
Setelah pulang dari kantin, Aisyah sudah beberes belanjaannya di dapur, ia menunggu kedatangan Riziq pulang untuk masak bersama. Aisyah sudah memakai celemek yang terpasang rapih di badannya. Tidak lama kemudian terdengar Riziq mengucap salam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Ia pun mencium tangan suaminya itu. Seketika Riziq langsung tersenyum. Tiba tiba Riziq terdiam melihat Aisyah berdiri sambil senyum senyum.
" Kenapa?" tanya Riziq penasaran.
" Tereeeeng" ucap Aisyah sambil memperlihatkan celemek berwarna kuning, sama seperti yang di kenakannya. Riziq hanya diam tak mengerti.
" Apa?" tanya Riziq kembali.
" Cara berkasih sayang menurut sunah rasul poin kelima" ucap Aisyah sambil memakaikan celemek pada Riziq. Aisyah pun sempat mengambil sorban dari bahunya Riziq, lalu menaruhnya di atas kursi. Seketika Aisyah tersenyum melihat suaminya memakai celemek berwarna kuning, celemek couple sama seperti yang di pakainya. Riziq tersenyum getir saat nelihat dirinya sudah memakai celemek yang sering di pakai perempuan di dapur ia merasa geli sendiri.
"Apa aku sudah terlihat seperti chef Juna?" tanya Riziq sambil menatap kain celemek itu. Seketika Aisyah langsung tertawa.
"Kau nampak manis sekali" ucap Aisyah sambil mencubit pipi suaminya itu. Aisyah mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
" Aku poto dulu ya" ucap Aisyah sambil mempoto Riziq.
" Uni kau jangan macam macam" ucap Riziq sedikit mengancam. Ia takut Aisyah akan mempublikasikan fotonya yang sedang mengenakan celemek. Aisyah tak henti hentinya tertawa. Setelah puas memotret suaminya, Aisyah pun menaruh kembali ponselnya ke atas meja.
" Sudah puas?" ucap Riziq sambil menatap Aisyah. Aisyah mengangguk tersenyum, lalu menggandeng Riziq ke dapur.
" Ayo kita masak" ajak Aisyah. Setelah masuk dapur, Riziq terdiam melihat bahan makanan di atas meja dapur.
" Banyak sekali uni, Apa kita akan memasak untuk satu minggu? " tanya Riziq. Aisyah malah tersenyum.
" Jangan banyak tanya, ayo kita mulai eksekusi" ucap Aisyah sambil memberikan pisau kecil pada Riziq.
" Mau ngiris apa pake pisau kecil seperti ini?" tanya Riziq.
" Kau iris bawang aja Le, terus sayur wortel dan kol nya di potong juga, uni akan memotong ikan dan daging dulu"
Meski tak begitu mengerti, Riziq pun mengiris bawang hingga matanya berair, setelah itu ia memotong wortel dan sayur kol untuk membuat sayur sup .
" Uni, kentangnya mau di potong ga?" tanya Riziq.
" Di potong aja, tapi jangan terlalu besar potongannya" ucap Aisyah yang kini sibuk membersihkan ikan dan beberapa daging yang sudah di potongnya, tanpa memperhatikan Riziq.
" Bawang daun nya potong juga ? " tanya Riziq kembali.
__ADS_1
" Hmmm" jawab Aisyah singkat.
" Selesai uni" ucap Riziq sambil tersenyum.
" Waah kau hebat Le" ucap Aisyah sambil memalikan badannya.
"Astaghfirullah" gumam Aisyah dalam hati.
Seketika matanya membulat sempurna melihat hasil mahakarya suaminya. Hatinya meringis, ingin sekali ia menjerit melihat hasil potongan sayuran yang di potong oleh Riziq.
glek.
Aisyah terdiam saat menatap hasil pekerjaan suaminya itu. yang nampak berantakan tak karuan. potongan wortel dan kentang yang sudah tidak jelas bentuknya.
" Ya Allah, sepertinya ada yang salah dengan mataku, kenapa potongan sayurnya hancur semua" gumam Aisyah dalam hati.
" Gimana hasil pekerjaanku, hebat kan uni" ucap Riziq dengan bangganya. Aisyah hanya tersenyum getir.
" Apa aku sudah sehebat chef Juna?" tanya Riziq. Aisyah hanya mengangguk nganggukan kepalanya saja.
"Sepertinya, mengajaknya memasak bersama adalah sebuah kesalahan" ucap Aisyah dalam hati yang mulai prustasi karna hasil pekerjaan Riziq yang di anggapnya berantakan, lebih tepatnya gagal.
Perlahan Aisyah menggandeng lengannya Riziq mendekati kursi dapur.
" Katanya uni ingin aku membantumu memasak" ucap Riziq.
" Kau sudah banyak membantu, lagiankan Ale baru pulang mengajar, pasti lelah, sebaiknya kau istirahat saja. Duduk manis dan perhatikan saja aku yang sedang memasak" ucap Aisyah sambil membereskan bahan makanannya kembali.
" Kalau kau masih membantuku, lama lama masakan ku hancur semua. Benar kata Dewi, mengajak Riziq memasak, hanya akan menghancurkan masakanku saja." gerutu Aisyah dalam hati.
Riziq pun melepas celemek yang di kenakannya. iapun mulai memperhatikan Aisyah yang kini sibuk memasak. Sesekali ia tersenyum melihat istrinya itu.
" Uni yakin tidak mau ku bantu" tanya Riziq.
" Kau duduk manis saja, biar aku yang selesaikan. Sebentar lagi juga selesai"
Setelah berkutat kurang lebih 1 jam. Akhirnya Aisyah selesai juga memasak. Semua hasil masakannya sudah tersedia di atas meja. Meskipun bentuknya tak karuan dan tak jelas tapi masakannya terasa enak. Aisyah sudah jago memasak dari dulu.
Aisyah dan Riziq sudah duduk di meja makan saling berhadapan. Seblum makan siang di mulai, Riziq pun memimpin do'a. Setelah berdo'a, Aisyah pun menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu meminumnya. Kini Riziq pun sudah menuangkan air putih ke dalam gelas, saat ia akan meminumnya, tiba tiba Aisyah menarik gelas itu dari tangannya Riziq.
" Kenapa? " tanya Riziq heran.
__ADS_1
" Cara berkasih sayang menurut sunah rasul poin keenam" ucap Aisyah sambil menyodorkan gelas yang sudah di pakainya pada Riziq.
" Nabi juga sering minum di bekas bibirnya Aisyah" ucap Aisyah sambil tersenyum. Kini Riziq pun ikut tersenyum.
" Sepertinya uni sangat menyukai Aisyah istrinya rasulullah" ucap Riziq sambil meminum di gelas bekas bibir istrinya itu. Aisyah nampak terlihat senang.
" Aku sangat menyukai Aisyah istrinya nabi, apa kau juga menyukainya? " tanya Aisyah.
" Tentu, aku juga menyukai Aisyah istrinya nabi, tapi aku lebih menyukai Aisyah istriku" ucap Riziq sambil menatap Aisyah. Dan yang di tatap pun ikut tersenyum.
" Ayo kita makan"pinta Aisyah. Mereka pun makan siang bersama. Seperti biasa, Riziq selalu lahap kalau memakan masakan istrinya.
" Masakannya enak? " tanya Aisyah.
" Hmmm" jawab Riziq singkat.
Setelah selesai makan siang, mereka pun ngobrol ngobrol di ruang tamu. Aisyah sudah bersandar di bahunya Riziq.
" Le, boleh aku tanya sesuatu? " tanya Aisyah.
" Mau tanya apa?"
" Banyak orang yang menanyakan persoalan anak padaku, mereka selalu bertanya kapan aku hamil" ucap Aisyah sambil menundukan kepalanya.
" Lalu? " tanya Riziq.
" Sampai saat ini aku belum hamil, kau tidak akan menikah lagi kan? " tanya Aisyah. Riziq malah tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.
" Bicara apa uni"
" Aku takut kau akan menikah lagi dengan alasan aku belum memberikan seorang anak, aku tidak mau di madu, demi Allah aku benci poligami" tutur Aisyah. Riziq hanya tersenyum saja.
" Kenapa uni membenci poligami? " tanya Riziq.
" Tentu saja tidak ada perempuan yang rela berbagi suami, apalagi rasa cemburuku begitu sangat besar, aku tidak mau sampai ada nama perempuan lain di hatimu" ucap Aisyah.
" Kau tidak perlu khawatir, bukankah uni tau kalau aku sangat membenci perempuan yang jadi istri kedua, lagipula usia pernikahan kita masih seumur jagung, tidak perlu terbenani soal anak, kita nikmati saja pernikahan kita, uni lihat bi Ratna dan mang llham, di usia pernikahannya yang sudah lebih dari 20 tahun mereka belum juga di karuniai seorang anak, namun rumah tangga mereka nampak bahagia. Lalu umi Fadlun dan kiyai Mansyur, hidup mereka bahagia meski tidak mempunyai seorang anak. Tanpa ada lagi pernikahan kedua" tutur Riziq menjelaskan.
Aisyah merasa tenang mendengar penjelasannya Riziq.
" Le, kau janji ya tidak akan menikah lagi, selagi aku masih ada"
__ADS_1
" Janji" ucap Riziq sambil mengaitkan jari kelingkingnya masing masing.
" Makasih ya Le" ucap Aisyah sambil memeluk pundaknya Riziq.