
Masih dengan Zahira yang kini masih di rumahnya Aisyah. Zahira sedang asik makan sendirian di meja makan.
" Alhamdulilah kenyang" ucapnya bicara sendiri.
" Sudah selesai?" tanya Aisyah.
"Hmmm"
" Sekarang bersiaplah pergi ke rumahnya ustadzah Yasmin"
Perlahan Riziq mendekati mereka.
" Uni aku mau pergi dulu ada urusan, sebaiknya uni pergi ke rumahnya ustadzah Yasmin, nanti aku menyusul ke sana" ucap Riziq.
" Kau tidak cape Le, memangnya mau pergi kemana?" tanya Aisyah.
" Aku ada urusan sama para pengajar lain, tanggal 20 Agustus kan adalah tahun baru Islam 1 muharram1442 hijriah. Kita akan mengadakan pawai obor malam nanti. Kalau sudah selesai miting, pulangnya langsung ke rumahnya aang Rasyid" jawab Riziq.
" Hmmm"
" Ya sudah aku pergi dulu ya, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Sebelum pergi Aisyah pun mencium tangan suaminya. Dan saat Riziq mau mencium kening Aisyah, tiba tiba ia melirik pada Zahira.
" Merem" pinta Riziq pada adik perempuannya itu. Sambil mengerucutkan bibirnya Zahira menutup kedua matanya dengan tangannya. Riziq pun langsung mengecup kilat kening istrinya.
" Sudah belum?" tanya Zahira dengan masih menutup kedua matanya.
" Belum" jawab Riziq bohong.
Aisyah sudah memicingkan matanya.
" Ssstth"
Riziq sudah menempelkan telunjuknya pada bibirnya sendiri, mengisaratkan Aisyah untuk tidak memberitau Zahira kalau pamitannya sudah selesai. Riziq berjinjit pergi keluar dan meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan adiknya itu. Iya sengaja melakukan itu untuk menggoda adiknya yang menyebalkan itu.
" Sudah belum ka lama banget" gerutu Zahira.
" Kakakmu sudah sampai di aula" jawab Aisyah. Seketika Zahira lsngsung membuka kedua matanya. Di lihatnya Riziq memang sudah tidak ada di rumah.
" Ikh ka Riziq menyebalkan" gerutu Zahira kesal saat tau Riziq mengerjainya.
" Ayo"
Aisyah mengajak Zahira untuk pergi ke rumahnya ustadzah Yasmin.
" Eh, hadiah kamu mau di bawa gak?" tanya Aisyah.
" Buat ka Aisyah saja, aku belum membutuhkan alat alat rumah tangga"
Mereka pun berjalan menuju rumahnya ustadzah Yasmin, Aisyah sudah mendorong kereta bayinya.
Sesampainya di sana, Aisyah pun mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok..
" Asalamualaikum"
ceklek..
" Waalaikum salam" jawab umi Fatimah, uminya ustadzah Yasmin. Umi Fatimah terdiam saat menatap Aisyah, ia tau kalau Aisyah adalah perempuan yang pernah dicintai menantunya. Aisyah pun mencium tangan umi Fatimah, begitu pun dengan Zahira. Umi Fatimah pun tersenyum.
" Ayo masuk"
Zahira dan Aisyah pun masuk ke rumah. Di lihatnya ustadzah Yasmin sedang menyusui Anum. Ustadzah Yasmin pun tersenyum saat melihat Aisyah dengan Zahira.
" Eh dede Anom lagi mimi ya" ucap Zahira yang kini sedang memangku Hawa.
" Anum" ralat Aisyah.
" Oh iya lupa, Anum ya, tapikan cuma beda U sama O doang" ucap Zahira.
" Tapi artinya jadi beda Ira" ucap ustadzah Yasmin.
" He he iya ka maaf"
" Kalian mau minum apa?" tanya umi Fatimah.
" Tidak usah umi"
" Ira katanya kau menang banyak ya di perlombaan tadi?" tanya ustadzah Yasmin.
" Iya ka, aku juara satu terus, hebatkan" ucap Zahira bangga sendiri.
" Sombong" ucap Aisyah.
" Ka Aisyah ngiri" jawab Zahira.
Mereka pun mengobrol ngobrol. Umi Fatimah selalu memperhatikan Aisyah, iya selalu mengulas senyum saat menatap Aisyah, meskipun ia tau Aisyah adalah perempuan yang membuat putrinya gelisah, namun ia sama sekali tidak membenci Aisyah.
" Umi tinggal dulu ya, mau masak" pamit umi Fatimah.
" Biar aku bantu umi" ucap Aisyah menawarkan diri. Umi Fatimah pun tersenyum.
" Tidak usah Aisyah, kasian putra putrimu kalau di tinggal" ucap umi Fatimah. Aisyah pun mengangguk tersenyum. Umi Fatimah lalu pergi ke dapur.
Adam dan Hawa sedang rebutan mainan yang di bawanya dari rumah.
" Jangan rebutan sayang"ucap Aisyah sambil memberikan mainan baru pada Adam. Tidak lama kemudian mereka pun tertidur. Aisyah membaringkannya dikarpet bludru yang di kasih bantal terlebih dulu.
" Di tidurkan di kamar saja Aisyah" pinta ustadzah Yasmin.
" Tidak usah ustadzah, di sini saja, biar Ira yang menjaga mereka, aku mau membantu umi Fatimah masak di dapur"
__ADS_1
Aisyah pun pergi ke dapur untuk membantu memasak.
" Aku bantu ya umi" ucap Aisyah. Umi Fatimah pun tersenyum.
" Siapa yang jagain putra putrimu Aisyah?"
" Adam sama Hawa tidur mi, mereka lagi di jagain sama Ira" jawab Aisyah. Aisyah pun ikut membantu memasak. Umi Fatimah selalu memperhatikan Aisyah. Di perhatikan seperti itu, Aisyah berasa canggung sendiri.
" Pantas saja Yasmin selalu merasa cemburu pada Aisyah. Selain cantik dan baik, Aisyah termasuk kriteria istri idaman" batin umi Fatimah.
" Kenapa umi menatapku seperti itu?" tanya Aisyah heran. Umi Fatimah langsung tersenyum lalu memegang tangannya Aisyah.
" Maafkan Yasmin ya, dulu sikapnya padamu kurang baik, bahkan Yasmin pernah ingin mengusirmu dari pesantren ini" tutur umi Fatimah.
" Tidak apa apa umi, setiap orang punya masa lalu, yang penting sekarang ustadzah Yasmin sudah berubah"
Umi Fatimah pun tersenyum.
" Ini salah umi, umi terlalu memanjakan Yas, semua keinginannya selalu umi turuti, termasuk keinginannya untuk menikah dengan ustad Rasyid. Umi tidak tau kalau saat itu kau dan ustad Rasyid ada hati. Kalau umi tau sebelumnya hubunganmu dengan ustad Rasyid, mungkin umi dan kiyai Samsul akan mempertimbangkannya" tutur umi Salamah. Aisyah malah tersenyum.
" Umi tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku dan ustad Rasyid di pisahkan karna memang kami tidak berjodoh, Allah memisahkan kami tentu saja itu bukan karna tidak ada maksud, Allah ingin mendekatkanku dengan jodohku, yaitu adiknya. Ustad Riziq, dialah jodoh yang Allah kirim untuku" tutur Aisyah.
Umi Fatimah tersenyum kembali sambil membelai lembut pipinya Aisyah.
" Beruntung sekali ustad Riziq mempunyai istri sepertimu"
Setelah selesai memasak, Aisyah dan umi Fatimah pun menata hasil masakannya di atas meja makan.
" Waah sepertinya masakannya enak ya, kau pandai sekali memasak" puji umi Fatimah. Aisyah hanya tersenyum.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Le kau sudah pulang?" tanya Aisyah sambil mencium tangan suaminya itu.
" Sudah uni, aku pulang sama aang Rasyid"
jawab Riziq. Lalu ia pun mencium tangannya umi Fatimah.
" Kau sangat beruntung ustad Riziq mendapatkan istri seperti Aisyah, selain cantik dia juga pintar masak" puji umi Fatimah kembali. Riziq pun tersenyum.
" Kau pasti betah ya makan di rumah" ucap umi Fatimah kembali.
" Betah umi" jawab Riziq.
Riziq pun berbisik pada Aisyah.
" Umi Fatimah tidak tau aku lebih betah di dalam kamar bersamamu" bisik Riziq dengan nada sensual menggoda, Aisyah yang mendengar pun langsung memicingkan matanya, dan memberikan cubitan kecil di pinggang suaminya.
" Aww"
Riziq sedikit menjerit. Hingga umi Fatimah menatapnya.
" Nginjek semut umi" jawab Riziq sambil mengusap ngusap pinggangnya.
" Kakinya yang nginjek semut ko yang di usap usap pinggangnya?" tanya umi Fatimah heran. Aisyah sudah tersenyum getir.
" Rasa ngilunya menjalar ke pinggang umi" jawab Riziq asal. Umi Fatimah pun tersenyum. Mereka pun pergi ke tengah rumah untuk menemui yang lain. Dilihatnya ustad Rasyid sedang menggendong Anum.
" Ini bocah dari tadi tidur mulu" gerutu Riziq saat melihat Zahira sedang tertidur di sebelahnya Adam dan Hawa.
" Biarkan saja Le, mungkin Ira kecapean"
" Kalian mau pada makan dulu tidak ?" tanya umi Fatimah.
" Nanti saja umi"
Tiba tiba Aisyah mencium bau minyak tanah di bajunya Riziq.
" Le, bajumu ko bau minyak tanah?" tanya Aisyah. Riziq pun langsung mendekatkan hidungnya ke bajunya sendiri, iya juga dapat mencium bau minyak tanah.
" Aku habis bikin obor uni, nantikan kita mau ada acara pawai obor buat merayakan tahun baru Islam"
" Aku boleh ikut kan Le?"
" Nanti anak anak sama siapa?" tanya Riziq.
Aisyah pun terdiam.
* * * * * *
Malam tahun baru Islam pun tiba. Di pesantren itu pun mengadakan pawai obor seperti biasa untuk memperingati tahun baru Islam. Semua santri putra dan santri putri sudah berjejer rapi di jalan sambil memegangi obor di tangan masing masing. Aisyah pun datang bersama Riziq sambil memegang obor. Umi Salamah sengaja menawarkan diri untuk menjaga Adam dan Hawa, tentu saja Aisyah tidak menyianyiakan kesempatan. Selain ingin merayakan tahun baru Islam, Aisyah pun ingin menjaga mata suaminya agar tidak jelalatan, karna pawai obor akan berkeliling menyusuri jalanan pesantren dan perkampungan sekitar.
" Uni kau berjejer dengan para santri putri ya" pinta Riziq.
" Tidak mau, kau harus ada di sebelahku" protes Aisyah sambil menggandeng lengannya Riziq.
" Cemburunya kumat" batin Riziq.
" Aku harus mengawasi para santri agar tertib di jalan"
Aisyah mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya. Tiba tiba ustad Uman dan ustad Soleh datang mendekati.
" Asalamualaikum"
"Waalaikum salam"
" Aisyah kau ikut?, anak anak sama siapa?" tanya ustad Soleh.
" Sama umi ka" jawab Aisyah.
" Ka, kau seperti tidak tau Aisyah saja, dia tidak akan membiarkan suaminya malam malam berkeliaran di luar, apa lagi kita akan menyusuri jalan perkampungan, pasti Aisyah takut kalau suaminya melirik janda" tutur ustad Usman dengan nada mengejek. Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya.
" Aku kan harus waspada takut suamiku yang manis ini ketemu wewe gombel bersolek" jawab Aisyah.
__ADS_1
" Sakarepmu Aisyah"
Tiba tiba datanglah Dewi dan Zahira. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kenapa kau cemberut seperti itu Ira?" tanya ustad Usman.
" Om ustad tidak lihat, obor yang ku bawa lebih besar dari badanku, aku susah dan berat bawanya" gerutu Zahira. Mereka semua malah tersenyum.
" Kalian tidak lihat punyanya ka Dewi kecil. Ka Dewi yang badannya super besar saja di kasih obor yang kecil, sementara aku yang badannya kecil di kasih obor yang super besar" protes Zahira kesal.
" Tidak usah menyebut badanku super" gerutu Dewi.
" Siapa yang memberimu obor?" tanya ustad Usman.
" Mang Ilham yang membagikan"
" Suruh mang Ilham periksa ke dokter mata, sepertinya ada kelainan di matanya, mang Ilham melihat badanmu ketuker dengan badannya Dewi" tutur ustad Usman hingga Aisyah menepuk pundak kakaknya itu.
" Mang Ilham itu mamangku ya, dan dia tidak punya kelainan mata" protes Aisyah.
" Wi kau mengalah sedikit kenapa sama Zahira" pinta ustad Usman.
" Apa maksudmu ustad?" tanya Dewi.
" Tukeran obornya sama Zahira, kau tidak pantas memegang obor kecil seperti itu, tidak seimbang dengan postur tubuhmu"
Dewi langsung mengerucutkan bibirnya dan menukarkan obornya dengan obor Zahira.
" Makasih ka Dewi cantik" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Giliran seperti ini saja baru kau bilang cantik" gerutu Dewi.
" He he he"
" Ustad, sepertinya aku risih bawa obor besar begini, boleh aku tuker sama yang lain yang lebih kecil" ucap Dewi.
" Kalau kau ingin obor yang lebih kecil, kau beli lilin saja di warung" ustad Usman memberi saran hingga Dewi cemberut.
" Sudah sudah, kalian ini ribut melulu" ucap ustad Soleh.
Pawai obor pun dimulai. Semua sudah berjalan beriringan tanpa menghambat jalan. Aisyah berjalan di sebelahnya Zahira, sementara Dewi berjalan bersama Syifa di belakang Aisyah dan Zahira.
" Ibu, apinya kecil" ucap Syifa. Dewi melihat obor yang di pegang putrinya seperti mau padam.
" Di balik sayang obornya biar minyak tanahnya naik ke atas" ucap Dewi. Saat Dewi membalikan obor itu, tiba tiba ia tersandung hingga menubruk Zahira.
BRUUUGH.
" Aduh" Dewi dan Zahira meringis kesakitan. Di lihatnya kerudung Zahira ketumpahan minyak tanah yang di pegang Dewi.
" Ya Allah Ira maaf, kerudungmu ke tumpahan minyak tanah" ucap Dewi merasa bersalah.
" Yaah ka, gimana ini kerudungku bau minyak tanah, basah lagi" ucap Zahira.
" Maaf ya Ira"
" Aku tidak mungkin pulang untuk mengganti kerudung, ini sudah setengah perjalanan, aku juga tidak mungkin melepas kerudungku" ucap Zahira bingung.
" Kau tidak apa apa memakai kerudung basah oleh minyak tanah sampai acara ini selesai?" tanya Dewi.
" Jangan, itu sangat bahaya, di sini banyak api, kerudung Ira bisa saja kebakaran" ucap Aisyah. Mereka pun memikirkan caranya, tiba tiba Yusuf mendekati mereka.
" Ada apa kak?" tanya Yusuf. Zahira langsung tersenyum.
" Kerudung Ira ketumpahan minyak tanah, sangat bahaya jika tidak langsung di ganti, tapi kami tidak bawa kerudung cadangan" jawab Aisyah. Yusuf pun menarik sorban yang ada di pundaknya dan di memberikannya pada Zahira.
" Gantilah kerudungmu dengan sorbanku" ucap Yusuf. Zahira pun tersenyum lalu menerima sorban itu.
" Terima kasih ka" ucap Zahira. Yusuf pun tersenyum lalu pergi menemui yang lain.
" Aaah terima kasih ka Dewi" ucap Zahira dengan masih menatap Yusuf yang kini sudah berjalan jauh.
" Kenapa kau berterima kasih padaku?" tanya Dewi heran.
" Karna kau telah menumpahkan minyak tanah ke kerudungku, jadi ka Yusuf memberikan sorbannya padaku"
" Dia bukan memberikan tapi meminjamkan"
" Sama saja"
" Ingat ya Ira, jaga sikap" Aisyah memperingati.
" Ita iya aku ingat"
Di dalam kegelapan Zahira pun mengganti kerudungnya dengan sorbannya Yusuf, untung Aisyah membawa peniti cadangan.
Mereka pun mengikuti pawai obor kembali. Zahira berjalan sambil tersenyum senyum sambil memegangi sorbannya Yusuf.
"Minyak tanah pembawa berkah. Hi hi"
-
-
-
-
* * SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1442 HIJRIAH * *. Semoga amal ibadah selama satu tahun ini di terima dan di bukakan pintu amal yang baru.
" Amiin"
__ADS_1