
Masih dengan Aisyah dan Zahira yang berlari kabur ke luar meminta perlindungan dari umi nya. Tiba tiba Riziq datang bersama ustad Soleh yang telah selesai menanam bibit sayuran di perkebunan.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Riziq dan ustad Soleh pun duduk bergabung.
" Sudah selesai menanam bibitnya?" tanya kiyai Husen.
" Sudah bi" jawab ustad Soleh.
Aisyah pun mengusap dahinya Riziq yang sedikit berkeringat.
" Mau minum dulu?" tanya Aisyah. Riziq menggelengkan kepalanya.
" Bi kita mau ke pasar kambing sore ini, abi mau ikut?, mau nyari kambing buat kurban" ucap ustad Soleh.
" Abi nanti saja, sepertinya besok abi akan berangkat bersama kiyai Mansyur, kebetulan besok beliau pulang dari luar kota. Benarkan umi Fadlun?" tanya kiyai Husen. Umi Fadlun pun mengangguk.
" Le aku ikut ya" pinta Aisyah.
" Di pasar kambing itu bau, aku takut uni tidak akan suka" jawab Riziq.
" Tapi aku ingin tau Le, lagi pula aku takut di sana ada perempuan cantik yang melirikmu" bisik Aisyah. Riziq pun mengeryitkan keningnya.
" Disana hanya ada kambing kambing jantan, apa uni cemburu pada seekor kambing?" tanya Riziq.
" Ya kalau kambingnya secantik selebriti holliwood, aku pasti cemburu" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum.
" Sakarepmu" jawab Riziq.
Kau mau ikut Aisyah?" tanya umi Salamah.
Aisyah pun mengangguk.
"Tidak apa apa, biar umi yang jaga Adam dan Hawa" ucap umi Salamah. Aisyah pun tersenyum. Dalam situasi apapun, umi Salamah selalu siap sedia menjaga cucu cucunya.
" Man kau mau ikut ke pasar kambing gak?" ucap ustad Soleh sambil berteriak.
" Ikuuuuut" jawab ustad Usman sambil berteriak juga. Ustad Usman pun duduk bergabung dengan mereka.
" Sebaiknya ka Usman jangan ikut, ka Usman kan baru saja sembuh setelah tertabrak busway, aku takut disana ka Usman kena seruduk kambing jantan" ucap Aisyah dengan sedikit nada mengejek.
" Jangan mendoakanku yang aneh aneh" gerutu ustad Usman.
" Hati hati loh om ustad, biasanya kambing betina sukanya sama laki laki tampan" ucap Zahira.
"Di sana tidak ada kambing betina" gerutu ustad Usman.
" Kau mau ikut Ira?" tanya Riziq.
Zahira pun menggelengkan kepalanya.
" Gak mau di sana BAUUU" jawab Zahira.
" Bagus kalau begitu, kalau kau ikut, kau hanya akan merepotkan saja" tutur Riziq. Setelah lama mengobrol, mereka pun memutuskan untuk berangkat ke pasar kambing.
" Ayo kita berangkat, takut nanti kesorean" pinta ustad Soleh. Ustad Usman dan Riziq pun mengangguk.
" Ira kalau kau tidak mau ikut, kau temani ustadzah Yasmin di rumahnya, karna Aang Rasyid akan ikut ke pasar" pinta Riziq. Zahira pun mengangguk. Mereka pun berjalan bersama menuju rumahnya ustad Azam lalu ke rumahnya ustad Rasyid untuk berangkat bersama. Mobil ustad Soleh ada di parkiran pesantren, jadi mereka harus berjalan terlebih dulu sampai ke parkiran.
Di jalan Aisyah sudah menggandeng Riziq. Sementara Zahira berjalan di hadapan mereka.
" Le, kau tau pertanyaanmu yang kau jadikan pr untuku dan Ira, itu adalah pertanyaan yang diberikan untuku yang kedua kalinya" tutur Aisyah.
" Memangnya siapa orang pertama yang memberimu pertanyaan seperti itu?" tanya Riziq. Aisyah sedikit ragu untuk mengatakannya.
" Siapa uni?, apa dia ustadzah Ulfi?" tanya Riziq kembali. Aisyah menggelengkan kepalanya.
" Lalu siapa?"
" Kakakmu" jawab Aisyah. Seketika Riziq langsung menghentikan langkahnya.
" Aang Rasyid?"
" Hmmm"
Mereka pun melanjutkan kembali langkahnya.
" Kau tau Le, waktu itu aku prustasi mendengar pertanyaan yang tak masuk akal itu, kufikir kakakmu itu memberiku pertanyaan matematika" ucap Aisyah. Riziq malah tersenyum.
" Dan kau tau jawabannya?"
" Aku hanya menjawab pertanyaan pertama dan pertanyaan terakhir" jawab Aisyah.
" Jadi kau mau meminta jawaban itu pada Aang Rasyid dan membuatku cemburu" ucap Riziq sambil menatap Aisyah.
__ADS_1
" Kalau kepepet mungkin saja" goda Aisyah. Seketika Riziq langsung memicingkan matanya.
" Jangan melihatku dengan tatapan menusuk, bukannya menakutkan kau malah terlihat menggemaskan" ucap Aisyah dengan sedikit tertawa.
" Kau jangan menggodaku di tengah jalan"
" Aku tidak menggodamu, siap siap saja besok aku akan meminta hadiahku padamu atas semua jawaban yang kuberikan nanti"
" Sepertinya kau sangat percaya diri sekali ya, hingga kau yakin jawabanmu itu akan benar semua" ucap Riziq.
" Tentu saja, aku punya ustadzah Ulfi, punya abi Husen dan punya ka Soleh yang kecerdasannya di atas rata rata, dan kau pun jangan lupa, aku punya kakak lulusan dari kairo, meskipun dia konyol dan menyebalkan, tapi otaknya lumayan encer" tutur Aisyah. Riziq pun tersenyum.
" Baiklah kutunggu jawabanmu nanti malam" ucap Riziq sambil berbisik.
" Baiklah, dan kau pun harus siap siap dengan hadiah yang kuminta" ucap Aisyah yang kini juga ikut tersenyum.
" Kalau aku tanya kakakmu gimana?" ucap Aisyah.
" Kau mau membuatku cemburu" ucap Riziq sambil menatap Aisyah dengan tatapan menusuk. Aisyah malah tertawa sambil mencubit pipinya Riziq.
" Kau sangat menggemaskan Le"
Mereka pun sampai di depan rumahnya ustad Azam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" ustad Azam dan Yusuf pun menghampiri mereka.
" Ayo kita berangkat"
Zahira nampak menganga melihat Yusuf yang ikut dengan rombongan. Ustad Usman yang melihat pun langsung menyipitkan matanya.
"Tutup mulutmu itu nanti dedemit pada masuk" ucap Ustad Usman. Seketika Zahira langsung menutup mulutnya.
" Ka Riziq aku ikut ke pasar ya" pinta Zahira sedikit merengek.
" Kau jangan macam macam ya Ira, tadi katanya kau tidak mau ikut, katanya disana bau, kenapa sekarang kau minta ikut" ucap Riziq heran.
" Ka Riziq tidak lihat kalau belahan jiwaku ikut" ucap Zahira sambil menatap Yusuf. Riziq langsung menggeram. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti di depan rumahnya ustad Rasyid. Melihat Aisyah ikut, ustadzah Yasmin pun minta ikut.
" Aku ikut ya mas"
" Jangan Yas, di sana tempatnya kurang baik untukmu, disana bau kambing" ucap ustad Rasyid.
" Ustadzah tidak perlu khawatir, aku akan jaga jarak dengan suamimu, udtadzah istirahat saja, seorang ibu hamil kurang baik pergi ke pasar kambing" pinta Aisyah sambil memelankan suaranya. Ustadzah Yasmin pun tersenyum dan mau menuruti ucapannya Aisyah.
" Iya saya percaya padamu, saya akan istirahat di rumah saja" ucap ustadzah Yasmin. Aisyah pun tersenyum.
" Ka, kenapa di mobil ustad Soleh berlima sementara mobil ka Rasyid bertiga. Aku mau pindah ke mobilnya ka Rasyid, biar imbang 4 orang 4 orang" tutur Zahira.
" Kau jangan macam macam ya Ira, kau jangan terang terangan mendekati Yusuf, nanti kusentil kau" ucap Riziq dengan nada mengancam. Aisyah sudah tertawa tawa tanpa suara, sementara Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
Mereka pun menjalankan mobil dengan santai yang di awali dengan bismilah. Di tengah jalan ustad Soleh melihat Dewi yang sedang berjalan di pinggir jalan. Ustad Soleh pun berhenti untuk menyapa Dewi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab Dewi yang awalnya sedikit bingung tiba tiba ada mobil berhenti di sebelahnya.
" Wi, kau mau kemana?" tanya Aisyah dengan membuka kaca mobil. Dewi pun tersenyum dan mengucap syukur.
" Alhamdulilah ya Allah, Aisyah aku kehabisan ongkos, jadi aku dengan terpaksa pulang ke pesantren dengan jalan kaki" tutur Dewi.
" Ya Allah kasihan sekali kamu Wi" ucap Aisyah.
" Bersyukur saja, dengan jalan kaki dari pasar ke pesantren, siapa tau itu akan membakar kalorimu dan membuat berat badanmu turun" tutur ustad Usman.
" Tapikan aku capek kalau harus berjalan terus, tapi ngomong ngomong kalian mau kemana?" tanya Dewi.
" Kita mau kepasar kambing, kau mau ikut?" tanya Aisyah. Dewi pun mengangguk.
" Ya aku ikut" ucap Dewi antusias.
" Ayo Wi, kebetulan bagasi masih kosong" ucap ustad Usman. Dewi langsung menggeram.
Dewi pun naik mobil itu dengan mengerucutkan bibir mungilnya, lalu duduk sendirian di kursi paling belakang.
Sesampainya di pasar kambing. Mereka pun turun dari mobil. Berpuluh puluh ekor kambing sudah terlihat di depan mata, bau khas kambing pun sudah tercium oleh indra penciuman. Zahira langsung menutup hidungnya.
" Bau badannya om ustad" ucap Zahira.
" Enak saja, kau mebandingkan bau badanku dengan seekor kambing" protes ustad Usman. Zahira sudah cekikikan.
" Ira kau tidak boleh begitu" ucap Riziq.
" Maaf ka aku hanya bercanda"
Saat Aisyah melangkahkan kakinya, ia merasa mual dengan bau kambing yang cukup menyengat.
__ADS_1
" Oo Oo Oo"
Aisyah muntah muntah. Tentu saja itu membuat Riziq panik dan khawatir.
" Uni kau kenapa?" tanya Riziq sambil mengusap ngusap punggungnya Aisyah.
" Aku mual mencium bau kambing Le. Jadi jangan berfikir aku sedang hamil karna muntah muntah" ucap Aisyah seolah tau fikiran suaminya. Riziq pun tersenyum. Awalnya ia mengira Aisyah hamil.
" Ya sudah kau di mobil saja uni, cuma sebentar ko" pinta Riziq. Aisyah pun mengangguk. Zahira sudah berjalan mendekati Yusuf. Seketika Riziq langsung menariknya.
" Kau jangan macam macam ya, kalau kau berani mendekati Yusuf, kau akan ku jadikan makanan kambing" ucap Riziq dengan nada mengancam.
" Emangnya aku rumput" gerutu Zahira. Mereka pun melihat lihat kambing kambing disana. Ustad Azam dan ustad Soleh sudah menawar kambing kambing tersebut. Harganya berfareasi.
" Wi kasian itu temanmu sendirian di kandang paling ujung" ucap ustad Usman. Dewi langsung menggeram saat melihat kandang paling ujung adalah kandang seekor sapi.
Ustad Soleh pun sudah membeli seekor sapi dan seekor kambing untuk di kurbankan. Riziq pun sudah membeli dua ekor kambing yang sudah memenuhi syarat. Zahira diam diam mendekati Yusuf yang sedang memberikan rumput pada salah satu kambing yang di beli ayahnya.
" Ka Yusuf tahun ini berkurban?" tanya Zahira.
" Belum Ira, aku belum mampu, kambing ini punya abiku, apa kau berkurban juga?" tanya Yusuf balik.
" Aku juga belum mampu, tapi aku siap berkorban untukmu" ucap Zahira sambil tersenyum senyum menggemaskan. Seketika itu pula Riziq langsung menarik tangan adiknya menjauh dari Yusuf.
" Kau ini genit sekali, lama lama ku ikat kau di kandang kambing" ucap Riziq.
"Kau menyebalkan" gerutu Zahira.
Ustad Usman pun mendekati Dewi.
" Wi, aku kan pernah bilang kalau kau ada saatnya ikut berjejer di tiang sambil memegang tali, tuh di ujung sana ada tiang kosong, kalau kau mau dengan senang hati aku akan mengikatmu" tutur ustad Usman. Dewi langsung menggeram.
" Jangan macam macam kau ustad, kau sudah merasakan serudukanku waktu itu hingga kau tersungkur dan masuk klinik. Jangan sampai sekarang kambing yang kau beli tiba tiba menyerudukmu" ucap Dewi.
" Kau jangan mendoakanku terseruduk kambing Wi" gerutu ustad Usman. Tiba tiba sarungnya di gigit seekor kambing jantan.
" Eh eh eh hus hus hus, pak kambingnya menggigit sarungku" teriak ustad Usman pada sang pemilik kambing. Zahira dan Dewi pun sudah cekikikan. Dengan sigap pemilik kambing pun langsung menjauhkan kambingnya dari ustad Usman.
" Maaf pak, kambingnya sedikit agresif" ucap si pemilik kambing hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.
" Agresif??, itukan kambing jantan, masa ia dia genit padaku, jeruk makan jeruk dong" ucap ustad Usman.
" Bapak jadi beli kambing yang ini?" tanya pemilik kambing.
" Jangan yang itu pak, cari saja yang lain, dia belum dibeli saja sudah berani menggigit sarungku, bagaimana kalau aku sudah membelinya. Lantas apalagi yang akan di gigitnya" tutur ustad Usman.
" Semua sudah dapat kambingnya?" tanya ustad Soleh.
" Sudah" jawabnya serempak.
" Aku belum ka" ucap ustad Usman.
" Kau mau pilih kambing yang gimana lagi Man, disini tidak ada kambing yang bersuara harimau" ucap ustad Soleh sedikit kesal. Dan akhirnya ustad Usman membeli kambing pilihan si bapak pemilik kambing.
" Pak semua kambing kambingnya bisa diantar langsung pada persantren kami?" tanya ustad Soleh pada para penjual penjual kambing itu.
" Bisa pak, kami siap mengantarkan kambing kambingnya"
Ustad Rasyid sudah menuntun kambing miliknya yang bulunya berwarna hitam pekat.
" Ustad Rasyid, wajahmu tampan tapi kenapa kau membeli kambing yang rupa dan warnanya item jelek begitu" ucap ustad Usman.
" Alhamdulilah, meskipun kambingnya item jelek begini, dia sudah memenuhi syarat" jawab ustad Rasyid.
" Om ustad, menurut om ustad Kambing yang tampan itu seperti apa?" tanya Zahira.
" Tentu saja yang wajahnya mulus, bulunya halus, bibirnya sexy, yang suaranya merdu dan kalau berjalan lunggak lenggok seperti model" tutur ustad Usman.
" Kalau yang mulus, halus, sexy dan merdu, berarti kambingnya mirip ka Nisa ya, ha ha ha" Zahira langsung berlari kabur. Seketika ustad Usman langsung menggeram.
" Bocah semprul, kau membandingkan kambing dengan istriku" gerutu ustad Usman.
Setelah selesai membeli kambing dan sapi, mereka pun naik mobil. Aisyah masih duduk setia di dalam mobil.
" Sudah dapat kambingnya Le?" tanya Aisyah.
" Sudah"
Riziq pun duduk di sebelah Aisyah begitupun dengan Zahira. Aisyah langsung menutup hidungnya.
" Kalian bau kambing ya" ucap Aisyah.
" Uni kau ini, tentu saja kita bau kambing, kita kan habis dari pasar kambing"
" Cuma Dewi saja yang tidak bau kambing" ucap ustad Usman. Dewi pun langsung tersenyum.
" Aku masih wangi ya" ucap Dewi.
__ADS_1
" Aku tidak bilang kau wangi, aku hanya bilang kau tidak bau kambing, soalnya tubuhmu baunya bau sapi" tutur ustad Usman meledek. Dewi langsung mengerucutkan bibirnya.
" Om ustadnya seruduk lagi aja ka Dewi"