
Setelah selesai memberi pelajaran sedikit pada Zahira, Riziq pun minta izin untuk pergi ke luar.
" Uni, aku pergi ke luar sebentar, dan jangan lupa besok pagi pagi ke rumah umi Fadlun dulu. Umi sama abi berangkat ke Kairo besok" ucap Riziq mengingatkan.
" Apa kita akan mengantarnya ke bandara?" tanya Aisyah.
"Aku ikut" pinta Zahira.
" Umi sama abi minta kita hanya mengantarnya sampai depan gerbang pesantren saja" ucap Riziq memberitau.
" Pagi pagi sekali aku akan ke rumahnya" tegas Zahira.
" Ya sudah aku pergi dulu asalamualaikum" ucap Riziq sambil berlalu pergi.
" Waalaikum salam"
Aisyah, Zahira dan Dewi pun asik mengobrol namun kali ini mereka tidak bergosip. Setelah hampir satu jam, Dewi pun pamit pulang.
" Aisyah aku pulang dulu ya, aku takut suamiku pulang" ucap Dewi.
" Hmmm"
" Tapi aku bolehkan bawa cemilan yang tersisa di piring" ucap Dewi tanpa malu malu.
" Boleh, sebentar aku ngambil plastiknya dulu" ucap Aisyah sambil berlalu ke dapur. Setelah kue kuenya di masukan plastik Dewi pun tersenyum.
" Ka Dewi kalau sudah di beri sesuatu yang bisa masuk ke perut, senangnya bukan main, sudah seperti mendapatkan harta karun" tutur Zahira, ada nada mengejek dalam kalimatnya.
" Kau jangan protes Ira, kau tau aku ini masih dalam masa pertumbuhan, jadi aku butuh asupan gizi yang lebih" jawab Dewi asal.
" Masa pertumbuhan apa?" tanya Zahira.
" Masa pertumbuhan tua" jawab Aisyah sambil berbisik.
" Ya sudah aku pulang dulu Aisyah, terima kasih untuk oleh olehnya" ucap Dewi sambil cengengesan.
" Tidak piknik tapi dapat oleh oleh, Mantap"
" Ira kau mau ikut pulang denganku?" tanya Dewi. Zahira pun mengangguk.
" Ya sudah ayo kita pulang. Asalamualaikum Aisyah"
" Waalaikum salam. Hati hati"
Dewi dan Zahira pun pergi dari rumahnya Aisyah. Mereka pun berjalan sambil mengobrol.
" Ka, kalau kau ikutan lomba sandal bakiak, kau jangan berdiri di belakangku ya" ucap Zahira.
" Kenapa memangnya?, badanmu kan kecil, kalau kau berdiri di belakang, kau tidak akan bisa melihat jalan"
" Tapi kalau kaki kita tidak bisa mengimbangi langkahnya, maka kita akan jatuh, dan tubuhmu yang subur itu akan menimpa tubuhku yang mungil ini" tutur Zahira.
" Kau ini bicara apa selebor, kau fikir aku tumbuhan tumbuh subur" gerutu Dewi.
Tiba tiba mereka terdiam saat melihat beberapa santri sedang latihan paskibra untuk acara 17 Agustus nanti. Dan yang mengibarkan bendera salah satunya adalah Yusuf.
" Wah ka Yusuf jadi pengibar bendera ya?, kalau di suruh milih, aku rela, iklas, rido lilahita ala jadi benderanya" tutur Zahira sambil tersenyum. Hingga Dewi mengeryitkan keningnya.
" Kalau kau benderanya, kau bukan akan dikibarkan di tiang bendera, tapi kau akan di kibarkan di tiang listrik" tegas Dewi hingga Zahira cemberut mendengarnya.
" Tidak perlu di kibarkan pun, cintanya ka Yusuf sudah berkibar kibar di hatiku" Ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Kau lebay Ira. Katanya kau mau menjunjung tinggi kehormatanmu" ucap Dewi mengingatkan.
" Astaghfirullah alazim, aku lupa ka Dewi. untung ka Dewi mengingatkan. Aku lupa kalau aku sedang berusaha menjadi wanita yang menjunjung tinggi kehormatannya untuk tidak merendahkan diri pada laki laki. Untung ka Aisyah dan ka Riziq tidak mendengarnya. Kalau mereka dengar, mereka pasti marah dan akan memasukan geranat ke mulutku" tutur Zahira sambil bergidik ngeri.
__ADS_1
" Ya sudah ayo kita pulang" ajak Dewi. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.
* * * * * *
Keesokan harinya. Riziq dan Aisyah sudah mendorong kereta bayi Adam dan Hawa menuju rumahnya umi Fadlun. Sesampainya di sana, umi Fadlun dan kiyai Mansyur sudah siap untuk berangkat ke bandara.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Umi Fadlun tersenyum lalu menciumi cucu cucunya.
" Umi yakin tidak mau di antar sampai bandara?" tanya Riziq.
" Tidak usah, nganternya sampai depan gerbang saja" jawab umi Fadlun.
" Ayo kita jalan ke depan pesantren, taxinya sudah menunggu di sana" ucap kiyai Mansyur.
Mereka pun mengangguk dan langsung berjalan menuju gerbang pesantren. Riziq sudah membantu membawakan koper.
Sesampainya di depan pesantren, umi Fadlun mengedarkan pandangannya.
" Kenapa umi ?" tanya Aisyah.
" Ira tidak ikut kemari?" tanya umi Fadlun.
Riziq dan Aisyah pun ikut mengedarkan pandangannya mencari Zahira.
" Mungkin Ira telat bangun umi"
" Umiiiiiiii" teriak Zahira dari kejauhan sambil berlari.
" Nah tuh orangnya nongol"
" Umi yakin mau pergi" ucap Zahira sambil terisak.
" Umi harus pergi. Abi Mansyur harus kembali mengajar di sana. Kamu jangan nangis begitu, nanti cantiknya hilang" ucap umi Fadlun sambil menghapus air matanya Zahira.
" Cuma modus itu mi, air mata buaya" ucap Riziq hinga Zahira memicingkan matanya. Umi Fadlun hanya tertawa saja, lalu umi Fadlun memberikan sebuah buku pada Zahira.
" Apa ini mi?" tanya Zahira.
" Ini buku untukmu, umi dengar kau sedang belajar menjadi wanita yang menjunjung tinggi kehormatannya. Di baca ya" pinta umi Fadlun. Zahira pun membaca judul buku itu.
" Kehormatan dan harga diri wanita"
Zahira pun tersenyum.
" Makasih ya umi, aku pasti akan membacanya"
Umi Fadlun pun tersenyum.
" Umi pergi dulu ya"
Riziq pun mencium tangan uminya dan tidak lupa memeluknya.
" Hati hati umi, aku pasti akan merindukanmu" ucap Riziq. Aisyah pun memeluk mertuanya itu begitu juga dengan Zahira.
" Hati hati umi"
Riziq pun tak lupa merangkul kiyai Mansyur.
" Hati hati bi"
" Asalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam"
Sebelum pergi, umi Fadlun pun menciumi dulu Adam dan Hawa.
Zahira melambaikan tangannya saat umi Fadlun dan kiyai Mansyur masuk kedalam taxi. Setelah kepergian umi Fadlun, Riziq pun mengajak pulang.
" Ayo"
Tiba tiba Riziq terdiam melihat sandal yang di kenakan Zahira sebelah kiri semua.
" Eh bocah semprul, kenapa kau pake sandal sebelah kiri semua?" tanya Riziq heran. Seketika Zahira langsung memandang kedua sandalnya, ia pun tersenyum malu saat sadar ia memakai sandal sebelah kiri semua. Sementara Aisyah sudah cekikikan.
" He he, aku tadi buru buru ke sini jadi gak ngèh kalau sendalnya ketuker" ucap Zahira malu. Tiba tiba dari kejauhan salah satu temannya Zahira berlari mendekat.
" Iraaaaa" teriak temannya Zahira sedikit kesal.
" Apa?" tanya Zahira.
" Jangan tanya apa, kenapa kau memakai sandal sebelah kiri semua, itu sebelahnya adalah sandalku. Masa aku harus pakai sandal sebelah kanan semua" gerutu temannya Zahira. Dilihatnya temannya Zahira hanya menggunakan satu sandal saja yaitu sebelah kanan.
" Maaf, aku tadi buru buru" ucap Zahira sambil memberikan sandal yang sebelah kiri pada temannya itu.
"Mana sandalku yang sebelah kanan" ucap Zahira.
" Sandalmu yang sebelah kanan masih ada di asrama, aku malu kalau harus memakai sandal yang sebelah kanan semua" tutur Zahira.
" Jadi kamu lebih malu pakai sandal kanan semua di banding kamu pakai sandal sebelah" ucap Zahira. Temannya Zahira sudah tersenyum malu.
" Aku duluan ya Ira, asalamualaikum" ucap temannya Zahira sambil berlari pergi. Zahira langsung cemberut kesal.
" Jangan menyalahkannya, ini semua karna kebodohanmu" ucap Riziq. Seketika Zahira langsung menatap kakaknya.
" Apaaa?"
" Gendong"
" Gaaaak, kalau kau mau ku gendong, nanti kulempar kau ke sungai" ancam Riziq.
Zahira langsung cemberut kesal.
" Masa aku harus pake sandal sebelah" gerutu Zahira.
" Kau duduk saja di keretanya Adam sama Hawa, nanti kudorong kau sampai ke asrama" ucap Riziq. Aisyah sudah tertawa tawa.
" Memangnya aku bayi" gerutu Zahira.
" Leee"
"Apa?"
" Berikan sandalmu" pinta Aisyah. Mau tidak mau Riziq pun memberikan sandalnya pada adik perempuannya itu. Saat Zahira memakai sandalnya Riziq, mulutnya sedikit menganga.
" Kenapa?" tanya Riziq.
" Kakiku kelelep, sadalmu besar sekali" ucap Zahira. Aisyah malah tertawa.
" Kalau kata film kartun itu adalah sandal gargasi" ucap Aisyah. Zahira pun mengangguk ngangguk sambil tertawa.
" Apa itu gargasi?" tanya Riziq tidak tau.
" Raksasa Le"
" Jadi maksudmu itu kakiku sebesar kaki raksasa" ucap Riziq sedikit kesal. Aisyah dan Zahira malah tertawa.
Dan benar saja kakinya Zahira yang mungil hanya pas memakai sandal berukuran 36, sementara sandalnya Riziq berukuran 41. Tentu saja itu membuat kakinya Zahira menghilang di balik sandal. Mereka pun kembali lagi untuk mengantarkan Zahira ke asrama. Riziq berjalan tanpa alas kaki ( nyeker) sambil menenteng sadal Zahira yang hanya sebelah.
__ADS_1