Jodoh Aisyah

Jodoh Aisyah
Tespek


__ADS_3

Kini Aisyah sedang berberes rumah setelah memandikan Adam dan Hawa. Dilihatnya Adam sedang tengkurep sementara Hawa sedang memainkan bonekanya. Aisyah nampak tersenyum karna putra putrinya anteng. Tiba tiba hpnya berbunyi. Tertera nama Nisa yang memanggilnya, seketika Aisyah langsung menggeser tombol hijau.


" Asalamualaikum ka"


" Waalaikum salam Aisyah"


" Kenapa ka, tumben pagi pagi telpon?" tanya Aisyah heran.


" Ka Nisa positif, tespeknya bergaris dua" ucap Nisa antusias. Aisyah pun terkejut.


" Ka Nisa hamil?, alhamdulilah"


Aisyah nampak merasa senang.


" Alhamdulilah ya ka, hari hari yang di tunggu datang juga. Ka Usman pasti bahagia banget ya ka"


" Mas Usman belum tau masalah ini, dia belum pulang" ucap Nisa.


" Kalau ka Usman tau pasti dia langsung berguling gulingan di tanah karna saking bahagianya" ucap Aisyah sambil membayangkan kakaknya itu berguling gulingan di tanah.


" Eh ka Nisa tutup dulu telponnya ya ka Nisa belum belanja untuk makan siang. Tapi Aisyah, kamu rahasiakan dulu ya kalau ka Nisa hamil, biar kejutan nanti" pinta Nisa.


" Ok ka, sekali lagi selamat ya ka"


" Makasih Aisyah, ka Nisa tutup ya, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah pun menaruh hpnya kembali ke atas meja.


" Kalau suamiku tau ka Usman mau punya anak lagi, si berondong pasti menyuruhku untuk hamil lagi" gerutu Aisyah.


* * * * * *


Sehabis pulang sekolah, Zahira berjalan bersama Syifa menuju asrama. Tiba tiba mereka bertemu dengan mang Ilham yang sedang meringis menahan mulas.


" Asalamuaaikum"


" Waalaikum salam" jawab mang Ilham sambil memegangi perutnya.


" Mang Ilham kenapa?, sakit perut?" tanya Zahira.


" Tiba tiba perut mang Ilham mendadak mulas, tapi mang Ilham sedang buru buru mau mengantarkan ketring" jawab mang Ilham.


" Memangnya bi Ratna sama ka Dewi kemana mang?, tumben mang Ilham yang anter anter ketring?" tanya Zahira kembali.


" Bibi sama Dewi lagi sibuk di kantin" jawab mang Ilham.


" Ya sudah biar aku saja yang anter ketringnya, emangnya ketringnya punya siapa?"


" Punya mba Nisa istrinya ustad Usman" ucap mang Ilham.


" Oh punya ka Nisa ya, biar aku saja mang yang anterin ke sana" Zahira menawarkan diri.


" Apa tidak merepotkan?" tanya mang Ilham.


" Tidak apa apa mang, biar aku yang antar, mang Ilham pulang saja"


" Waah makasih ya Ira, maaf mamang merepotkan"


Mang Ilham pun memberikan rantang ketring itu pada Zahira.


"Mang Ilham pulang dulu ya sudah tidak kuat"


ucap mang Ilham bergegas pergi. Tiba tiba mang Ilham tidak sengaja kentut di hadapan Zahira dan Syifa.


Tuuuuuuut.


" Duh maaf ya Ira, Syifa, mamang keceplosan" ucap mang Ilham sambil berlari.


Zahira dan Syifa sudah menutup hidung masing masing.


" Kentutnya mang Ilham bau" ucap Syifa.


" Hmmm, bau. Sepertinya cuma aku yang kentutnya wangi stroberi" ucap Zahira hingga Syifa mengeryitkan keningnya. Lalu dengan sigap Syifa menjinjitkan kakinya sambil memegangi dahinya Zahira.


" Untuk apa kau mengecek suhu tubuhku?" tanya Zahira.


" Aku cuma takut ka Ira keningnya anget, dimana mana gak ada kentut yang wanginya setroberi" tutur Syifa.


" Kau tidak akan menemukan kentut yang wanginya stroberi karna cuma aku yang punya. Dan sekarang kau pulang saja karna ka Ira mau pergi ke rumahnya ka Nisa dulu ya, kau beranikan pulang ke asrama sendirian?" tanya Zahira. Syifa pun mengangguk.


" Bagus"


Tiba tiba Dewi datang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kalian sudah pulang?" tanya Dewi.


" Kebetulan ada ka Dewi, aku mau pergi ke rumahnya ka Nisa dulu mau nganterin ketring. Ka Dewi anterin Syifa ke asrama dulu. Asalamualaikum" ucap Zahira sambil berlalu pergi ke rumahnya Nisa.


" Waalaikum salam" jawab Dewi san Syifa.


" Ayo Syifa, ibu antar kamu ke asrama"


"Bu boleh aku tanya sesuatu?" ucap Syifa.


" Mau tanya apa?" ucap Dewi sambil membenarkan jilbab putrinya itu yang agak sedikit miring.


" Kata ka Ira, kentutnya ka Ira itu wangi setroberi, kalau kentut ibu wangi apa?" tanya Syifa penasaran. Dewi langsung mengeryitkan keningnya.


" Kentut ka Ira wangi setroberi, kalau kentut ibu mah wangi bakakak ayam" jawab Dewi sambil mengajak Syifa untuk melanjutkan perjalanan menuju asrama. Tiba tiba Syifa menghentikan langkahnya hingga Dewi pun ikut menghentikan langkahnya.


" Kenapa Syifa?" tanya Dewi.


" Ibu jongkok dulu" pinta Syifa.


Meski merasa heran, Dewi pun berjongkok di hadapan putrinya itu. Seketika Syifa langsung memegangi keningnya Dewi.


" Kening ibu sepertinya anget seperti keningnya ka Ira" ucap Syifa hingga Dewi mengeryitkan keningnya.


" Bergaul dengan si selebor lama lama otak Syifa ikutan bergeser juga" gerutu Dewi dalam hati.


* * * * *


Sesampainya Zahira di depan rumah umi Salamah, ia pun langsung mengetuk pintu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab umi Salamah sambil membuka pintu.


" Eh ada Ira"


" Ini umi aku mau nganterin ketring pesanannya ka Nisa dari bi Ratna" ucap Zahira. Umi Salamah pun menerima rantang ketring itu.


" Sebentar ya umi panggil Nisa dulu"


" Nis Nisa pesanan ketringnya sudah datang" teriak umi Salamah. Nisa pun datang sambil mencari sesuatu.


" Duh tespeknya jatuh dimana ya, pasti jatuh di jalan waktu pergi ke kantinnya bi Ratna" batin Nisa.


" Kau cari apa Nis?" tanya umi Salamah.


" Tidak apa apa umi, eh ketringnya udah datang ya, makasih ya Ira, uangnya sudah di kasih sama bi Ratna waktu ka Nisa pesan tadi" tutur Nisa.


" Iya ka, ya sudah aku pulang dulu ya, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"

__ADS_1


Zahira pun berjalan untuk pulang ke asrama, tiba tiba di jalan ia menemukan tespeknya Nisa yang terjatuh. Zahira pun mengambil tespek berukuran besar itu.


" Ini apa ya?" ucap Zahira sambil membulak balikan benda itu.


" Apa ini termometer alat untuk pengukur suhu badan?, cobain akh"


Zahira sudah menaruh tespek itu di keteknya, namun ia merasa kesusahan karna baju gamisnya yang panjang.


" Susah di taruh di ketek mah, harus di masukin mulut"


Zahira pun memasukan setengah tespek itu kemulutnya, tiba tiba ia merasa mual.


" Hueeeks Oo"


Zahira sempat muntah.


" Ko termometernya bau pipis" gumam Zahira. Tiba tiba ustad Usman datang bersama ustad Soleh.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Seketika Zahira langsung menyembunyikan tespek itu di balik punggungnya, namun terlambat ustad Usman melihat Zahira menyembunyikan sesuatu.


" Kau menyembunyikan apa selebor?" tanya ustad Usman. Zahira pun menggelengkan kepalanya.


" Bohong, aku melihat kau menyembunyikan sesuatu di balik punggungmu" ucap ustad Usman.


" Man kau jangan mengganggunya" pinta ustad Soleh.


" Aku kepo"


" Tidak boleh, ini punyaku. Lagian kata ka Riziq orang yang kepo itu nanti uban di kepalanya akan tumbuh mendadak" ucap Zahira kèkèh.


" Pelit sekali kau, memangnya kau mau aku mati penasaran, nanti siapa yang mau memberikanmu les tambahan" tegas ustad Usman.


" Ia ia, nih aku kasih lihat, tapi balikin lagi ya ini punyaku" ucap Zahira sambil memberikan tespek itu pada ustad Usman. Saat ustad Usman menerima benda itu, tiba tiba matanya membelalak hebat.


" Astaghfitullah alazim IRAAAA, ini punyamu?" tanya ustad Usman sambil menaikan level suaranya.


"Ia ini punyaku" tegas Zahira.


Ustad Soleh pun ikut terkejut saat melihat tespek itu bergaris dua.


" Astaghfirullah alazim Ira, siapa yang melakukan ini padamu? tanya ustad Soleh.


" Melakukan apa?" tanya Zahira tak mengerti.


" Yusufkah yang melakukan ini padamu?" tanya ustad Usman tegas dan garang.


" Man kau jangan suudzon begitu pada Yusuf" ucap ustad Soleh.


" Kenapa om ustad bawa bawa ka Yusuf?"


" Lalu siapa yang melakukan ini padamu?, kau jangan mencoreng nama baik pesantren ya"


Zahira nampak ketakutan terlebih ia tak mengerti dengan arah pembicaraan ustad Usman.


" Man kau jangan terlalu keras bertanyanya, Ira nampak ketakutan"


" Tapi ka dia sudah mencoreng nama baik pesantren kita" ucap ustad Usman sedikit marah. Zahira nampak ketakutan hingga matanya mulai berkaca kaca.


"Sebenarnya yang gila itu siapa sih, aku apa mereka berdua" batin Zahira.


" Ira saya tanya siapa yang melakukan itu padamu?" tanya ustad Soleh lembut supaya Zahira tidak ketakutan meskipun ia sedang marah.


" Melakukan apa ustad Soleh, sungguh aku tidak mengerti" ucap Zahira.


" Orang yang membuat kamu begini"ucap ustad Soleh sambil menunjukan tespek itu pada Zahira.


" Mungkin maksud ustad Soleh itu mang Ilham, mang Ilhamlah yang membuatku datang kemari hingga menemukan termometer itu" batin Zahira.


" Mang Ilham" jawab Zahira sedikit terbata.


Seketika ustad Usman dan ustad Soleh langsung terkejut.


" APAAAAA, MANG ILHAM" teriak ustad Usman dan ustad Soleh.


"Astaghfirullah"


" Jadi mang ilham yang membuatmu berbadan dua" gerutu ustad Usman. Zahira langsung mengeryitkan keningnya.


" Inalilahi, ampuni hambamu ya Allah"


" Kapan mang Ilham membelah tubuhku menjadi dua?" tanya Zahira dalam hati.


" Ka kau jaga Ira, aku mau gered mang Ilham, berani beraninya dia menyentuh gadis kecil yang sudah pantas seperti cucunya" gerutu ustad Usman.


" Sekalian panggil ustad Riziq dan ustad Rasyid" pinta ustad Soleh.


" Hmmm"


Ustad Soleh pun mengajak Zahira untuk pergi ke rumah kiyai Husen.


Ustad Usman sudah berjalan sedikit berlari menuju kantinnya bi Ratna, marah murka dan kecewa nampak di wajahnya. Sesampainya di sana.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab mang Ilham, Dewi dan bi Ratna.


" Mang Ilham kau ikutlah denganku, kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu" ucap ustad Usman dengan sedikit emosi membuat semua orang terdiam kebingungan.


" Ustad Usman, kalau kau lelah sebaiknya kau istirahatlah dulu" pinta Dewi.


" Aku tidak sedang lelah Wi, tapi aku sedang marah"


" Memangnya saya harus bertanggung jawab apa ustad?" tanya mang Ilham.


" Mang Ilham tidak usah berpura pura tidak tau, mang Ilhamkan yang telah menghamili Zahira" ucap ustad Usman tegas.


" Astaghfirullah alazim" ucap Bi Ratna, mang Ilham dan Dewi.


" Apa maksudmu ustad, kenapa kau menuduhku menghamili Ira?" tanya mang Ilham.


" Sepertinya ini ada kesalah fahaman ustad" ucap bi Ratna.


" Zahira sendiri yang mengatakan bahwa mang Ilham yang telah melakukan itu padanya"


BRUUUGGH.


Seketika Dewi pingsan setelah mendengar pertuturan dari ustad Usman.


"Allahu akbar" bi Ratna langsung menghampiri Dewi yang sudah tergeletak di lantai kantin.


" Wi, bangun Wi" ucap bi Ratna sambil mengelus ngelus pipinya Dewi. Sementara mang Ilham hanya berdiri mematung sambil mencerna dari setiap ucapan yang di lontarkan oleh ustad Usman.


" Wi sempat sempatnya kau pingsan dalam situasi mencekam seperti ini" gerutu ustad Usman.


" Ustad, tolong bantu Dewi" pinta bi Ratna.


" Bi Ratna jangan menyuruhku untuk menghendong Dewi, sungguh aku tidak kuat" ucap ustad Usman.


" Tapi kasihan kalau Dewi tergeletak di lantai"


" Kompres bi, kompres keningnya Dewi pake duit" ustad Usman memberi ide. Bi Ratna langsung mengeryitkan keningnya.


" Ayo bi, ambil uang terus tempelin di keningnya Dewi"


Bi Ratna pun bergegas mengambil uang 2.000 di kaleng tempat penyimpanan uang.


" Pa, kenapa bapak jadi manekin begini" ucap bi Ratna pada mang Ilham yang sedari tadi diam bengong seperti patung. Bi Ratna langsung menempelkan uang 2.000 itu ke keningnya Dewi.

__ADS_1


" Ko gak bangun" ucap bi Ratna.


" Bibi sih cuma nempelin uang 2.000, jadi Dewi gak bangun, coba nempelinnya uang 100.000, Dewi pasti langsung sadar. Perlahan ustad Usman mengambil uang 100.000 dari saku bajunya dan langsung di tempelkan ke keningnya Dewi. Seketika Dewi terbangun dan sigap langsung mengambil uang itu dan di masukannya ke dalam saku bajunya.


" Tuh kan langsung sadar"


" Mang Ilham ayo ikut saya" pinta ustad Usman.


" Ustad, ini pasti ada yang salah faham, tidak mungkin suami saya menghamili Zahira" ucap Bi Ratna.


" Kalian ikut saja dulu, nanti kita musyawarahkan"


Ustad Usman, mang Ilham, Dewi dan bi Ratna pun pergi ke rumahnya kiyai Husen. Tidak lupa juga menghubungi Riziq dan ustad Rasyid.


Sesampainya di rumahnya kiyai Husen, Zahira sudah memeluk umi Salamah sambil menangis.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Bi Ratna langsung bergegas mendekati Zahira.


" Ira, bibi tanya apa mang Ilham yang melakukan itu padamu?" tanya bi Ratna. Zahira pun mengangguk. Zahira mengangguk karna ia fikir bi Ratna menanyakan kalau mang Ilham yang membuatnya datang ke rumah umi Salamah untuk mengantarkan ketring.


" Astaghfirullah alazim"


Bi Ratna segera mendekati mang Ilham dengan sejuta kekecewaannya.


" Teganya bapak sama ibu, mentang mentang ibu gak bisa ngasih keturunan, bapak tega menghamili Ira anak di bawah umur" tutur bi Ratna sambil menangis sesegukan. Tiba tiba datanglah Riziq, Aisyah dan ustad Rasyid.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Seketika Riziq langsung menarik Zahira dengan penuh kesal dan amarah.


" Apa yang kau lakukan, kenapa kau mempermalukanku seperti ini" ucap Riziq dengan kesalnya.


" Leee, kau tenang dulu" ucap Aisyah sambil melepaskan tangannya Riziq yang kini mencengkram tangannya Zahira.


" Apa ini balasanmu untuku, setelah semua yang kuberikan?" tanya Riziq dengan nada suara berlevel 9. Zahira hanya bengong tak mengerti.


" Ira, katakan apa benar kau hamil?" tanya Aisyah. Zahira hanya mengeryitkan keningnya.


" Tidak" jawab Zahira tegas.


" Jangan bohong Ira, kau sudah salah pake bohong pula" tegas ustad Usman.


" Tapi aku beneran tidak hamil" jawab Zahira.


" Tapi tespek yang kau punya bergaris dua. Dan kau bilang itu punyamu" ucap ustad Usman.


" Tespek???"


" Coba ka Aisyah lihat tespeknya?" pinta Aisyah.


" Apa telek itu ka?" tanya Zahira.


" Alat tes kehamilan, yang di maksud oleh ka Usman tadi"


Zahira pun memperlihatkan tespek yang di temukannya itu.


" Yang ini bukan?" tanya Zahira.


Aisyah yang melihatpun langsung terkejut melihat tespek itu bergaris dua.


" Astaghfirullah"


Aisyah langsung melirik Riziq. Riziq semakin murka dibuatnya.


" Demi Allah Aisyah, mamang tidak melakukan apa apa pada Zahira" ucap mang Ilham.


" Ka aku menemukan termometer itu di jalan" ucap Zahira.


" TERMOMETER???????" ucap mereka bersama sama.


" Ini bukan termometer Ira, tapi alat tes kehamilan" tegas Aisyah. Zahira pun terkejut.


" Tapi ka itu bukan punyaku aku hanya nemu"


" Lalu kenapa kau bilang mang Ilham yang melakukan itu" ucap ustad Soleh.


" Kufikir kalian menanyakan kenapa aku bisa sampai menemukan alat itu, karna aku habis mengantarkan ketring yang di pesan ka Nisa dari bi Ratna" tutur Zahira.


" Tadi saya sakit perut, dan Ira menawarkan diri untuk menolong saya mengantarkan ketring itu" tambah mang Ilham.


" Jadi kau beneran tidak hamil?" tanya Riziq.


Zahira pun menggelengkan kepalanya.


" Kalau kau tidak hamil, lalu tespek itu punya siapa?" tanya ustad Usman.


Tiba tiba Nisa keluar dari rumah.


" Eh banyak tamu" ucap Nisa. Saat Nisa melihat tespek yang di pegang Aisyah.


" Aisyah kau menemukan tespeknya?" tanya Nisa. Semua terdiam.


" Ini punya ka Nisa?" tanya Aisyah.


" Iya ini punya aku" jawab Nisa. Ustad Usman pun terkejut.


" Kau hamil Nis?" tanya ustad Usman.


" Iya mas, maaf kalau aku telat memberitahumu"


" Alhamdulilah" ucap semua berbarengan. Ustad Usman langsung memeluk Nisa begitupun umi Salamah. Semuanya mengucapkan selamat. Riziq langsung memeluk Zahira.


" Maafin kakak ya"


Zahira pun mengangguk.


" Ira maafin om ustad ya. Kamu cantik deh"


rayu ustad Usman.


" Sekarang aja bilang cantik, tadi aja ngomel ngomel" gerutu Zahira. Semuanya meminta maaf pada Zahira atas kesalah fahaman itu.


Bi Ratna mendekati mang Ilham.


" Pa maafin ibu ya, ibu udah salah paham dan nuduh bapak yang tidak tidak" ucap bi Ratna.


" Tidak apa apa bu, bapak sayang sama ibu" jawab mang Ilham.


" Cieeeeee"


"Inget sama umur" goda ustad Usman hingga umi Salamah menepuk pundaknya.


" Maaf umi bercanda"


" Mas, mulai sekarang kau siap siap ya tidur di luar, sepertinya ngidamku sama seperti ngidam yang pertama deh" ucap Nisa.


" Astaghfirullah alazim"


Semuanya menertawakan ustad Usman.


" Kenapa nasibku selalu naas kalau berhubungan dengan perempuan hamil" ucap ustad Usman.


" Bukan naas ka tapi ngenes" jawab Aisyah.


" Ha ha ha" Aisyah dan ustad Soleh tertawa puas.

__ADS_1


__ADS_2