Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Zahra vs Yasmin.


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan ustad Rasyid tentang persoalan rumah tangganya Riziq dan Aisyah. Darah ustajah Yasmin seakan mendidih. Ia benar benar marah dan kesal. Ia tak suka kalau ada yang mengusik ketenangan rumah tangganya itu. Meskipun rumah tangganya tak seharmonis dan seromantis Aisyah dan Riziq, namun ia tak suka jika ada yang mengusik rumah tangganya itu.


Pagi pagi sekali ustajah Yasmin sudah bertamu kerumahnya umi Fadlun.


Tok tok tok


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab umi Fadlun sambil membuka pintu rumah.


" Ustajah Yasmin, mari masuk" pinta umi Fadlun lembut.


" Terima kasih umi, boleh saya bertemu dengan Zahra" ucap ustajah Yasmin.


" Tentu, mari masuk, Zahranya ada di dalam"


Perlahan ustajah Yasmin pun menemui Zahra.


" Zahra ada yang mau bertemu denganmu" ucap umi Fadlun.


" Siapa umi" tanya Zahra.


" Ustajah Yasmin"


Zahra pun terdiam, ia sama sekali tak mengenali siapa ustajah Yasmin.


" Boleh saya bicara berdua denganmu" pinta ustajah Yasmin. Meskipun tidak paham Zahra pun mengangguk.


Merekapun pergi kebelakang rumahnya umi Fadlun. Kini mereka sudah berdiri berdua disana.


" Siapa kamu?, dan ada hal apa kau ingin bertemu denganku?" tanya Zahra.


" Aku istrinya ustad Rasyid" jawab ustajah Yasmin tegas. Seketika Zahra terdiam sambil menatap ustajah Yasmin yang kini berdiri di sebelahnya.


" Oh jadi kau istrinya ustad Rasyid. Lalu untuk apa kau menemuiku?"

__ADS_1


" Kuperingatkan padamu, jangan mengusik rumah tanggaku" ucap ustajah Yasmin tegas. Zahra malah tersenyum.


" Apa maksudmu?"


" Kau jangan pura pura bodoh Zahra. Aku tau rencana jahatmu. Kau ingin merebut adik iparku dari tangannya Aisyah kan?"


" Lalu?"


" Aku tidak perduli dengan rencanamu, tapi kalau rencanamu itu mengusik rumah tanggaku, tentu saja kau akan berurusan denganku Zahra" ucap ustajah Yasmin yang kini sedikit emosi. Zahra malah tersenyum.


" Memangnya apa yang telah kulakukan padamu?" tanya Zahra.


" Kau pikir aku tidak tau rencanamu, bukankah kau ingin menyatukan Aisyah dengan suamiku kan?, itu artinya kau mengibarkan bendera perang denganku" ucap ustajah Yasmin tegas. Namun bukannya takut, Zahra malah tersenyum senyum.


" Kau pikir aku takut denganmu. Aku lebih takut kehilangan orang yang kucintai di banding harus takut berperang denganmu. Kau mengalah saja, pada kenyataannya suamimu mencintai Aisyah dan dia tidak mencintaimu. Sungguh kasihan" ucap Zahra sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Hingga membuat ustajah Yasmin menggeram kesal.


" Berani sekali kau bicara seperti itu padaku" ucap Yasmin penuh emosi.


" Bukankah kenyataannya seperti itu"


" Dengar ya Zahra, tak akan ku biarkan siapapun menghancurkan rumah tanggaku. Meskipun aku tau rencana pertamamu adalah menghancurkan rumah tangga Aisyah dan Riziq. Seharusnya aku yang kasihan padamu kau mencintai suami orang yang bahkan dia tidak pernah mencintaimu sedikitpun. Aku tau benar seberapa besar cintanya Riziq untuk Aisyah. Kupastikan kau akan kalah"


" Itu bukan cinta namanya, tapi ambisi. Kau berambisi pada adik iparku. Kuperingatkan lagi jangan ganggu rumah tanggaku. Rencana jahatmu itu bukan hanya akan menghancurkan satu rumah tangga, tapi kau akan menghancurkan 2 rumah tangga sekaligus. Rumah tanggaku dan rumah tangga Aisyah. Perempuan tak punya hati sepertimu tak cocok ada disini"


" Kau mengusirku?" tanya Zahra.


" Sebaiknya kau pergi sejauh mungkin" pinta Yasmin.


" Aku memang akan pergi sejauh mungkin, tapi sebelum itu, aku akan membawa adik iparmu terlebih dulu"


Ustajah Yasmin pun tertawa.


" Sepertinya Kau terlalu percaya diri ya. Hubunganku dengan Aisyah memang kurang baik, tapi kalau kau berani menyeret suamiku dalam rencanamu, tentu saja aku akan membela Aisyah." tutur ustajah Yasmin menegaskan.


"Aku tidak ada urusan denganmu, sebaiknya kau tidak ikut campur dengan rencanaku. Kalau tidak kau akan menyesal ustajah Yasmin" ucap Zahra sedikit mengancam.

__ADS_1


" Kau mengancamku?, kau pikir aku takut denganmu, aku sama sekali tidak takut. Aku pada Aisyah saja berani, apalagi pada gadis ingusan sepertimu. Kuperingatkan sekali lagi, kau buang rencana jahatmu itu, karna semua akan sia sia, asalamualaikum" ucap ustajah Yasmin sambil berlalu pergi. Mereka tidak tau kalau umi Fadlun mendengarkan perdebatan mereka.ia benar benar terkejut dan hampir tak percaya kalau Zahra bisa berbuat senekat itu.


* * * * * * * *


Sore pun tiba. Zahra benar benar tidak menyerah dengan usahanya untuk merebut Riziq dari tangannya Aisyah. Ia datang kerumahnya Riziq sambil membawa rantang makanan.


tok tok tok


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab Riziq sambil membuka pintu. Riziq terkejut melihat Zahra datang kerumahnya, saat itu Riziq sedang menggendong Adam.


" Zahra?, mau apa kau kemari" tanya Riziq tak suka. Zahra malah tersenyum.


" Aku membawa sup ayam kesukaannya kak Riziq" ucap Zahra sambil memperlihatkan rantang yang ia bawa. Zahra pun mendekati Riziq lalu mengelus ngelus pipinya Adam. Saat Aisyah melihat kejadian itu, darahnya seakan mendidih. Seketika ia langsung menghampiri mereka, Aisyah menarik kasar tangannya Zahra saat ia mengelus pipinya Adam. Aisyah juga merebut rantang itu dari tangannya Zahra dan langsung membuang rantang itu sehingga sup ayam yang ada di dalam rantang itu tumpah berceceran.


" Berani sekali kau menyentuh suami dan putraku. Kau pikir dirimu siapa" ucap Aisyah penuh emosi. Seketika Riziq menarik tangan Aisyah sedikit menjauh dari posisi Zahra.


" Istighfar uni, kau jangan terlalu terbawa emosi" ucap Riziq mengingatkan. Nafas Aisyah sudah naik turun, ia benar benar sangat marah pada Zahra. begitupun dengan Zahra ia pun marah saat melihat sup ayam buatannya tumpah karna di buang oleh Aisyah.


" Pergi kau dari sini" bentak Aisyah mengusir.


" Kalau aku tidak mau kau mau apa" jawab Zahra.


" Sebaiknya kau pulang Zahra. Tolong jangan ganggu kebahagiaanku" ucap Riziq yang kini terus menggenggam tangan Aisyah. Riziq takut kalau Aisyah hilang kendali ia akan berbuat nekat.


" Ka Riziq, waktuku disini tinggal satu hari lagi. Kau ikutlah bersamaku kekairo" pinta Zahra tanpa tau malu. Tiba tiba umi Fadlun datang.


" Zahra!!" bentak umi Fadlun yang ikut emosi terhadap keponakannya itu. Sejak umi Fadlun mendengar perdebatan Zahra dengan ustajah Yasmin, ia mulai tau kelakuannya Zahra. Tentu saja umi Fadlun tidak membenarkan sikap keponakannya itu. Aisyah dan Riziq pun terdiam saat umi Fadlun yang tiba tiba datang.


" Kita pulang" pinta umi Fadun pada Zahra. Zahra bisa merasakan kemarahannya umi Fadlun.


" Ayo pulang" pinta umi Fadlun kembali sambil menarik paksa tangannya Zahra. Dan akhirnya Zahra pun pulang bersama umi Fadlun. Aisyah sudah meneteskan air matanya sambil memeluk Riziq.


" Jangan menangis uni, dia sudah pergi" ucap Riziq sambil menggandeng Aisyah untuk istirahat di kamar bersama anak anaknya.

__ADS_1


Riziq pun membersihkan rantang dan sup ayam yang tumpah di lantai rumahnya.


" Ucapan ustad Usman memang benar, perempuan yang sedang cemburu lebih menakutkan dari srigala betina yang sedang menyusui" ucap Riziq sambil mengepel sup ayam yang tumpah itu.


__ADS_2