
Masih dengan Aisyah dan Riziq yang masih berada di perkebunan. Aisyah hanya menundukan kepalanya sambil menggandeng tangan Riziq. la masih takut dan risih saat melihat ustajah Yasmin yang berada di perkebunan, tidak jauh dari posisinya. Aisyah semakin mengeratkan gandengan tangannya pada Riziq.
" Uni, kalau kau menggandengku seperti ini, bagaimana aku bisa menanam bibit cabai, bisa bisa dalam satu galian akan tumbuh 10 hingga lebih pohon cabai, aku tidak mau kau menghukumku" tutur Riziq sedikit menggoda.
Perlahan Aisyah melepaskan tangannya. Riziq terdiam saat ustajah Yasmin berjalan untuk menemui ustad Rasyid.
" Kalau uni takut, uni jangan menatapnya, Uni tatap aku saja" ucap Riziq mencoba menenangkan Aisyah.
Ustajah Yasmin berjalan sambil menggendong Syakir. Namun tiba tiba Syakir meronta ingin di turunkan dari gendongannya.
" Kenapa nak?" ucap ustajah Yasmin. Saat ustajah yasmin menurunkan putranya itu, tiba tiba Syakir berlari mendekati Aisyah dan Riziq.
" Bibi Aisyah" ucap Syakir sambil memeluk Aisyah. Aisyah pun terdiam saat Syakir memeluknya. Sementara ustajah Yasmin berdiri mematung tidak jauh dari posisi mereka. Ia tak menyangka kalau putranya bisa sedekat itu pada Aisyah, setau dia, putranya itu tidak kenal dekat dengan Aisyah.
" Le, tolong aku" bisik Aisyah pada Riziq. Perlahan ustajah Yasmin menghampiri mereka. Aisyah sudah nampak gelisah. Ia berulang ulang berdo'a dalam hatinya. Riziq pun berdiri di hadapan Aisyah, ia sudah siap jika ustajah Yasmin mengeluarkan kata kata pedasnya.
" Syakir, tadi katanya mau nyamperin abi" ucap ustajah Yasmin.
" Mau sama bibi Aisyah" jawab Syakir polos.
" Bagaimana aku tidak merasa iri pada Aisyah, suami bahkan putraku sendiri begitu menyayangi Aisyah**" gumam ustajah Yasmin dalam hati.
Dari kejauhan ustad Rasyid pun terdiam ketika melihat mereka. la takut akan ada pertengkaran antara istrinya dan Aisyah. Ustad Rasyid pun bergegas menemui mereka.
Aisyah hanya diam saja, ia tidak tau harus bicara apa.
" Maaf ustajah Yasmin, mungkin Syakir ingin bermain dengan bibinya" ucap Riziq sambil mengelus rambut keponakannya itu. ustajah Yasmin hanya diam saja, ia tidak mau berprasangka buruk, namun ia juga sedikit tak rela jika putranya itu dekat dengan Aisyah.
__ADS_1
" Ustajah tidak perlu khawatir dan berpikir yang macam macam tentang istriku, sudah kupastikan Aisyah tidak akan mengganggu suamimu, tidak perlu menaruh cemburu berlebih padanya. Aku berani menjamin istriku tidak akan menggoda laki laki lain selain diriku. Kalau pun istriku terbukti menggoda laki laki lain, maka aku sendirilah yang akan menghukumnya" tutur Riziq menjelaskan.
" Maaf kalau selama ini rasa cemburuku terlalu berlebihan." ucap ustajah Yasmin.
" Maaf sebelumnya ustajah, sebaiknya mulai sekarang berilah kepercayaan terhadap suamimu, biarkan dia perlahan lahan melupakan istriku. Yakin lah suatu saat dia akan menyayangimu, bersabarlah untuk itu" tutur Riziq kembali. ustajah Yasmin pun tersenyum.
" Maafkan aku Aisyah, kalau selama ini sikapku terkadang selalu menyakitimu, aku begitu mencintai suamiku, aku takut dia akan berpaling dariku, hingga rasa cemburuku selalu menutupi mata dan pikiranku." ucap ustajah Yasmin meminta maaf pada Aisyah. Aisyah pun mengangguk tersenyum.
" Yas" panggil ustad Rasyid. ustajah Yasmin pun menengok pada suaminya itu.
" Ada apa Yas?" tanya ustad Rasyid cemas.
" Tidak ada apa apa, Syakir hanya ingin bermain dengan Aisyah" ucap ustajah Yasmin. Ustad Rasyid pun terdiam mendengar ucapan istrinya, ia merasa aneh dengan kelakuan Yasmin yang tak biasa pada Aisyah.
" Aku kesini mau membantumu, ayo kita menyiram bibit pohon tomat" ucap Ustajah Yasmin sambil menggandeng lengan suaminya itu. Mereka berjalan menuju perkebunan tomat, meninggalkan Syakir bersama Aisyah dan Riziq. Aisyah masih sedikit tak percaya dengan sikapnya ustajah Yasmin.
" Semua orang bisa berubah, termasuk ustajah Yasmin." ucap Riziq sambil menatap Aisyah.
" Apa semua orang yang sedang cemburu itu bisa berubah 360 derajat? " tanya Aisyah.
" Tentu, tapi semua orang punya rasa cemburu yang berbeda beda, termasuk uni" ucap Riziq.
" Uni?"
" Hmm, bedanya ustajah Yasmin cemburu pada seorang perempuan, sementara uni cemburu pada pohon cabai" ucap Riziq sambil tertawa. Hingga Aisyah mendengus kesal.
" Le, kenapa ya aku tidak pernah melihatmu cemburu padaku, bukankah cemburu itu tandanya sayang, apa kau tidak menyayangiku?" tanya Aisyah. Riziq malah tersenyum.
__ADS_1
" Aku tidak pernah cemburu padamu karna aku mempercayaimu, aku yakin uni tidak akan berhianat padaku apalagi sampai menduakanku" jawab Riziq tegas. Aisyah pun tersenyum.
" Terima kasih Le, karna telah memberiku kepercayaan"
" Memangnya selama ini uni tidak pernah melihatku cemburu?" tanya Riziq penasaran.
" Tidak pernah, uni hanya tau kalau kau sedang marah. Matamu akan sedikit memerah, tubuhmu sedikit bergetar, nafasmu naik turun dan urat nadimu sedikit menonjol keluar, itu yang kutau kalau kau sedang marah dan emosi, sama seperti saat kau bernafsu padaku" tutur Aisyah.
" Bernafsu padamu?" tanya Riziq sedikit menggoda. Aisyah yang baru sadar akan ucapannya ia langsung menundukan kepalanya sambil mempererat pelukannya pada Syakir.
" Wah, uni sangat memperhatikan reaksi tubuhku ya saat aku sedang di kuasai nafsu"
" Ya, itu yang sering uni lihat saat hasrat dan birahimu telah berhasil menguasai akal dan pikiranmu" ucap Aisyah kembali. Riziq hanya tersenyum senyum saja.
" Apa uni takut padaku saat aku mulai hilang kendali? " tanya Riziq sambil menarik ujung kerudung yang di kenakan Aisyah.
" Tentu saja"
" Uni yakin?, setauku kaulah yang selalu di untungkan saat aku sedang dikuasai nafsu birahi" goda Riziq sambil berbisik pada Aisyah. Seketika wajah aisyah langsung memerah.
" Kau jangan menggodaku" ucap Aisyah.
" Bukankah kau senang jika aku menggodamu"
" Astaghfirullahalazim, Syakir kemari nak, ucapan om dan bibimu lama lama akan mengotori kesucian mata dan telingamu" ucap ustad Usman yang sedari tadi mendengar percakapan Aisyah dan Riziq.
Aisyah dan Riziq pun tersenyum malu. Mereka pikir ustad Usman tidak mendengar percakapannya.
__ADS_1
" Syakir kan belum mengerti apa apa ka" jawab Aisyah lirih. Ustad Usman hanya menggeleng gelengkan kepalanya. merasa geli dengan sikap dan ucapan suami istri yang ada di hadapannya itu.