
Kini Aisyah sedang melamun di teras depan rumahnya. ia terus kepikiran dengan tawarannya kiyai Samsul, ia tidak mau pergi dari pesantren.
" Ya Allah mudah mudahan suamiku tidak akan tergoda dengan fasilitas mewah yang di tawarkan kiyai Samsul, aku masih ingin tetap disini, dan tidak mau kemana mana"
Tiba tiba Riziq keluar rumah, ia terdiam melihat Aisyah yang sedang duduk sambil melamun di depan rumah. Perlahan ia ikut duduk di sebelah istrinya itu. Seketika Aisyah langsung tersenyum.
" Kenapa uni melamun?" tanya Riziq.
" Le, kau tidak akan menerima tawarannya kiyai Samsul kan?" tanya Aisyah. Riziq malah tersenyum.
" Kenapa uni bertanya seperi itu?"
" Le aku tidak mau pergi dari sini, disini terlalu banyak kenangan kita, kenangan manis kenangan pahit semua kita lalui disini, semua keluargaku juga ada disini, aku tidak mau meninggalkan mereka" ucap Aisyah menegaskan.
" Beri aku alasan yang kuat agar aku menolaknya" ucap Riziq.
" Kau dulu pernah bilang padaku sebelum kau pergi ke kairo, kau menyuruhku untuk tetap tinggal disini, kau memintaku untuk tidak meninggalkan pesantren ini, kau bilang aku akan menemukan surga disini, kau juga bilang kalau aku akan menemukan jodohku disini, dan kau menyuruhku untuk berjanji tentang itu, dan aku pun sudah berjanji padamu untuk tetap di pesantren ini." tutur Aisyah. Riziq pun tersenyum.
" Aku akan tetap disini bersamamu" ucap Riziq sambil membelai lembut pipinya Aisyah.
" Kau janji Le"
" Janji"
Mereka mengikatkan jari kelingking satu sama lain. Aisyah pun tersenyum lega.
" Makasih ya Le" ucap Aisyah sambil bersandar di pundak suaminya itu.
" Rasa cemburunya terlalu besar padamu, sampai dia nekat berbuat seperti itu pada kita" ucap Riziq. Aisyah pun terdiam mendengar ucapannya Riziq.
" Apa maksud perkataanmu itu Le?" tanya Aisyah.
" Apa kau tau dengan rencana yang di tawarkan kiyai Samsul?" tanya Aisyah kembali.
" Ustajah Yasmin masih cemburu padamu, dia menggunakan tawaran ini agar kita pergi dari pesantren, supaya kau tidak bertemu dengan kakaku yang selalu membuatnya cemburu buta padamu"
Aisyah pun terdiam, ia tak menyangka dengan rencananya ustajah Yasmin.
" Lalu apa rencanamu Le?"
" Aku akan tetap menolaknya, lagi pula kiyai Samsul hanya memberiku penawaran bukan suatu perintah. Kecuali dia meminta langsung pada kiyai Husen. Dan kalau kiyai Husen menyetujui tawaran yang diberikan kiyai Samsul dan memintanya padaku, tentu aku tidak bisa berbuat apa apa karna kiyai Husen yang mempunyai wewenang di pesantren ini"
" Mudah mudahan saja abi tidak menyetujuinya" ucap Aisyah cemas.
" Tapi kau tidak tergodakan dengan fasilitas yang di tawarkan kiyai Samsul?" tanya Aisyah memastikan.
" Sudah kubilang, aku hanya tergoda padamu"
" Kau yakin?"
" Tentu saja" ucap Riziq meyakinkan.
" Mana buktinya?"
" Jadi kau mau bukti" tanya Riziq.
__ADS_1
" Tentu saja"
" Yu kita masuk kamar" ucap Riziq sambil tersenyum senyum, membuat Aisyah mengerucutkan bibirnya.
" Aku serius, dasar genit"
Riziq malah tertawa tawa.
" Tapi kau yakin bisa menghadapi rencananya ustajah Yasmin, aku takut dia akan meminta ayahnya untuk langsung meminta pada abi Husen" ucap Aisyah cemas.
" Kau berdo'a saja uni, mudah mudahan kita bisa mengalahkan rencananya ustajah Yasmin, oh iya uni, kalau aku menang melawan ustajah Yasmin, hadiah apa yang akan kau berikan padaku?"
" Hadiah?"
" Hmmm"
" Baiklah, kalau kau menang apapun yang kau minta aku pasti akan memberikannya" ucap Aisyah.
" Akan ku ingat kata katamu itu uni" ucap Riziq sambil tersenyum senyum.
" Tapi sepertinya kau yakin sekali akan menang dari kakak iparmu?" ucap Aisyah.
" Aku tau apa yang harus aku lakukan, kau ingat uni, dengan kecerdasan otakku aku bisa membatalkan rencana kiyai Mansyur yang akan menikahimu dulu, sekarang pun aku yakin dengan rencana yang akan ku buat, ustajah Yasmin pasti akan membatalkan rencananya sendiri" tutur Riziq meyakinkan.
" Aku percaya padamu Le, lalu kapan kau akan menemui ustajah Yasmin?"
" Sekarang"
"Yasudah pergilah, uni mau nemenin anak anak dulu. Semoga berhasil ya Le, kau harus ingat satu hal, uni tidak mau pergi dari pesantren ini"
" Uni"
Seketika Aisyah langsung menatap Riziq sambil memegang handle pintu.
" Aku mencintaimu" ucap Riziq. Aisyah pun tersenyum pada suaminya itu, lalu ia pun masuk kedalam rumah sambil menutup pintu.
"Aku tau semua ini adalah rencananya, kita liat siapa yang akan menang, dia atau aku, akan kubuat dia menyesali rencananya" gumam Riziq dalam hati.
Riziq tau kalau ini adalah rencananya ustajah Yasmin, tapi Riziq belum tau rencananya kiyai Husen. Riziq pun pergi kerumahnya ustad Rasyid untuk menemui ustajah Yasmin.
Sesampainya disana, Riziq pun mengetuk pintu sambil mengucap salam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam" jawab ustajah Yasmin sambil membuka pintu, ia terdiam saat melihat Riziq datang kerumahnya.
" Aang Rasyid ada?" tanya Riziq.
" Mas Rasyid lagi keluar, ada perlu apa?" tanya ustajah Yasmin.
" Sebenarnya saya ada perlu sama ustajah"
" Kita bicara di luar" ucap ustajah Yasmin, ia juga mengajak Syakir untuk menemaninya.
Mereka kini berdiri di halaman rumah.
__ADS_1
" Apa maksud kedatanganmu ustad?"
" Aku tau rencananya ustajah padaku"
" Rencana?" tanya ustajah Yasmin.
" Aku tau ustajah yang menyuruh kiyai Samsul untuk membuatku dan Aisyah pindah dari sini"
Ustajah Yasmin pun terdiam, memang ia berencana seperti itu.
" Apa kau tergiur dengan fasilitas yang ditawarkan abiku?"
" Hmmm, tentu saja, siapa yang tidak tergiur dengan fasilitas mewah yang ditawarkan kiyai Samsul" ucap Riziq pura pura. Membuat ustajah Yasmin tersenyum.
" Jadi kau menyetujui untuk pindah ke pesantren abi?"
" Hmm, tapi aku tidak bisa mengajak Aisyah"
Jawaban Riziq membuat ustajah Yasmin terkejut.
" Kenapa kau tidak mengajak Aisyah?" tanya ustajah Yasmin sedikit takut.
" Aku pernah menyuruhnya untuk tetap dipesantren ini apapun yang terjadi. Dan dia pun telah berjanji padaku untuk tidak pergi dari sini, aku tidak mungkin mengajaknya pindah, karna aku tidak mau dia mengingkari janjinya" tutur Riziq. ustajah Yasmin di buat prustasi.
" Manamungkin kau pergi tanpa Aisyah?"
" Kenapa tidak, hari libur aku bisa kesini, lagi pula kiyai Samsul akan memberiku mobil, jadi sangat mudah untuku jika harus bolak balik kesini" Riziq tersenyum melihat kepanikan kakak iparnya itu.
" Kau tidak kasian sama Aisyah jika ia harus tinggal sendirian, apalagi Adam dan Hawa masih kecil, nanti siapa yang akan membantu Aisyah"
" bukankah disini ada bi Ratna dan umi Salamah yang akan membantu Aisyah mengurus anak anak, disini juga kan ada aang Rasyid yang akan menjaga Aisyah" ucap Riziq.
Deg.
Ustajah Yasmin terkejut dengan ucapannya Riziq.
" Kenapa harus suamiku yang menjaga Aisyah" tanya ustajah Yasmin tak suka.
" Memangnya kenapa kalau aku meminta aang Rasyid untuk menjaga Aisyah, bukankah Aisyah adalah adik iparnya, aang Rasyid kan kakaku, dia satu satunya saudara yang kupunya, aku rasa tidak ada salahnya jika aku menitipkan Aisyah padanya, dan aku juga yakin aang Rasyid tidak akan menolaknya"
Ustajah Yasmin di buat kalang kabut, ia merasa terjebak dengan rencananya sendiri. Rasa takut dan penyesalan menyelimuti pikirannya.
" Apa yang harus aku lakukan, kenapa semuanya jadi begini, ini artinya bukan menjauhkan Aisyah dari suamiku, tapi malah mendekatkan Aisyah dengannya" gumam ustajah dalam hati.
" Kenapa ustajah?, sepertinya kau tidak suka dengan rencanaku?"
Ustajah Yasmin hanya diam kebingungan.
" Apa kau tidak kasian pada Aisyah?" tanya ustajah Yasmin.
" Tentu saja kasian, tapi apa mau dikata, aku tidak bisa menolak tawaran kiyai Samsul, kecuali kiyai Samsul membatalkan niatnya untuk membuatku pindah dari sini"
" Akan ku pastikan abiku akan membatalkan tawarannya padamu, kau dan Aisyah akan tetap dipesantren ini" ucap ustajah Yasmin, ia takut Riziq akan menitipkan Aisyah pada suaminya. Seketika ustajah Yasmin langsung meninggalkan Riziq di depan rumahnya. Riziq pun tersenyum setelah merasa rencananya berhasil, membuat ustajah Yasmin membatalkan rencananya sendiri.
" Uni aku menang, bersiap siaplah aku akan menagih hadiahku padamu"
__ADS_1