
Pagi itu. Riziq sudah bersiap untuk pergi mengajar para santri. Tiba tiba Aisyah menghampirinya memakaikannya kopeah dan mengalungkan sorban ke lehernya, mungkin jika suaminya adalah seorang pekerja kantoran, maka ia akan memakaikan dasi pada suaminya, namun karna Riziq adalah seorang ustad, jadi Aisyah mengalungkan sorban di lehernya. Setelah itu, ia juga mengalungkan tangannya ke lehernya Riziq. Seketika itu pula Riziq tersenyum.
" Uni mau menggodaku?, apa yang semalam masih kurang ? " tanya Riziq sambil menatap Aisyah. Aisyah yang sadar akan arah pembicaraan suaminya itu, ia langsung menarik tangannya kembali.
" Kenapa uni melepaskannya?" tanya Riziq sambil memeluk pinggang Aisyah.
" Uni tidak mau menggodamu"
Riziq hanya tersenyum mendengar jawaban istrinya itu.
" Bukannya seorang istri itu harus bersikap mesra pada suaminya, tidak ada yang salah jika uni mau menggodaku" ucap Riziq sambil mempererat pelukannya pada Aisyah.
" Bukannya kau tidak suka dengan wanita penggoda" jawab Aisyah.
" Aku memang tidak suka wanita penggoda, tapi aku suka di goda istriku" ucap Riziq sambil mencium manis pipinya Aisyah. Seketika wajah Aisyah nampak memerah.
" Jangan nenggodaku seperti itu " ucap Aisyah sambil menundukan wajahnya.
" Kenapa memangnya, aku suka menggoda istriku, apa uni lebih suka kalau aku menggoda istri orang? "
Seketika wajah Aisyah berubah menjadi kesal.
" Awas ya kalau kau berani menggoda perempuan lain" ucap Aisyah sambil memicingkan matanya. Seketika itu pula Riziq tertawa melihat sikapnya Aisyah.
" Aku suka melihatmu cemburu, ya sudah kalau uni tidak suka aku menggoda perempuan lain, maka uni harus sering sering menggodaku, seperti apa yang sering ustad Usman katakan, bukankah dia sering menyuruhmu untuk menggodaku"
Seketika Aisyah langsung mengeryitkan keningnya.
" Jangan dengarkan ucapannya kak Usman, kalimat yang keluar dari mulutnya kebanyakan tidak pernah masuk akal"
" Ayo, kuberi kesempatan uni untuk menggodaku " ucap Riziq mempersilahkan.
" Apa?" tanya Aisyah tak mengerti.
__ADS_1
" Goda aku sekarang" ucap Riziq sambil mempererat pelukannya.
" Sebegitukah kau ingin aku menggodamu, bukankah itu sangat memalukan" gumam Aisyah dalam hati.
" Baiklah jika kau memaksa"
Perlahan Aisyah menempelkan kedua tangannya di dada suaminya itu, setelah itu, Aisyah membuka satu persatu kancing baju koko yang di kenakan Riziq. Sebenarnya Riziq ingin tertawa, namun ia coba untuk menahannya, Riziq ingin tau bagaimana cara Aisyah menggodanya.
" Kalau uni menggodaku dengan cara seperti itu. Butuh waktu yang lama untuk kita melakukannya, nanti kita bisa terlambat, jadi nanti malam saja jika kau mau menggodaku." ucap Riziq sambil berbisik ke telinganya Aisyah. Aisyah yang mendengarpun langsung tersenyum.
" Siapa juga yang mau melakukannya pagi pagi begini" ucap Aisyah sambil menjauhkan diri dari Riziq. Seketika Riziq langsung menarik tangan Aisyah.
" Kancing bajuku lepas semua, uni harus bertanggung jawab"
Seketika Aisyah tertawa melihat kancing bajunya Riziq yang terlepas karna hasil perbuatannya. Perlahan ia pun mengancingkan kembali baju suaminya itu.
" Ayo kita berangkat, aku antarkan uni dulu ke kantin" ucap Riziq. Aisyah pun mengangguk tersenyum.
Kini mereka sudah berjalan menuju kantinnya bi Ratna. Aisyah sudah menggandeng lengan suaminya itu. Di persimpangan jalan mereka bertemu dengan ustad Rasyid dan ustajah Yasmin yang akan pergi mengajar. Mereka berhenti dan saling berhadapan.
" Asalamualaikum"
Saat melihat Aisyah, seketika itu pula ustajah Yasmin langsung menggandeng lengan ustad Rasyid. Riziq yang sadar akan hal itu, ia pun langsung menggenggam erat tangannya Aisyah.
" Kamu mau kemana Ziq ?" tanya ustad Rasyid.
" Aku mau mengantarkan uni ke kantin" jawab Riziq, dengan masih menggenggam tangannya Aisyah.
" Ustad Riziq, apa penghasilanmu masih kurang hingga Aisyah masih harus bekerja di kantin?" tanya ustajah Yasmin dengan sedikit bernada sinis. Mendengar pertanyaan ustajah Yasmin seakan darah Riziq mendidih seketika. Aisyah hanya menundukan wajahnya, ada rasa tak suka di raut wajahnya saat mendengar pertanyaannya ustajah Yasmin.
Tiba tiba Riziq tersenyum, mencoba meredakan emosinya.
" Ini bukan soal penghasilan ustajah, Istriku sangat senang jika ia bisa membantu bibinya di kantin, ia juga bahagia bisa melihat para santri berkumpul di kantin setiap hari, tidak ada yang salah jika aku memberinya izin, tidak perduli berapapun penghasilan yang di dapatnya, karna hasil yang sempurnanya adalah kebahagiaan. Jadi tidak ada masalah bagiku jika ia masih ingin bekerja bersama bibinya. Yang terpenting bagiku adalah kebahagiaannya. Bukankah seorang suami harus mementingkan kebahagiaan istrinya terlebih dahulu, dibanding kebahagiaannya sendiri. Itukan yang harus dilakukan seorang suami. " ucap Riziq sambil menempelkan tangan Aisyah ke pipinya sambil menatap wajah Aisyah penuh cinta. Seketika Aisyah langsung tersenyum sambil ikut menatap suaminya.
__ADS_1
Riziq telah sukses membuat dua orang yang ada di hadapannya itu memalingkan wajah. Yang satu memalingkan wajah karna terbakar api cemburu, dan yang satu memalingkan wajah karna merasa iri tidak pernah di perlakukan istimewa oleh suaminya. Riziq tersenyum melihat ekpresi wajah dua orang yang ada di hadapannya itu. Ia langsung menggandeng tangan Aisyah untuk melanjutkan perjalanannya menuju kantin.
" Asalamualaikum" ucap Riziq dan Aisyah sambil berlalu pergi.
" Makasih ya Le sudah membelaku " ucap Aisyah sambil mempererat gandengan tangannya. Riziq hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah sampai di kantin. Mereka pun mengucap salam. Seketika Dewi dan bi Ratna menjawab salam mereka.
" Duh pengantin baru, mesra banget jalan aja pake gandengan " ucap Dewi menggoda.
" Bilang aja kamu iri" saut Aisyah. Riziq hanya tersenyum menanggapinya.
" Uni aku berangkat dulu"
Sebelum Riziq pergi, Aisyah pun mencium tangan suaminya itu.
" Hati hati Le" ucap Aisyah sambil tersenyum ketika melihat kepergiannya Riziq.
" Le ? " ucap Dewi dan bi Ratna sambil saling menatap. Aisyah hanya menundukan wajahnya.
"Kenapa kau memanggilnya seperti itu" tanya Dewi.
" Dia menyuruhku memanggilnya Ale, katanya itu panggilan sayangku padanya"
Seketika Dewi ingin tertawa, namun bi Ratna langsung membungkam mulutnya.
" Aku tau, kalian pasti ingin tertawa bukan ?, tertawa saja aku tidak melarangnya" ucap Aisyah sambil mengerucutkan bibirnya. Seketika itu pula Dewi langsung tertawa terbahak, sementara bi Ratna hanya tersenyum senyum saja.
" Wah suamimu manis sekali ya Aisyah, sampai kalian punya panggilan sayang segala, tapi tak bisa ku bayangkan, aku yang mendengarpun merasa geli, lalu bagai mana denganmu yang mengucapkannya ha ha ha" ucap Dewi sambil di bumbui tawa di akhir kalimatnya. Seketika bi Ratna langsung menepuk pundaknya Dewi.
" Ketawa saja sampai kau puas" ucap Aisyah sambil cemberut.
" Apa aku juga harus memanggilnya Ale? " tanya Dewi penasaran.
__ADS_1
" Tidak boleh, panggilan Ale hanya khusus untukku, cuma aku yang boleh memanggilnya seperti itu" ucap Aisyah tegas.
Dewi dan bi Ratna hanya mengangguk nganggukan kepalanya saja.