Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Tanda lipstik


__ADS_3

Sore pun tiba. Setelah pulang mengajar Riziq pun menyempatkan diri pergi kerumahnya umi Fadlun untuk menemui Zahra.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab umi Fadlun. Riziq pun mencium tangan uminya itu. Saat itu umi Fadlun sedang memasak.


" Baru pulang Ziq?" tanya umi Fadlun.


" Ia mi, abi ada?"


" Abi mu lagi keluar" jawab umi Fadlun.


" Kalau Zahra?"


" Zahra ada di belakang" jawab umi Fadlun sambil memberi bumbu pada masakannya. Perlahan Riziq pun menemui Zahra yang sedang berdiri di belakang rumah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikumsalam" jawab Zahra sambil tersenyum.


" Aku ingin bicara padamu" ucap Riziq tegas.


" Aku tau ka Riziq berubah pikirankan" ucap Zahra penuh percaya diri.


" Kamu salah Zahra. Aku cuma ingin mengatakan, tolong jangan ganggu aku dan Aisyah"


" Apa salah kalau aku mencintaimu?" tanya Zahra.


" Kau tidak salah, yang salah adalah sikapmu. Kau terlalu memaksakan kehendakmu. Sikapmu akan menyakiti Aisyah. Aku sangat mencintainya. Dia dan anak anak adalah hidupku. Kalau kau mengusik mereka artinya kau mengusik kebahagiaanku"


" Kau mau menyuruhku untuk melupakanmu?" tanya Zahra.


" Jangan ganggu Aisyahku" jawab Riziq tegas.


Zahra malah tersenyum.


" Aku hanya ingin memperjuangkan perasaanku, cuma itu"


" Tapi itu mengusik kebahagiaan keluargaku, sebaiknya kau pulang, mungkin kau akan mendapatkan jodohmu dikairo"


Perlahan Zahra menghadap ke arahnya Riziq.


" Anggap saja aku sedang menguji kesetiaanmu. Aku ingin tau sekuat apa cintamu pada Aisyah. Selama satu minggu aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, terhitung saat pertama aku datang kemari. 3 hari lagi, aku akan pulang ke kairo. dengan sisa 3 hari itu aku akan tetap memperjuangkan cintaku, kalau dalam waktu 3 hari itu cintamu pada Aisyah goyah, kuyakinkan kau akan ikut bersamaku pulang ke kairo. Dan kalau kau tetap ingin disini bersama Aisyah karna kau mencintainya maka aku akan pergi dan mengaku kalah" tutur Zahra.


" Kupastikan aku akan tetap disini bersama Aisyah, Asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu pergi.


* * * * * * *

__ADS_1


Keesokan harinya. Riziq sedang bercanda canda dengan Adam dan Hawa di ruang tamu.


" Anak anak abi yang manis"


Riziq terus mengoda anak anaknya itu. Hingga Adam dan Hawa tertawa, sesekali mereka menangis.


" Cup cup cup"


Perlahan Aisyah membawa kopi dan cemilan untuk suaminya itu.


" Sini Hawa sama umi dulu" ucap Aisyah sambil menggendong Hawa kepangkuannya. Sementara Riziq menggendong Adam. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu.


" Sepertinya ada tamu uni" ucap Riziq. Perlahan Aisyah pun membuka pintu. Ia terdiam melihat Zahra yang sudah berdiri di depan pintu. Aisyah sudah mendengus kesal.


" Zahra, mau ngapain lagi kamu kesini, apa urat malumu sudah putus" ketus Aisyah. Zahra malah tersenyum.


" Aku cuma mau menyampaikan amanah dari abi Mansyur untuk ka Riziq." ucap Zahra sambil memperlihatkan map itu pada Aisyah.


" Baiklah kemarikan, biar aku yang sampaikan pada suamiku" pinta Aisyah.


" Tidak bisa, abi memberi amanah padaku, jadi aku sendiri yang akan menyampaikannya langsung pada kak Riziq"


Aisyah pun mendengus kesal.


" Tunggu sebentar aku panggilkan" ucap Aisyah sambil masuk kerumah dan menutup pintu.


" Le, ternyata kau disini" ucap Aisyah.


" Tamu siapa yang datang uni?"


" Pelakor" jawab Aisyah sambil membaringkan Hawa di sebelahnya Adam.


" Zahra?, ngapain dia kesini?" tanya Riziq heran.


" Kiyai Mansyur memberi amanah pada Zahra, ia memberi sebuah map padamu. Temuilah, tapi jangan genit genit ya" pinta Aisyah sedikit mengancam.


" Uni yakin aku boleh menemuinya?"


" Hmmm"


Saat Riziq akan melangkah keluar kamar,


" Tunggu Le" Seketika Aisyah langsung mengambil lipstik di meja riasnya lalu memakainya di hadapan Riziq, hingga Riziq mengeryitkan keningnya. Seakan ingin bertanya apalagi yang akan di lakukan oleh istrinya itu. Seketika Aisyah langsung mencium pipinya Riziq sehingga bekas lipstik di bibirnya menempel di pipinya Riziq.


"Uniiiiii..." panggil Riziq sedikit menggeram.


" Kenapa kau menciumku, lipstikmu pasti menempel di pipiku"

__ADS_1


Dan benar saja, lipstik di bibir Aisyah menempel di pipinya Riziq.


" Sengaja, jangan di hapus, biarkan si Zahra itu melihatnya, biar dia cemburu pada kita" ucap Aisyah sambil mendorong Riziq keluar kamar.


" Uni, kau jangan macam macam, aku malu jika ada yang melihat tanda lipstik di wajahku"


" Yang harusnya malu itu dia, berani beraninya dia mau menggodamu" ucap Aisyah sambil mendorong dorong Riziq untuk menemui Zahra. Namun Riziq malah mundur, ia tak mau keluar dengan tada lipstik itu. Aisyah langsung mendorong Riziq kembali meskipun Riziq mulai menahan langkahnya.


" Ayo" ucap Aisyah sambil mendorong tubuh suaminya.


" Tidak mau" ucap Riziq sambil melangkah mundur.


" Ayo Le"


"Tidak mau aku malu"


Mereka malah mundur maju, tarik ulur. Dan Akhirnya mereka sampai di depan pintu. Saat membuka pintu mereka tercengang, terkejut dan terdiam saat melihat Zahra sudah berdiri bersama ustad Azam dan ustajah Ulfi. Seketika Aisyah langsung menarik sorban di pundaknya Riziq lalu ia langsung menutupi wajah Riziq dengan sorban itu untuk menutupi tanda lipstik itu. Namun terlambat, Zahra, ustad Azam dan ustajah Ulfi sudah melihat tanda merah itu. Wajah Aisyah sudah nampak memerah karna malu. Zahra sudah memalingkan wajahnya karna kesal, sementara ustad Azam dan ustajah Ulfi sudah tersenyum senyum geli melihat mereka.


" Uniiii, kau harus bertanggung jawab untuk ini" bisik Riziq di balik sorban yang menutupi wajahnya.


" Ustad Azam, ustajah Ulfi" panggil Aisyah sedikit terbata. Ia benar benar sangat malu, Aisyah tidak tau dengan kedatangan mereka. Ia pikir hanya Zahra yang bertamu kerumahnya.


" Maaf Aisyah jika kami mengganggu, kami cuma lewat, tadinya mau mampir, tapi sepertinya kalian sedang sibuk, jadi kami langsung pulang saja" ucap ustajah sambil tersenyum senyum. Aisyah pun tersenyum getir, wajahnya sudah memerah seperti tomat.


" Mari Aisyah asalamualaikum" pamit ustad Azam dan ustajah Ulfi lalu mereka pergi.


" Waalaikumsalam jawab Aisyah dan Riziq. dari kejauhan punggung ustad Azam nampak bergetar, pertanda ia masih tertawa melihat Riziq dan Aisyah. Zahra yang merasa cemburu pun langsung memberikan map itu pada Aisyah tanpa berkata apapun setelah itu ia langsung pergi.


Seketika Riziq langsung menarik sorban yang menutupi wajahnya.


" Uniiiiiiii......" panggil Riziq sambil menggeram. Aisyah pun tersenyum getir. Ia melihat wajah suaminya yang tiba tiba nampak menakutkan. Seketika itu pula ia langsung berlari untuk menghindari amukan suaminya itu. Seketika itu pula Riziq langsung mengejar Aisyah.


" Uni kau harus bertanggung jawab" gerutu Riziq sambil mengejar Aisyah. Ia menangkap Aisyah lalu memojokannya ketembok.


" Ampun Le, aku tidak tau kalau di depan ada ustajah Ulfi dan ustad Azam" ucap Aisyah sedikit takut melihat tatapannya Riziq. Riziq sudah memepet tubuh Aisyah di tembok sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Aisyah.


" Le, kau mau apa?" tanya Aisyah sambil terbata, Aisyah sudah dapat merasaakan nafas Riziq di wajahnya.


" Aku mau menghukummu"


Tidak lama kemudian mereka sudah duduk di ruang tamu, Riziq pun membersihkan noda lupstik di wajahnya dengan tisu. Sementara Aisyah sedang tertawa tawa di sebelah suaminya itu.


" Kau tau Le, ekspresi wajahnya ustad Azam dan ustajah Ulfi saat mereka melihatmu, Mereka tersenyum senyum geli" ucap Aisyah masih dengan tawanya. Hingga Riziq mendengus kesal.


" Kau membuatku malu saja uni. Kupastikan aku akan menghukumu, setelah masa nifasmu berakhir, kau harus menggodaku setiap hari"


" Genit"

__ADS_1


__ADS_2