
Masih dengan Riziq yang masih di kuasai rasa cemburunya itu, ia semalaman tak membiarkan Aisyah lepas dari kung kungannya. Rasa cemburunya menumbuhkan hasrat yang menggebu gebu. Ia juga tak sedikit memberikan ceramah pada Aisyah agar menjaga jarak dengan kakaknya. Aisyah hanya bisa mengangguk ngangguk saja meskipun ia merasa Riziq terlalu berlebihan. Namun Aisyah merasa senang akan hal itu ia merasa suaminya itu sangat menggemaskan saat cemburu, ya meskipun sedikit menyebalkan.
Pagi pagi sekali Aisyah sudah terbangun dari tidurnya. Riziq memeluknya dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya jauh dari dekapannya apalagi sampai bertemu dengan ustad Rasyid.
" Lee" Aisyah mencoba untuk membangunkannya karna waktu subuh telah tiba.
" Le bangun" ucap Aisyah kembali. Saat Aisyah akan menggoyangkan pundaknya Riziq, tiba tiba ia baru teringat kalau tubuhnya kini polos hanya tertutupi selimut saja. Perlahan ia sedikit menjauh dari suaminya itu.
" Hati hati Aisyah, jangan sampai membangunkannya, jangan sampai tubuhmu menyenggolnya, nempel sedikit saja itu sangat berbahaya untukmu, dia tidak akan membiarkanmu bangun hingga matahari terbit" batin Aisyah.
Perlahan Aisyah melepaskan pelukannya Riziq. Sedikit demi sedikit ia menjauh dan turun dari tempat tidur.
" Badanku berasa remuk semua" gerutu Aisyah. Ia lalu melangkah ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Aisyah pun sudah berpakaian namun masih menggunakan handuk yang melilit di kepalanya. Baru saja ia membuka pintu kamar mandi, tiba tiba Riziq langsung memeluknya dari belakang. Tentu saja Aisyah terkejut.
" Leee"
" Kenapa uni tidak membangunkanku" ucap Riziq sambil membalikan tubuhnya Aisyah.
" Aku baru saja mau membangunkanmu" jawab Aisyah. Rasa cemburunya Riziq masih dapat di rasakan Aisyah.
"Sepertinya rasa cemburu masih terlihat di wajahnya"
"Le, cepat kau mandi, sebentar lagi azan subuh" pinta Aisyah sambil berusaha melepas pelukan suaminya itu. Bukannya melepaskan pelukannya, Riziq malah mengeratkan pelukannya itu, membuat Aisyah merasa curiga.
" Sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu"
"Belum puaskah kau semalaman menyiksaku. Kalau aku masih berdiri disini, bisa bisa dia menyeretku ke kamar mandi, aaaaa prustasi aku, kalau rasa cemburunya itu datang tiap hari, lama lama aku bisa mati di tempat tidur" batin Aisyah.
" Kenapa uni melamun, kau pasti memikirkan yang jorok jorok ya" ucap Riziq sambil mencubit hidungnya Aisyah.
" Kau yang suka berfikiran jorok" ketus Aisyah.
" Uni boleh aku tanya sesuatu padamu?" tanya Riziq serius. Aisyah pun terdiam.
" Apa dia akan bertanya tentang kakanya, apa dia masih marah dengan kejadian kemarin, duuh dia menakutkan sekali" batin Aisyah.
" Mau tanya apa?"
Perlahan Riziq mendekat dan berbisik di telinganya Aisyah.
__ADS_1
"Berapa kali kau mendesah semalam?" tanya Riziq sambil tersenyum senyum. Namun mata Aisyah membulat begitu saja saat mendengar pertanyaan suaminya itu. Seketika ia langsung memukul pelan bahunya Riziq.
" Leeee" geram Aisyah. Riziq malah tertawa tawa.
" Kau sungguh menggemaskan uni" ucap Riziq sambil melepas pelukannya.
" Dan kau sungguh menyebalkan" jawab Aisyah sambil cemberut. Riziq pun masuk kamar mandi.
Setelah Riziq pulang dari masjid, dia pun menyuruh Aisyah untuk duduk disebelahnya.
" Duduk uni" pinta Riziq sambil menepuk kursi di sebelahnya. Perlahan Aisyah pun duduk di sebelahnya.
" Uni, maafkan aku jika tiba tiba rasa cemburuku membuatmu risih, tapi demi allah uni, aku tidak suka kau dekat dekat dengan laki laki lain meskipun itu adalah kakakku, apalagi kalian dulu punya cerita di masalalu, jadi mulai sekarang kau harus jaga jarak dengan kakaku minimal 3 meter 75 cm, itu adalah jarak aman untukmu" tutur Riziq. Aisyah hanya mengeryitkan keningnya.
"Apaa?, 3 meter 75 cm?, memangnya kalau mau ketemu ustad Rasyid harus bawa meteran apa" batin Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk ngangguk saja.
" Ya sudah aku berangkat mengajar dulu" ucap Riziq berpamitan.
" Jangan lupa ya uni 3 meter 75 cm. Asalamualaikum"
Riziq pun pergi untuk mengajar sambil membawa bajunya ustad Rasyid dan satu kancing yang terlepas akibat tersangkut jilbabnya Aisyah. Aisyah sudah menggeleng gelengkan kepalanya merasa geli dengan rasa cemburunya Riziq.
" Rasa cemburunya lain dari yang lain, orang lain kalau cemburu merasa terbakar hatinya, ia malah merasa tertantang nafsunya, hingga hasrat dan birahinya menggebu gebu. Hingga berakhir menabur benih benih di rahimku" batin Aisyah.
Setelah Riziq sampai di aula, ia pun menemui para pengajar lain untuk sekedar saling sapa dan mengobrol. Disana sudah ada ustad Rasyid, Usman, Soleh dan ustad Azam serta beberapa pengajar lainnya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Riziq pun mendekati kakaknya, lalu memberikan baju kokonya serta satu kancing yang terlepas itu.
" Ini bajumu Ang, belum di cuci, jangan harap Aisyah mau mencucinya, dan ini kancingnya terlepas satu jangan harap juga Aisyah mau menjahitnya" tutur Riziq yang kini ikut duduk dengan ustad Soleh. ustad Rasyid hanya diam saja saat ia menerima baju dari Riziq.
" Itu si ustad Brondong kenapa jutek begitu sama kakaknya?" bisik ustad Usman pada ustad Azam. Ustad Azam hanya tersenyum saja.
" Heei ustad Azam kenapa kau hanya tersenyum saja, saya tidak bisa mengartikan senyumanmu itu" ucap ustad Usman.
__ADS_1
"Haruskah saya menjawab?"
" Ya harus, nanti kalau tidak di jawab, bisa bisa nanti malam saya tidak bisa tidur"
" Kemarin ada insiden sedikit di jalan" bisik ustad Azam. Ustad Usman sudah memutar otaknya.
" Sudah bisa saya tebak, pasti kemarin si ustad berondong itu bajunya terkait paku hingga robek lalu ia meminjam baju kakaknya, benarkan?" tanya ustad Usman.
" Kemarin Aisyah tidak sengaja menabrak ustad Rasyid hingga kerudungnya nyangkut di bajunya ustad Rasyid"
" Sudah bisa saya tebak, si ustad berondong itu cemburu pada kakanya. Benarkan?, tapi itu ustad Rasyid hanya diam saja saat adiknya menelanjanginya di tengah jalan?" tanya ustad Usman sok tau. Ustad Azam hanya tersenyum senyum saja.
" Kalau saya yang jadi ustad Riziq, pasti saya sudah menelan kancing yang copot itu kalau perlu bajunya juga di telen, biasanya orang yang sedang merasa cemburu buta itu akan melakukan sesuatu yang di luar nalar" tutur ustad Usman.
" Ustad Usman pernah merasa cemburu?" tanya ustad Azam. Mereka mengobrol sambil berbisik.
" Pernah"
" Kalau boleh tau kenapa?" tanya ustad Azam kepo.
" Dulu saat Nisa baru datang ke pesantren ini, dia tersesat, hingga ada laki laki yang menolongnya dan bersedia mengantarkan Nisa pulang. Saya sudah kebakaran jenggot saat melihat Nisa berjalan berdua dengan laki laki itu. Dada saya naik turun seperti sedang lari maraton, darah saya mendidih, muka saya yang tampan ini tiba tiba berubah seperti monster untung saja saat itu saya tidak beubah menjadi HULK. Seketika itu pula saya sedikit berlari mendekati mereka yang kebetulan sedang berjalan membelakangi saya. Saya langsung meluncurkan kata kata pedas dan nyelekit yang saya tiru dari sinetron indosiar. Namun tak saya sangka saat mereka berbalik menghadap saya, ternyata laki laki itu adalah abi Husen yang mengantar Nisa pulang. Hadeuuuuh, ustad tau apa yang di ucapkan abi, dia bilang Usman, kau kerasukan jin apa?. Hingga ujung ujungnya tangan abi mendarat tepat di ujung telingaku dan menariknya sesuai ritme" tutur ustad Usman. Ustad Azam sudah tersenyum senyum mendengar cerita dari ustad Usman.
" Dan ustad tau, Nisa bukannya membela saya dia malah tertawa tawa riang gembira"
" Saya cuma mau mengingatkan, hati hati jangan sampai kita dikuasai rasa cemburu, apalagi cemburu buta, nanti ujung ujungnya akan merugikan kita" tutur ustad Azam.
" Ustad sendiri pernah merasa cemburu?" tanya ustad Usman. Ustad Azam hanya menggelengkan kepalanya.
" Heei kenapa?"
" Tidak kenapa kenapa"
" Lalu ustadzah Ulfi pernah cemburu?" tanya ustad Usman kepo.
" Alhamdulilah tidak pernah" jawab ustad Azam.
" Bisa saya mengerti, dengan ketampanan ustad Azam yang berada di bawah rata rata, ustadzah Ulfi pasti tidak akan merasa takut kalau suaminya akan dilirik perempuan lain, tidak seperti Nisa, dia sudah tau kalau ketampanan suaminya di atas rata rata maklum saja saya kan mantan cover boy di kairo, baru dekat 2 meter saja dengan perempuan lain dia sudah menarik mundur badan saya hingga berjarak 5 meter, ustad tau saya harus melempar uang pada penjaga kasir saat mau membayar belanjaan. Sungguh ironiskan menjadi laki laki yang berwajah tampan. Jadi ustad Azam harus bersyukur di beri wajah yang ketampanannya di bawah rata rata" tutur ustad Usman. Ustad Usman hanya mengangguk nganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Astaghfirullah alazim" batin ustad Azam sambil menatap geli pada ustad Usman yang percaya dirinya setinggi langit.
__ADS_1