Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Makan makan


__ADS_3

Pagi pagi sekali Aisyah sudah membantu suaminya memakaikan baju koko dan kopeahnya tak lupa juga dengan sorbannya.


" Le, hari ini aku mau ke rumahnya umi, ka Nisa mau mengajak kita dan yang lainnya untuk makan makan di rumahnya"


" Acara apa?" tanya Riziq.


" Katanya sih sebagai rasa syukur atas kehamilan ka Nisa, sekaligus menjalin kebersamaan, kita sudah lama tidak makan makan" jawab Aisyah.


" Hmmm"


" Nanti pulangnya langsung ke rumah umi ya"


" Hmmm" jawab Riziq.


Setelah selesai, Aisyah pun mengajak Riziq untuk sarapan.


"Tumben Ira gak kesini ya?" ucap Aisyah sedikit heran.


" Kalau dia tidak sarapan di sini berarti dia sarapan di rumahnya aang Rasyid"


Aisyah pun mengangguk ngangguk. Setelah selesai sarapan, Riziq pun bersiap siap untuk pergi pengajar.


" Uni aku berangkat dulu" ucap Riziq. Aisyah pun mendekati suaminya dan mencium tangannya. Saat Riziq mau mencium kening istrinya, tiba tiba ia memundurkan wajahnya sedikit menjauh.


" Kenapa?" tanya Aisyah heran.


Riziq langsung tersenyum. Aisyah pun mengerti dan langsung mencium pipi suaminya itu. Namun Riziq masih setia berdiri dan seperti enggan untuk pergi.


" Apa lagi?" tanya Aisyah.


Riziq malah mengetuk ngetuk bibirnya dengan telunjuk. Seketika Aisyah langsung memicingkan matanya.


" Cuma ada dua pilihannya, mau surga apa mau neraka" ucap Riziq.


" Mau surga" jawab Aisyah sambil memutarkan bola matanya. Aisyah langsung mendekati wajah suaminya itu sambil menjinjitkan kakinya hingga wajah mereka semakin mendekat, namun tiba tiba gangguan datang. Adam dan Hawa tiba tiba saja menangis secara berbarengan di dalam kamar. Aisyah dan Riziq langsung tertawa.


" Ha ha ha"


" Sepertinya anak anak tidak ikhlas kalau pagi pagi umi dan abinya sudah bertingkah genit" ucap Aisyah sambil tertawa kecil.


" Ya sudah aku berangkat dulu asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Aisyah. Sebelum pergi, Riziq pun mencium pipi istrinya terlebih dulu.


" Hati hati Le"


Aisyah pun langsung menghampiri Adam dan Hawa di kamar, saat kedatangan umi nya, Adam dan Hawa langsung tertawa ala khas suara tawa bayi.


" Eeeh putra putrinya umi, tadi menangis dan sekarang malah tertawa, sepertinya kalian sangat senang ya mengerjai umimu" tutur Aisyah.


Setelah selesai berberes rumah, Aisyah pun bersiap siap untuk pergi ke rumahnya umi Salamah. Adam dan Hawa sudah di dudukan di kereta bayinya. Tiba tiba terdengar suara orang mengetuk pintu dan mengucap salam.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membuka pintu dan mendorong kereta bayinya ke luar rumah. Nampak Dewi dan bi Ratna sedang menunggu di depan rumah.


" Kita berangkat bareng ya Aisyah" pinta Dewi.


Aisyah pun mengangguk. Mereka pun pergi bersama, Nisa telah menyewa jasa Dewi dan bi Ratna hari ini memasak di rumahnya untuk acara makan makan nanti.


Sesampainya di rumah umi Salamah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab umi Salamah.

__ADS_1


Umi Salamah pun langsung menggendong Hawa dan mencium Adam.


" Ayo masuk" pinta umi Salamah. Dewi dan bi Ratna pun langsung masuk ke dapur sambil menjinjing belanjaan yang baru di belinya di pasar sesuai permintaan Nisa.


" Ka Nisa nya kemana umi?" tanya Aisyah.


" Nisa sedang mengobati kakakmu" jawab umi Salamah.


" Memangnya ka Usman kenapa umi?" tanya Aisyah.


" Dari tadi pagi kakakmu muntah muntah. "


" Ka Usman muntah muntah?, jangan jangan ka Usman yang ngidam. Hi hi hi" Aisyah tertawa tawa. Lalu berjalan menuju kamar mandi.


" Hueeek... hueeek"


ustad Usman terus muntah muntah di kamar mandi. Sedari tadi Nisa selalu setia memijat mijat pundak suaminya itu.


" Mual ya mas?" tanya Nisa.


" Hmmm"


Setelah merasa lebih baik, ustad Usman dan Nisa pun keluar dari kamar mandi.


" Kenapa ka?" tanya Aisyah sambil tersenyum.


" Apa kau mau menertawakanku Aisyah?" tanya ustad Usman sedikit kesal.


" Kalau mentertawakanmu tidak berdosa, aku pasti sudah tertawa sedari tadi" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum. Ustad Usman sudah menggeram kesal.


" Eh kalian malah pada ribut" gerutu umi Salamah.


" Maaf umi"


" Aisyah kau bantu bi Ratna masak ya, sama kamu juga ya Nis, biar Usman istirahat saja"


Nisa dan Aisyah pun pergi ke dapur untuk membantu memasak. sementara ustad Usman sudah berbaring di kursi ruang tamu sambil memijat mijat kepalanya yang terasa pusing.


" Aku baru tau rasanya ngidam dan mual mual seperti ibu hamil" ucap ustad Usman. Hingga ia ketiduran di kursi. Tiba tiba ustad Soleh dan Sarah datang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab umi Salamah.


" Masaknya sudah di mulai umi?" tanya Sarah.


" Sudah, bi Ratna sama Dewi sudah mulai memasak dibantu Aisyah sama Nisa." jawab umi Salamah. Sarah pun pergi ke dapur untuk ikut membantu.


" Usman tidak berangkat mengajar Mi?" tanya ustad Soleh saat melihat adik lelakinya itu sedang berbaring di kursi.


" Adikmu sedang ngidam, sedari tadi dia muntah muntah dan perutnya berasa mual terus menerus. Sekalinya makan langsung di muntahin lagi" tutur umi Salamah. Ustad Soleh sudah ingin tertawa namun ia tahan.


" Emang ada Mi, istrinya yang hamil terus suaminya yang mual mual?" tanya ustad Soleh.


" Ada, buktinya adikmu" jawab umi Salamah sambil menatap ustad Usman. Ustad Soleh sudah tertawa kecil sambil mendekati adik lelakinya itu.


" Man kau kenapa?" tanya ustad Soleh. Ustad Usman pun terbangun dari tidurnya.


" Ka kau di sini?"


" Kau kenapa Man?" tanya ustad Soleh kembali.


" Kepalaku pusing, perutku juga mual"


jawan ustad Usman.


" Kau mau makan mangga muda?" tanya ustad Soleh.

__ADS_1


" Kau jangan macam macam ka, semalam aku makan mangga muda hingga satu piring. Nisa yang memaksaku" tutur ustad Usman. Ustad Soleh malah tertawa.


" Kau baru merasakan mual dan pusingnya saja sudah mengeluh, bagaimana jika kau yang hamil dan melahirkan" gerutu ustad Soleh hingga ustad Usman mengerucutkan bibirnya. Tiba tiba Aisyah datang sambil membawa satu gelas air hangat.


" Ka minum dulu air hangatnya biar perutnya enakan" ucap Aisyah sambil memberikan air minum itu pada ustad Usman.


" Makasih Aisyah"


" Ka Soleh, kalau ka Soleh ingin tertawa boleh ko" ucap Aisyah sambil tertawa kecil.


" Lucu ya Aisyah, Nisa yang hamil, Usman yang muntah muntah" ejek ustad Soleh.


" Kalian pada menyebalkan ya, senang senang di atas penderitaanku" gerutu ustad Usman.


* * * * * * *


Semua tamu nampak berdatangan. dari mulai Riziq, ustad Rasyid dan ustadzah Yasmin yang datang sambil menggendong Anum. Zahira datang bersama Syifa, lalu datang ustad Azam dan ustadzah Ulfi, tidak lupa juga Syakir dan Yusuf datang untuk ikut makan makan. Zahira nampak senang saat melihat ada Yusuf.


" Calon imamku" batin Zahira.


Semua nampak berkumpul di ruang tamu. Makanan pun sudah tersedia dengan berupa rupa menu yang disiapkan. Kiyai Husen pun baru datang dari luar kota, ia nampak senang ketika mendengar mau punya cucu baru.


" Ayo semuanya mulai dinikmati makanannya" ucap Nisa mempersilahkan.


Ustad Soleh sudah memimpin do'a. Semua nampak sibuk mengambil makanannya masing masing. Dengan sigap Zahira langsung menuangkan nasi dan lauk pauknya ke piring yang di pegangnya, lalu memberikannya pada Yusuf. Yusuf pun terdiam sambil menatap Zahira.


" Untuku?" tanya Yusuf.


" Hmmm" jawab Zahira sambil mengangguk. Yusuf pun tersenyum sambil mengambil piring itu dari tangannya Zahira.


" Terima kasih Ira" ucap Yusuf. Zahira hanya mengangguk, tiba tiba Riziq berdehem.


" Ehem ehem" Riziq menatap adik perempuannya itu.


" Aku cuma nolongin ka" ucap Zahira saat melihat ekspresi Riziq.


" Jangan genit genit"


" Hmmm"


Semua sedang makan dengan lahapnya. Aisyah makan satu piring bersama Riziq.


" Alhamdulilah makanannya enak" ucap ustadzah Ulfi.


Dewi sudah memberikan paha bakakak ayam pada Syifa.


" Makan yang banyak ya sayang" pinta Dewi pada putrinya.


" Aku tidak mau bakakak ayam" ucap Syifa.


" Loh memangnya kenapa?, bakakak ayamnya enak loh"


" Kata ibu, kentutnya ibu wangi bakakak ayam, aku tidak mau makan kentutnya ibu" ucap Syifa polos. Dewi sudah tersenyum malu, sementara Riziq sudah terbatuk batuk mendengar ucapannya Syifa. Sementara ustad Usman hanya bengong sambil menatap mereka makan. Sebenarnya ia merasa lapar saat melihat makanan yang beragam itu, namun sayang, perutnya sedang tidak bersahabat. Setiap ada makanan yang masuk ke mulutnya, pasti langsung di muntahkan lagi. Aisyah dan ustad Soleh sudah tertawa tawa pelan saat melihat ustad Usman yang hanya bisa menatap mereka.


" Ka Soleh, bakakak ayamnya enak ya, bumbunya pas, berasa banget di lidah, apalagi pesmol ikannya, uuuh mantaaaap banget" tutur Aisyah yang sengaja menggoda ustad Usman.


" Kau benar Aisyah, apalagi sambalnya, hmmm sedaaaap, di tambah udang gorengnya uuuh mantap top markotop" ucap ustad Soleh yang juga sengaja ingin menggoda adik lelakinya itu hingga ustad Usman langsung menggeram.


" Aisyah, Soleh, jangan ganggu sodaramu yang sedang ngidam itu. Kasihan" tegas umi Salamah.


" Iya umi maaf" ucap Aisyah dan ustad Soleh.


" Tapi ngomong ngomong sayur asemnya mantep ya, apalagi telor ceploknya hmmmm mantaaap" ucap umi Salamah yang ikutan meledek putranya itu. Aisyah dan ustad Soleh langsung tertawa tawa.


" Umiiiiiii" ustad Usman sudah kesal sedari tadi. Semua orang di sana nampak menertawakan ustad Usman.


"Yang sabar ya ka"

__ADS_1


__ADS_2