nampak begitu berharga ya sampai kau kepo seperti itu, tapi kata kak Riziq orang kepo itu menyebabkan uban di kepalanya biasanya akan tumbuh mendadak" tuturZahira.


" Memangnya apa yang di maksud pertanyaannya itu?"


Dewi pun langsung memberitau ucapannya ustad Usman. Seketika itu pula Zahira langsung tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


" Kau tertawa seperti itu memangnya kau tau jawabannya?" tanya Dewi sedikit kesal. Zahira pun mengangguk sambil cekikikan.


" Kecerdasan otaku memang di bawah rata rata, tapi kalau urusan begituan aku mengerti, itu mah gampil ( gampang)" ucap Zahira.


" Coba kau jelaskan" pinta Dewi yang sudah terlihat tidak sabar.


" Ka Dewi tau bulan ini bulan apa?" tanya Zahira.


" Tentu tau, bulan Juli" jawab Dewi tegas.


"Bukan tahun Masehi tapi tahun hijriah"


Dewi pun berfikir sejenak.


" Bulan Djul hijjah" jawab Dewi.


" Nah biasanya di bulan Djulhijah itu orang suka ngapain?"


" Melaksanakan shalat idul adha ( hari raya idul adha)" jawab Dewi.


" Setelah itu?"


" Eeee" Dewi pun mulai berfikir.


" Biasanya kalau aku sudah selesai melaksanakan shalat idul Adha, setelah itu aku melihat pembagian zakat kurban"


Aisyah dan bi Ratna sudah cekikikan.


" Nah biasanya si hewan kurban itu sebelum di sembelih suka di apain dulu biar ga kabur" ucap Zahira.


" Ya biasanya di jejerkan dan di ikat ditiang biar gak kabur" ucap Dewi yang belum sadar dengan arah pembicaraannya. Aisyah dan yang lainnya sudah cekikikan sedari tadi. Namun saat Dewi sadar dan mengerti, ia langsung menggeram kesal.


" Astaghfirullah alazim.


USTAD USMAAAAAAN"


Dewi nampak begitu kesal. Sementara yang lain langsung tertawa tawa.


" Kenapa kau kesal begitu Wi, memangnya kau mengerti?" tanya Aisyah.


" Ustad Usman membandingkanku dengan Hewan kurban. Mentang mentang basanku besar, dia membandingkanku dengan seekor sapi. Dasar ustad menyebalkan" gerutu Dewi.


" Ka Usman hanya bercanda Wi, kau seperti tidak tau sifatnya saja" ucap Aisyah. Zahira tak henti henti tertawa, ia sampai lupa untuk jajan di kantinnya bi Ratna.


" Eh selebor, kenapa kau menertawakanku terus" ucap Dewi tak suka.


" Maaf ka Dewi, aku hanya terbawa suasana saja" jawab Zahira.


" Lagian tumben sekali otakmu itu cerdas hingga bisa tau dan mengerti dengan ucapannya ustad Usman. Setauku kecerdasan otakmu di bawah rata rata, tapi kini mendadak cerdas begitu saja" ucap Dewi heran.


" Mungkin ka Dewi yang baru sadar saja kalau aku mempunyai kecerdasan yang tersembunyi" ucap Zahira.


" Eh jangan ngomongin ucapannya ka Usman terus, ayo Ira kau mau beli apa?" tanya Aisyah.


Zahira pun membeli beberapa cemilan di kantinnya bi Ratna. Mereka pun mengobrol ngobrol.


" Aisyah, apa tahun ini kau akan berkurban?" tanya umi Fadlun.


" Insya allah umi, aku sudah membicarakannya dengan suamiku, kita akan berkurban dua ekor kambing" jawab Aisyah.


" Alhamdulilah" ucap umi Fadlun.


" Ira kau akan berkurban taun ini" goda umi Fadlun. Zahira pun tersenyum.


" Umi aku sudah banyak berkorban perasaan, kalau di tanya kurban, maaf aku belum mampu" ucap Zahira sambil cengengesan.


" Tidak apa apa Ira" jawab umi Fadlun.


" Wi kau mau berkurban?" tanya Aisyah.


Seketika Zahira langsung menjawab.


" Ka Dewi tidak perlu mengeluarkan dana jika ingin berkurban, kau cukup berkurban dirimu sendiri saja" ucap Zahira hingga Dewi langsung memicingkan matanya .


" Apa maksud dari ucapanmu itu selebor"


" Seperti yang di ucapkan om ustad, ka Dewi tinggal ikut berjejer dengan hewan yang akan di kurbankan. He he he"


" Iraaaaaaa" geram Dewi.


" Maaf ka aku hanya bercanda" jawab Zahira sambil cengengesan.


" Sudah sudah berisik" ucap bi Ratna.

__ADS_1


Mereka pun mengobrol sambil melewatkan waktu istirahat, meskipun Dewi dan bi Ratna sesekali sibuk melayani para santri yang berkunjung ke kantinnya.


__ADS_2