
Pagi pagi sekali Aisyah sudah bersiap untuk pergi ke pasar bersama Dewi. Ia menulis beberapa barang yang akan di belinya di pasar. Tiba tiba Dewi datang sambil menggedong Syifa yang sedang menangis.
" Aisyah, sepertinya aku tidak bisa pergi ke pasar bersamamu, dari tadi Syifa rewel terus " ucap Dewi.
" Ya sudah tidak apa apa aku berangkat sendiri saja " jawab Aisyah sambil melipat kertas belanjaannya yang kini di masukan ke saku bajunya.
" Aku berangkat sekarang ya Asalamualaikum " Aisyah mengucap salam. Setelah itu ia pergi sambil berjalan kaki menuju gerbang depan pesantren.
Setelah menyebrang jalan, ia pun menaiki mobil angkot yang berarah ke pasar. Tiba tiba mobil angkotnya berhenti kembali, ada penumpang naik itu pikir Aisyah. Dan tiba tiba Aisyah di kejutkan dengan keberadaan Riziq yang kini sudah duduk di hadapannya, ternyata penumpang yang baru naik itu Riziq yang sengaja menunggu Aisyah di pinggir jalan karna ia ingin ikut pergi ke pasar.
" Riziq " ucap Aisyah heran.
" Asalamualaikum uni " ucap Riziq sambil tersenyum.
" Waalaikumsalam, kamu mau kemana Ziq, eh maksudnya ustad Riziq " tanya Aisyah sedikit kaku menyebutnya dengan sebutan ustad, Riziq malah tersenyum.
" Kalau uni canggung memanggilku ustad, kau boleh memanggilku nama saja "
" Mau kemana ? " tanya Aisyah kembali.
" Aku mau ikut uni kepasar " jawab Riziq santai.
" Memangnya kau tidak ada kelas, maksudku kau tidak mengajar ? " tanya Aisyah.
" Hari ini aku mengajar sore hari "
Aisyah pun mengangguk. Setelah sampai di pasar, mereka pun turun dan mulai memasuki pasar yang sudah ramai oleh pengunjung.
Riziq terus mengekor kemanapun Aisyah pergi, membantu memilih beberapa sayuran dan daging.
Kini Aisyah sedang asik memilih buah jeruk, memasukannya ke dalam pelastik untuk di timbang. Sementara Riziq berdiri di samping Aisyah sambil menghadap padanya, ia terus menatap Aisyah yang sedang asik memilih buah jeruk. Tiba tiba.
__ADS_1
" Un, Ana uhibbuki fillah " ucap Riziq sambil menatap Aisyah yang kini sedang berdiri di hadapannya. Sontak Aisyah terkejut mendengarnya, seketika itu pula ia menengokan wajahnya pada Riziq yang kini terus menatapnya tanpa berkedip, entah kenapa Aisyah merasa hati nya kini berdebar debar.
Aisyah menatap Riziq yang tak berkedip memandanginya.
" Aku mencintaimu karna Allah " ucap Riziq kembali tanpa memalingkan wajahnya ke arah lain, ia terus saja menatap Aisyah.
Deg.
Jantung Aisyah berdegup kencang kala ia mendengar kalimat yang di ucapkan Riziq padanya, ia merasa canggung sendiri. Sementara Riziq masih dengan posisi yang sama menatap Aisyah tanpa berkedip sekalipun, seperti mematung di tempat. Dan kenyataannya mereka malah saling pandang di keramaian pasar. Tiba tiba Aisyah di kagetkan oleh penjual jeruk yang sudah nenimbang jeruk pilihannya.
" Maaf mba ini jeruk pilihan mba, semuanya ada 1,5 kilo " ucap Penjual jeruk. Sontak Aisyah langsung menghadap pada penjual jeruk itu sambil mengambil jeruk yang sudah di timbang lalu membayarnya, saat Aisyah menghadap pada Riziq ternyata Riziq masih menatapnya sama seperti semula tanpa menggeser posisinya sama sekali.
Aisyah merasa malu dan canggung di tatap seperti itu di depan umum. Tiba tiba Aisyah langsung menepuk lengan Riziq agar tak menatapnya seperti itu.
" Riziq apaan sih, malu di liatin orang" ucap Aisyah sambil berjalan ke toko lain. Seketika Riziq langsung tersenyum melihat ekspresi wajahnya Aisyah, kini ia mengekor Aisyah kembali ke tempat penjual daging.
Setelah selesai berbelanja, Riziq mengajak Aisyah untuk minum es cendol langganannya dulu. Mereka duduk sambil menikmati es cendol tersebut, Aisyah menatap sorban yang di kenakan Riziq di pundaknya.
" Kau selalu memakai sorban itu ? " tanya Aisyah sambil menatap kembali sorban pemberiannya dulu.
aku pergi, sorban ini jadi saksi perjuanganku di kairo, lagipula sorban ini kenang kenangan dari uni, mana mungkin aku menggantinya " tutur Riziq, Aisyah yang mendengarpun tersenyum.
" Oh ia, kalau abi liat kita berdua di sini, abi marah ga ya ?, apa jangan jangan nanti kita di hukum " tanya Aisyah takut.
" Tentu saja kita akan di hukum, uni tau hukuman apa yang akan di berikannya pada kita ? " ucap Riziq sambil mengaduk es cendol yang kini sedang di pegangnya. Aisyah hanya menggelengkan kepalanya.
" Kiyai Husen pasti akan langsung menikahkan kita " ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Tentu saja wajah Aisyah kini memerah seperti tomat, ia merasa canggung dan malu mendengar ucapannya Riziq.
Setelah selesai. Mereka pun pergi ke terminal untuk menaiki angkot jurusan ke arah pesantren, setelah naik angkot, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, baru saja setengah perjalanan. Tiba tiba ada seorang ibu paruh baya menaiki angkot tersebut. Dan tiba tiba juga Aisyah di kagetkan karna mencium bau balsem yang ibu tadi pakai, sontak ia langsung menatap Riziq yang kini sudah menutup hidung dengan jari telunjuknya. Aisyah ingat kalau Riziq punya alergi dengan bau balsem.
" Stop pak " ucap Riziq sambil menarik lengan baju Aisyah untuk mengajaknya turun. Setelah Riziq membayar mobil itu, ia berjongkok di trotoar merasakan mual di perutnya. Aisyah merasa takut dan gelisah melihat Riziq seperti itu.
__ADS_1
" Ziq kamu tidak apa apa ? " tanya Aisyah cemas. Namun Riziq hanya diam saja tanpa menjawab Aisyah. Aisyah malah merasa semakin cemas, perlahan ia memijat mijat pundak dan lehernya Riziq mencoba mengobatinya dengan cara seperti itu.
Tiba tiba Riziq menatapnya dengan aneh, membuat Aisyah heran melihat tatapannya Riziq.
" Kenapa ? " tanya Aisyah heran. Riziq hanya menjawabnya melalui ekor matanya yang mengarah pada tangan Aisyah yang menempel di pundaknya Riziq. Aisyah yang sadar akan hal itu, ia langsung menarik tangannya dari pundaknya Riziq.
" Astaghfiullah maaf " ucap Aisyah lirih sambil menundukan wajahnya. Ia lupa kalau dirinya dan Riziq bukanlah mahrom, jadi tak boleh bersentuhan. Riziq hanya tersenyum melihat Aisyah yang merasa bersalah.
" Kau ingin uni belikan sesuatu ?, mau beli rujak, baso atau mie ayam ? " tanya Aisyah. Riziq hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya butuh istirahat sebentar " jawab Riziq.
Setelah merasa sedikit lebih baik, Riziq pun mengajak Aisyah pulang dengan menaiki becak, karna takut akan ada ibu ibu lagi yang memakai balsem.
Mereka duduk berdampingan, melewati jalan pintas menuju pesantren.
" Kenapa jalan kesini ? " tanya Aisyah heran.
" Ini jalan pintas, nanti kita akan cepat sampai di perkebunan " jawab Riziq.
Setelah sampai di ujung perkebunan, mereka pun turun dan berjalan jaki menelusuri perkebunan sayuran milik kiyai Husen. Aisyah jalan terlebih dulu, sementara Riziq berjalan di belakang Aisyah, jarak mereka sekitar 2 meter.
Riziq terus menatap Aisyah yang kini sedang berjalan di hadapannya.
" Kini masih ada jarak di antara kita, kuharap allah merido'i niatku, kuhalalkan engkau " gumam Riziq dalam hati sambil memandang Aisyah yang sedang berjalan di hadapannya.
Dari kejauhan nampak ustad Rasyid dan kiyai Husen sedang di perkebunan menatap Aisyah dan Riziq.
Tiba tiba Aisyah menghentikan langkahnya sambil menatap Riziq. Dan Riziq pun ikut menghentikan langkahnya.
" Jika kau yakin aku adalah tulang rusukmu, maka temuilah abi dan mang llham, insyaallah aku akan menerimamu apa adanya " ucap Aisyah sambil menatap Riziq. Seketika Riziq langsung tersenyum mendengar ucapannya Aisyah.
__ADS_1
" Asalamualaikum " ucap Aisyah sambil berlalu pergi meninggalkan Riziq di perkebunan.
" Waalaikumsalam " jawab Riziq yang kini masih berdiri di tempat.