
Pagi pun tiba, hari yang begitu dinanti oleh Aisyah. Karna hari ini Hawa sudah di perbolehkan pulang. Aisyah pun tersenyum saat melihat Hawa sudah terbangun dari tidurnya.
" Eh anak umi sudah bangun" goda Aisyah sambil menciumi Hawa. Sesekali Hawa tertawa dan memperlihatkan gigi giginya yang baru tumbuh. Tiba tiba Riziq datang bersama umi Salamah, mereka baru selesai menunaikan shalat subuh.
" Hawa sudah bangun uni?" tanya Riziq.
" Hmmm"
" Dokter sudah memeriksa kemari Aisyah?" tanya umi Salamah.
" Kata perawat sih dokternya datang jm 7 pagi mi" jawab Aisyah. Umi Salamah pun mengangguk.
" Le, kau ke tempat administrasi dulu. Lunasi dulu biaya perawatannya sebelum dokter menyuruh Hawa pulang" tutur Aisyah. Riziq pun mengangguk.
" Iya, sekarang aku tempat administrasi"
Riziq pun melangkah keluar ruangan, tiba tiba umi memanggilnya.
" Ustad Riziq"
panggil umi Salamah sambil memberikan amplop berisikan uang.
" Untuk biaya pengobatan Hawa, mudah mudahan dapat membantu" ucap umi Salamah. Riziq pun tersenyum.
" Tidak usah umi, insya allah kami ada untuk biaya pengobatan Hawa. Kami masih punya tabungan umi" jawab Riziq. Lalu umi Salamah menatap Aisyah.
" Tidak apa umi, kami masih punya simpanan. Umi simpan lagi saja uangnya. Do'akan saja Hawa selalu di beri kesehatan" ucap Aisyah. Umi Salamah pun mengangguk tersenyum. Lalu menyimpan kembali amplop itu kedalam tasnya. Riziq pun kini pergi untuk melunasi biaya pengobatan. Tidak lama kemudian doter datang. Iya langsung memeriksa Hawa.
" Suhu badannya sudah normal. Hawa sudah sehat dan sekarang juga boleh pulang" ucap sang dokter. Aisyah dan umi Salamah pun tersenyum lalu mengucap syukur.
" Alhamdulilah"
Salah satu perawat pun mencabut selang impusan dari tangan mungilnya Hawa. Ada tangisan yang terdengar saat jarum di tangannya Hawa di lepas. Namun Aisyah dengan sigap mencoba menenangkan putrinya.
" Jangan nangis ya sayang, Hawa sudah sembuh, sudah boleh pulang" ucap Aisyah bicara pada Hawa. Dokter dan perawat itu pun keluar ruang perawatan.
Setelah melunasi biaya perawatan, Riziq pun kembali ke ruangan perawatan Hawa. Tidak sengaja dia bertemu dengan ustad Soleh yang baru saja datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Ustad sudah datang?" tanya Riziq.
" Baru saja sampai, oh iya tadi saya bertemu dengan ustad Rasyid, dia menyuruh saya untuk menyampaikan permintaan maafnya karna tidak sempat kemari, sudah beberapa hari ini ustadzah Yasmin sudah mulai kontraksi. Maklum saja kandungannya kan sekarang sudah menginjak bulan ke-9" tutur ustad Soleh. Riziq pun mengangguk.
" Saya mengerti ko. Saya tau perempuan hamil tua itu tidak boleh bepergian jauh dan harus selalu di dampingi oleh suami" ucap Riziq.
" Syukurlah kalau kau mengerti. Sekarang bagaimana keadaan Hawa, apa sudah boleh pulang?"
" Nunggu di periksa dulu sama dokternya" jawab Riziq. Mereka pun masuk ke ruang perawatan Hawa. Di lihatnya Aisyah sedang mengepak barang bangnya.
" Sudah boleh pulang sekarang uni?" tanya Riziq.
" Sudah Le, dokter sudah memeriksa Hawa dan selang impusnya juga sudah di lepas"
Riziq pun tersenyum.
" Ayo kita pulang" ajak umi Salamah. Riziq sudah menenteng barang barang dalam tas, sementara Aisyah sudah menggendong Hawa.
" Alhamdulilah kita bisa pulang juga"
Setelah berjalan sampai di parkiran, mereka pun masuk ke mobilnya ustad Soleh. Mobil pun melaju dengan kecepatan rendah. Hingga tidak terasa sampai juga di depan gerbang pesantren.
Saat sampai di depan rumah Aisyah, mereka pun turun dari mobil.
" Alhamdulilah sampai"
Riziq pun menurunkan barang bawaannya dari bagasi mobil. Di lihatnya Zahira, ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin serta bi Ratna sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Bi Ratna dan ustadzah Yasmin langsung menyapa Hawa.
" Alhamdulilah Hawa sudah pulang ya" ucap ustadzah Yasmin sambil membelai kepalanya Hawa. Aisyah pun tersenyum.
Perlahan ustad Rasyid mendekati Riziq.
" Ziq, maaf aang tidak sempat menjenguk ke rumah sakit" ucap ustad Rasyid.
" Tidak apa apa ang, aku mengerti, istrimu sedang hamil jadi jangan di tinggal tinggal" jawab Riziq. Ustad Rasyid pun tersenyum dengan pengertian adiknya. Umi Salamah pun menyuruh masuk setelah membuka pintu rumah Aisyah.
" Ayo masuk dulu, kasian Hawa" ucap umi Salamah. Sebelum masuk, Aisyah pun mengedarkan pandangan untuk mencari Adam.
" Adam kemana ya mi, aku kangen" ucap Aisyah.
" Adam masih di rumahnya ustad Usman" ucap bi Ratna. Tiba tiba.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Mereka terdiam melihat ustad Usman datang sambil menggendong Adam dengan gendongan bayi sambil memakai payung.
" Astaghfirullah alazim. Om ustad, istrinya jadi tkw di luar negri ya, om ustad sudah seperti pemeran utama di sinetron dunia terbalik. Sudah seperti Inem pelayan selebor" tutur Zahira meledek hingga ustad Usman memicingkan matanya.
" Heei selebor, jangan macam macam kalau kau bicara. Enak saja Inem playan selebor" gerutu ustad Usman.
" Abis om ustad lucu, pagi pagi sudah menggendong bayi pake payung" ucap Zahira kembali. Semua nampak tersenyum senyum melihat ustad Usman yang sedang menggendong Adam.
" Man kau pagi pagi sudah seperti ba*y sitter begitu, memangnya Nisa kemana?" tanya umi Salamah.
" Nisa masih masak umi, jadi terpaksa aku yang menjaga Adam"
Saat melihat putranya, Aisyah langsung bergegas menghampiri Adam. Bertubi tubi ia menciumi Adam.
" Maafin umi ya sayang, semalam umi tidak bisa jagain kamu" ucap Aisyah pada Adam. Riziq pun mengambil Adam dari gendongannya ustad Usman.
" Terima kasih ustad sudah menjaga Adam" ucap Riziq. Ustad Usman pun mengangguk.
" Kau tau ustad, banyak sekali perjuangan dan ujian saat menjaga Adam"
__ADS_1
" Memangnya kenapa sama Adam?, apa dia rewel?" tanya Aisyah.
" Putramu ini sudah mulai aktif bergerak Aisyah, dia sudah merangkak sana merangkak sini, guling sana guling sini, sesekali dia memasukan jariku kemulutnya dan menggigitku. Tentu saja aku merasa sakit karna Adam sudah tumbuh gigi" tutur ustad Usman. Aisyah sudah ingin tertawa namun ia tahan takut kakaknya marah hingga akhirnya ia hanya bisa mengatakan kata maaf.
" Maaf ya ka, aku merepotkan kalian"
" Sudah sudah, ayo ajak masuk Adam sama Hawanya" pinta umi Salamah. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Bi Ratna sudah menyiapkan minum untuk para tamu.
" Aisyah umi pulang ke rumah dulu ya, nanti umi balik lagi ke sini" ucap umi Salamah.
" Iya mi, makasih banyak"
Umi Salamah pun pulang dulu ke rumahnya.
Tidak lama kemudian ustad Azam dan ustadzah Ulfi datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Azam dan ustadzah Ulfi pun bergabung dengan mereka.
" Waah alhamdulilah ya Hawa sudah sembuh"
" Aisyah maaf ya kami tidak sempat menjenguk je rumah sakit" ucap ustadzah Ulfi.
" Tidak apa apa ustadzah, yang penting sekarang Hawa sudah sehat" jawab Aisyah. Setelah bi Ratna membuatkan kopi untuk para laki laki yang ada di rumahnya Aisyah, mereka pun langsung mengambil kopi kopi itu dan memilih untuk duduk di depan rumahnya Aisyah. Tiba tiba ustadzah Yasmin merasakan mulas.
" Duuh"
Ustadzah Yasmin langsung mengelus perutnya yang kini terasa mulas.
" Kenapa ustadzah?" tanya Aisyah heran.
" Perut saya tiba tiba terasa mulas" ucap ustadzah Yasmin.
" Jangan jangan itu kontraksi, mungkin ustadzah Yasmin mau melahirkan" ucap ustadzah Ulfi. Lama lama mulas di perutnya ustadzah Yadmin semakin menjadi.
" Mas" panggil ustadzah Yasmin pada ustad Rasyid. Dari luar ustad Rasyid dapat mendengar panggilan istrinya itu, ia bergegas menghampirinya.
" Kenapa Yas?" tanya ustad Rasyid.
" Perutku mulas mas" ringis ustadzah Yasmin. Seketika ustad Rasyid langsung panik.
" Apa kau mau melahirkan Yas?"
" Sepertinya begitu ustad" ucap bi Ratna. Para bapak bapak ustad yang ada di luar pun dapat mendengar pembicaraan mereka. Mereka pun ikut panik saat mendengar ustadzah Yasmin mau melahirkan. Mereka bergegas masuk ke dalam.
" Ustadzah Yasmin mau melahirkan?" tanya ustad Azam.
" Sepertinya begitu" jawan ustad Rasyid.
" Kita bawa ke rumah sakit ang" pinta Riziq.
" Jangan dulu, nanti saja melahirkannya hari senin pas tanggal 17 Agustus, nanti hari ulang tahunnya sama seperti ultahnya Republik Indonesia tahan ya 4 hari lagi" tutur Zahira. Semua langsung mengeryitkan kening masing masing.
" Eh slebor, kau fikir melahirkan bisa riques seenaknya" gerutu ustad Usman.
" Ayo kita bawa ke rumah sakit"
" Maaf ustad, kenapa kau memapahku?" tanya ustad Rasyid heran. Saat ustad Usman sadar.
" Astaghfirullah alazim, salah orang" ucap ustad Usman sambil melepaskan tangannya yang merangkul pundaknya ustad Rasyid dan kembali lagi masuk ke rumah. Saat Ustad Rasyid akan membantu memapah ustadzah Yasmin.
" Astaghfirullah alazim istri orang" ucap ustad Usman sambil melangkah mundur dan membatalkan niatnya untuk memapah ustadzah Yasmin.
" Usman, sandalku melayang nih ke kepalamu" ucap ustad Soleh yang sudah gereget dengan kelakuan adiknya itu.
" Maaf ka akukan panik"
Kini ustad Rasyid lah yang memapah istrinya.
" pake mobil saya saja" ucap ustad Soleh. Riziq sudah membukakan pintu mobil.
" Uni aku mengantar ustadzah Yasmin ya ke rumah sakit" ucap Riziq meminta izin"
" Iya Le"
Kini bapak bapak ustad dan Zahira lah yang mengantar ustadzah Yasmin ke rumah sakit. Aisyah tidak bisa ikut karna harus menjaga Adam dan Hawa, sementara ustadzah Ulfi harus mengajar dan bi Ratna harus menjaga kantin.
Sesampainya di rumah sakit. Dengan sigap perawat di sana langsung membawa brankar dorong ke arahnya ustad Rasyid yang sudah menggendong istrinya. Ustadzah Yasmin pun di bawa ke ruang persalinan. Dokter kandungan pun langsung datang untuk menangani ustadzah Yasmin. Ustad Rasyid pun sudah ikut masuk ke ruang persalinan, di ikuti Riziq, ustad Usman, ustad Soleh dan ustad Azam. Tiba tiba ustad Rasyid menghentikan langkah mereka di depan pintu.
" Kalian mau kemana?" tanya ustad Rasyid.
" Mau melihat ustadzah Yasmin melahirkan" jawab ke-4 ustad tersebut hingga ustad Rasyid memicingkan matanya dengan sedikit menggeram. Saat itu mereka baru tersadar.
" Astaghfirullah alazim, maaf ustad kami lupa"
Tiba tiba Riziq mengambil sorban yang ada di pundaknya ustad Rasyid.
" Biar aku yang bawa, takutnya kau nanti tercekik" ucap Riziq.
" Eh ustad Riziq. Ustadzah Yasmin tidak akan segila Aisyah, dia tidak akan menarik sorban suaminya hingga tercekik. Fikiran ustadzah Yasmin masih lurus, tidak belok belok kaya Aisyah" tutur ustad Usman hingga Riziq memicingkan matanya.
" Sudah sudah, ko kalian jadi pada ribut sih" ucap ustad Azam melerai.
" Ang aku titip pertanyaan padamu, nanti kau tanyakan pada dokter kandungannya ustadzah Yasmin. Kau tanyakan artinya pembukaan itu apa?" ucap Riziq masih penasaran. Ustad Rasyid hanya mengeryitkan keningnya tak mengerti dengan ucapan adiknya itu.
" Bukannya pembukaan itu adalah arti dari surat Al Fatihah" ucap Zahira.
" Ini pembukaan yang lain Ira" jawab Riziq.
Para ustad ustad tersebut pun mundur kembali dan menunggu di depan ruang persalinan. Tiba tiba Zahira tertawa.
" Ha ha ha, bapak bapak rempong pengen lihat istri orang melahirkan, untung ka Rasyid tidak bawa parang sama cangkul ke rumah sakit, bisa bisa kalian pada di babad semua sama ka Rasyid" tutur Zahira sambil ketawa ketawa.
" Kita kan panik Ira, jadi lupa segalanya"
" Ssssttt jangan berisik, kita dengarkan baik baik suara tangisan bayinya, ada satu apa ada dua, kalau ada dua berarti ustad Rasyid ikut melahirkan juga" ucap udtad Usman.
" Jangan banyak bicara Usman, nanti mulutmu ku sumpel pake sandal" acam ustad Soleh. Seketika itu pula ustad Usman langsung memanyunkan bibirnya. Ke-4 ustad itu masih setia berdiri menunggu kelahiran anak keduanya ustad Rasyid. Tiba tiba ada seorang perawat yang lewat menatap mereka.
" Maaf bapak bapak, kalau mau pengajian, masjidnya ada di ujung sana dekat parkiran" ucap perawat itu memberitau, lalu ia kembali mengerjakan tugasnya. Ke-4 ustad itu terdiam sambil saling menatap.
__ADS_1
" Perawat itu mengira kita mau mengadakan pengajian di rumah sakit gara gara melihat penampilan kita yang memakai sarung, kopeah dan baju koko" ucap Riziq. Seketika Zahira langsung tertawa.
" Sssttth, jangan berisik, kita fokuskan lagi telinga kita" pinta ustad Usman.
Kini mereka kembali memokuskan telinga mereka. Tiba tiba terdengar suara tangisan bayi.
" Alhamdulilah" ucap mereka serempak.
" Ssstth, dengarkan lagi, masih ada lagi gak suara tangisannya" tanya ustad Usman. Mereka pun memfokuskan kembali telinganya masing masing. Tiba tiba terdengar suara.
" AAW"
" Astaghfirullah" ucap ke-4 ustad itu secara berbarengan.
" Apa tadi ustad Rasyid tercekik?" tanya ustad Usman cemas.
" Tidak mungkin, sorbannya sudah kuambil" ucap Riziq sambil memperlihatkan sorbannya ustad Rasyid yang kini sedang di genggamnya.
" Tadi ustad Rasyid kenapa berteriak AAW, pasti terjadi sesuatu di dalam, aku harus memastikannya" ucap ustad Usman melangkah untuk masuk ke ruang persalinan itu, namun dengan sigap ustad Soleh langsung menarik tangan adiknya itu.
" Kau jangan macam macam Usman, persalinannya belum selesai, kau mau di babad habis sama ustad Rasyid" ucap ustad Soleh. Tiba tiba datang lah Umi Salamah, ustadzah Ulfi dan Dewi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Bagaimana keadaan ustadzah Yasmin, apa dia sudah melahirkan?" tanya umi Salamah.
" Lagi proses umi, tapi tadi sudah terdengar suara tangis bayinya" jawab ustad Soleh.
" Ada berapa suara tangisan bayinya?" tanya Dewi.
"Ada dua suara, yang satu suara tangisan bayinya, dan yang satu suara jeritan bapaknya" jawab ustad Usman.
" Apa ustad Rasyid menjerit gara gara tercekik, seperti Aisyah yang menarik sorban di lehernya ustad Riziq hingga menjerit karna tercekik" tanya Dewi kepo. Umi Salamah langsung melirik ke arah Dewi.
" He he he maaf umi"
" Umi, uni tidak kemari?" tanya Riziq.
" Aisyah tidak bisa kemari karna sedang menjaga Adam sama Hawa, lagi pula kurang baik anak anak di ajak ke rumah sakit" jawab umi Salamah.
Ceklek.
Suara pintu ruangan terbuka dan nampaklah dokter kandungan itu keluar bersama perawatnya. Mereka yang di luar langsung berhambur menghampiri.
" Dok bagaimana keadaan ibu dan bayinya?" tanya umi Salamah.
" Dok tadi kenapa bapaknya menjerit?" tanya ustad Usman. Hingga umi Salamah menepuk pundak putranya itu.
" Boleh kita melihatnya?"
" Silahkan" jawab sang dokter.
Seketika itu pula mereka langsung berhambur masuk. Umi Salamah, ustadzah Ulfi, Zahira dan Dewi langsung menghampiri bayi itu, sementara ke-4 ustad itu langsung menghampiri ustad Rasyid untuk mengecek keadaannya.
" Ustad kau tidak apa apa?" tanya ustad Usman.
" Ang kau baik baik sajakan?" tanya Riziq sambil membulak balikan tubuh kakaknya, ia pun tidak lupa mengecek lehernya ustad Rasyid. Hingga membuat ustad Rasyid kebingungan.
" Aku baik baik saja memangnya kenapa?" tanya ustad Rasyid.
" Kita mendengar kau tadi menjerit ang, apa kau tadi tercekik?"
" Aku tidak apa apa" jawab ustad Rasyid.
" Alhamdulilah" ucap mereka serempak.
" Duuh cantiknya" ucap umi Salamah menatap putri ke-duanya ustad Rasyid.
" Selamat ya ustadzah Yasmin" ucap ustadzah Ulfi.
" Terima kasih ustadzah"
Ke-4 ustad itu pun langsung ikut melihat bayi perempuannya ustad Rasyid.
" Heeei kenapa bayinya tidak mirip denganku?" ucap ustad Usman hingga umi Salamah memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam kalau bicara Usman. Kau mau membuat ustad Rasyid berfikir kau selingkuh dengan istrinya" ucap umi Salamah.
" Maaf umi aku keceplosan" jawab ustad Usman.
" Sudah di azani?" tanya ustad Azam.
" Sudah ustad"
" Sudah di berinama?"
" Belum" jawab ustad Rasyid.
" Jangan lama lama mikirnya, kasih nama SULAIMAN AHMAD AL FIQRI saja" ucap ustad Usman.
" Bayinya perempuan Usman" bentak umi Salamah.
" Oh ku fikir laki laki"
" Bagaimana kalau di kasih nama MADONA OLIVIA" Zahira memberi ide hingga semua mengeryitkan keningnya.
" Eh slebor, kau mungut nama itu dimana?, tidak cocok" ucap ustad Usman.
" Kalau MIRABELA ROSALINDA ALFIQRI cocok tidak?" tanya Zahira.
" Nggaaaak" jawab mereka kompak.
" Itu nama depannya sudah seperti nama merk lipstik" ucap Dewi.
" Nama yang seperti itu kurang cocok untuk diberikan pada anak seorang ustad"
" Ya sudah, kalau begitu kasih nama Siti Aminah ( nama penulisnya wk wk wk) itu cocok kan?" ucap Zahira.
" Saya sudah punya nama sendiri" ucap ustad Rasyid.
" Siapa?"
__ADS_1
" Namanya ANUM RAHMADANI AL FIQRI, Anum artinya hadiah dari Allah" ucap ustad Rasyid. Semua nampak tersenyum termasuk ustadzah Yasmin.