
Satu minggu pun berlalu, kini semua orang sudah bersiap untuk menonton turnamen sepak bola di lapangan pesantren. Riziq dan Aisyah pun sudah bersiap untuk pergi ke lapangan. Riziq sudah menggunakan Sarung dan kaos putih berlengan pendek.
" Ayo uni kita berangkat" pinta Riziq sambil mendorong kereta bayi Adam dan Hawa. Aisyah pun keluar kamar.
" Ayo" ucap Aisyah.
Riziq sudah memicingkan matanya.
" Kenapa?" tanya Aisyah.
" Uni tidak boleh berdandan seperti itu, tidak boleh pake lipstik" ucap Riziq sambil memberikan 2 lembar tisu pada Aisyah.
" Bersihkan make'upnya, di sana pasti banyak para laki laki yang akan melihat turnamen sepak bola" tutur Riziq. Sambil mengerucutkan bibirnya Aisyah pun menerima tidu itu dan langsung menghapus mak'up serta lipstiknya, padahal ia sudah senatural mungkin dengan dandanannya.
" Disaat seperti ini masih saja cemburu" batin Aisyah.
Kini mereka sudah berjalan menuju lapangan. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Zahira.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
" Mau kemana kau sudah rapih begitu?" tanya Riziq.
" Tentu saja aku mau pergi ke lapangan, aku kan mau ikut bertanding" ucap Zahira.
" Ira memangnya kau bisa main sepak bola?" tanya Aisyah.
" Gampang itu mah kecil, tinggal ditendang doang apa susahnya" jawab Zahira. Kini mereka pun berangkat bersama menuju lapangan. Ira sudah mendorong kereta bayi si kembar, sementara Aisyah sudah menggandeng lengannya Riziq.
" Uni kau jangan terlalu kencang menggandeng lenganku, aku susah bergerak" protes Riziq.
" Kau jangan banyak protes, disana banyak perempuan perempuan yang akan menonton pertandingan. Jadi kau harus hati hati, kalau kalau diantara mereka ada yang merangkap sebagai pelakor yang sedang mengincar laki laki manis sepertimu" ucap Aisyah sambil berjalan. Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.
" Aku sudah seperti baby siter yang mengurus Adam sama Hawa, sementara orang tuanya sedang asik bergandengan tangan seperti sepasang kekasih yang akan pergi nge'det, sungguh menyebalkan" protes Zahira dalam hati.
Sesampainya disana semua santri putra dan santri putri sudah berkumpul di tempat terpisah. Santri putri sebelah kiri dan santri puntra sebelah kanan. Ustad Usman sudah berdiri di tengah lapangan sambil membawa priwit yang digantung di lehernya, kini ia merangkak menjadi wasit dadakan.
Aisyah pun melihat ustadzah Yasmin dan ustad Rasyid sudah duduk di pinggir lapangan untuk menonton. Umi Salamah serta kiyai Husen pun sudah berada di pinggir lapangan tidak jauh dari posisinya ustad Rasyid. Aisyah Riziq dan Zahira pun menghampiri mereka.
" Asalamualaikum" Aisyah dan Riziq mengucap salam.
" Waalaikumsalam " jawab mereka.
Aisyah sudah duduk di sebelahnya ustadzah Yasmin, namun Riziq menarik pelan lengan Aisyah untuk bergeser agar ia tak terlalu dekat dengan posisinya ustad Rasyid.
" Ingat uni, jaga jarak aman 3 meter 75 cm" bisik Riziq mengingatkan. Aisyah pun bergeser hingga kini Zahiralah yang duduk di sebelahnya ustadzah Yasmin. Tiba tiba Dewi datang bersama dengan bi Ratna dan mang Ilham.
" Asalamualaikum"
" Waalaikumsalam"
Bi Ratna, Dewi dan mang Ilham pun bergabung dengan mereka. Bi Ratna sudah menggendong Adam, sementara umi Salamah sudah menggendong Hawa. Aisyah pun menghampiri kakaknya itu yang kini menjadi wasit dadakan.
" Ka kalau boleh tau hadiahnya apa kalau menang?" tanya Aisyah penasaran.
" Kalau menang, hadiahnya adalah tiket bulan madu ke bulan" jawab ustad Usman.
" Huuh tidak menarik" ucap Aisyah.
" Apa maksudmu tidak menarik?" tanya ustad Usman pada Aisyah.
" Iya tidak menarik karna aku sudah sering bulan madu diatas pelangi" jawab Aisyah sambil pergi dan duduk kembali ke pinggir lapangan bergabung kembali dengan mereka.
" Sejak kapan dia jadi Inka kristi" batin ustad Usman.
Setelah semua berkumpul, dan berunding dengan tim masing masing. Riziq mendekati Aisyah dan berjongkok di hadapan Aisyah yang sedang duduk di pinggir lapangan.
__ADS_1
" Uni aku butuh semangat ekstra" ucap Riziq. Aisyah yang mengertipun langsung lirik kanan lirik kiri. Dan benar saja yang lain sedang sibuk dengan pandangannya masing masing.
" Tidak ada yang lihat" ucap Riziq, seketika Aisyah langsung mencium kilat pipinya Riziq.
Cup
Riziq pun tersenyum.
" Terima kasih uni" ucap Riziq sambil berlari kelapangan. Wajah Aisyah sudah nampak memerah, ia pun lihat kanan kiri kembali takut ada yang melihat, namun benar saja ustad Rasyid melihat saat Aisyah mencium pipinya Riziq. Ustad Rasyid hanya tersenyum, setelah itu ia langsung menyusul Riziq ke lapangan.
" Asalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh" ustad Usman memberi salam.
" Waalaikumsalam" jawab semuanya.
" Hari ini kita mengadakan turnamen sepak bola di pesantren kita, dengan tujuan mempererat silaturahmi dan mengisi hari libur kita dengan kegiatan positip, langsung saja pertandingan yang pertama akan dilakukan oleh tim putra yang terdiri dari 2 tim, yang pertama tim A, pemainnya adalah ustad Azam, ustad Soleh, Yusuf dan beberapa santri yang lain" ucap ustad Usman.
Setelah mendengar nama Yusuf, Zahira langsung bersorak sorak.
" Kak Yusuf" teriak Zahira. Aisyah langsung mencubit gemas pada adik iparnya itu.
"Dan untuk tim B pemainnya adalah ustad Riziq, ustad Rasyid dan beberapa santri lain yang akan menjadi tim mereka" ucap ustad Usman kembali.
" Tim B kurang satu pemainnya" ucap ustad Rasyid.
" Tim B kurang satu pemainnya, disini siapa yang mau ikut" teriak ustad Usman.
" Akuuuuu" ucap Zahira sambil berteriak. Riziq sudah memicingkan matanya sambil menggeram pada Zahira.
" Heeh bocah ingusan, spesiesmu laki laki apa perempuan?" tanya ustad Usman hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Ustad saya boleh ikut" teriak mang Ilham.
" Boleh mang"
" Tapi saya tidak bawa sarung" ucap mang Ilham. Ustad Usman pun mencari sarung yang dipake oleh muridnya.
" Maaf ustad kalau sarung saya di pinjam, saya hanya menggunakan boxer saja" jawab santri itu.
" Kalau begitu jangan, nanti mahkotamu kelihatan" ucap ustad Usman. Ustad Usman pun mengedarkan pandangan untuk mencari sarung, tiba tiba ia tersenyum melihat sarung putranya yang sedang di pegang Nisa.
" Nis, pinjam sarungnya" ucap ustad Usman sambil mengambil sarung itu dari tangannya Nisa. Lalu ia memberikannya pada mang Ilham. Mang Ilham sedikit ragu untuk memakainya karna itu adalah sarung anak kecil.
" Ayo mang pakai, sebentar lagi dimulai" ucap Riziq. Dengan terpaksa mang Ilham pun memakai sarung itu. Ustad Rasyid tersenyum melihat mang Ilham yang memakai sarung itu, karna kecil, sarung itu hanya sampai di bawah lututnya mang Ilham.
"Pa, sudah jangan ikutan ibu geli lihat bapak pake sarung itu" teriak bi Ratna.
" Bi, kelakuan putramu kalau sudah kasih ide" ucap umi Salamah pada kiyai Husen. Kiyai Husen hanya menggeleng gelengkan kepalanya geli melihat ustad Usman. Tiba tiba ada yang memberi pinjam sarung yang ukurannya cukup pada mang Ilham.
" Aku tidak yakin tim B akan menang, ustad Rasyid cuma menang tampan doang, ustad brondong cuma menang manis doang, sementara mang Ilham cuma menang tua doang, sementara yang lainnya tidak meyakinkan semua, huuh sedikit kemungkinan bisa menang" batin ustad Usman.
"PRIIIIIIIIIIT" ustad Usman sudah meniupkan priwitnya, saat pertandingan di mulai.
Riziq dan timnya pun sudah berlari larian mengejar bola termasuk timnya ustad Azam.
Semua penonton sudah bersorak sorak.
" Leeee, ayo masukin bolanya" teriak Aisyah.
" Ka Yusuf, semangaaaat" Zahira tak kalah berteriak hingga Aisyah menggeram kesal.
" Kenapa kau berteriak Yusuf, Yusuf itu adalah tim lawan, jadi kau jangan coba coba untuk berhianat" ucap Aisyah. Zahira sudah cengengesan.
" Ia maaf ka aku lupa" ucap Zahira.
Saat Riziq menendang bola dan meleset kepinggir gawang, semua bersorak termasuk Zahira.
" Huuuuuuuuuu" teriak Zahira kembali.
__ADS_1
" Ira, kau jangan berteriak seperti itu, berilah kakakmu semangat" ucap Aisyah.
Permainan pun berjalan sengit dan sedikit menegangkan. Hingga diakhir pertandingan, Yusuf berhasil mencetak gol.
Gooooool
" Gooooool horeee" teriak Zahira sambil berjingkrak jingkrak karna Yusuf mencetak gol di akhir pertandingan. Aisyah sudah menggeram sambil menarik Zahira untuk duduk. Sambil mengerucutkan bibirnya Zahira pun duduk kembali.
" Kau tau hukuman apa yang akan di berikan untuk seorang penghianat?" tanya Aisyah sambil memicingkan matanya. Zahira menggelengkan kepalanya sedikit takut.
" Uang jajanmu akan di potong 75%" ucap Aisyah.
" Jangan dong ka" ucap Zahira memelas.
" Karna pertandingan sudah berakhir dan di menangkan oleh tim A, yang di ketuai ustad Azam, beri selamat dan tepuk tangan" teriak ustad Usman. Semuanya bersorak sorak.
" Kini waktunya beristirahat sejenak, nanti akan dilanjutkan dengan pertandingan sepak bola putri" tutur ustad Usman kembali.
Kini mereka pun beristirahat. Riziq pun mendekati Aisyah dan berbaring di pangkuan istrinya itu tanpa malu malu. Riziq nampak ngos ngosan karna kelelahan.
" Uni aku cape sekali" ucap Riziq.
Aisyah pun memberikan minum pada Riziq dan langsung mengelap keringat Riziq dengan handuk kecil yang ia bawa.
" Terima kasih uni"
Ustad Rasyid pun terdiam saat melihat perhatiannya Aisyah pada Riziq. Lalu ustad Rasyid langsung menatap istrinya. Ustadzah Yasmin pun tersenyum dan langsung memberikan minum pada suaminya itu, sedikit demi sedikit ia mulai belajar perhatian pada suaminya.
" Terima kasih Yas"
Ustad Usman pun mendekati mereka, ia terdiam saat melihat Riziq tidur di pangkuan istrinya, ia juga melihat ustad Rasyid sedang minum ditangan istrinya begitu pula ustad Azam.
" Duuh Nisa kemana sih?, orang orang pada di perhatiin sama istrinya Nisa malah pergi ke tolilet" gumam ustad Usman. Tiba tiba Nisa datang.
" Cari siapa mas?" tanya Nisa.
" Cari kamu Nis, duduk sini" pinta ustad Usman. Kini Nisa sudah duduk bersama mereka, begitu juga dengan ustad Usman yang kini duduk di sebelahnya Aisyah.
" Katanya sudah jago main sepak bola, nyatanya kalah juga" sindir ustad Usman pada Aisyah. Aisyah faham kalau kakanya itu sedang menyindir suaminya.
" Ka Usman berisik"
Saat ustad Usman akan tidur di pangkuan Nisa, ia tidak tau kalau Nisa bergeser tempat duduk dengan kiyai Husen karna ia ingin menggoda Hawa yang sedang di gendong umi Salamah. Saat ustad Usman mendaratkan kepalanya di pangkuan kiyai Husen, matanya membulat sempurna.
" Astaghfirullah, ko Nisa berkumis" ucap ustad Usman mencoba
bangkit, namun terlambat karna kiyai Husen sudah mendaratkan tangannya di kening putranya itu.
Plaaakk.
" Aduuuh abi sakit" ringis ustad Usman yang kini sudah bangun dari pangkuan abinya. Aisyah sudah cekikikan menertawakan kakaknya itu.
"Kau menertawakanku Aisyah?" tanya ustad Usman sedikit kesal.
" Ia " jawab Aisyah sambil tertawa tawa.
" Kau mau kuberi kartu kuning" ucap ustad Usman.
" Tidak perlu ka terimakasih" Jawab Aisyah.
" Aisyah kau punya bayi lagi?" tanya ustad Usman.
" Bayi? ??, maksudnya?" tanya Aisyah tak mengerti.
" Itu yang tidur dipangkuanmu, bayi siapa?" ucap ustad Usman sambil menatap Riziq.
Aisyah sudah menggeram kesal.
__ADS_1
"Ka Usmaaaaaan"