Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Berbagi.


__ADS_3

Sore hari Aisyah berjalan jalan bersama Adam dan Hawa. Mereka hanya bertiga, karna Riziq belum pulang mengajar. Aisyah sudah mendorong kereta bayi. Ia sudah janjian jalan bersama Dewi dan Syifa untuk berkeliling pesantren. Tidak lama Dewi pun datang bersama Syifa.


" Tidak sangka ya Aisyah, sekarang kita tidak lagi berdua tapi sekarang kita berlima" ucap Dewi.


" Hmm, seakan waktu begitu cepat berjalan" jawab Aisyah.


Tiba tiba langkah Aisyah terhenti saat ia melihat Zahra yang berdiri tidak jauh dari posisinya. Dewi pun terdiam saat melihat Zahra.


" Siapa perempuan itu, sepertinya aku belum pernah melihatnya" ucap Dewi sambil menatap Zahra.


" Dia fans nya Riziq" jawab Aisyah.


" Fans ?, maksudnya?" tanya Dewi tak mengerti.


" Ntahlah, namanya Zahra dia keponakannya umi Fadlun. Dia sangat mengidolakan suamiku"


" Maksudmu dia menyukai ustad Riziq. Hei kau harus hati hati Aisyah. ltu pelakor namanya." ucap Dewi menegaskan. Perlahan Zahra mendekati Aisyah dan Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam"


" Bisa kita bicara sebentar" pinta Zahra pada Aisyah. Seketika Aisyah langsung menatap Dewi. Dan Dewi pun menganggukan kepalanya. Perlahan ia mendorong kereta bayi Adam dan Hawa menjauh dari posisi mereka.


" Kau mau bicara apa Zahra?" tanya Aisyah.


" Dulu, saat pertama kali aku bertemu ka Riziq di kairo. Dia sangat baik padaku, aku sering bertemu dengannya di rumah umi Fadlun. entah sejak kapan aku mulai jatuh hati padanya. Sudah beberapa kali aku mengatakan kalau aku punya rasa padanya. Tapi dia selalu menolaku, dia bilang Aisyahku belum mendapatkan jodoh. Kupikir dia hanya menganggapmu sebagai kakaknya. Hampir setiap kali kami bertemu dia selalu bercerita tentangmu. Selalu nama Aisyah yang keluar dari mulutnya. Sesekali aku merasa cemburu karna kak Riziq lebih peduli padamu. Kupikir dia akan kembali lagi ke kairo saat dia pulang keindonesia. Tapi nyatanya tidak. Dia bilang mau pulang keindonesia, mau lihat seseorang yang dia sayangi. Kupikir dia ingin bertemu ustad Rasyid kakaknya. Tapi kenyataannya dia pulang ke lndonesia untuk bertemu denganmu dan yang lebih menyakitkannya dia malah menikahimu disini, kau tau, hatiku hancur kala itu." tutur Zahra. Aisyah hanya diam saja saat Zahra menceritakan tentang suaminya.

__ADS_1


" Maksudmu menceritakan semua itu padaku untuk apa?" tanya Aisyah.


" Aku sangat menyukai suamimu. Aku sudah berkali kali mengatakan perasaanku padanya. tapi dia malah menyuruhku untuk membuang perasaanku ini"


" Itu artinya suamiku tidak mencintaimu" ucap Aisyah tegas.


" Ya aku tau, tapi aku tidak akan menyerah"


" Jadi kau mau menghancurkan rumah tanggaku?" tanya Aisyah sambil menatap Zahra.


" Tidak, aku tidak akan menghancurkan rumah tanggamu. Asalkan kau mau berbagi suami denganku" ucap Zahra tegas. Seketika darah Aisyah seakan mendidih mendengar ucapannya Zahra yang di anggapnya tak masuk akal.


" Apa aku tidak salah dengar, kau memintaku untuk berbagi suami denganmu. Apa kau tidak tau malu. Oh jangan jangan kau sudah tidak laku lagi dengan laki laki singel. Kasihan sekali kamu Zahra, kamu cantik, berpendidikan banyak uang tapi sayang pikiranmu picik, hatimu kerdil, otakmu licik. Tapi maaf, aku memang bukan wanita berpendidikan, tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah membagi suamiku untuk perempuan lain." ucap Aisyah menegaskan.


" Kenapa tidak mau berbagi denganku" pertanyaan konyol keluar dari mulutnya Zahra.


" Tapi aku tidak akan menyerah meskipun kau tidak mau membagi suamimu untuku"


Aisyah pun mendengus kesal. hatinya sudah bergejolak dengan amarah yang tidak bisa terbendung lagi, namun ia mencoba untuk meredakan amarahnya, ia tak ingin terpancing dengan ucapannya Zahra.


" Sepertinya, otak, hati dan pikiranmu tertinggal di kairo ya, hingga kau kesini hanya membawa kepala dan jiwamu yang kosong." tegas Aisyah.


" Mungkin kau benar hati dan pikiranku sudah tertutup oleh rasa cintaku yang buta ini, apa pernah kau berpikir kau tidak pantas bersanding dengan kak Riziq"


" Maksudmu? " tanya Aisyah. Aisyah sudah menggeram kesal dalam hatinya. Zahra malah tersenyum mendengar pertanyaannya Aisyah.


" Umurmu lebih tua darinya, kau hanya pantas menjadi kakaknya. Oh ia aku sampai lupa, bukankah dulu kau ada hubungan dengan ustad Rasyid kakaknya Ka Riziq?, kenapa tiba tiba kau malah menikah dengan adiknya" tutur Zahra.

__ADS_1


" Jodoh, itu namanya jodoh " jawab Aisyah tegas.


" Lucu ya, padahal dulu kau hampir saja menikah dengan abi Mansyur, kenapa kau membatalkannya, bukankah kau lebih pantas menjadi istrinya kiyai Mansyur, tapi kenapa kau malah menikah dengan putra angkatnya"


" Karna Riziq begitu sangat mencintaiku, dia yang membuat kiyai Mansyur membatalkan pernikahan itu. Tidak perlu kau tanyakan seberapa besar cintanya Riziq untuku, karna kau tidak akan pernah bisa untuk menghitungnya" ucap Aisyah. Hingga Zahra mendengus kesal.


" Jadi jawabanmu masih samakah? " tanya Zahra.


" Maaf Zahra, jawabanku akan tetap sama. Aku tidak mau berbagi suami denganmu, hatiku tidak sekuat itu. Tidak ada perempuan yang rela berbagi suami dengan perempuan lain. Sebaiknya kau lupakan suamiku, biarkan kami hidup dengan bahagia, Asalamualaikum" ucap Aisyah sambil berlalu pergi.


"Kalau kau tidak mau membagi suamimu, maka aku akan merebutnya darimu".


Aisyah pun menemui Dewi dan anak anaknya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya. Mereka pun pergi kerumahnya bi Ratna.


Sesampainya di sana. Aisyah sudah mengerucutkan bibirnya.


" Hei Aisyah, Apa yang di bicarakan perempuan itu? " tanya Dewi kepo.


" Dia memintaku untuk berbagi suami dengannya"


Dewi yang mendengarpun langsung terkejut.


" Dia benar benar sudah gila. Masih muda tapi sudah jadi pelakor. Dia benar benar mengibarkan bendera perang denganmu Aisyah"


" Entah kenapa ya Wi aku sedikit takut, aku takut dia akan benar benar merebut Riziq dariku" ucap Aisyah.


" Hei Aisyah kau tidak perlu takut ada aku disini, aku siap membelamu Aisyah. Kau tau, seorang pelakor adalah musuh dari perempuan perempuan sedunia. Jadi setiap perempuan yang ada di dunia ini pasti membelamu. Dan aku siap berperang untukmu Aisyah. Berperang melawan pelakor. Asal kau tau, nyaliku lebih besar dari badanku" ucap Dewi tegas.

__ADS_1


Aisyah pun tersenyum mendengar pertuturan Dewi.


__ADS_2