
Pagi pagi sekali, sebelum pergi mengajar, Riziq selalu mengantarkan Aisyah terlebih dahulu ke kantin. Mereka selalu berjalan berdua, Aisyah selalu menggandeng tangan suaminya, kalau ia lupa, Riziq selalu mengingatkan Aisyah untuk selalu menggandeng tangannya kalau mereka sedang berjalan bersama. Walaupun tidak bergandengan tangan, mereka pasti akan berpegangan tangan sesuai cara berkasih sayang mengikut sunah Rasulullah saw.
Sesampainya di kantin.
" Asalamualaikum" Aisyah dan Riziq mengucap salam.
" Waalaikumsalam" jawab bi Ratna dan Dewi, kebetulan Dewi belum berangkat ke kantinnya mang llham.
" Setiap hari melihat kalian seperti ini aku merasa iri Aisyah" ucap Dewi.
" Kenapa memangnya?" tanya Aisyah.
" Kalian selalu bergandengan tangan kemanapun kalian berjalan"
" Kenapa harus iri, kau kan bisa menggandeng lengan suamimu saat kalian jalan berdua" ucap Aisyah. Seketika Dewi langsung mengerucutkan bibirnya.
" Suamiku tidak mau kalau aku menggandeng tangannya, bukan karna dia malu, tapi karna dia merasa engap di gandeng olehku, dia bilang ukuran lenganku terlalu besar, jadi kalau aku menggandeng tangannya dia susah bergerak" tutur Dewi menjelaskan. Aisyah, Riziq dan bi Ratna ingin tertawa mendengar ucapan Dewi, namun karna mereka takut Dewi tersinggung, akhirnya mereka hanya tersenyum saja.
" Uni, aku berangkat dulu, Bibi, aku titip istriku ya, asalamualaikum " ucap Riziq.Sebelum pergi Aisyah pun mencium tangan suaminya itu. Bi Ratna pun menganggukan kepalanya. Baru saja Riziq berjalan beberapa langkah, Aisyah sudah memanggilnya.
"Ale"
Seketika Riziq langsung menghentikan langkahnya lalu menengok pada Aisyah.
" Aku mencintaimu" ucap Aisyah sedikit berteriak. Seketika Riziq langsung tersenyum, tidak lama kemudian ia melanjutkan kembali langkahnya. Setelah kepergian Riziq, Dewi langsung menepuk pundaknya Aisyah.
" Aku tau kau sengaja mengucapkan itu, supaya aku semakin iri padamu kan " ucap Dewi. Aisyah dan bi Ratna malah tertawa .
" Sesekali bersikaplah romantis pada suamimu" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Kau tau Aisyah, setiap kali aku mengucapkan kata i love you pada suamiku, kau tau dia bilang apa padaku, dia bilang aku pasti ada maunya kalau tiba tiba bersikap romantis, kalau tidak ingin membeli baju baru pasti ingin membeli gelang baru, itu yang sering di ucapkan suamiku" tutur Dewi. Aisyah dan bi Ratna langsung tertawa tawa mendengar pertuturan Dewi.
" Berarti suamimu tidak peka" ucap bi Ratna.
" Bukannya tidak peka bi, tapi suaminya Dewi sangat mengerti isi pikiran istrinya itu, kalau tidak ingin baju baru ya pasti ingin gelang emas." ucap Aisyah sambil sedikit memberi tawa di akhir kalimatnya. Dewi malah mengerucutkan bibirnya.
" Sepertinya kau senang sekali meledeku Aisyah"
" Maaf, aku cuma bercanda Wi"
* * * * * * *
Siang pun tiba. Riziq pun menemui para ustad ustad yang lain di aula l0untuk ikut beristirahat. Di sana sudah ada ustad Azam, ustad Rasyid, ustad Usman dan ustad Soleh.
" Asalamualaikum" Riziq masuk aula sambil mengucap salam.
" Duh, pengantin baru wajahnya nampak berseri seri, sudah bisa di tebak, apa saja yang terjadi setiap malam" goda ustad Usman. Riziq hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara ustad Rasyid hanya diam saja sambil menundukan kepalanya. Mereka pun mengobrol ngobrol sambil bercanda dan minum kopi. Dan bisa di tebak siapa yang paling banyak bicara di antara mereka, tentu saja dia adalah ustad Usman.
" Oh ia ustad Riziq, sudah punya rencana untuk mempunyai momongan?" ranya ustad Azam.
" Saya dan uni Aisyah, sudah sepakat untuk tidak menunda nunda, namun semua tergantung yang di atas, mau di kasih cepat atau lambat, insyaallah kami akan sabar menantinya" tutur Riziq menjelaskan.
" Saya do'akan semoga kalian cepat di beri momongan." ucap ustad Azam.
" Amiin, terima kasih ustad Azam" ucap Riziq sambil tersenyum. Tiba tiba ustad Rasyid berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari mereka. Ia berdiri di ambang pintu mencari angin segar. perlahan Riziq pun menghampiri kakaknya dan berdiri di sebelahnya.
" Kenapa Ang, sepertinya kau sedikit menghindar dari obrolan kami?" tanya Riziq.
" Haruskah aang menjawab?" tanya ustad Rasyid balik.
__ADS_1
" Kau tidak perlu menjawabnya. Karna aku sudah tau jawabannya " ucap Riziq sambil memandang ke arah luar.
" Kau nengetahui jawaban ku di mana, di dalam hatiku atau di dalam pikiranku? " tanya ustad Rasyid. Seketika Riziq tersenyum.
" Aku mengetahui semuanya, yang ada di dalam hati dan juga pikiranmu"
" Kau bisa menyebutkan itu apa? " tanya ustad Rasyid.
" Yang ada di dalam hatimu adalah Aisyah istriku, dan yang ada di pikiranmu adalah aku adikmu, karna kau cemburu padaku, aku melihat kecemburuan di wajahmu saat mereka mulai membicarakanku dengan Aisyah. Ada rasa tak suka nampak di raut wajahmu" tutur Riziq. Ustad Rasyid hanya menundukan wajahnya. la sudah berusaha untuk bersikap biasa saja, namun ternyata adiknya itu lebih pintar.
" Kenapa kau selalu mengatakan kalau aku cemburu padamu"
" Kenyataannya memang seperti itu. Kau tidak lupa kan Ang, kalau Aisyah itu adalah istriku, dia adalah adik iparmu" ucap Riziq mengingatkan.
" Tentu saja Aang tidak akan lupa itu" jawab ustad Rasyid.
" Kumohon mulai sekarang, kau buang nama Aisyah di hatimu, hargailah aku sebagai suaminya, dan mulailah belajar mencintai istrimu sendiri." tutur Riziq.
Ustad Rasyid semakin menundukan wajahnya.
" Aang pasti berfikir kalau aku merebut Aisyah darimu kan? " tanya Riziq.
" Kenapa kau bicara seperti itu" tanya ustad Rasyid balik.
" Aku hanya sekedar mengingatkan Ang, Kau yang telah membuang dan mencampakan Aisyah, kau telah membuang berlian hanya untuk mendapatkan pecahan beling, aku bukan bermaksud menyebutkan istrimu seperti pecahan beling, aku hanya membandingkan Aisyah seperti berlian. Aku juga bukan memojokanmu, aku hanya ingin mengingatkanmu. Mulai sekarang kumohon lupakan Aisyah, karna Aisyah adalah istriku" tutur Riziq menjelaskan kembali.
" Aang sudah berusaha Ziq, namun rasanya sangat sulit. Tapi demi Allah tak ada niatku untuk merebut Aisyah darimu, apalagi mengusik rumah tangga mu dengan Aisyah. Biarkan nama Aisyah menghilang dengan sedirinya." jawab ustad Rasyid tegas.
" Kuharap ucapanmu itu dapat di pertanggung jawabkan, biarkan aku dan Aisyah hidup tanpa bayang bayang masalalumu dengan Aisyah"
__ADS_1