Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Usman & Riziq


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Aisyah langsung mengantarkan Zahira ke asrama putri.


" Ka"


" Hmmm"


" Aku kasihan sama ka Yasmin, sepertinya dia kurang kasih sayang, sama sepertiku. Bedanya aku kurang kasih sayang dari orang tua, sementara dia kurang kasih sayang dari suaminya" tutur Zahira.


" Ira, kau ini sok tau" ucap Aisyah.


" Bukannya aku sok tau, tapi yang kulihat ka Rasyid itu jarang bercanda dengan ka Yasmin, tidak seperti dirimu dan kak Riziq. Selalu romantis, terkadang heboh berdua, terkadang juga tidak tau malu" ucap Zahira sedikit geli.


" Apa maksudmu tidak tau malu?" tanya Aisyah sambil memicingkan matanya. Zahira malah tertawa.


" Kak Riziq suka menggodamu seperti anak abg, dan kau suka malu malu kucing. Geli aku lihatnya" ucap Zahira. Aisyah sudah mengererucutkan bibirnya, pipinya pun memerah begitu saja.


" Kalau kau melihat adegan dewasa seperti itu kau harus tutup mata, atau paling tidak kau kabur" ucap Aisyah.


" Untuk apa aku kabur, bukankah itu bisa jadi pelajaran untuku, kalau aku menikah dengan ka Yusuf nanti, aku bisa mempraktekannya dengan ka Yusuf " ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Aisyah hanya menggeleng gelengkan kepalanya heran dengan adik iparnya itu yang genit seperti suaminya.


" Asal kamu tau saja Ira, dewasa sebelum waktunya itu kurang baik, jadi bersikaplah sesuai umurmu" ucap Aisyah tegas. Zahira pun mengangguk ngangguk saja.


" Yasudah ka Aisyah pulang ya, tapi kau harus ingat, besok ustadzah Yasmin pulang dari rumah sakit, dia membutuhkan istirahat pul, kamu maukan menemani ustadzah Yasmin di rumahnya, nanti ka Aisyah temani" ucap Aisyah.


" Hmmm" Zahira pun mengangguk.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Aisyah pun pergi ke rumahnya umi Salamah untuk mengambil Adam dan Hawa. Ditengah jalan ia bertemu dengan Riziq yang baru pulang mengajar.


" Asalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


" Uni kau sudah pulang?, bagaimana keadaannya ustadzah Yasmin?" tanya Riziq.


" Alhamdulilah sudah baikan, besok sudah boleh pulang"


" Alhamdulilah"


" Kita kerumah umi ya, jemput Adam sama Hawa" ucap Aisyah, Riziq pun mengangguk. Mereka pun berjalan bergandeng tangan seperti sepasang kekasih yang lagi kasmaran.


" Le"


" Hmm"


" Kau masih marah pada kakakmu?" tanya Aisyah. Riziq hanya diam saja.


" Le, kau jangan marah terus padanya, bukankah kau dengar sendiri penjelasannya waktu di rumah sakit tentang kertas puisi itu" ucap Aisyah.


"Aku tidak marah padamu" ucap Riziq.


" Aku tidak tanya kau marah padaku atau tidak, aku tanya apa kau marah pada kakakmu?" tanya Aisyah kembali.


" Tidaaaak" jawab Riziq. Aisyah pun tersenyum senyum mendengarnya.


" Kenapa kau tersenyum senyum mendengar aku tidak marah pada aang Rasyid?" ucap Riziq sambil memicingkan matanya.


" Kenapa mimik wajahmu seperti itu?, kau masih cemburu padanya?" tanya Aisyah sambil berjalan santai dengan menggandeng lengannya Riziq.


"Kau adalah cinta pertamanya, dan dia adalah cinta pertamamu, apa salahnya jika aku merasa cemburu" ucap Riziq.


" Tidak apa apa kalau kau cemburu, itu artinya kau sayang padaku" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum.


" Sepertinya kau senang sekali melihatku cemburu, atau kau sangat senang dengan hukuman yang sering kuberikan"


" Le, boleh aku tanya sesuatu?"


" Apa?"


" Apa aku itu cinta pertamamu?" tanya Aisyah penasaran.


" Apa kau butuh jawabanku setelah apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Riziq.


"Jadi aku adalah cinta pertamamu?, apa kau yakin di kairo dulu kau tidak pernah suka pada perempuan lain disana?"


" Kau meragukanku?"


" Kalau aku meragukanmu bagaimana?" tanya Aisyah sambil tersenyum senyum.


" Itu artinya kau mengibarkan bendera peperangan diatas ranjang" ucap Riziq sambil ikut tersenyum senyum. Aisyah hanya mengerucutkan bibirnya.


" Saat dia marah, saat dia cemburu saat dia senang tetap saja ujung ujungnya berakhir diatas ranjang" batin Aisyah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah umi Salamah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab umi Salamah sambil membuka pintu. Aisyah dan Riziq pun mencium tangannya umi Salamah.


" Anak anak tidak rewelkan mi?" tanya Aisyah.


" Tidak, mereka anteng dari tadi" jawab umi Salamah.


" Maaf ya umi kita selalu merepotkan" ucap Riziq.


" Tidak apa apa, umi sangat senang jika disuruh menjaga Adam dan Hawa" jawab umi Salamah. Tiba tiba Aisyah terdiam melihat Nisa sedang mengobati luka memar di keningnya ustad Usman akibat kejedot pintu saat di rumah sakit.


" Ka Usman kenapa?" tanya Aisyah.


" Katanya kejedot pintu waktu di rumah sakit, memangnya kamu tidak tau Aisyah, bukannya kamu juga ada disana" ucap Nisa.


" Aku tidak lihat keningnya ka Usman di cium pintu rumah sakit" ucap Aisyah.


" Jangan meledeku, cuma si slebor yang tau aku kejedot pintu" ucap ustad Usman.


" Uni si slebor itu siapa?" tanya Riziq. Aisyah sudah tersenyum getir, ia tidak mungkin bilang kalau si slebor itu adalah Zahira, takutnya itu akan membuat Riziq marah.


" Bukan siapa siapa Le, ayo kita pulang" ajak Aisyah. Aisyah sudah memicingkan matanya pada Ustad Usman.


Kini mereka pun pulang. Aisyah sudah menggendong Hawa dan Riziq menggendong Adam.


Sesampainya di rumah. Mereka pun ngobrol ngobrol di ruang tamu.


" Le, besok kan ustadzah Yasmin pulang dari rumah sakit, katanya karna kandungannya lemah, ustadzah Yasmin minta cuti mengajar sampai dia sembuh total" ucap Aisyah.


" Lalu?"


" Aku menawarkan diri untuk mengurus ustadzah Yasmin saat kondisinya belum stabil" ucap Aisyah.


" Apa maksud uni?" tanya Riziq sedikit tak suka.


" Kasian Le, dia tidak ada yang mengurusi, aku hanya membantu mengurusinya saat dia masih lemah"


" Tapi kau bukan pembantu, bukan juga perawat" ucap Riziq tak suka.


" Tapi Le, mungkin dengan cara ini aku dan ustadzah Yasmin bisa memperbaiki hubungan kami yang kurang baik ini, Ira juga siap membantu"


" Lalu aang?" tanya Riziq.


" Apa niatmu sebenarnya?" tanya Riziq.


" Aku ingin dekat dengan kakak iparmu itu, biar kita bisa merasakan layaknya sebuah keluarga"


" Ya sudah aku mengizinkanmu" ucap Riziq. Aisyah pun nampak sangat senang hingga ia repleks mencium pipinya Riziq.


" Makasih ya Le"


Riziq sudah memicingkan matanya pada Aisyah. Aisyah yang sadar akan hal itu, ia sudah bersiap siap untuk lari agar bisa menghindar dari serangan dadakan dari suaminya yang genit itu. Namun ternyata terlambat, seketika Riziq langsung menarik Aisyah hingga mendekap padanya.


" Leeee"


" Kau yang memancing nafsuku, jadi kau yang harus bertanggung jawab" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.


" Ikh, baru dicium pipi saja sudah terpancing nafsunya, bagaimana jika aku mencium bibirnya, habislah aku" batin Aisyah.


" Memangnya aku harus bertanggung jawab apa?, apa aku harus menggodamu?" tanya Aisyah.


" Tidak perlu, biar aku saja yang menggodamu" ucap Riziq sambil membuka kerudungnya Aisyah. Tiba tiba matanya membelalak melihat rambutnya Aisyah setelah ia melepas ikatan rambut istrinya itu.


" Astaghfirullah alazim, uni kenapa dengan rambutmu?" tanya Riziq. Aisyah sudah tersenyum senyum.


" Inikan hasil perbuatanmu Le, tadi pagi kau yang mengepang rambutku, ya beginilah hasilnya" ucap Aisyah.


" Uni kau benar benar seperti SUSANA di film jum'at keliwon" jawab Riziq setelah melihat rambutnya Aisyah yang mengembang bergelombang tak karuan setelah kepangannya dilepas. Seketika Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya kesal.


" Kau membandingkanku dengan kuntilanak" ucap Aisyah sambil menggeram kesal. Riziq sudah tertawa tawa dengan reaksi istrinya itu. Tiba tiba ada yang mengetuk pintu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab Aisyah dan Riziq. Seketika Aisyah bangun dari kursi untuk membuka pintu, karna marah pada Riziq, Aisyah sampai lupa memakai kembali kerudungnya. Saat ia membuka pintu,ternyata yang satang adalah ustad Usman. Seketika ustad Usman terkejut melihat rambutnya Aisyah, ia langsung menjerit histeris.


" HUWAAAAAAAA NYIBROROOOONG" teriak ustad Usman. Aisyah yang sadar kalau ia tak menggunakan kerudung, seketika ia langsung menutup pintu kembali membiarkan kakaknya berdiri di depan pintu. Aisyah langsung memakai kerudungnya. Riziq sudah tertawa tawa.


" Sebenarnya aku tidak rela ada yang melihat rambutmu selain diriku, tapi ya sudah terlanjur, semoga dosamu diampuni" ucap Riziq.


" Maafkan aku Le, aku tidak sadar tadi" ucap Aisyah menyesal.


" Uni tapi ngomong ngomong siapa yang berteriak ketakutan di luar" tanya Riziq penasaran.

__ADS_1


" Astaghfirullah, aku sampai lupa ada tamu, sepertinya ka Usman yang datang" ucap Aisyah. Mereka pun menemui ustad Usman.


Setelah membuka pintu, ia terdiam melihat ustad Usman sedang menutupi wajahnya karna tadi ia histeris ketakutan melihat Aisyah.


" Ka Usman, kau sedang apa?, dan kenapa kau menutupi wajahmu itu?" tanya Aisyah. Seketika ustad Usman langsung melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya itu.


" Tadi aku melihat nyibrorong di rumahmu Aisyah" ucap ustad Usman sedikit ngeri.


" Nyibrorong?, ah ka Usman mimpi ya?" ucap Aisyah. Riziq sudah tersenyum senyum geli melihatnya. Ustad Usman pun mengedarkan pandangan kedalam rumahnya Aisyah untuk mencari penampakan tadi.


" Ga adakan?" tanya Aisyah.


Ustad Usman pun terdiam.


"Apa mungkin aku berhalusinasi, ini pasti gara gara kepalaku kejedot pintu waktu di rumah sakit tadi, hingga otaku sedikit bergeser" batin ustad Usman.


" Ustad ada apa kemari?" tanya Riziq.


" Oh ia, hari libur minggu depan, pesantren mengadakan turnamen sepak bola di lapangan untuk para santri dan santriwati serta pengajar, peluaran juga boleh. Ini semata mata untuk mengisi hari libur kita" tutur ustad Usman.


" Sepak bola?"


" Hmmm"


" Kau ikutkan ustad Riziq?, tapi pertandingannya harus pakai sarung, dan perempuan pakai gamis" ucap ustad Usman. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya.


" Kau mau ikut Le?" tanya Aisyah. Riziq pun mengangguk.


" Tapi tandingnya pake sarung loh" ucap Aisyah mengingatkan.


" Masa tidak bisa, aku naik pohon saja bisa pake sarung" ucap ustad Usman.


" Aku juga bisa naik pohon pake sarung, dulukan aku pernah sempat naik pohon mangga pake sarung" ucap Riziq.


" Ia kau bisa naik pohon pake sarung, tapi kau tidak bisa turun kan?" ucap ustad Usman mengingatkan. Hingga Riziq tersenyum malu. Sementara Aisyah sudah tertawa tawa.


" Uniiii"


" Maaf Le, tapi kau yakin bisa ?, ini bukan soal naik pohon pake sarung, tapi ini soal pertandingan sepak bola, nanti kau akan berlari larian sambil menendang bola, apa kau yakin bisa" ucap Aisyah. Riziq pun kini sudah menatap Aisyah.


"Kau meragukanku uni?, apa kau lupa, aku saja bisa menaikimu sambil memakai sarung, masa aku cuma lari larian tidak bisa, kau jangan menyepelekan kemampuanku uni, bukankah kita sudah sering melakukan pertandingan sepak bola diatas ranjang, kau tidak lupakan uni kau yang selalu kalah diakhir pertandingan" ucap Riziq. Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya mendengar ucapannya Riziq.


" Heei jangan membicarakan kekalahanku, lapangan sama ranjang itu berbeda" ucap Aisyah.


" Astagfirullah alazim, bicara apa kalian, apa kalian tidak malu bicara seperti itu di hadapanku, jiwa lelakiku meronta ronta mendengar ucapan kalian" ucap ustad Usman. Riziq dan Aisyah lupa kalau di hadapan mereka ada sesosok manusia yang sedang berdiri dihadapan mereka.


" Astagfirullah alazim, aku sampai lupa kalau dihadapanku ini ada sesosok manusia yang sedang mendengarkan pembicaraanku" batin Riziq.


Riziq sudah tersenyum getir sementara Aisyah sudah tersenyum malu.


" Maaf ustad aku lupa kalau ada kau disini" ucap Riziq.


" Kau pikir aku siluman hingga tidak terlihat, Aisyah kau juga harus ikut bertanding biar kau juga punya kegiatan selain mengurus anak anak dan menggoda suamimu, setidaknya kau bisa berolahraga di lapangan bukan cuma berolahraga diatas ranjang, kau juga ajak temanmu itu yang sebesar bedcover untuk ikut bertanding, siapa tau saja dia bisa mengurangi berat badannya" ucap ustad Usman.


" Aku tidak bisa berlari larian pake gamis" ucap Aisyah.


" Heei uni, kau bertanding denganku saja bisa pake gamis, masa di lapangan kau tidak bisa" ucap Riziq mengingatkan.


" Astaghfirullah" ucap ustad Usman kembali. Aisyah yang mendengar ucapannya Riziq pun langsung mendorong suaminya masuk rumah dan menutup pintu.


" Kau masuk Le" ucap Aisyah sambil mendorong Riziq masuk kerumah.


" Uniiiii, kenapa kau mengurungku di dalam rumah" teriak Riziq. Aisyah pun mendorong ustad Usman untuk pergi dari rumahnya.


" Waalaikumsalam" ucap Aisyah pada ustad Usman, hingga kakakya itu mengeryitkan keningnya.


" Heeei Aisyah, aku belum mengucap salam kau sudah menjawab waalaikum salam, kau terang terangan sekali mengusirku" ucap ustad Usman.


" Baaay" ucap Aisyah sambil masuk rumah.


" Baaay juga Aisyah" ucap ustad Usman sedikit kesal.


" Astaghfirullah, aku jadi ikut ikutan si slebor bocah ingusan itu, Asalamualaikum Aisyah bukannya Baay" ucap ustad Usman sedikit berteriak. Lalu setelah itu ia langsung pergi.


Aisyah yang baru masuk pun terkejut karna Riziq sudah memeluknya dari belakang.


" Leee"


" Berani sekali kau mengurungku di dalam" ucap Riziq.


" Leee, ucapanmu itu bisa mengotori kesucian telinganya ka Usman"


" Alasan saja kau uni, kau pikir gelian mana mendengar ucapanku atau ucapan kakakmu itu?" ucap Riziq.


" Kalian sebelas dua belas, tidak ada bedanya, mmmmmmm"

__ADS_1


Belum saja selesai dengan ucapannya, Riziq sudah membungkam mulutnya Aisyah.


" Leeeeee, mmmmm"


__ADS_2