Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Mengikuti sunah


__ADS_3

Pagi pagi sekali sebelum azan subuh, Riziq sudah terbangun. Ia menatap Aisyah yang masih terlelap. ia tersenyum saat menatap istrinya itu. Tiba tiba ia meniup niup mata Aisyah.


" Uni, bangun" ucap Riziq sambil meniup matanya Aisyah. Namun Aisyah hanya mengerjap ngerjapkan matanya, ia pun tertidur kembali. Hingga Riziq tersenyum melihatnya. perlahan ia pun mencubit hidung Aisyah.


" Aisyah istrinya Muhammad Riziq bangun"


Perlahan Aisyah membuka matanya yang masih sayu.


" Sudah Azan subuh ya?" tanya Aisyah.


" Belum" jawab Riziq. mendengar jawaban suaminya, Aisyah malah memejamkan matanya kembali sambil memeluk Riziq.


" Uni bangun, katanya mau menjalankan cara berkasih sayang menurut sunah rasul" ucap Riziq.


" Kalau Ale ingin membantuku memasak nanti saja saat aku masak buat makan siang" jawab Aisyah dengan masih memejamkan matanya.


" Bukan memasak, tapi poin ke tiga" ucap Riziq.Seketika itu pula Aisyah langsung membulatkan matanya. Tekejut dengan ucapan Riziq yang mengajaknya mandi bersama. Seketika itu pula Aisyah menarik selimut hingga menutupi ujung kepalanya. Riziq yang melihat pun tesenyum.


" Jadi uni tidak mau?, Uni menolakku?, tidak mau masuk surga?" tanya Riziq bertubi tubi. Perlahan Aisyah membuka selimut yang menutupi wajahnya.


" Tapi kau janji tidak akan macam macam" ucap Aisyah tegas. Riziq malah tersenyum.


" Ayo bangun" ucap Riziq sambil membangunkan Aisyah.


" Kau mau mengikuti cara rasul berkasih sayang, apa hanya ingin menggodaku saja, Jelas jelas kau lelaki normal, apa kau masih bisa bersikap biasa ketika melihatku tanpa berpakaian" gumam Aisyah dalam hati. Mereka pun masuk ke dalam kamar mandi. Setelah hampir satu jam mereka pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Riziq memilih duduk di kursi. Sementara Aisyah hanya berdiri sambil mengeringkan rambutnya.


" Uni" panggil Riziq.


" Hmm"


" Duduklah" pinta Riziq. Riziq sudah menggeser duduknya kebelakang sambil bersila.


" Biar ku keringkan rambutmu" ucap Riziq sambil menepuk kursinya. Perlahan Aisyah duduk di hadapan Riziq di kursi yang sama. perlahan Riziq mulai mengeringkan rambut istrinya itu dengan menggosok gosokan handuk pada rambut Aisyah dengan lembut. Lalu menyisirnya dengan rapih.


" Lihat aku uni" perlahan Aisyah menghadap pada Riziq.


" Sudah rapih, tapi jangan di ikat dulu masih basah" ucap Riziq sambil mencium hidungnya Aisyah.


" Jangan macam macam, kita belum shalat subuh" ucap Aisyah mengingatkan. Riziq malah tersenyum.


" Bukankah aku sudah macam macam di dalam kamar mandi" goda Riziq. Seketika wajah Aisyah langsung memerah. Riziq yang melihatpun sedikit tertawa, ia sangat senang menggida istrinya.


"Hei kenapa wajah uni tiba tiba memerah" goda Riziq.

__ADS_1


" Jangan menggodaku terus" protes Aisyah. Perlahan Riziq memberikan sisirnya pada Aisyah.


" Uni sisir rambutku" pinta Riziq. Bukannya menyisir, Aisyah malah meniup rambut suaminya itu.


" Kenapa meniup rambutku, bukankah aku menyuruh uni menyisirnya" ucap Riziq.


" Rambutmu pendek, ditiup saja pasti sudah rapih" ucap Aisyah sambil tersenyum.


" Uni mau menggodaku?" Aisyah malah tertawa.


" Kau saja tadi membangunkanku dengan meniup mataku, apa bedanya kalau aku menyisir rambutmu dengan meniupnya"


Riziq malah tertawa mendengar ucapannya Aisyah.


" Jadi uni tidak mau menyisir rambutku" ucap Riziq sambil memeluk Aisyah. Dan akhirnya Aisyah menyisir rambut suaminya, tidak butuh waktu lama untuk merapihkan rambut Riziq yang pendek.


" Sudah beres" ucap Aisyah.


" Katakanlah sesuatu" pinta Riziq.


"Pasti dia minta di puji olehku, baiklah" gumam Aisyah.


" Waah, Muhammad Riziq alfikri kau terlihat tampan sekali ha ha. Aku sudah mengatakan sesuatu, sekarang bersiaplah pergi ke masjid nanti terlambat" ucap Aisyah sambil memakaikan kopeah dan sorban pada suaminya itu. Riziq hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


" Hati hati ya Le" ucap Aisyah. Namun Riziq malah berdiri mematung di hadapan Aisyah.


" Apalagi?" tanya Aisyah. Riziq pun menunjuk pipinya.


" Nanti ada yang lihat" ucap Aisyah sambil berbisik.


" Tidak ada siapa siapa."


Seketika itu Aisyah mencium kilat pipi suaminya itu. Riziq nampak tersenyum. Terasa manis mendapat ciuman dari istri sendiri meskipun waktunya begitu singkat.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


Setelah kepergian Riziq, Aisyah langsung masuk kembali kedalam rumah dan mengerjakan shalat subuh.


* * * * * * *


Seperti biasa sebelum pergi mengajar Riziq selalu mengantarkan Aisyah ke kantin terlebih dahulu. Saling bergandengan tangan menuju kantinnya bi Ratna. Sesampainya di kantin.

__ADS_1


" Makasih Le" ucap Aisyah. Setelah kepergian Riziq. Aisyah pun mendekati bi Ratna dan Dewi.


" Sudah siap untuk kepasar? " tanya Aisyah pada Dewi. Dewi pun mengangguk sambil memasukan daftar belanjaan ke saku bajunya.


" Aisyah, sepertinya sekarang kau nampak lebih gemukan " ucap bi Ratna.


" Masasih" ucap Aisyah sambil memperhatikan tubuhnya sendiri.


" Pola makanku masih seperti biasa, aku juga belum hamil" ucap Aisyah menegaskan.


" Kau mau menyaingi berat badanku ya Aisyah." ucap Dewi.


" Mungkin aku terlalu bahagia jadi berat badanku sedikit bertambah." tutur Aisyah sambil tersenyum senyum sendiri.


" Ya sudah kalian berangkat, nanti pasarnya keburu sepi" pinta bi Ratna.


Setelah mengucap salam, mereka pun pergi kepasar. Sesampainya di sana. Aisyah dan Dewi membeli semua barang yang di tulis oleh bi Ratna. Tib tiba Aisyah tersenyum melihat toko jeruk yang dulu ia beli bersama Riziq. Disitulah tempat dimana Riziq mengatakan cinta pada Aisyah.


"Ana uhibbuka filah, suamiku Muhammad Riziq Alfikri" gumam Aisyah dalam hati.


Aisyah sudah membeli barang daftaran yang di butuhkan bi Ratna, kini ia pun membeli bahan bahan makanan yang akan di masaknya bersama Riziq.


" Aisyah, banyak sekali kau membeli bahan makanan, dan sepertinya itu bukan belanjaannya bi Ratna?" tanya Dewi.


" Ia ini belanjaanku sendiri, kebetulan hari ini aku dan Riziq akan masak bersama" ucap Aisyah sambil memilih udang segar yang ada di hadapannya.


" Waah kalian sosweat sekali, sampai mau masak bareng segala, tidak bisa kubayangkan hasil masakan seorang ustad Riziq. Kalau tidak keasinan pasti kepedesan, haha, entah kenapa aku merasa Riziq malah akan menghancurkan masakanmu Aisyah." ucap Dewi sambil tertawa tawa. Membuat Aisyah mengerucutkan bibirnya.


Sebelum pulang, Aisyah pun membelikan es cendol untuk suaminya itu. Aisyah selalu ingat kalau Riziq sangat menyukai es cendol.


" Kamu mau beli es cendol ga Wi?" tanya Aisyah.


" Aku beli es cendolnya dua saja Aisyah" jawab Dewi.


" Suamimu suka es cendol juga?" tanya Aisyah.


" Dia tidak menyukai es cendol" jawab Dewi.


" Lalu kenapa kau beli dua, memang yang satunya untuk siapa?" tanya Aisyah penasaran.


" Tentu saja untukku semua, kalau hanya beli satu, perutku tidak akan merasa puas" jawab Dewi menjelaskan. Membuat Aisyah menggeleng gelengkan kepalanya heran.


" Banyak banyak istighfar kamu Wi"

__ADS_1


__ADS_2