Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Menghutang waktu


__ADS_3

Kini Riziq berjalan sedikit tergesa gesa menuju rumahnya ustad Rasyid. Sesampainya di sana ia pun mengetuk pintu.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ustad Rasyid sudah tersenyum senyum, ia tau maksud adiknya datang kembali ke rumahnya setelah pergi dari rumahnya dengan tergesa gesa karna terbakar cemburu. Ustadzah Yasmin pun membukakan pintu.


" Mau ngambil Adam sama Hawa ya?" tanya ustadzah Yasmin, sebenarnya sedari tadi ia sudah ingin tertawa melihat kecemburuan Riziq yang menggelikan. Riziq hanya mengangguk. Di lihatnya Adam dan Hawa sedang di goda oleh ustad Rasyid. Riziq pun perlahan mendekatinya.


" Aku mau bawa pulang Adam dan Hawa" ucap Riziq. Ustad Rasyid pun mengangguk dan membiarkan Adam dan Hawa di bawa oleh ayahnya. Namun saat Riziq hendak keluar dari rumahnya, ustad Rasyid pun memanggilnya.


" Ziq"


Riziq langsung menengokan kepalanya.


" Kau cemburu padaku?" tanya ustad Rasyid.


" Menurutmu?"


" Aku melihat kecemburuan di matamu, bukankah dari dulu aku sering bilang padamu aku tidak pernah ada niat untuk merebut Aisyah kembali" tutur ustad Rasyid.


" Aku tau Ang, kau tidak akan pernah menghianatiku, tapi aku tidak akan pernah lupa kalau kau adalah cinta pertama istriku, jadi apa salahnya kalau aku sedikit merasa cemburu padamu, bukankah kata orang cinta pertama itu susah untuk di lupakan, ya meskipun aku percaya pada Aisyah kalau dia sudah melupakanmu saat kau memilih ustadzah Yasmin di banding dengannya. Aku hanya tidak ingin kedekatan kalian akan menumbuhkan rasa itu kembali" tutur Riziq.


"Bukankah kau yang sangat tau bagaimana hubunganku dulu dengan Aisyah, kami mempunyai rasa yang sama, namun harus berakhir sebelum dimulai. Jadi kau tidak perlu khawatir, kami sudah mempunyai kehidupan masing masing, dia sudah memilikimu dan aku sudah memiliki Yasmin. Tidak perlu merasa cemburu seperti itu" tutur ustad Rasyid.


" Hatiku tak sekuat baja Ang, dia bisa rapuh kapanpun. Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Di depan rumah Riziq bertatap muka dengan ustadzah Yasmin yang kini sedang menundukan kepalanya setelah mendengar pembicaraan suami dan adik iparnya.


" Maaf kalau kedatanganku mengusik ketenanganmu" ucap Riziq sambil berlalu. Ustadzah Yasmin pun menatap kepergian adik iparnya itu. Ada setitik rasa yang berdesir dalam hatinya.


------


Aisyah dan Zahira masih setia menunggu Riziq yang mengambil Adam dan Hawa di rumah kakaknya. Mereka pun melihat Riziq yang sedang mendorong kereta bayi Adam dan Hawa.


" Ira, kau mau ke rumahnya ka Aisyah dulu?" tanya Aisyah.


" Aku pulang ke asrama ka, sebentar lagi aku masuk pelajaran kedua"


" Sepertinya kau semakin rajin belajar ya Ira" ucap Aisyah.

__ADS_1


" Iya kak, aku sedang mencoba untuk memantaskan diri dengan ka Yusuf, diakan pintar, jadi aku juga harus pintar, biar kita sejajar" ucap Zahira.


" So iyeee sekali kau ini, tapi tidak apa apa yang penting selalu berfikir fositip" ucap Aisyah. Riziq pun berdehem setelah berada di hadapan mereka.


" Ayo kita pulang Le, Ira kau yakin tidak mau pulang dulu ke rumahnya ka Aisyah?"


Zahira menggelengkan kepalanya, lalu berbisik pada Aisyah.


" Sebenarnya aku sedikit takut dengan ka Riziq, emosinya sedang tak setabil, aku takut kena imbas" ucap Zahira. Setelah di persimpangan jalan Zahira pun pulang sendiri ke asrama. Kini Riziq dan Aisyah kembali melanjutkan perjalanan. Di lihatnya Riziq hanya diam saja sambil mendorong kereta bayi.


" Lee"


Aisyah sudah menggandeng lengan suaminya.


" Le kau marah padaku?" tanya Aisyah.


Riziq langsung menggelengkan kepalanya.


Sesampainya di rumah, Aisyah pun membuka pintu. Di lihatnya Adam dan Hawa tertidur. Aisyah pun dengan hati hati memindahkan Adam dan Hawa ke tempat tidurnya. Setelah menidurkan putra putrinya, Aisyah pun mencoba mendekati suaminya yang kini sedang duduk di ruang tamu. Sebenarnya ia sedikit takut, karna kalau suaminya sedang cemburu dia suka bertingkah di luar nalar.


" Le"


Aisyah mendekati Riziq dengan penuh hati hati. Riziq pun mendongakan kepalanya.


" Kenapa uni"


" Kapan aku marah padamu?" tanya Riziq balik. Aisyah pun tersenyum. Pada kenyataannya Riziq memang tidak bisa lama lama marah pada istrinya. Riziq pun perlahan menepuk kedua pahanya sambil menatap Aisyah.


" Sesuatu yang mencurigakan itu ketika si berondong memintaku untuk duduk di pangkuannya" batin Aisyah.


Aisyah nampak ragu untuk mendekatinya. Hingga Riziq menyipitkan matanya.


" Kau tau uni, neraka itu panas, lebih panas dari api yang sering kau pakai untuk memasak" ucap Riziq sambil menatap Aisyah. Seketika itu pula Aisyah langsung sigap duduk di pangkuan suaminya karna takut menjadi istri durhaka dan masuk neraka. Wajah Aisyah sudah nampak memerah karna malu ketika dia berada di pangkuan suaminya. Riziq sudah ingin tertawa namun ia tahan.


" Uni kau genit sekali, kursi masih banyak yang kosong, kenapa kau duduk di pangkuanku. Kau mau menggodaku ya" tutur Riziq dengan nada menggoda hingga Aisyah mengeryitkan keningnya.


" Kau yang menyuruhku untuk duduk di pangkuanmu" gerutu Aisyah sambil bangun dari pangkuannya Riziq. Seketika itu pula Riziq langsung menahan Aisyah hingga istrinya itu kembali duduk di pangkuannya.


" Aku suka kalau istriku itu genit padaku"


" Terus?"


Riziq pun kini memegang dagu Aisyah dan mendekatkannya ke wajahnya.


" Goda aku sekarang" pinta Riziq. Saat mendengar ucapan suaminya, Aisyah langsung mengeryitkan keningnya.

__ADS_1


"Kumat"


" Le, kau siang siang minta aku untuk menggodamu" gerutu Aisyah. Riziq malah tersenyum.


" Kau lupa uni, bukankah kemarin kau ceramah di hadapan ustad Usman. Kau bilang seorang suami harus berbangga pada istrinya yang rela di tiduri seumur hidupnya hanya untuk suaminya, kau istriku, kau yang rela dan ikhlas kalau tubuhmu kujamah kapan pun ku mau. Itukan isi dan pesan dari ceramahmu kemarin. Jadi pertanggung jawabkan setiap ucapanmu itu uni" tutur Riziq.


" Senjata makan tuan ini namanya" batin Aisyah.


" Tapikan Le ini masih siang, aku malu sama sinar matahari" ucap Aisyah yang kini sudah memerah wajahnya. Riziq malah tersenyum senyum.


" Apa hubungannya kau malu pada sinar matahari?" tanya Riziq heran.


" Nanti malam saja ya Le, nanti malamkan adalah malam jum'at, jadi waktunya paskan" ucap Aisyah sedikit membujuk.


" Kau fikir aku amnesia uni, nanti malam itu bukan malam jum'at, tapi malam kamis"


Aisyah sudah tersenyum malu.


" Aku lupa kalau dia ini bukanlah bocah ingusan yang mudah di bohongi" batin Aisyah.


" Eee, aku menghutang waktu ya Le, 9 jam saja. Setelah 9 jam lewat, kau boleh menagihnya, aku pasti membayarnya" tutur Aisyah.


" Membayar hutang apa?"


" Menggodamu" jawab Aisyah sambil menundukan kepalanya. Riziq sudah cekikikan tanpa suara.


" Aku baru dengar ada yang menghutang waktu untuk menghoda suaminya" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Hingga Aisyah mengerucutkan bibirnya dan langsung mencubit pinggangnya Riziq.


" Awww"


Riziq malah tertawa.


" Ha ha ha, baiklah nanti malam aku akan menagih hutang padamu, tapi ingat kau jangan pura pura tidur, nanti kupaksa kau"


" Kalau kau berani memaksaku, aku akan memberikan obat tidur padamu" ancam Aisyah. Riziq langsung tersenyum.


" Kalau kau berani memberikanku obat tidur, maka saat itu pula aku akan memberikan obat p* * * * * * * ng padamu. Kita lihat, saat hasrat dan nafsu birahimu sudah berada di ubun ubun, dan aku sudah terlelap karna pengaruh obat tidur, kau mau kelabakan nyari siapa" ucap Riziq sambil tertawa tawa.


" Leeeee"


Aisyah langsung mengambil bantal dan memukulkannya pada Riziq.


Bukkh bukh.


" Ha ha ha ha"

__ADS_1


Riziq tertawa puas melihat ekspresi wajah istrinya.


__ADS_2