
Pagi pagi buta Zahira sudah bangun, ia nampak semangat untuk jadi santriwati baru. Hari ini adalah hari pertama ia menjadi seorang santriwati, barang barangnya sudah ia siapkan untuk tinggal di asrama putri. Zahira melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Setelah di depan kamar mandi, ia mendengar suara gemericik air keran yang mengalir. Zahira langsung berfikir kalau di dalam kamar mandi sedang ada orang, kalau bukan Riziq pasti Aisyah, itu fikirnya. Dengan setia Zahira menunggu di depan pintu kamar mandi. Tidak lama kemudian pintu pun terbuka. Mata Zahira menyipit ketika melihat Riziq keluar kamar mandi bersama Aisyah. Aisyah dan Riziq pun terdiam saat melihat Zahira sedang berdiri di kamar mandi.
" Ira" panggil Aisyah.
" Kenapa Ka Aisyah dan ka Riziq keluar kamar mandinya barengan" tanya Zahira. Aisyah dan Riziq pun celingak celinguk kebingungan.
" Kau jangan berfikir macam macam Ira, tadi kita habis kerja bakti membersihkan kamar mandi" ucap Aisyah.
" Uni kau pandai berbohong, bukankah memang tadi kita sudah macam ma," belum saja Riziq melanjutkan ucapannya, Aisyah sudah membungkam mulutnya Riziq dengan tangan kanannya sambil memaksanya meninggalkan Zahira.
" Ira cepatlah kau mandi nanti sarapan sama sama" pinta Aisyah sambil berlalu.
" Katanya habis kerja bakti, tapi ko rambutnya pada basah semua" ucap Zahira polos.
Setelah bersiap dan sarapan, Zahira pun bergegas untuk pergi ke asrama putri di antar oleh Aisyah. Sesampainya disana. Aisyah dan Zahira pun mencari daftar namanya di setiap pintu kamar, satu kamar ada 4 orang. Setelah menemukan kamarnya, Zahira pun masuk kamar itu disana sudah ada 3 santriwati baru yang sedang beberes pakaian.
" Hai semua" sapa Zahira sambil tersenyum. Aisyah langsung menepuk pundaknya Zahira.
" Asalamualaikum bukan hai" Aisyah mengingatkan. Zahira pun tersenyum malu.
" Asalamualaikum" ucap Zahira kembali.
" Waalaikumsalam" jawab para santriwati itu. Setelah berkenalan, mereka mengobrol ngobrol sebentar. Setelah itu Aisyah mengajak Zahira untuk mencari kelas barunya. Zahira nampak menganga melihat deretan kelas yang berjajar rapih. Para santri lama dan santri baru sudah berkumpul dari mulai umur 4 tahun sampai 18 tahun.
" Ka kenapa disini hanya perempuan semua?" tanya Zahira heran.
" Inikan kelas khusus santriwati, jadi disini adanya perempuan semua" tutur Aisyah. Zahira pun cemberut.
" Kenapa kau cemberut?" tanya Aisyah.
" Itu artinya aku tidak bisa satu kelas dong sama Yusuf" ucap Zahira. Aisyah sudah menyipitkan matanya.
" Santri putra dan santri putri tidak boleh bergabung, jadi jangan berharap kau akan satu kelas dengan Yusuf" tutur Aisyah. Tiba tiba ustadzah Ulfi datang menghampiri.
" Asalamualaikum"
" Waalsikum salam"
Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Ini siapa Aisyah?" tanya ustadzah Ulfi saat melihat Zahira.
" Ini Zahira, adik ipar saya" jawab Aisyah. Ustadzah Ulfi pun mengangguk ngangguk, karna ia sudah dengar cerita tentang Zahira dari suaminya.
" Ira ini adalah ustadzah Ulfi, pengajar disini" ucap Aisyah pada Zahira.
" Hai, eh asalamualaikum tante ustadzah" ucap Zahira. Aisyah pun mencubit lengan adiknya itu.
" Jangan pake tante, cukup ustadzah saja" Aisyah memberitau. Ustadzah Ulfi sudah tersenyum senyum.
" Ustadzah Ulfi ini istrinya ustad Azam pengajar juga disini" ucap Aisyah.
__ADS_1
" Bukankah ustad Azam itu ayahnya Yusuf, itu artinya ustadzah Ulfi adalah ibunya Yusuf " batin Zahira. la sudah tersenyum senyum sendiri.
" Kau kenapa senyum senyum begitu?" tanya Aisyah. Perlahan Zahira berbisik pada Aisyah.
" Ustadzah Ulfi itu ibunya Yusuf ya, itu artinya dia adalah calon ibu mertuaku ya" bisik Zahira. Seketika Aisyah langsung memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam, disini tidak boleh genit genit" ucap Aisyah mengingatkan lagi. Zahira pun mengerucutkan bibirnya.
" Ya sudah lra kau bisa ikut ustadzah Ulfi untuk mencari kelas barumu, ka Aisyah mau pulang dulu, takut Adam dan Hawa rewel" ucap Aisyah. Zahira pun mengangguk.
" Ka Aisyah pulang ya, asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Di tengah perjalanan, Aisyah bertemu Dewi dan Syifa.
" Aisyah kau dari mana?" tanya Dewi.
" Habis mengantar Zahira, nanti aku titip dia ya"
Setelah berbasa basi Aisyah pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sesampainya di rumah. Aisyah pun menemui Riziq yang sedang menjaga anak anaknya.
" Le, mereka tidak rewelkan?" tanya Aisyah cemas. Dilihatnya Adam dan Hawa nampak anteng.
" Tidak uni, anak anak anteng dari tadi, yang rewel itu ayahnya" ucap Riziq sambil memeluk pinggangnya Aisyah. Aisyah sudah menyipitkan matanya.
" Mulai deh mulai" batin Aisyah penuh curiga.
" Hari ini aku hanya ingin melihat istriku saja" ucap Riziq dengan nada menggoda sambil mengeratkan pelukannya.
" Kau jangan macam macam Le"
"Bukankah aku sudah macam macam tadi di kamar mandi" ucap Riziq tak tau malu, hingga wajah Aisyah bersemu merah.
" Heei uni, kenapa pipimu bersemu merah seperti itu, apa kau memakai lipstik di pipimu?" goda Riziq.
" Kau jangan menggodaku Le, ini masih siang"
" Memangnya kenapa kalau aku menggodamu siang siang, kau kan istriku, jadi aku bebas menggodamu kapan saja" bisik Riziq pada telinganya Aisyah.
" Le, kau mau lipstiku menempel di bibirmu" ucap Aisyah mengancam.
" Ha ha ha, kau mengancamku uni?"
" Hmmm"
" Itu bukan ancaman uni, tapi kau mencoba menggodaku dengan cara menempelkan lipstikmu pada bibirku, itu artinya kau mau menempelkan bibirmu pada bibirku, bukankah itu terdengar sangat sensual uni" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.
Deg.
__ADS_1
Aisyah baru sadar dengan ucapannya, wajahnya bersemu merah kembali. Riziq pun tersenyum melihatnya, seketika ia langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Aisyah.
" Aku sudah terbiasa dengan lipstikmu itu, bahkan aku sudah hafal rasanya" bisik Riziq sambil mendekatkan kembali wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Tiba tiba,
" KA RIZIIIIIIIIIIIIIK"
teriak Zahira dari kejauhan. Seketika Riziq langsung melepaskan pelukannya, mereka pun bergegas keluar rumah setelah mendengar teriakan Zahira. Di lihatnya Zahira sedang berjalan setengah berlari sambil mengangkat sedikit rok gamisnya, bibirnya nampak cemberut sambil menggeram kesal, kerudungnya pun sudah miring kanan miring kiri, nampak terlihat Zahira sedang menahan emosi.
" Baru saja di anterin sudah pulang lagi" gumam Aisyah.
" Kau kenapa teriak teriak lra?" tanya Aisyah.
" Kenapa wajahmu nampak kusut seperti itu?" tanya Riziq.
" Kaaaaa, aku mau protes" ucap Zahira kesal.
" Protes?, protes apa lra?" tanya Riziq heran.
" Ka, masa aku harus satu kelas sama Syifa putrinya ka Dewi, apa ustad Soleh itu salah mencantumkan nama, ka Riziq tau Syifa itu umurnya belum genap 5 tahun, sementara aku sudah berumur 15 tahun, di kelas itu rata rata semuanya berumur 4 sampai 5 tahun, masa aku harus bergabung dengan mereka" protes Zahira. Riziq menanggapi protesnya Zahira, sementara Aisyah sudah tertawa tawa di balik punggungnya Riziq.
" Ustad Soleh tidak salah menempatkanmu di kelas itu, kecerdasanmu masih di bawah rata rata seperti Syifa yang baru mulai belajar, bahkan kau belum hafal huruf hija'iah, jadi tidak salah kalau kau di tempatkan di kelas nol besar" tutur Riziq.
" Tapi ka, aku malu, aku di kelas itu paling besar dan paling tinggi dari yang lain, aku seperti murid yang tidak naik kelas selama 10 tahun" gerutu Zahira.
Riziq pun sudah mulai tersenyum dengan celotehan Zahira. Dan Aisyah, jangan di tanya lagi, sedari tadi dia tak henti hentinya tertawa hingga matanya berair.
" Ira dengarkan ka Riziq, kalau kau langsung masuk kelas dengan yang seumuranmu, nanti kau akan pusing sendiri, belajar itu harus dari nol dulu baru merangkak naik, apalagi saat kau belajar kitab kau pasti belum mengerti kan, kau huruf hija'iah saja belum faham, ini bukan seperti pelajaran matematika atau fisika yang sudah kau pelajari waktu di sekolahmu dulu, jadi menurut ka Riziq kau terima saja belajar di kelas itu" tutur Riziq. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Pokonya aku tidak mau belajar di kelas itu, aku malu, mau di taruh dimana mukaku ini" gerutu Zahira. Riziq sudah mendengus kesal dengan keras kepalanya Zahira.
" Taruh saja mukamu dalam ember cucian kotor" ucap Riziq kesal. Aisyah sudah menepuk nepuk pundaknya Riziq.
" Ka aku mohon pindahkan kelasku ya, kalau perlu aku ingin satu kelas dengan Yusuf" pinta Zahira. Riziq sudah memicingkan matanya.
" Kalau kau ingin satu kelas dengan Yusuf, itu artinya kau harus menggunakan sarung dan kopeah" ucap Riziq kesal. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Dengar ya Ira, kau jangan genit genit, apalagi pada Yusuf, aku malu pada ustad Azam, nanti mukaku yang manis ini mau di taruh dimana" ucap Riziq. Seketika Zahira langsung menjawab dengan sedikit kesal.
" Taruh saja muka kak Riziq yang manis itu kedalam ember cucian kotor" Zahira membalikan kata katanya Riziq.
" Ha ha ha" Aisyah tertawa puas.
" UNIIIIII" Riziq menggeram, seketika Aisyah langsung menutup mulutnya.
" Maaf"
" Ayo kak Riziq antar lagi ke kelasmu, kau harus belajar semuanya dari awal, kalau kau sudah pintar, nanti kak Riziq akan merekomendasikanmu untuk loncat naik kelas"
Akhirnya Zahira pun mengangguk pasrah. Riziq mengantarkan adiknya itu pergi ke kelas yang sama dengan Syifa.
" Asalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
" Mereka memang sama sama menggemaskan" ucap Aisyah sambil menatap kepergian mereka.