Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Kepiting


__ADS_3

Setelah kepergian Yusuf dan ustad Usman, Zahira pun malah mengerucutkan bibirnya sambil menatap kepergian Yusuf yang sudah hilang dimakan jarak.


" Le, kau lihat adikmu, bibirnya sudah seperti ikan ****** begitu" bisik Aisyah pada Riziq. Riziq pun ikut menatap Zahira.


" Kenapa bibirmu merengut begitu?" tanya Riziq.


" Kufikir ka Yusuf datang kemari mau melamarku, tapi ternyata dia cuma jualan bendera. Bukankah itu menyebalkan namanya" ucap Zahira masih sambil menatap kepergian Yusuf yang sudah tidak terlihat. Riziq sudah menggeleng gelengkan kepalanya heran, sementara Aisyah sudah cekikikan.


" Ku ingatkan sekali lagi ya Ira, umurmu masih 15 tahun, kau belum cukup umur untuk membicarakan hal seperti itu. Jadi bersikaplah sesuai usiamu" pinta Riziq.


Riziq dan Aisyah pun masuk kedalam rumah.


" Le, bukankah waktu kau seumuran dengan Zahira, kau pun sama sepertinya, sikapmu lebih dewasa dari usiamu" ucap Aisyah mengingatkan.


* * * * * *


Sore pun tiba, setelah mengerjakan shalat ashar berjamaah bersama Aisyah. Zahira pun memutuskan untuk pulang.


" Ka aku pulang dulu ya" ucap Zahira.


" Mau ku antar ke asrama?" ucap Aisyah menawarkan diri.


" Tidak usah ka, aku sendiri saja"


" Ya sudah ka Aisyah anter ke depan"


Aisyah pun mengantarkan Zahira ke depan rumahnya.


" Baaay ka Aisyah asalamualaikum" Zahira pamit sambil berlalu.


" Waalaikum salam" jawab Aisyah.


" Kelakuan warisanmu Le" gumam Aisyah.


Belum juga jauh dari rumahnya Aisyah, Zahira bertemu dengan Riziq yang baru pulang dari masjid.


" Kau mau pulang Ira?" tanya Riziq.


" Hmmm"


" Ya sudah hati hati" ucap Riziq. Namun Zahira malah berdiri mematung di tempat membuat Riziq curiga.


" Apa?" tanya Riziq.


Bukannya menjawab, Zahira malah cengengesan.


" Uang jajanku tinggal dikit lagi" ucap Zahira sedikit malu. Riziq malah mengeryitkan keningnya.


" Perasaan baru kemarin ka Riziq sama Aang Rasyid kasih uang jajan. Kau jangan terlalu boros Ira" pinta Riziq.


" Tambahin sedikit lagi ka" pinta Zahira penuh harap. Perlahan Riziq pun mengambil uang dari saku bajunya.


" Jangan yang warna ungu ka, warna ungu itu kata orang warna janda, lebih baik yang warna merah saja" pinta Zahira.


" Jangan yang warna merah, warna merah itu warna cabe, cabe itu pedas, nanti kamu bisa sakit perut, lebih baik warna hijau saja, Hijau itu warna dedaunan, adem dilihatnya" tutur Riziq sambil menyodorkan uang 20.000 pada Zahira. Zahira malah mengerucutkan bibirnya.


" Jadi kau mau yang warna coklat 5.000?" tanya Riziq.


" Tidak mau warna coklat, nanti aku sakit gigi. Paling tidak kasih aku warna biru" pinta Zahira.

__ADS_1


" Kau kecil kecil mata duitan ya" gerutu Riziq.


" Kan ada pepatah mengatakan. Laki laki itu MATA KERANJANG, sementara perempuan itu MATA DUITAN. Jadi jangan heran kalau aku materialistis" tutur Zahira. Riziq malah mengeryitkan keningnya.


" Mana uang warna birunya" pinta Zahira.


" Dengar Ira, warna biru itu warna langit, langit itu tinggi nanti tanganmu tidak akan sampai untuk menggapainya" ucap Riziq.


" Sampai ko" ucap Zahira keukeuh.


Riziq pun mengambil uang 50.000 di saku bajunya dan mengangkatnya ke atas dengan merentangkan tangannya.


" Coba kalau kau sampai"


Zahira langsung merentangkan tangannya ke atas untuk mengambil uang di tangannya Riziq. Namun Zahira tidak bisa menggapai tangannya Riziq karna tinggi badan Zahira kalah jauh dari tinggi badannya Riziq. Zahira tidak putus asa, ia sudah berjinjit dan loncat loncat untuk mengambil uang itu. Riziq sudah cekikikan melihat usahanya Zahira.


" Tidak bisa kan" ledek Riziq.


" Bisa ko" ucap Zahira yakin.


" Coba buktikan"


Saat mau meloncat kembali, Zahira malah menarik sarungnya Riziq. Hingga Riziq dengan sigap langsung menahan sarung yang di kenakannya yang hampir saja melorot.


" Iraaaa" ucap Riziq sambil menggeram.


Dengan sigap Zahira langsung mengambil uang dari tangannya Riziq.


" Makasih ya ka Asalamualaikum" ucap Zahira sambil bergegas kabur.


" Dasar bocah sempruuuul" teriak Riziq kesal sambil membenarkan sarungnya kembali. Ketika sudah jauh dari posisinya Riziq, Zahira pun cekikikan sambil menatap uang 50.000 yang di ambil dari tangan kakaknya itu. Tiba tiba ia tersenyum saat melihat Yusuf berjalan ke arahnya, Zahira langsung memasukan uangnya ke saku bajunya, lalu ia merapihkan penampilannya. Ia sudah senyam senyum sendiri. Yusuf berjalan sendirian tanpa ustad Usman. Yusuf pun belum sadar kalau ada Zahira yang berjalan di hadapannya. Saat Zahira akan menyapa Yusuf, tiba tiba ada kepiting melintas di jalan, kepiting itu berasal dari sungai yang ada di sebelah jalan. Tiba tiba ibu jari Zahira tercakip kepiting hingga ia menjerit jerit kesakitan dan ketakutan.


" Aw aw aw Ka Aisyah tolong"


" Ka Aisyaaah, sakiit" Zahira sudah menangis kesakitan. Dengan sigap Yusuf pun menekati Zahira.


" Ira kau kenapa?" tanya Yusuf cemas.


" Ada kepiting mencakip kakiku" jawab Zahira masih dengan meloncat loncat ketakutan.


" Biar ku tolong" ucap Yusuf. Saat Yusuf akan mengambil kepiting di kakinya Zahira, Zahira tidak bisa diam ia masih meloncat loncat hingga ia terpeleset dan hampir terjatuh ke sungai, untung saja Yusuf sigap menggenggam tangannya Zahira. Namun Zahira sudah menggelantung di pinggir sungai, kakinya hampir saja menyentuh permukaan sungai.


" Kaaa tolong aku" teriak Zahira ketakutan.


" Kau pegang yang kuat tanganku Ira" pinta Yusuf yang kini sedang mencoba menarik Zahira ke atas. Riziq sudah berjongkok di pinggir sungai.


" Tolong aku ka " Zahira sudah menangis ketakutan. Sebenarnya ia sudah tidak perduli jika ia terjatuh ke sungai dan basah kuyup, yang ia inginkan hanyalah bisa melepas kepiting yang masih menyakip ibu jarinya yang sedari tadi tidak lepas lepas.


" Kau tahan Ira aku akan menolongmu" ucap Yusuf sambil berusaha menarik Zahira ke atas. Tiba tiba ada Dewi yang tidak sengaja lewat. Dewi nampak terkejut saat melihat Riziq sedang berusaha menolong Zahira. Dengan sigap Dewi berlari dan membantu menolong.


" Ira kenapa?" tanya Dewi khawatir.


" Terpeleset"


Dewi pun malah menggenggam tangannya Yusuf bukan tangannya Zahira.


" Suf, kau tarik tangannya Zahira, ka Dewi tarik tangan kamu" ucap Dewi.


" Iya ka"

__ADS_1


Yusuf sudah sekuat tenaga menarik Zahira ke atas. Tiba tiba ada pedagang keliling yang lewat.


" Somay somay"


Dengan sigap Dewi langsung melambaikan tangannya pada pedagang somay hingga melepaskan pegangannya Yusuf.


" Bang pesan buatin dua bungkus" ucap Dewi. Saat Dewi sadar telah melepaskan tangannya Yusuf, al hasil.


BYUUUUURRRR


Yusuf dan Zahira terjatuh ke sungai.


"Iraaa, Yusuf" teriak Dewi.


Zahira dan Yusuf sudah basah kuyup. Yusuf pun menarik Zahira ke pinggir sungai. Zahira masih menangis karna kepiting itu masih menempel di kakinya.


" Ka tolong tarik kami" teriak Yusuf pada Dewi. Dewi pun menarik Yusuf dan Zahira ke atas dengan di bantu tukang somay. Sesampainya di atas, Zahira masih menangis sambil duduk di pinggir jalan.


" Kalian tidak apa apa?, maaf ka Dewi tidak sengaja melepaskan tangannya Yusuf" ucap Dewi merasa bersalah.


" Ira kau tidak apa apa?" tanya Yusuf.


" Kepitingnya" ucap Zahira sambil menunjuk kepiting yang masih mencakip ibu jarinya. Dengan sigap Yusup melepaskan kepiting itu dari kakinya Zahira dan melemparnya ke sungai. Ada darah sedikit mengalir di ibu jarinya Zahira. Riziq pun mengambil sapu tangannya yang basah untuk membersihkan luka itu.


" Ini sakit?" tanya Yusuf. Zahira pun mengangguk sambil terisak, ingusnya pun naik turun di hidungnya.


" Kau tahan ya Ira, nanti juga sembuh" ucap Dewi menenangkan. Zahira pun mengangguk lalu menarik ujung kerudung Dewi dan menumpahkan semua isi yang ada di hidungnya. Dewi langsung menggeram.


" Iraaaa, kau jorok sekali" gerutu Dewi kesal saat Zahira membersihkan ingusnya dengan ujung kerudungnya Dewi.


Setelah membersihkan luka di kakinya Zahira Yusuf pun menatap Zahira yang masih menangis.


" Masih sakit?" tanya Yusuf. Zahira kembali mengangguk. Perlahan Yusuf menundukan kepalanya dan mulai meniupi ibu jarinya Zahira yang terluka. Dewi pun menepuk pundaknya Zahira yang masih menangis saja sedari tadi.


" Eh slebor, kau lihat apa yang di lakukan Yusuf padamu" ucap Dewi. Zahira pun langsung menatap Yusuf yang sedang menundukan kepalanya.


" Apa ka Yusuf mau menggigit ibu jariku?" bisik Zahira pada Dewi.


" Dia sedang mengobati kakimu dengan cara meniupi kakimu yang terluka" bisik Dewi. Seketika Zahira langsung tersenyum, ia pun menatap kembali Yusuf yang masih setia meniupi ibu jarinya.


" Masih sakit?" tanya Yusuf kembali. Zahira pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Makasih ka Yusuf"


Yusuf pun mengangguk. Saat Yusuf akan berdiri ia terdiam melihat bajunya Zahira yang basah kuyup. Yusuf pun mengedarkan pandangan untuk mencari sorbannya. Saat melihat sorbannya yang tergeletak di pinggir jalan Yusuf pun mengambilnya dan memakaikannya pada Zahira, karna sorban itu kering tak ikut terjatuh ke sungai hingga membuat Zahira sedikit bisa merasakan rasa hangat. Zahira sudah tersenyum saat Yusuf memakaikan sorban padanya.


" Sebaiknya kau pulang Ira, nanti kau bisa mengobati lukamu di rumah" pinta Yusuf. Zahira pun mengangguk.


" Ya sudah ka Dewi antar kamu pulang" ucap Dewi.


" Ka Yusuf mau mengantarkanku pulang juga?" tanya Zahira penuh harap.


" Maaf Ira, aku tidak bisa mengantarkanmu pulang, aku masih ada urusan" jawab Yusuf. Zahira pun mengangguk.


" Ya sudah aku pulang, terima kasih ya ka Yusuf, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Yusuf pun menatap kepergian mereka.

__ADS_1


" Ka Dewi, kau gendong aku ya, kakiku masih sakit" pinta Zahira. Dewi langsung mengeryitkan keningnya.


" Kau jangan macam macam Ira, aku berjalan membawa badanku saja sudah berat, apalagi menggendongmu sungguh aku tidak kuat" gerutu Dewi. Zahira hanya mengerucutkan bibirnya namun tiba tiba ia tersenyum saat menatap sorban Yusuf yang kini di kenakannya.


__ADS_2