Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Lelah


__ADS_3

Ketika ustad Rasyid sedang asik bermain bersama Syakir, ustajah Yasmin pun duduk di sebelah suaminya itu.


" Mas kau lihat tidak sikapnya Aisyah dan Riziq tadi?" tanya ustajah Yasmin.


" Hmmm"


"Mereka romantis ya"


Seketika ustad Rasyid langsung menatap istrinya.


" Kenapa memangnya?"


" Bisa tidak kau bersikap romantis padaku" tanya ustajah Yasmin. Ustad Rasyid malah tersenyum.


" Maaf Yas, aku bukannya tidak mau bersikap romantis padamu, aku hanya tidak bisa bersikap seperti itu karna aku bukan laki laki romantis seperti adiku" jawab ustad Rasyid. ustajah Yasmin pun terdiam.


" Kau bukan laki laki romantis atau kau memang tidak mau bersikap romantis, dulu saja kau bisa menulis puisi romantis untuk Aisyah, kenapa hanya mengucapkan kata kata sayang saja sepertinya sangat sulit kau ucapkan untukku" batin ustajah Yasmin.


" Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya ustad Rasyid.


" Katakan kalau kau mencintaiku"


Ustad Rasyid pun terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.


" Katakanlah kalau kau mencintaiku" ucap ustajah Yasmin mengulang kata katanya.


" Sepertinya kau terobsesi dengan sikap romantisnya Riziq"


" Aku hanya ingin dengar kata kata itu dari mulutmu, setiap hari, bukankah itu hal wajar jika suami mengatakan cinta pada istrinya" ucap ustajah Yasmin penuh harap.


" Aku mencintaimu dan Syakir" ucap ustad Rasyid meyakinkan istrinya.


"Kau yakin tidak ada nama Aisyah lagi di hatimu?, apa rasa itu masih ada?" tanya ustajah Yasmin sambil menatap suaminya.


" Sudah kubilangkan, kalau aku akan berusaha melupakan Aisyah. Jadi kumohon jangan terlalu mendonasiku untuk itu. Aku bukan hanya berusaha melupakan Aisyah, aku juga berusaha untuk mencintaimu, tapi kumohon beri aku waktu, sedikit demi sedikit nama Aisyah mulai terkikis dalam hatiku sekarang"


" Belajar melupakan memang sulit, tapi kau harus bisa belajar untuk menerima kenyataan, dan pada kenyataannya Aisyah sekarang adalah adik iparmu, dan aku adalah istrimu" ucap ustajah Yasmin menegaskan. Perlahan ustajah Yasmin bersandar di pundak suaminya.


" Aku hanya ingin suamiku bersikap hangat padaku, seperti sikap wajar suami terhadap istrinya"


" Maafkan aku yas, kalau aku selama ini kurang bersikap baik padamu"


" Aku akan sabar menunggu perubahan sikapmu"

__ADS_1


* * * * *


Setelah sampai di rumah. Aisyah pun membaringkan Adam dan Hawa di tempat tidur. Aisyah merasa lelah setelah memasak tadi wajahnya nampak sedikit pucat. Ia berjalan menuju ruang tamu dan duduk di kursi sambil menyender.


" Uni anak anak kau tinggal di kamar?"


" Hmmm, mereka baru saja tertidur, seperti yang kau bilang kalau mereka bayi bayi yang pengertian. Aku sangat lelah setelah memasak dan berberes beres di rumah umi tadi" ucap Aisyah yang kini nampak kelelahan sambil menyenderkan kepalanya ke kursi.


Perlahan Riziq pun duduk di sebelahnya Aisyah.


" Sini biar aku pijitin" ucap Riziq sambil membenarkan posisi Aisyah.


" kau yakin bisa Le?" tanya Aisyah tak percaya.


" Hei uni kau jangan merendahkanku seperti itu. Jangankan cuma memijat pundak dan punggungmu, jadi tukang pijat plus plus saja aku bisa" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.


" Lee, kau jangan menggodaku aku sedang cape"


Riziq malah tertawa.


" Uni, kau jangan jadikan lelahmu ini sebagai alasan untuk tidak menerima hukuman dariku ya nanti malam, apapun alasannya aku akan tetap menghukumu" tegas Riziq.


" Kau mengancamku Le?" tanya Aisyah.


" Itu bukan ancaman, tapi itu perintah"


" Baiklah hari ini kau kuampuni, tapi jangan senang dulu, kalau kau menunggak semalam saja bunganya 15%" ucap Riziq yang kini mulai memijat pundaknya Aisyah.


" Kau seperti rentenir saja Le, berhubungan di atas ranjang saja harus ada bunga tunggakannya. Kalau ada bunga mawar itu romantis, tapi kalau ada bunga tunggakan itu namanya menakutkan" jawab Aisyah sedikit cemberut hingga Riziq tertawa tawa. Riziq pun terus memijat mijat pundak dan punggungnya Aisyah. Hingga Aisyah mengerjap ngerjapkan matanya karna keenakan.


" Yang ini Le" tunjuk Aisyah pada bagian pundak sebelah kirinya.


" Waah uni sepertinya kau keenakan ya, hingga kau lupa diri menyuruhku ini itu, aku ini suamimu bukan tukang pijit" protes Riziq. Aisyah hanya tersenyum senyum saja. Perlahan Riziq mulai membuka retsleting belakang gamisnya Aisyah. Namun Aisyah tak sadar akan hal itu ia malah memejamkan matanya karna merasa enak di pijat. Riziq hanya tersenyum saja setelah berhasil membuka semua retsleting itu oleh tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih asik memijat. Setelah berhasil membuka baju Aisyah hingga kedada, sebenarnya Riziq ingin tertawa karna Aisyah tak menyadarinya, mungkin ia terlalu lelah atau terlalu keenakan dengan pijitan yang di beri suaminya itu. Tiba tiba Aisyah merasakan hawa dingin yang terasa di bagian badan atasnya. Perlahan ia pun membuka matanya. Tiba tiba matanya membulat saat menatap tubuh bagian atasnya terlihat.


" Astaghfirullah Leeee" ucap Aisyah sedikit panik dan menjerit.


" Ha ha ha, jadi kalau kau lelah, kau sampai tak bisa merasakan ada yang melepas bajumu, apa jangan jangan saat kau tidur terlelap Kau tak akan berasa saat aku menyentuhmu" ucap Riziq sambil rersenyum senyum. Hingga Aisyah cemberut dan memukul pelan tangannya Riziq.


" Benarkan kembali bajuku" pinta Aisyah.


" ia ia"


bukannya membetulkan retsleting bajunya Aisyah, ia malah membuka pengait bra istrinya itu. Hingga Aisyah mendengus kesal.

__ADS_1


" Leeeeeeeeeeeee"


" Haa haaaaa".


Malampun tiba, Setelah pulang dari masjid sehabis menjalankan shalat isya, Riziq pun mengetuk pintu.


" Asalamualaikum"


Riziq sudah mengucap salam berkali kali, jangankan membuka pintu, menjawab salampun tidak terdengar dari mulut cantiknya Aisyah.


" Uni, buka pintunya" Riziq pun terdiam heran dan mulai khawatir dengan istri dan anak anaknya.


" Uni kemana ya, apa dia pergi malam malam begini?, tapi tidak mungkin uni pergi tanpa seizinku"


Riziq sudah mengintip dari jendela. Tiba tiba ustad Usman dan putranya menghampiri Riziq.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab Riziq, ia terdiam sambil menatap kedatangan mereka.


" Kau sedang apa ngintip ngintip di rumah sendiri, kau tidak takut matamu bintitan ustad" ucap ustad Usman. Riziq pun tersenyum malu.


" Aisyah di panggil panggil tidak jawab, aku takut terjadi sesuatu"


" Heei jangan jangan Aisyah di umpetin wewe gombel" goda ustad Usman. Hingga Riziq mengeryitkan keningnya.


"Lulusan dari kairo tapi percaya hal begituan. apa jangan jangan ustad Usman berteman dengan wewegombel " gerutu Riziq dalam hati.


" Ha ha ha, kau jangan terlalu serius menanggapinya, aku hanya bercanda, mungkin Aisyah ketiduran di dalam, kau masuk rumah lewat genteng saja" ustad Usman memberi ide konyol.


" Terimakasih atas idenya ustad, aku takut ketinggian, jadi dari pada aku naik ke atas, lebih baik aku masuk lewat jendela saja"


" Heei ustad Riziq ternyata kau bukan hanya pandai mencuri hatinya Aisyah, tapi kau juga sepertinya pandai mencuri di rumah orang hingga kau bisa masuk lewat jendela" ucap ustad Usman. Riziq hanya menggaruk garukan kepalanya tidak mengerti dengan ucapannya ustad Usman.


" Yasudah aku pulang dulu, asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


ustad Usman pun pergi bersama putranya. Kini Riziq benar benar masuk rumah lewat jendela.


" Uni" panggil Riziq. Dan benar saja Aisyah ketiduran saat menidurkan Adam dan Hawa. Bahkan Aisyah masih menggunakan mukenanya.


" YaAllah uni"

__ADS_1


Perlahan Riziq menggendong Aisyah dan memindahkannya ketempat tidur. ia pun membuka mukenanya Aisyah dan menyelimutinya dengan selimut tebal.


" Sepertinya kau sangat kelelahan uni" ucap Riziq sambil mencium hidungnya Aisyah. Ia pun ikut terlelap sambil memeluk istrinya itu. Riziq melupakan hukumannya Aisyah, karna ia tak tega melihat kondisi istrinya yang sedang tertidur pulas.


__ADS_2